
Semalaman Tata memikirkan tawaran yang diberikan Al kepadanya.
"Jika kamu mau, kamu bisa datang sewaktu-waktu." Begitu kata Al malam itu.
Untuk saat ini, Tata belum bisa memberikan jawaban apa-apa. Yang pasti, hanya ketenangan hati yang dia inginkan.
Tapi untuk Nindya, pagi ini dia berjanji akan menjenguknya.
"Besok jam delapan saya jemput" Begitu Al bilang saat Tata mengutarakan niatnya.
Meskipun Tata sudah menolak, tapi Al tetap pada pendiriannya. Sebelum berangkat, dia buatkan kue dan puding kesukaan Nindya.
"Semua sudah siap, tinggal mandi dulu." Ocehnya sendiri.
Pagi ini, meskipun awan berkabut, namun Tata berharap hatinya akan tetap cerah, secerah mentari bersinar.
Dengan mengenakan blouse warna tosca dan aksesoris senada, dia begitu cantik, anggun dan nampak segar dipandang.
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar pintu depan diketuk seseorang.
"Itu pasti Pak Al. Tumben tidak mengucap salam." Gumamnya sendiri.
Dilihatnya arloji yang sudah manis bertengger di pergelangan tangan kirinya.
"Belum juga jam delapan, sudah sampai sini saja." Gerutunya.
Tata membukakan pintu yang sejak tadi pagi memang belum dia buka. Biasanya jam segini, dia sudah membuka pintu rumah kontrakannya, agar sirkulasi udara bisa masuk sempurna.
"Wa'alaikumsalam." Ledek Tata yang sudah terbiasa mendengar ucapan salam dari Al, namun pagi ini, entah lupa atau sengaja, hanya ketukan-ketukan kecil yang dia dengar dari dalam.
"Tata, tunggu !" Teriak tamunya, memaksa mendorong pintu agar terbuka kembali. Dengan sekuat tenaga Tata berusaha menutup nya, tapi tenaganya tidak sepadan dengan dorongan dari luar yang dia dapatkan.
"Buka Ta, aku mau bicara !" Teriaknya lagi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, pergi dari sini, atau aku akan teriak !" Jerit Tata tak kalah lantangnya.
Andri, entah darimana dia dapatkan alamat tinggal nya sekarang. Tata sudah berusaha menjauh dan menepi ke pinggiran kota, agar tidak bisa bertemu lagi dengan Andri.
Tapi ternyata salah, bukan hanya Al yang piwai menemukan dia, tapi Andri juga.
"Aku minta maaf, aku khilaf waktu itu." Rengeknya memohon.
Andri bersimpuh di hadapan Anita, berusaha menunjukkan kalau dia benar-benar ingin minta maaf.
"Saya tidak akan berdiri, sebelum kamu mau memaafkanku." Bujuknya.
"Tidak ada yang harus dimaafkan, semua sudah berlalu, saya tidak mau mengingat-ingat lagi." Jawabnya masa bodoh.
"Itu belum cukup bagiku, aku ingin kamu benar-benar memaafkan ku dari hati Ta." Entah jurus apa lagi yang Andri berikan, Tata sudah tidak peduli.
"Berdirilah Mas, jangan seperti anak kecil, malu di lihat tetangga."
__ADS_1
"Masa bodoh dengan tetangga."
Semakin lama, Tata merasa risih dan jengkel dengan perlakuan Andri.
"Terserah apa mau kamu. Maaf, saya ada urusan."
Andri dengan cekatan meraih pergelangan anita, sebelum dia sempat berbalik meninggalkan nya.
"Lepaskan saya Mas." Rontanya tak dipedulikan lagi.
"Kalau dengan cara halus kamu tidak bisa, aku akan gunakan cara yang lebih kamu suka." Ancamnya.
"Apa maksudmu ?"
Tata mulai ketakutan, tubuhnya menggigil, tangannya gemetar. Ingin rasanya dia menangis, tapi air matanya sudah terlanjur kering.
Dia berusaha menahan dirinya sekuat tenaga, saat Andri mulai kasar menarik tangannya.
"Lepaskan dia !" Terdengar nada kemarahan dari seorang yang sangat Tata kenali.
Rasa kaget, membuat Andri melepaskan pergelangan tangan Tata.
Disaat itulah, dia berusaha berdiri dan mencoba mencari perlindungan.
"Mas Al." Ucapnya lirih, yang entah darimana dia bisa mengucapkan kata 'Mas' saat itu.
"Kamu tidak apa-apa ?" Bisik Al.
Tata berdiri tepat di belakang Al. Entah sengaja atau tidak, kedua jemari mereka saling terantuk. Saling berpegangan satu sama lain.
