Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 17. Pertemuan Pertama


__ADS_3

Tangisan Nindya semakin menjadi, saat Al menolak untuk mengajaknya ikut serta ke kantor.


"Dya ingin ketemu Mama Pa." Ucapnya memelas.


"Dya, sudah berapa kali Papa bilang, Mama Nindya sudah meninggal." Jawab Al lirih mencoba menenangkan hati putri kecilnya.


"Tapi Dya ingin ikut Papa ke kantor." Rengeknya memaksa.


"Dya, dengerin Papa. Papa lagi sibuk, hari ini Dya dirumah sama Eyang. Lain waktu pasti Papa ajak lagi ke kantor." Jawab Al tidak kalah ngototnya.


"Al, tidak ada salahnya jika Nindya mau ikut. Lagipula dia tidak terlalu merepotkan kok." Kata Bunda Arum.


Sebenarnya tidak ada jadwal khusus di kantor hari ini. Al hanya tidak mau Dya terlalu dekat dengan orang asing.


Meskipun Dia salah satu bagian dari perusahaanny, namun bagi Al, Tata tetaplah orang asing. Bahkan, namanya saja belum Al kenali.


"Tapi Bunda, masalahnya_"


"Masalahnya kenapa ? Kamu malu mengakuinya sebagai anak kamu ?" Potong Bunda.


"Bunda ini ngomong apa sih ? Kenapa Al harus malu. Dya kan putri Al juga." Bantahnya.


"Sini sayang, Dya ikut sama Eyang dulu ya. Nanti kita susul Papa di tempat kerja." Bujuk Bunda Arum.


Nindya langsung bergelayut manja kepada Eyangnya, setelah mencium punggung tangan Papa angkatnya.


"Dya gak boleh nakal ya, Papa berangkat dulu." Pamit Alfatih.


Nindya hanya mengangguk malas, masih di dalam pelukan Eyang.


Sebenarnya Al tidak tega melihat Nindya ngambek seperti itu.


"Kita berangkat sekarang Pak ?" Ajak Reza yang kebetulan datang ke rumah pagi itu.


***


Pandangan mata jaim itu meneliti setiap sudut ruangan, mulai dari lobi sampai memasuki ruang kerjanya.


'Kenapa setelah sekian lama aku memimpin, aku baru tahu kalau gadis yang aku cari bekerja di kantorku sendiri.' Gumam Al dalam hati.


Tangannya masih sibuk memainkan pena, sesekali dia ketuk-ketukkan di pinggiran meja kerjanya.


Tok ... tok ... tok ...


Al terperanjat kaget, saat pintu ruang kerjanya diketuk seseorang.


"Masuk." Jawabnya sembari menata kembali duduknya.


Pucuk dicinta ulampun tiba, mungkin pepatah itu yang pas untuk Al saat ini.


Yang dia pikirkan sejak tadi, tiba-tiba hadir di depan mata.


"Selamat siang Pak."


"Hhmmm, ada apa ?" Tanya Al acuh.


'Busyet, dingin banget. Bukannya dia sendiri yang memintaku ke ruangannya kemaren.' Gerutu Tata dalam hati.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya Tata. Sa - saya diminta Mbak Nia untuk menghadap ke Bapak." Jawabnya gugup.


"Nia ? Buat apa saya memanggil kamu. Ada - ada saja." Omel Al.


Diraihnya gagang telepon kantor untuk menghubungi yang bersangkutan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Mungkin Mbak Nia salah memberikan perintah."


Dengan perasaan dongkol campur malu, Tata berbalik meninggalkan ruang kerja Bosnya.


"Tunggu !"


Tata menghentikan langkah kakinya sebelum dia sempat membuka handle pintu yang ada pada genggaman tangannya.


Dia kembali berbalik dan menunggu instruksi selanjutnya.


"Duduk."


Sebenarnya enggan dia kembali ke tempat yang Al perintahkan.


'Jauh banget sama Bunda Arum. Gak ada ramah - ramahnya sama sekali.' Komentarnya dalam hati.


Tapi seperti apapun dia tetap Bos, yang maha benar.


"Siapa namamu ?"


'Huuff... perasaan tadi aku sudah memperkenalkan diri.' ocehnya dalam hati.


"Kenapa bengong ?"


"Oh, eh ... iya Pak. Nama saya Anita Pak, tapi bukankah saya tidak diperlukan di sini ya Pak ?"


Tok .. tok .. tok ..


