Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 52. Restu Bunda


__ADS_3

Hari berganti, waktu pun begitu cepat berlalu. Sejak kepulangan mereka dari liburan bersama, Al lebih sering memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Tata.


Di waktu luangnya saat bekerja, dia gunakan untuk menghubungi pujaan hatinya, meskipun sekedar untuk menyapa.


Namun ketika berada di rumah, mereka masih bersikap seperti biasa, layaknya seorang majikan dan pengasuh putrinya.


"Jangan Mas, aku masih belum siap." Begitu Tata bilang, waktu Al akan mengajaknya bicara dengan Bunda mengenai hubungan mereka berdua.


Dan hari ini, tanpa sepengetahuan Tata, Al sudah merencanakan makan malam bersama Bunda dan semua penghuni rumah nya untuk menyampaikan kesediaannya memilih Tata sebagai pendamping hidupnya.


"Jangan lupa, malam ini siapakan dirimu yang cantik. Karena kita semua akan keluar untuk makan malam." Bisik Al usai sarapan pagi, sebelum dia berangkat ke kantor tadi.


'Apa yang akan direncanakan Mas Al nanti, apa ini cuma makan malam seperti biasa.' Pikirnya dalam hati.


Rasa penasaran membuat dia harus mencari tahu, ada acara apa malam ini.


"Mbak Watik." Panggil Tata saat mendapati teman seperjuangannya itu sedang berkebun di taman belakang.


"Iya Mbak Ata, ada apa ?"


"Mbak tahu tidak, nanti malam ada acara apa ?" Tanya Tata kepo.


"Acara apa ya ?" Ucapnya sembari berfikir.


"Oh ... Maksudnya dinner yang Mas Al buat untuk nanti malam ?" Ucapnya setengah bertanya.


"Iya, itu maksud saya. Apa Mbak watik juga diajak ?" Tajya Tata kembali.


"Ya iyalah, ini kan acara rutin tiap awal bulan." Jawab Mbak Watik tanpa menimbulkan rasa curiga.


'Oh, jadi benar cuma acara makan malam, tidak ada hubungannya dengan kedekatan ku dengan Mas Al, jadi lega.' Pikirnya dalam hati.


Hatinya boleh merasa tenang sekarang. Tapi nanti, entah apa yang akan Al lakukan untuknya.


'Kelihatannya Mbak Tata mulai curiga, maaf ya Mbak, ini kan acara surprise untukmu. Jadi saya harus berbohong, hihihihi ... ' Komentar Mbak Watik dalam hati.


***


Waktu yang dinanti telah tiba. Semua sudah bersiap menuju tempat dimana Al sudah memesannya.


"Ayo sayang, kita berangkat." Ajak Bunda.


'Mana Mas Al, kenapa belum kelihatan. Apa dia sudah menunggu di tempat ?' Tanya Tata dalam hati.


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


Handphone Bunda bergetar, entah siapa yang menghubungi Beliau.


"Hallo Nak, iya, kami sudah dalam perjalanan." Kata Bunda yang sedang menerima telepon.


'Mungkin itu dari Mas Al.' Pikir Tata sedikit kepo.

__ADS_1


"Apa ? Terlambat ? Iya-iya, tidak apa-apa, selesaikan dulu pekerjaanmu. Iya, Wa'alaikumsalam." Cuma itu yang mereka dengar.


"Kelihatannya Al datang terlambat, kita diminta untuk makan terlebih dahulu." Kata Bunda memberikan informasi.


"Walah, yang undang malah gak datang. Jadi gak enak, kita tinggal makan." Komentar Mbak Watik.


"Gakpapa, sudah kebiasaan Al seperti itu. Menyenangkan orang lain, tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri." Balas Bunda.


Memang benar, begitulah Al. Itu juga yang sering Tata rasakan. Al selalu ada disaat dia membutuhkan, sedangkan dia belum bisa memberikan apa-apa untuk Al.


"Selamat malam, silahkan. Pesanan atas nama Pak Al ?" Sapa pelayan di sana.


'Mungkin hampir semua resto di sini mengenal keluarga Kamandanu. Sampai-sampai, belum juga kami permisi, mereka sudah menyambut terlebih dahulu.' Pikir Tata dalam hati.


"Silahkan Ibu, Bapak, sudah kami siapkan di sebelah sana." Ucapnya memberi petunjuk.


Sebuah resto ruang terbuka yang dihiasi sedemikian rupa.


