
Ruang rawat inap melati 03, masih hening tanpa suara. Padahal, ada dua insan ciptaan Tuhan sedang duduk berdiam diri di dalamnya.
Meskipun masih di dalam satu ruangan, tapi posisi mereka berjauhan. Seperti sepasang kekasih yang sedang berselisih paham.
"Apa kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa hidup itu harus dinikmati. Sepanjang kita mampu, kenapa tidak ?" Kata Al mengawali pembicaraan.
"Tapi aku bukanlah seseorang yang diberi karunia gratis bernafas hanya untuk menikmati hidup." Bantahnya.
"Tapi bagiku kamu beda." Kata Al dengan nada yang mulai melemah.
"Beda dari sudut pandang anda. Tapi bagi saya semua orang sama di mata penciptanya." Sanggahnya.
"Banyak saya temui perempuan di luar sana. Kebanyakan mereka berpura-pura, berusaha menjadi seperti orang lain. Padahal sifat mereka sebenarnya lebih baik daripada harus menjadi orang lain." Komentar Al lagi.
"Jangan bertele-tele Pak Al. Konkritnya apa maksud dari pembicaraan anda ?" Tanya Tata menegaskan.
"Kamu gadis yang lugu, cerdas, kebaikanmu murni dari hati. Tidak apa kepura-puraan."
"Hahh ... Kalau apa yang anda katakan itu sebuah pujian, maaf. Saya tidak suka dipuji." Wajah anita merah padam, menahan amarah saat mengatakan hal itu.
Amarah ?
Entah apa sebenarnya yang sedang Tata rasakan. Apakah itu sebuah amarah, atau perasaan malu karena dipuji oleh seorang yang selama ini menjadi idola setiap wanita.
'Diluar dugaan ku, ternyata gadis ini lebih berani dan tegas. Sifat dan sikapnya sama persis seperti Kinan.' Kata hati Al.
Suasana hening kembali. Al seperti mati kutu. Dia usap wajahnya sendiri dengan kasar.
"Hei, kalian tidak ngobrol sama sekali ? Bunda perhatikan dari luar, sepi sekali." Komentar Bunda dan Bu Ranti yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.
"Bunda dari mana ? Lama sekali ?" Tanya Al ganti.
"Tadi Bunda habis dari kantin, menemani Bu Ranti sarapan."
"Iya Den, ini Ibu bawakan banyak cemilan sehat untuk Mbak Tata dan Den Al." Sambung Bu Ranti.
"Tata, sudah sarapan Nak ?"
"Sudah Bunda, tadi dapat jatah rangsum dari rumah sakit."
"Makan yang banyak ya, biar lekas sembuh."
Anita mengganggu dan tersenyum manis, perlakuan Bunda Arum berbeda jauh dengan perlakuan yang dia terima selama tinggal dengan Buleknya.
Bunda lebih bijaksana, penyayang dan sabar.
'Seandainya saja, ibu masih ada. Aku pasti...' kata hatinya terhenti, berganti dengan lelehan air mata, yang tak tahu datangnya dari mana.
"Permisi Pak, Bu. Kamar VIP sudah siap. Pasien sudah siap kami pindahkan."
Disaat semua fokus pada kedatangan suster, Anita segera menghapus air mata yang hampir mengalir di pipinya.
"Pindah ?" Tanya Bunda.
__ADS_1
"Iya Bunda, sebagai salah satu fasilitas dari perusahaan, Al pindahkan dia ke kamar yang lebih bagus." Jawab Al menyela.
"Tapi, bukannya saya menolak Bunda. Bagi Tata, ini sudah ruang yang paling bagus." Tolaknya halus.
"Itu sama saja dengan menolak Ta." Nada suara Al terdengar meninggi.
"Al..." Kata Bunda menenangkan.
"Nduk, cah ayu, turut kata Bunda ya. Ikuti apa yang Al katakan."
Mendengar permintaan Bunda, Tata hanya bisa pasrah dan mengabulkan. Meskipun sebenarnya dia tidak mau diperlakukan seistimewa itu.
Tata menyadari, posisinya di kantor hanyalah seorang cleaning service. Selama ini belum pernah dia mendapati perusahaan manapun yang menempatkan cleaning service di kelas VIP seperti yang Al lakukan.
'Maafkan Tata Bunda, bukan maksud Tata membantah tadi. Tata cuma tidak mau ada salah paham. Apalagi dengan keluarga Pak Al.' Pikirnya dalam hati.
Selagi suster memindahkan Anita di kamar VIP, Bunda minta izin kepada Al untuk mengantarkan Bu Ranti pulang.
"Al, kasihan Bu Ranti. Dari kemarin belum berganti pakaian katanya. Biar Bunda antar dulu, kamu urus segala keperluan dan administrasi rumah sakit." Pamitnya kepada Al.