Seorang lagi terdengar mengetuk pintu.


"Masuk."


Ternyata Nia yang keluar dari balik pintu itu.


"Maaf Pak, Pak Al memanggil saya ?"


"Ya, duduk."


Dengan perasaan cemas, Nia mengambil tempat duduk di sebelah Tata yang sudah mulai rileks dengan posisinya.


"Kenapa kamu memerintahkan office girl ini ke ruangan saya ?"


Mata Anita sedikit melotot. Kalimat tanya yang Al sampaikan begitu menusuk hatinya.


'Sombong amat ini orang, memangnya serendah itu ya pekerjaan tukang bersih-bersih di mata Bos.' Omel Tata lagi dan lagi.


"Maaf Pak, bukannya kemaren Bapak yang minta untuk mengundang pemilik rumah produksi pembuatan kue tradisional yang kita pesan saat acara meeting dengan klien ?" Jelas Nia panjang dan lebar.


'Astaqfirullah, hampir saja aku lupa.' kata hati Al.


"Lalu, apa hubungannya dengan dia ?" Tanya Al pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Ya, Mbak Tata ini yang membuat kue - kue kita kemaren Pak." Jawab Nia lirih, takut jika membuat kesalahan.


Alfatih yang tadinya jutek, akhirnya berusaha memperlihatkan wajah ramahnya, setelah mengingat - ingat kembali, betapa klien pentingnya sangat memuji dan menyukai semua kue-kue tradisional buatan Anita.


"Oh, iya maaf. Kalau begitu sesuai dengan apa yang saya sampaikan dulu. Saya akan memesan dua puluh lima paket kue tradisional untuk dikirim ke tempat klien - klien kita." Kata Al kepada Nia.


'Pesannya sama siapa, ngomongnya sama siapa.' Komentar hati Tata yang merasa dicuekin dari tadi.


"Eh, Mbak Tata gimana ?" Tanya Nia beralih kepada yang berwenang menjawab.


"Oh, ngomongnya ke saya ?" Jawab Tata balik bertanya.


"Gimana ? Apa anda bersedia ?" Kali ini pandangan mata Al tertuju kepada Anita.


"Ya, saya sanggup. Mau pesan yang ukuran seberapapun kami siap." Jawab Anita percaya diri.


Padahal di dalam hatinya khawatir, siapa yang akan membantu menyiapkan pesanannya itu nanti.


"Saya minta paket seperti kemaren saja."


"Baik, akan kami siapkan."


"Berapa saya harus bayar ?"


"Yang kemaren, isi tujuh macam kue tradisional. Dengan harga seratus lima puluh ribu per paketnya." Jawab Nia yang masih hafal di luar kepala. Karena setiap acara, dia juga yang handle menunya.


"Jadi totalnya berapa ?"


"Semua totalnya tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah Pak." Terang Nia.


"Oke, dill. Bayar empat juta." Jawab Al menyudahi pembicaraan mereka mengenai transaksi pemesanan.


Nia membelalakkan mata heran. Secara tawar menawar harusnya kurang dari harga yang diberikan, ini malah lebih.


'Bos yang aneh, tapi gakpapa, ganteng sih.' Komentar Nia dalam hati.


"Kalau begitu, kami permisi dulu Pak."


"Ya." Hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Alfatih.


'Benar-benar mirip.'


Lamunan Al kembali melambung, setelah kepergian kedua karyawannya.


'Apa mungkin Allah mengirimkan dia untukku ?' bisiknya dalam hati.


"Tidak - tidak, mana mungkin aku bisa kagum dengan gadis seperti itu. Come on Al sadar, dia hanya salah satu wanita yang mirip saja, tidak ada yang spesial." Gumamnya sendiri.


Kinanti memang sangat berarti dalam hidup Alfatih. Bahkan Al sempat menutup pintu hatinya untuk perempuan lain, sejak mendengar kabar kalau adik angkatnya itu akan melangsungkan pernikahan.


"Selamat Kinan, semoga kamu bahagia dengan pilihan hatimu. Maafkan kakak, yang tidak sanggup melihatmu duduk di pelaminan."


Begitu ratapnya dulu. Jarak yang membuat Al bisa mudah melupakan Kinan. Tapi gini, Allah mempertemukan dia dengan Kinan yang lain.


Yang sempat menggelitik pintu hatinya untuk kembali terbuka. Meskipun belum sekuat dulu, namun rasa itu masih ada.


_______________

__ADS_1


_______________


_______________


__ADS_2