Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 07. Misteri 'Putri Ayu' 1


__ADS_3

Tok .. tok .. tok..


Alfatih tersentak kaget saat seseorang mengetuk pintu mobilnya.


"Iya Za."


Dibalasnya ketukan itu dengan membuka kaca jendela pintu kemudinya.


"Ada masalah Pak ? Maaf, dari tadi saya amati Bapak terdiam dan tidak keluar - keluar dari dalam mobil." Sikap Reza sangat jeli dengan gerak tingkah atasannya.


"Tidak ada masalah, saya hanya sedikit lelah." Jawabnya asal.


"Apa kita perlu cansel agenda hari ini ?"


"Tidak - tidak, jangan. Saya tidak apa-apa."


"Baik Pak, kalau begitu saya tinggal dulu ke dalam. Saya harus menyiapkan meeting untuk pengenalan Bapak pagi ini." Terangnya.


"Iya, sebentar lagi saya menyusul."


Setelah kepergian Reza, Alfatih kembali menutup kaca pintu mobilnya. Tatapan matanya kembali pada sebuah kue tradisional yang masih tergeletak di dasboard mobilnya.


Ternyata itu yang sejak tadi membuat Al tidak bergerak dari dalam mobil.


"Putri Ayu." Dibacanya lebel yang tertera pada pembungkus kue itu.


"Kenapa aku kepikiran gadis itu kembali, siapa dia ? dimana rumahnya ?" Gumamnya sendiri.


Al meraih kue yang sudah tidak layak makan itu. Dia masukkan ke dalam tas jinjingnya.


"Selamat pagi Pak Al."


"Pagi." Jawabnya ketika bertemu karyawan yang menyapa.


"Pak Al, ruang meeting sudah siap. Apa bisa kita mulai sekarang ?" Tanya Reza.


"Iya, saya segera ke sana."


Tak lama berselang, semua karyawan inti dari berbagai devisi sudah berada di dalam ruang meeting.


Agenda meeting kali ini, membahas program kerja kepemimpinannya kedepan. Selain itu banyak hal yang harus dia evaluasi.


Al kembali ke ruang kerjanya, usai menutup meeting pagi kali ini. Dia kembali meraih kue puthu yang masih tersimpan di dalam salah satu kantong tasnya.


Dia pandangi berulang-ulang, entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Za, bisa ke ruangan saya sebentar ?"


"Iya Pak."


Pintanya kepada Reza, melalui telepon lokal di kantor.


Tok .. tok .. tok ...


"Masuk."


"Ada yang bisa saya bantu Pak ?"


"Duduk Za."


Reza duduk dengan rasa penasaran di hatinya. Selama dekat dengan Alfatih, baru kali ini dia diajak ngobrol bersama tanpa tahu apa yang akan dibahasnya saat ini.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kamu tinggal di kota ini ?"


Pertanyaan Al terdengar aneh di telinga Reza.


"Saya sudah sejak kecil lahir dan dibesarkan di kota ini Pak. Namun sempat tinggal beberapa tahun di luar kota untuk menuntut ilmu." Terangnya.


'Jadi, sedikit banyak dia tahu seluk beluk kota ini.' Pikir Al dalam hati.


"Pak Al ?" Panggil Reza, saat melihat Al melamun.


"Iya, maaf." Jawabnya gugup.


"Apa ada masalah ?" Ini kali kedua Reza menanyakan hal yang sama.


"Tidak masalah, tapi aku minta tolong satu hal padamu."


Reza memperhatikan dengan seksama. Hal apa yang akan bos mudanya sampaikan.


Begitupun dengan Al, yang terlihat bingung mau mulai dari mana menanyakan perihal kue puthu.


Al mengambil kue yang tadi sempat dia sembunyikan di balik tasnya saat Reza memasuki ruang kerjanya.


'Sebuah kue, apa yang akan Pak al lakukan dengan kue itu ?' Pikir Reza dalam hati.


"Za, apa kamu pernah melihat seseorang yang menjual kue puthu ini ?"


Pertanyaan Al membuat Reza sedikit kebingungan.


"Tidak Pak, bahkan...saya beru pertama kali melihat kue itu." Jawabnya jujur.


"Ah, ya." Hanya itu yang keluar dari mulut Al.


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu siapa gadis penjual kue puthu ini." Gumamnya dengan pandangan sedikit kosong.


