
Kling ...
Satu pesan masuk, saat Tata masih sibuk menyiapkan kerapian putrinya sebelum berangkat ke sekolah.
["Semangat pagi Mama Nindya, sudah berangkat kah ?"]
["Semangat Pagi Mama Gina, ini sebentar lagi otw."] Balasnya.
Kling ...
["Oke deh, sampai ketemu di sekolah. Aku tungguin di gerbang."]
["Siap Mama Gina, hayo duluan siapa yang datang."]
"Siapa pagi-pagi begini chat, kok senyum-senyum sendiri ?" Tanya Al yang sejak tadi memperhatikan istrinya.
"Oh, itu Mas, Mamanya temannya Nindya. Tau gak Mas, kalau aku belum datang, dia bilang mau tunggu di gerbang sekolah." Jawab Tata penuh semangat.
"Masak sih, sesetia itukah ?" Tanya Al setengah bercanda.
"Hhhhmmmm ... gak percaya, nanti deh, aku tunjukin orangnya. Aku kira awalnya orangnya kalem, e ... ternyata banyak juga bicaranya." Komentar Tata mengenai teman barunya.
"Seperti kamu dong." Kata Al.
"Emangnya aku gak kalem apa ?" Tanya Anita menggoda.
"Kalem kalau di ranjang." Bisik Al merasa mempunyai celah untuk menggoda istrinya.
"Apaan sih." Satu cubitan mendarat di pinggangnya.
"Aaauuuu ... Sakit tahu."
"Biarin."
"Ini yang cari teman siapa yang dapat teman siapa ?" Tanya Al setengah menyindir.
"Eits ... Jangan salah, bukan hanya aku dan Mama Gina saja yang berteman, tapi Dya dan Ginanya juga berteman Papa." Jawab Tata gemas mendengar komentar suaminya.
"Hhhhmmmm ... Kirain Mamanya yang sibuk mencari teman."
"Nanti aku kenalin Mas, orangnya baik, cantik lagi."
"Jangan, nanti dia naksir lagi."
"Mas, mulai deh."
Tata menyudahi candaan nya dan segera mengajak suaminya berangkat ke sekolah, sebagai rutinitas barunya.
"Kami berangkat dulu Bunda." Pamit Al.
"Hati-hati dijalan."
"Dya berangkat Eyang, Assalamu'alaikum." Pamit Nindya menggemaskan.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan sayang, yang pintar ya sekolahnya."
"Iya Eyang."
Tata selalu mengajarkan kepada Nindya untuk mencium punggung tangan Eyangnya saat berpamitan.
Begitu pula dengan Al dan Tata yang juga melakukan kebiasaan yang sama.
__ADS_1
"Mama, kemaren waktu perkenalan di sekolah, Gina kasihan lo Ma." Kata Nindya saat mereka dalam perjalanan.
"Kasihan, kasihan kenapa sayang ?"
"Waktu Bu Guru meminta kita untuk memperkenalkan kedua orang tua kita, Gina menangis, semua teman-teman hanya diam. Lalu Dya mendekat dan Dya peluk Gina. Habis itu Gina bercerita, katanya Papa Gina udah gak ada." Jawabnya runtut.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Sebagai teman, Dya harus bisa menguatkan hati Gina, supaya Gina juga kuat seperti Nindya." Nasehat Mama Tata.
"Iya Mama. Kata Eyang, meskipun Mama dan Papa Dya sudah bahagia di surga, Dya gak boleh bersedih dan tetap mendoakan Papa dan Mama Dya di surga. Kan sudah ada Mama Tata dan Papa Al yang sayang sama Dya." Ucapnya manja.
'Masya Allah, di usia sekecil Nindya, sudah bisa menilai arti kehidupan. Bunda Arum memang seorang tauladan yang baik. Aku harus lebih banyak belajar dari Beliau.' Gumamnya dalam hati.
"Siapa Gina ?" Tanya Al ingin tahu. Sejak tadi, dia hanya menjadi pendengar setia.
"Itu lo Mas, yang tadi pagi aku ceritakan. Gina itu teman Nindya, putrinya Hanifa teman baruku juga di sekolah Nindya." Jawab Anita.
"Hanifa ?" Ucap Al lirih.
Saking lirihnya, hingga hampir tak terdengar sama sekali.
Mendengar nama Hanifa, Al ingat masa lalunya waktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Perubahan mimik di wajahnya membuat Tata tertarik untuk bertanya.
"Kenapa Mas, Mas kenal sama dia ?"
Nama itu, mirip dengan seorang gadis yang sempat menyatakan jatuh cinta kepadanya.
