
Asyiknya Nindya dan Regina bermain, juga obrolan Al dengan Hanifa yang semakin akrab, membuat mereka lupa, kalau ada seseorang yang sedang menunggu di sebrang sana.
'Mas Al sama Nindya kemana ya, lama sekali.' Ucapnya mengusap peluh. Terik matahari semakin tinggi, semakin terasa panas.
Dia teguk sedikit demi sedikit air mineral yang tadi dia bawa dari rumah.
'Masih utuh, Dya belum minum sama sekali.' Gumamnya dalam hati, mengkhawatirkan putri kecilnya di dalam panasnya terik matahari.
Tata beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya, menyusuri pinggiran taman kota. Rasa bosan menunggu, memaksa Anita untuk perlahan berjalan mencari keberadaan dua orang yang dia sayangi.
Tempat ini, dulu tempat dia mengais rezeki. Di tempat ini Tata belajar banyak hal. Dan di tempat ini juga, Tata bertemu Bunda Arum yang sekarang telah menjadi ibunya.
Dari jauh, dia tersenyum, saat menemukan bidadari kecilnya sedang asyik bermain.
"Gina, Nindya bersama Regina, lalu dimana Mas Al ?" Gumamnya lirih.
Pandangan matanya masih berkeliaran ke sekeliling. Hingga tertuju pada sebuah kursi taman, dimana ada Al dan Hanifa disana.
"Kalian disini rupanya." Sapa Tata mengagetkan.
"Hai Ta, maaf keasyikan melihat anak-anak bermain." Komentar Hanifa gugup dan terlihat salah tingkah.
Berbeda dengan Al yang terap stay cool saat beranjak dari tempat duduknya.
"It's Ok, tidak masalah. Kebetulan tadi di sebelah sana sudah mulai sepi. Lagipula rasa capeknya sudah berkurang juga, jadi aku coba berjalan lagi mencari Nindya." Jawab Tata panjang lebar.
"Dya, kita pulang dulu yuk. Matahari sudah mulai terik." Ajak Al kepada putrinya.
"Iya Papa." Jawabnya sembari berlari mendekati Papa Al dan Mama Tata.
"Pamit dulu sayang, say goodbye to Regina." Pinta Mama Tata kepada Nindya.
"Bye Regina, bye Tante."
"Bye Dya." Jawab Regina melambaikan tangan.
"Bye sayang, sampai ketemu di sekolah ya."
"Kami duluan ya Fa." Ucap Tata sebelum meninggalkan Hanifa dan Regina di taman.
"Oke, saya juga langsung mau balik."
"Bye, hati-hati di jalan ya."
"See you next time."
Al berlalu begitu saja, meninggalkan mereka berbincang sebelum pulang. Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan pulang ke rumah.
Entah karena tidak ada topik pembicaraan, atau mungkin memang sedang tidak ingin bicara. Yang pasti, ada hal yang tidak biasa pada mereka.
"Mama, Dya lapar." Rengek Nindya memecah kesunyian.
"Dya lapar, Dya mau makan apa sayang ?" Tanya Mama Tata berusaha bersikap biasa.
"Eeehhhmmm ... Dya mau bubur ayam." Jawabnya manja.
"Oke, kita mampir beli nanti ya. Yang di ujung jalan sana kan ?" Tanya Mama Tata setengah memberikan petunjuk kepada pemegang kendali kendaraan di sampingnya.
Al masih terdiam. Dalam hati dia sudah merasakan ada hal berbeda pada istrinya.
__ADS_1
"Di sana Ma." Teriak Nindya menunjuk suatu tempat.
"Iya sayang, Papa parkir dulu ya." Jawab Al sembari mengarahkan mobilnya ke tempat parkir yang tersedia.
Tata memesan tiga porsi bubur ayam lengkap dengan teh panas sebagai pengganjal perut mereka yang lapar usai berolahraga.
"Sayang, cobain deh. Gorengannya enak lo, masih hangat." Kata Al yang merasa dicuekin dari tadi.
"Dya mau nambah apa ?" Tanya Mama Tata, tanpa memperdulikan tawaran dari Al.
"Eeehhhmmm ... sate telurnya enak gak Ma ?"
"Enak dong, mau ?"
"He'em."
Tidak ada perbincangan lagi, yang terdengar hanya sentuhan sendok piring yang terkadang nyaring terdengar.
"Dya sudah mamamnya ?"
"Habis Ma." Jawabnya girang.
"Pinter sekali anak Mama."
Mereka melanjutkan perjalanan pulang, usai menyelesaikan sarapannya.
