Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 65. Pagi Yang Menggegerkan


__ADS_3

Pukul lima lewat tiga puluh menit. Tapi tak terdengar satu suara pun dari arah luar kamarnya.


"Sepi sekali ?" Pikir Tata dalam hati.


Hati-hati dia turunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Dipandanginya Al yang masih tidur dengan pulas. Wajahnya nampak damai, dengan sesungging senyum di sudut bibirnya.


Entah mimpi apa dia, tampaknya begitu menyenangkan, mungkin sedang memimpikan belahan hatinya.


Perlahan dia buka pintu kamarnya, masih terasa sepi.


"Dya, sayang." Panggil Tata lirih menuju kamar putri kecilnya.


"Mbak Tata, bukannya Nindya ikut Bunda pergi ke solo ya ?" Sapa Mbak Watik dari dapur saat Tata hampir membuka pintu kamar Nindya.


"Astagfirullah ... Aku lupa Mbak."


Entah apa yang sedang Tata pikirkan. Baru kemaren sore usai berenang, Bunda mengajak Nindya menginap di Solo. Tapi pagi ini dia sudah lupa, bahkan tidak fokus dengan apa yang dia lakukan.


Pikiran itu menimbulkan rasa demam pada tubuhnya. Entah kenapa, kepalanya juga ikut pusing, pandangan matanya berkunang-kunang. Dia pegang pelipis matanya yang terasa berat, mungkin efek dari pusing yang dia rasakan.


'Ada apa dengan Mbak Tata, kok jalannya begitu ?' Tanya Mbak Watik dalam hati, yang melihat Tata berjalan kembali ke kamarnya sedikit sempoyongan.


"Mbak Ata, Mbak tidak apa-apa ?" Tegurnya.


"Gakpapa Mbak, saya ke kamar dulu ya ?" Jawabnya sambil berlalu.


"Iya, iya, hati-hati Mbak."


Bbbrrrraaakk ... !


Belum juga beralih pandangan Mbak Watik yang masih fokus memperhatikan dia, Tata sudah jatuh terhuyung, tubuhnya terantuk sesuatu yang menimbulkan suara gaduh.


"Astagfirullah ... Mbak Ata !" Teriak Mbak Watik sedikit latah.


"Ada apa Mbak !" Tanya Al setengah kaget mendengar bunyi benda jatuh diiringi teriakan Mbak Watik.


"Mbak Ata Mas, tiba-tiba jatuh pingsan." Ucapnya masih dengan posisi duduk di lantai memangku kepala istri majikannya.


Al segera mengangkatnya ke kamar, disusul Mbak Watik yang membawa air hangat untuk membasuh keningnya yang membiru karena benturan.


Perlahan dia tidurkan istrinya.


"Ini buat kompres keningnya Mas."


"Terimakasih Mbak, tolong ambilkan minyak kayu putih atau apalah biar kesadarannya pulih kembali."


Mbak Watik segera pergi mengambil apa yanga Al minta.


'Kamu kenapa sayang ? Bangun, jangan buat aku takut.' Bisik Al dalam hati.


Dengan telaten Al membasuh kening Tata yang membiru.


"Sini Mas, biar saya bantu."


"Iya, terimakasih Mbak. Saya coba hubungi dokter Widya dulu."


Dokter Widya, bukan hanya dokter keluarga Kamandanu. Dia juga masih saudara sepupu Al dari keluarga Papanya, Almarhum Arjuna, yang kebetulan juga dinas di kota budaya ini.


Tut ... tut ... tut ...


Tersambung, namun belum ada jawaban dari. Dokter Widya.


"Jam segini apa dia masih di Rumah sakit." Gumam Al sendiri.

__ADS_1


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


Belum sempat Al mengirim pesan, Dokter Widya sudah menghubunginya lebih dulu.


"Hallo Widya." Sapanya gugup.


"Hallo Al, ada apa pagi-pagi begini nelfon ?" Tanya Widya dari sebrang.


"Iya, maaf saya mengganggu. Saya mau minta tolong, istri saya tiba-tiba pingsan." Kata Al terbata.


"Oke, tenang ya, berikan pertolongan pertama terlebih dahulu. Saya segera datang."


Tanpa berbasa-basi yang menimbulkan waktu lama, mereka menyudahi percakapannya.


"Bagaimana Mbak ?" Tanya Al waktu kembali ke kamarnya.


"Belum ada reaksi apa-apa Mas, bahkan minyak kayu putih juga tidak mempan." Jawab Mbak Watik.


"Biar saya lanjutkan Mbak, antar Widya ke sini segera kalau dia datang." Pinta Al.


"Iya Mas."


Al mengusap telapak tangan istrinya yang terasa dingin.


"Sayang, bangun." Bisiknya penuh rasa khawatir.


Tok ... tok ... tok ...


"Dokter Widya sudah datang Mas." Ucapnya melaporkan, usai mengetuk pintu kamar.


"Oh, iya, terimakasih Mbak." Jawab Al.


"Widya." Sapa Al.


"Saya kurang tahu, yang jelas dia tiba-tiba terjatuh di depan pintu kamar kami."


Dokter Widya memeriksa kondisi kesehatan Anita.