'Hanifa.' Nama yang sama, teman satu kelas Kinanti yang selalu mencari perhatian saat berada di rumah keluarga Kamandanu.
'Ah, mungkin hanya namanya saja yang sama.' Pikir Al dalam hati.
"Oh, iya, tidak, mungkin hanya sama namanya saja." Jawabnya sedikit gugup.
"Siapa, maksudnya Hanifa. Memangnya Mas punya teman yang namanya Hanifa ?" Tanya Tata memberondong.
"Tidak, bukan teman aku, tapi Kinanti." Jawabnya enggan mengingat-ingat hal yang sudah lewat.
"Oh ... "
'Kinanti ? Apa mungkin Hanifa begitu mendadak akrab, karena wajahku mirip dengan Kinanti ?' Kata hati Tata bertanya.
"Tunggu deh Mas, jangan-jangan apa yang Mas katakan benar." Ucapnya mencoba menebak.
"Benar apanya ?"
"Kinanti, Hanifa, mungkin Hanifa memang mengenal Kinanti. Kalau tidak, kenapa coba dia tiba-tiba begitu akrab denganku." Pikirnya lagi.
"Ya mungkin hanya kebetulan saja." Komentar Al santai.
"Jadi penasaran, coba deh nanti aku tanyakan."
Uhhuukkk ... uhhuukkk ... uhhuukkk ...
Pernyataan Anita membuat Al tiba-tiba tersedak.
"Kenapa Mas, ini minum dulu, pelan-pelan." Pinta Anita saat trafik light menyala merah.
Tata tidak pernah tahu bagaimana kehidupan dia di masa lalu. Kedekatan Hanifa dan Kinanti bukan hanya sebagai seorang teman yang sama-sama duduk di bangku SMA.
Tapi mereka berdua lebih dari seorang sahabat, sudah seperti saudara, punya mimpi yang sama dan keinginan untuk terus bersama-sama.
__ADS_1
Kinanti selalu menghormati apa yang sahabatnya itu inginkan. Begitupun, saat Hanifa mengatakan kalau dia menyukai kakaknya.
Kinanti sempat berharap, kalau memang mereka berjodoh, keinginan akan menjadi saudara akan terkabul.
Jika benar Hanifa yang dia maksud adalah orang yang sama, Al khawatir kalau kedekatan mereka akan berubah, jika mereka sama-sama tahu.
'Ah, tidak-tidak, Tata bukan perempuan yang psimis dengan hidupnya. Dia pasti bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak tepat untuk dia percaya.' Komentar Al dalam hati.
"Kita sampai sayang." Kata Al saat memasuki gerbang sekolah Nindya.
Dia berharap, tidak bertemu dengan perempuan yang bernama Hanifa saat ini.
"Mana dia ?" Tanya Anita sambil melihat sekeliling.
"Siapa ?"
"Hanifa."
'Jangan sekarang Ya Allah, biarkan semua berjalan apa adanya seperti ini saja.' Pinta Al dalam hati.
"Mama, ayo." Ajak Nindya tidak sabar ingin segera masuk kelas.
"Iya sayang, salim dulu sama Papa."
"Assalamu'alaikum Papa." Ucapnya usai mencium punggung tangan Papanya.
"Wa'alaikumsalam, Papa langsung berangkat ya."
"Dada Papa."
"Da."
Nindya segera berlari bersama teman-temannya menuju kelas usai berpamitan dengan Mama Tata.
"Nanti Mas, yang jemput ?" Tanya Anita ingin memastikan.
"Lihat nanti, kalau aku tidak ada acara, aku jemput. Kalau enggak, ada Reza atau Pak Slamet yang jemput." Jawab Al belum pasti.
"Iya Mas, hati-hati di jalan." Ucapnya sembari melambaikan tangan.
Tak berapa lama, yang sejak tadi dinanti-nanti, akhirnya datang juga.
"Tata."
"Hanifa."
Teriak keduanya saling berpelukan.
"Kenapa jadi saya yang nungguin, bukannya tadi duluan kamu yang berangkat ?" Tanya Tata dengan bahasa yang lebih akrab.
"Maaf, aku telat ya. Habisnya tadi di jalan ada sedikit trouble, jadi telat deh." Ucapnya menjelaskan.
"Iya, gakpapa. Yang penting Ginanya gak telat masuk sekolah." Komentar Anita.
Hanifa mengangguk, mengiyakan pernyataan Anita. Mereka berdua mencari tempat yang nyaman untuk saling berbincang sembari menunggu buah hatinya belajar.
____________________
____________________
____________________
__ADS_1