"Eyang !" Panggil Dya saat melihat Bunda Arum sedang asyik dengan tanaman hiasnya.
"Eh ... Cucu Eyang sudah pulang. Senang olahraga nya ?"
"Senang Eyang. Tadi Dya ketemu Gina juga."
"Iya dong." Jawabnya menggemaskan, membuat keduanya tertawa.
"Mandi sana, bau acem. Habis itu Dya sarapan." Pinta Eyang.
"Dya sudah kenyang Eyang, tadi mamam bubur ayam di pojok sana." Jawabnya sembari mengelus perutnya sendiri.
"Kalau begitu segera mandi ya."
"Iya Eyang."
"Kami ke dalam dulu Eyang." Ucap Tata meninggalkan Bunda Arum dengan kesibukannya.
Bunda tersenyum mengangguk, sembari memperhatikan perubahan mimik wajah pada menantunya.
'Ada apa dengan Anita dan Al, kelihatannya ada yang sedang mereka masalahkan.' Gumam Beliau. Apalagi melihat Al yang tidak biasanya masuk nyelonong saja tanpa menyapa.
'Apa ini ada hubungannya dengan pertemuan tidak sengaja antara Al dan Hanifa di taman tadi.' Kata Beliau dalam hati, mencoba menebak.
'Ah ... tidak-tidak, aku tidak boleh su'udzon.' komentar hati Beliau berusaha menepis kemungkinan yang terjadi.
Sedangkan di kamar utama, Tata masih saja membungkam. Dia duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya yang basah.
"Ehhmmmm ... Kamu kenapa dari tadi diam saja ?" Tanya Al sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Gakpapa." Jawabnya acuh.
"Gakpapa bagaimana, kamu tidak bisa bicara bohong dan tidak pernah bisa berbohong." Elak Al yang merasakan perubahan sikap istrinya.
__ADS_1
"Beneran Mas, aku gakpapa." Jawabnya masih tanpa ekspresi.
"Plis ... ngomong, apa aku berbuat salah ?" Tanya Al penasaran ingin tahu.
"Gak ada yang salah Mas. Mungkin aku yang salah."
"What's ! Apa maksudmu ?" Nada bicara Al mulai kesal.
Tata menatap tajam mata suaminya.
"Jujur Mas, aku cuma tidak suka kamu bicara akrab dengan perempuan lain." Ucapnya lirih.
Tak terasa ada butiran bening mengalir di pipinya, yang terkadang terasa hangat namun pedih menyusup ke dalam pori-pori.
"Maksud kamu, Hanifa ?"
"Ya, bukan hanya Hanifa saja." Elaknya.
"Tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk Hanifa ?"
"Ya." Gumamnya lirih.
Al tersenyum, dia paham ada rasa cemburu di hati istrinya. Apalagi dengan kondisi dia seperti sekarang ini. Hatinya sangat rapuh dan sensitif tinggi.
"Kamu cemburu ?" Canda Al menggoda istrinya.
"Enggak, buat apa cemburu. Hanya mbuat sakit hati." Jawabnya acuh.
"Sini."
Al merengkuh tubuh Tata ke dalam pelukannya.
"Aku berbicara dengan perempuan manapun tanpa ada rasa lain di hatiku." Ucap Al memberikan pengertian.
"Tidak juga kepada Hanifa." Tambahnya lagi.
"Meskipun itu masa lalumu ?" Tanya Tata memastikan.
"Ya, apapun alasannya."
"Yakin Mas ?"
"Kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri ?"
"Aku akan mencoba untuk selalu percaya."
"Tidak ada hal yang berharga di dunia ini, kecuali kalian bertiga, Bunda, Nindya dan kamu." Ucap Al sembari menghujani ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.
Tata hanya diam diperlakukan seperti itu. Dalam hati dia bersyukur dan selalu memohon kepada Sang Pencipta, agar jangan berikan hati suaminya untuk ory lain.
"Hanya itu yy sedang kamu pikirkan ?" Tanya Al kembali memastikan apa penyebab kegelisahan istrinya.
Tata mengangguk mengiyakan pernyataan suaminya. Memang, saat ini hanya nama Hanifa yang berkeliling di dalam benaknya, melukiskan gambaran-gambaran rasa cemburu di dalam hatinya.
'Maafkan aku Mas, meskipun aku bilang tidak, tapi entah mengapa di dalam hatiku masih ada seberkas keraguan.' ungkapan hati Anita.
__________________
__________________
__ADS_1
__________________