"Kita bawa ke rumah sakit, saya sudah menghubungi ambulans." Kata Dokter Widya usai memasang oksigen sebagai alat bantu pernapasan.


"Apa ada yang serius ?"


"Saya belum tahu, kita cek nanti di sana."


Al mengangguk dan menyetujui keputusan Dokter Widya.


Dia meminta Mbak watik menyiapkan perlengkapan untuk istrinya, sebelum akhirnya menyusul Dokter Widya ke rumah sakit.


Selang hampir satu jam setelah dilakukan pemeriksaan, Tata siuman. Dokter memintanya untuk dirawat agar bisa memantau kesehatannya.


"Sayang, akhirnya kamu sadar. Apa yang kamu rasakan ?" Tanya Al yang masih menunggunya.


"Mas Al, aku dimana ini ?" Ucapnya, masih menghimpun tenaga.


"Kita di rumah sakit, jangan banyak bicara dulu, istirahat dulu ya." Kata Al menenangkan.


Tiba-tiba Tata menangis tanpa sebab, membuat Al kebingungan.


"Kenapa sayang ? Apa yang kamu pikirkan ? Atau ada yang sakit ?" Tanya Al kebingungan.


"Gakpapa Mas. Sepertinya aku mimpi buruk tadi." Jawabnya, meleset dari topik pembicaraan.


"Mimpi buruk, mimpi buruk apa ?"

__ADS_1


"Aku bermimpi, Mas pergi meninggalkanku dengan perempuan lain."


Al terkekeh mendengar jawaban istrinya.


"Kamu terlalu banyak berhalusinasi, bukankah sudah aku bilang, banyak perempuan diluar sana yang cantik, yang ****, yang pandai, tapi aku lebih memilih kamu. Kamu tahu kan semua karena apa ?" Kata sembari mencubit manja hidung istrinya.


"Karena aku mirip Non Kinan." Celetuknya membuat raut wajah Al berubah. Al terdiam, dia pandangi wajah istrinya lebih lekat lagi.


'Itu salah satunya sayang, tapi tidak mungkin aku sampaikan itu sama kamu.' Komentar Al dalam hati.


"Harus berapa kali aku bilang, kalau aku memilihmu, karena kamu lebih segalanya dari mereka dan yang harus kamu tahu, karena aku sangat menyayangi dan mencintaimu." Kata Al mengulangi jawabannya yang lalu.


"Tapi_"


"Tapi apa ? Sudah jangan terlalu banyak berpikir yang enggak-enggak. Aku tidak mau kamu berkata seperti itu lagi." Ucap Al mengakhiri pembicaraan yang tidak penting baginya.


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


"Sebentar sayang, Bunda menelfon."


Tata mengangguk memberikan waktu luang untuk suaminya mengangkat telepon dari Bunda.


"Assalamu'alaikum Bunda."


"Wa'alaikumsalam Al, tadi Bunda dapat kabar dari Mbak Watik, katanya Tata di bawa ke rumah sakit. Bagaimana keadaan dia Nak ? apa kata Dokter ?" Tanya Bunda ikut khawatir.


"Iya Bunda, tadi pagi, tiba-tiba Tata pingsan. Widya menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit. Alhamdulillah sekarang dia sudah siuman." Jawab Al menerangkan.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Tapi dia tidak kenapa-kenapa kan ?" Tanya Bunda memastikan.


"Belum tahu Bunda, belum ada penjelasan detail dari Dokter."


"Semoga tidak apa-apa Nak, Bunda jadi tidak tenang di sini."


"Bunda tidak usah khawatir, insha Allah tidak ada hal yang serius. Nanti Al kabarkan ke Bunda, mengenai hasil pemeriksaan Anita."


"Iya Nak, jaga istrimu baik-baik. Bunda juga tidak akan sampaikan kabar ini ke Nindya. Takutnya dia malah rewel minta pulang." Kata Beliau, yang memang sejak semalam Nindya sudah mulai rewel.


Mungkin karena ikatan batin antara Nindya dan Tata sebagai Ibu dan Anak sudah terlalu kuat, sehingga dia ikut merasakan apa yang Tata rasakan.


"Iya Bunda, biar Nindya bisa lebih menikmati acara di sana. Yang pasti Bunda juga tidak perlu khawatir, insha Allah semua baik-baik saja." Jawab Al, yang tidak mau merusak kebahagiaan putri kecilnya.


"Ya sudah, salam buat istrimu. Semoga lekas sembuh dan bisa segera pulang ke rumah."


"Aamiin, terimakasih doanya Bunda. Nanti Al sampaikan."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Jawab Al mengakhiri percakapannya melalui sambungan selulernya.


"Kenapa Mas ?" Ganti Tata yang bertanya.


"Gakpapa, Bunda hanya menanyakan keadaanmu."


"Bunda, bukannya Bunda masih di solo ya Mas." Ucapnya yang mulai sadar mengenai perginya Bunda dan Nindya.


"Iya, tadi kebetulan Bunda menelfon ke rumah, dan Mbak Watik mengabarkan kalau kamu sedang di rawat di rumah sakit." Terang Al.


____________________


____________________

__ADS_1


____________________


__ADS_2