"Biar Al saja yang mengantar Bunda."
"Tidak-tidak, biar Bunda pesan taxi online saja, lebih baik kamu yang tinggal. Kalau mereka butuh sesuatu, kamu lebih cepat bergerak dibandingkan Bunda." Kata Beliau meyakinkan.
Apapun yang Bunda Arum katakan, merupakan perintah untuk Al. Dan sebagai putra yang baik, Al tidak pernah membantahnya.
Entah apa rencana Bunda saat ini. Yang jelas, ada ruang kosong kembali antara mereka berdua.
Al menyandarkan punggungnya di sofa. Ruangan ini cukup nyaman untuk sekelas ruang rawat inap VIP. Dibandingkan ruang sebelumnya, fasilitas di ruang VIP lebih komplit.
"Kamu mau saya suapin ?" Tanya Al, setelah petugas instalasi gizi mengantarkan menu makan siangnya.
"Kenapa bukan Pak Al saja yang mengantarkan Bunda dan Bu Ranti ?"
Pertanyaan Tata bernada jengkel. Belum juga dia jawab pertanyaan Al, tapi malah dia lontarkan pertanyaan yang lain.
"Lalu, siapa yang akan menjagamu di sini ?"
Selangkah demi selangkah Al mulai mendekat.
"Saya bisa sendiri, di sini juga ada suster yang akan membantu jika saya memerlukan." Nadanya kali ini terdengar tidak bersahabat.
"Kenapa kamu begitu keras kepala. Apa kamu tidak mau saya berada di sini ?"
"Ya." Jawabnya singkat.
"Kenapa ? Beri saya satu alasan. Jika alasan yang kamu berikan masuk akal, saya akan keluar." Tantang Al.
Demi ingin melihat mimik wajah lawan bicaranya, Al dengan berani mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Anita.
Seandainya pendengaran Al sangat peka, mungkin dia bisa mendengarkan betapa kencang detak jantung Tata saat ini.
Wajahnya merah merona, tubuhnya terasa panas dingin.
__ADS_1
"Hahahaha...katakan, sebelum aku berubah pikiran."
Dalam hati sebenarnya Al ingin tertawa. Sikap jaim yang melekat pada dirinya seakan menepi. Berganti sikap jail seperti yang dulu pernah dia lakukan kepada Kinan.
Ya, lagi-lagi Kinan yang terlintas di dalam ingatannya. Sampai-sampai, dia lupa kalau gadis di hadapannya ini bukanlah orang yang sama yang sering dia kerjain di masa menginjak remaja dulu.
"Hei, kamu tidak bisa menjawab kan ? Atau sebenarnya kamu memang tidak mau saya pergi dari sini."
Kali ini Al mulai berani menyentuh ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. Tata pun menepisnya dengan menarik kepalanya ke belakang.
"Saya, saya hanya tidak mau kalau orang lain menganggap saya seorang pelakor Pak." Ucap Tata mulai angkat bicara.
"Pelakor ?"
"Ya" jawabnya masih merunduk.
"Memangnya ada yang bilang seperti itu ?"
"Banyak Pak, sejak saya pingsan dan Pak Al antarkan pulang, saya mulai tidak nyaman bekerja. Banyak yang menuduh saya, sebagai perempuan penggoda."
Apa yang Tata katakan bukan sekedar sebuah keluhan tapi suatu bukti nyata yang harus benar-benar dihindari.
Kali ini percakapan mereka sudah mulai tenang. Tidak ada lagi yang berebut paling benar.
"Lebih baik kamu fokus dengan penyembuhanmu, jangan berfikiran aneh-aneh.
"Saya hanya berusaha menghormati keluarga Pak Al. Terutama Bunda Arum, saya tidak mau beliau salah paham dengan fasilitas berlebihan yang Bapak berikan." Ucapnya lebih mempertegas.
"Oke, kalau itu mau kamu. Tapi untuk apa yang sudah keluar dari bibir saya, tetap akan saya tepati."
Usai berkata begitu, dia pergi meninggalkan Anita sendiri.
"Sus, karena kebetulan saya ada keperluan mendadak, saya titip pasien kamar VIP. Jika perlu sesuatu minta tolong dipenuhi terlebih dahulu. Ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa bisa menghubungi saya." Pasrahnya kepada suster jaga.
~
~
~
Hallo Reader...š¤
Kita lanjut ea...š„°
Klik my profil, cek karya2 author...š
Jangan lupa like, vote n kritik & sarannya juga ditunggu...šš»
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan...š¤²š„°š
Terimakasih...š miss u All...šš„°š
___________________
__ADS_1
___________________
__________________