"Anda siapa ? Jangan ikut campur, ini urusan saya dengan Tata." Gertak Andri.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Tapi apapun yang menjadi urusan Tata, akan menjadi urusan saya juga." Ucap Al yang siap pasang badan.
"Siapa dia Ta ? Apa karena laki-laki ini, kamu menolakku !" Tanya Andri lagi.
Tata hanya terdiam. Pertanyaan Andri membuat Al merasa berada di atas awan. Genggaman jemarinya semakin dia perketat.
Kalau bukan dalam keadaan darurat, ingin rasanya Tata mengaduh kesakitan. Tangan kuat Al tak sepadan dengan jemari mungil Tata di genggaman nya.
"Cepat pergi dari sini, sebelum saya panggil warga untuk mengusir anda." Kata Al mencoba bersabar.
"Jangan terlalu banyak omong, seharusnya kamu yang pergi dari sini, bukan saya." Elak Andri.
Keributan sudah tidak terelakkan lagi. Tidak menutup kemungkinan hal itu mengundang perhatian tetangga sekitar.
"Ada apa ini ? Kenapa pagi-pagi kalian bikin keributan di sini ?" Tanya salah seorang warga sekitar yang melihat ada kerumunan di rumah kontrakan Tata.
"Ini ni Pak, pagi-pagi bertamu sudah bikin onar." Jawab salah seorang warga yang ada di tempat kejadian.
"Lo ... Bapak yang semalam datang bukan ?" Tanya Bapak yang memang semalam bertegur sapa dengan Al saat dia pertama bertemu di rumah kontrakan anita.
"Oh Iya, saya_"
__ADS_1
"Iya Pak, ini Pak Al. Atasan saya, dan kebetulan pagi ini Beliau mau menjemput saya untuk menjadi pengasuh sementara di rumah sakit, karena putri Beliau sedang sakit." Kata Tata menyela ucapan Al.
"Iya Mbak Tata, saya semalam juga sempat berbincang dengan Pak Al. Lalu, Mas ini siapa ?" Tanya Bapak itu lagi, yang notabene adalah seorang ketua rukun tetangga.
"Dia teman saya Pak_"
"Lebih tepatnya saya pacar Anita Pak, dan saya tidak suka dia dekat dengan laki-laki ini." Jawab Andri dengan ujung jari menunjuk ke jidat Al.
"Jaga bicaramu, dia bukan siapa-siapa saya Pak. Tapi pagi ini dia sudah berlaku tidak sopan di rumah saya." Jawab Tata tegas.
"Iya Pak, saya juga lihat tadi, Mas ini menarik-narik tangan Mbak Atta." Kata seorang ibu ikut membela.
"Baik-baik, sudah ya. Lebih baik Mas segera pergi dari sini. Sebelum saya melaporkan ke aparat setempat." Kata Bapak RT bijaksana.
Brrraaaakkkk ... !
Andri menendang kursi kayu yang ada di teras, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan tempat tinggal anita.
"Bapak, Ibu, maafkan saya ya. Maaf jika saya mengganggu aktivitas pagi Bapak, Ibu sekalian." Kata Anita memohon maaf.
"Gakpapa Mbak Tata, kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan bilang sama Bapak." Kata Pak RT.
"Terimakasih sekali kami ucapkan Pak, Bu." Kata Al juga.
"Sama-sama Pak Al, kalau begitu kami permisi dulu. Silahkan dilanjutkan aktivitas nya." Kata Beliau lagi.
Canggung, itu yang saat ini mereka berdua rasakan setelah kepergian Bapak, ibu warga sekitar.
"Saya, ke dalam dulu Pak, ada yang harus saya bawa untuk Nindya." Ucap Tata memecah suasana.
"Hhhhmmmm, iya." Jawaban Al terdengar serba salah.
Seperti seorang sopir dan majikan yang saling diam di dalam satu kendaraan. Tanpa obrolan ataupun diskusi hal-hal baru. Padahal kesempatan mereka berdua untuk bicara sangat banyak.
"Terimakasih Pak." Kata Tata yang akhirnya membuka suara.
"Terimakasih untuk apa ?" Pertanyaan Al datar.
"Terimakasih, karena Bapak sudah menyelamatkan saya tadi."
Sebuah kesempatan emas bagi Al untuk kembali meyakinkan Tata mengenai tawarannya semalam.
"Hahaha...saya tidak merasa melakukan apa-apa. Tapi mengingat kejadian tadi, sebaiknya kamu pertimbangan lagi apa yang saya bilang semalam." Kata Al kembali mengingatkan.
"Saya akan pertimbangkan lagi."
Jawaban itu mengakhiri kembali percakapan mereka berdua.
____________________
____________________
____________________
__ADS_1