'Jadi Pak Al menanyakan hal itu karena seorang gadis, apa Pak Al sedang jatuh cinta ?' Tanya Reza dalam hati.


"Apa perlu saya turun tangan sendiri untuk mencarinya ?"


"Ya. Aku ingin tahu bagaimana latar belakang gadis itu." Ucapnya.


"Apa ada petunjuk yang bisa saya pakai ?"


"Di sini tertulis 'Putri Ayu' sebagai lebelnya. Siapa tahu ini bisa menjadi petunjuk." Kata Al sembari menyerahkan sebuah kue yang sudah tidak layak makan itu kepada Reza.


Reza mengambil foto dari kue tersebut, dan meninggalkannya kembali di meja kerja Alfatih.


"Baik Pak, saya akan coba cari tahu."


"Makasih Za."


"Ada lagi Pak ?"


"Tidak, cukup itu saja."


"Baik, kalau begitu, saya permisi dulu Pak.


"Iya, terimakasih Reza."


Sudah menjadi tanggung jawab Reza untuk menyelesaikan semua masalah yang berhubungan dengan Alfatih.


Entah itu urusan pekerjaan, atau bahkan urusan pribadi atasannya.

__ADS_1


'Aneh, apa sebenarnya yang Pak Al cari ? Apa mungkin Pak Al jatuh hati dengan gadis penjual kue itu.'


Reza tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana bos mudanya itu bisa jatuh cinta. Setahu Reza, jangankan dekat dengan perempuan, melirik saja dia tidak mau.


Entah ada apa dengan hatinya, mungkin sudah terlanjur sering melihat yang import - import, yang lokal tidak mempan.


"Hhmmmm... Ada - ada saja." Gumamnya sendiri.


"Pak Reza, kenapa senyum-senyum sendiri." Sapa Siska, sekretaris Al yang kebetulan lewat.


"Ah ini, gakpapa. Lagi pengen senyum saja." Jawab Reza asal.


"Hati-hati kesambet lo Pak." Godanya sambil berlalu.


"Eh Sis tunggu sebentar."


"Ada apa Pak ?"


"Kamu kan perempuan, identik dengan jajan_"


Siska mengerutkan dahi, mendengar pernyataan yang disampaikan Reza.


"Maksud saya gini, apa kamu pernah beli jajan pasar seperti ini ?" Tanya Reza to the point, saat menyadari lawan bicaranya mulai merasa tak nyaman.


"Pak Reza, pengen puthu ayu saja ngomongnya belepotan."


"Iya itu maksud saya." Ucapnya salah tingkah.


"Ini namanya kue puthu ayu Pak, kalau Pak Reza mau, besok saya belikan." Tawar Siska.


"Bukan saya yang mau, tapi Pak Al." Bisiknya lirih.


"Hahh !" Komentar Siska setengah menjerit.


"Ssstttt.." Sela Reza, takut siska akan bersuara lebih keras lagi.


"Tapi Pak Al maunya yang ada lebelnya 'Putri Ayu'. Kalau perlu, kamu minta alamat rumah produksinya." Pesan Reza.


Siska memperhatikan bentuk dan meneliti model tulisan yang ada pada kue puthu ayu itu.


"Kalau ada info, segera kabari saya ya. Ingat, ini misi rahasia jangan sampai bocor." Pesannya lagi.


"Iya - iya, siap."


Siska kembali ke ruang kerjanya dengan diliputi rasa heran.


'Memang apa istimewanya puthu ayu 'Putri Ayu' ya ? Perasaan semua kue puthu ayu rasanya sama deh.' Pikirnya dalam hati.


Benar apa yang Reza katakan. Kalau jajanan atau makanan jenis apapun identik dengan perempuan. Buktinya, siang itu juga setelah tiba jam makan siang, Siska langsung meluncur menuju pasar tradisional, mencari apa yang Reza tanyakan.


Namun sayang, sudah beberapa lapak dia hampiri, tidak satupun ada kue putu ayu dengan lebel yang diminta Reza.


"Aneh, perasaan sudah semua lapak jajanan aku jelajahi, tapi gak ada yang jual puthu ayu dengan nama itu." Gumamnya sendiri.


Terang saja tidak ada di pasaran, karena memang, Tata tidak pernah menjualnya ke pedagang jajanan. Dia hanya menjajakan sendiri hasil karyanya dengan berkeliling naik sepeda pancal peninggalan Almarhumah Ibunya.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2