'Ini terlalu mewah untuk sebuah makan malam rutin keluarga.' Komentar Tata dalam hati.


Beberapa hidangan di sajikan. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Juga ada life musik, entah konsep apa yang Al ambil hari ini.


Makan malam yang nikmat, namun rasanya hambar tanpa kehadiran Al.


"Pak Al, tidak jadi datang Bunda ?" Tanya Tata saat semua hidangan sudah habis mereka santap.


"Kelihatannya begitu Nak." Jawab Bunda.


"Apa kita akan pulang sekarang Bunda ?" Tanya Pak Slamet, bermaksud akan menyiapkan kendaraan terlebih dahulu.


Namun tiba-tiba, lampu padam saat Pak Slamet baru berdiri dari tempat duduknya.


Tata lihata sekeliling, dan hanya ruang terbatas itu yang padam.


🎶Selamat ulang tahun, 'ku ucapkan untukmu


Semoga bahagia 'kan mengiringi langkahmu


Tiada yang bisa 'ku beri


Hanyalah doa dan rasa cinta


Yang tulus dariku 'tuk dirimu🎶


Sebait lirik lagu kegembiraan atas datangnya hari lahir terdengar beriringan dengan hadirnya Al.


"Selamat ulang tahun." Ucapnya ketika berada di hadapan Tata dengan cake berbentuk hati do tangannya.


Di bawah remang sinar lilin, terlihat pancaran kecantikan gadis idamannya yang sedang menitikkan air mata.


'Ya Allah, apa lagi yang aku ragukan ? Dia begitu sempurna untukku. Bahkan dia ingat hari ulang tahunku, sedangkan aku sendiri tidak mengetahuinya.' Ungkapan hati Tata.

__ADS_1


Lilin ditiup bersamaan dengan lampu yang menyala. Sorak-sorai dan Ucapan selamat dia terima.


"Selamat ya Nak, semua doa terbaik untukmu." Kata Bunda tulus.


"Terimakasih Bunda, maafkan jika Tata banyak merepotkan Bunda." Lagi-lagi Tata tak bisa membendung air matanya.


"Sayang." Kata Al sembari memegang kedua tangannya.


Deg ...


Detak jantung Tata seakan berhenti berdetak, saat Al tiba-tiba memanggilnya sayang di hadapan semua orang.


Wajahnya pucat pasi, tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Pak Al, apa yang_"


"Sudah, sudah, tidak perlu bersandiwara lagi. Bunda sudah tahu tentang hubungan kalian." Kata Bunda menyela.


'Alhamdulillah.' Bisiknya dalam hati.


Air matanya tak henti mengalir. Bahagia yang dia rasakan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.


"Kamu dengar sendiri kan ? Apa Bunda bilang." Kata Al meyakinkan.


Tata hanya bisa mengangguk, bibirnya terasa keluh tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Maaf ya, kamu sudah menunggu terlalu lama." Ucapnya lirih.


Melihat Tata masih terdiam tanpa bisa menjawabnya, tiba-tiba Al memeluk tubuh mungil di depannya.


"Al..." Tegur Bunda.


"Iya Bunda, maaf khilaf Bunda." Jawabnya cengengesan.


"Bunda, pada kesempatan ini skalian Al mau minta doa restu kepada Bunda." Ucapnya sembari memegang erat jemari anita.


"Inilah ending yang Bunda inginkan. Sudah lama Bunda merestui kalian berdua. Hanya satu yang Bunda minta dari kalian. Sayangi Nindya sebagimana kalian menyayangi putri kalian sendiri." Jawab Bunda masih dengan rasa haru.


"Inggih Bunda, Insha Allah Tata akan selalu menjadi Ibu yang baik untuk Nindya." Ucapnya sembari berlinang air mata.


"Bunda percaya sama kamu Nak. Kamu yang sabar menghadapi Al ya." Pinta Beliau.


Tatapan matanya tertuju kepada putra satu-satunya keturunan wijaya yang menjadi kesayangan kamandanu ini.


"Mas Al, baik Bunda. Sabar dan penyayang." Gumam Tata, pandangannya tak luput dari wajah tampan yang tersenyum nakal kepadanya.


"Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Lega rasanya mendengar restu dari Bunda. Tinggal menunggu hari, kapan mereka akan menjadi Raja dan Ratu sehari.


__________________

__ADS_1


__________________


__________________


__ADS_2