Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 32. Tersedak


__ADS_3

"Itu bukan suami saya Pak."


Jawaban yang membuat Al kaget sekaligus lega.


"Syukurlah." Gumamnya lirih.


Berharap tidak seorangpun mendengar apa yang barusan dia katakan. Tapi terlambat, Tata sudah terlanjur mendengarnya.


"Kenapa Pak ?" Tanya Tata heran.


"Oh, gakpapa. Saya pikir dia suami kamu."


"Memangnya kenapa kalau dia suami saya ?" "Ya gakpapa, saya cuma memikirkan Dya, kalau kamu belum menikah, kan Dya bisa sering-sering main ke tempat dimana kamu bekerja." Jawab Al salah tingkah sembari meneguk minuman yang baru saja disuguhkan.


"Memangnya Pak Al yakin kalau saya belum menikah ?"


Uugghhh ... uugghhh ... uugghhh ...


Al tersedak mendengar pertanyaan Anita.


"Minum lagi Pak ?"


Dia sodorkan gelas berisi air putih. Bukannya reda, malah semakin membuat Al terbatuk-batuk.


Tata yang ikut panik, berusaha menenangkan dengan menepuk-nepuk punggung Al. Di dalam keadaan darurat, mereka tidak menyadari kalau mereka begitu dekat.


Bahkan, Tata bisa merasakan aroma keringat bercampur khas maskulin yang Al kenakan.


Tangan kiri anita masih berlabuh di punggung Al, sedangkan tangan kanannya memegang botol air mineral yang dia sodorkan untuk membantu Al minum.


Entah sengaja atau tidak, tangan mereka saling beradu, memegang satu sama lain. Mata Al tertuju tepat pada gadis di hadapannya.


Wajahnya begitu ranum, meski peluh mengalir di keningnya.


'Ya Allah, apa aku sedang bermimpi.' Gumam Al dalam hati.


Perlahan tapi pasti, kesadaran mereka kembali.


"Maaf Pak, saya hanya membantu Pak Al." Ucapnya, sembari berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Iya, terimakasih." Jawab Al masih salah tingkah.


"Oh ya Pak, mumpung Non Nindya sudah tidak rewel, saya harus segera pergi. Ada hal yang harus saya kerjakan." Pamitnya.


"Eh, tapi_"


"Lain kali jika masih ada waktu dan kesempatan, saya akan main lagi dengan Non Nindya." Potongnya.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan ajak Dya sering-sering main ke tempat kamu bekerja."


"Saya rasa tidak perlu Pak, karena saya sudah tidak bekerja lagi di sana."


"Kenapa ?" Tanya Al dengan raut wajah penuh kecurigaan.


"Tidak apa-apa, bukan hal penting. Cuma, ngomong-ngomong, bagaimana bisa Pak Al mengira kalau Mas Andri itu suami saya ?" Tanya Tata penasaran dan menghentikan pamitnya sejenak.


"Jadi, laki-laki itu namanya Andri. Kebetulan saya pernah mendengar langsung dari Bulek dan sepupu kamu."


"Oh." Cukup itu saja yang Tata katakan. Dia tidak mau berbicara lebih banyak. Lagipula, meskipun dijelaskan panjang lebar juga tidak ada untungnya bagi dia.


Makanan yang mereka pesan belum juga sampai. Tapi Tata sudah buru-buru hendak pergi, setelah dia tengok jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak."


"Kamu tidak mau menunggu makan terlebih dahulu ?"


"Terimakasih Pak, lain kali saja."

__ADS_1


Usai berkata begitu, Tata langsung berdiri dan pergi sebelum Nindya sempat melihatnya.


Memang sejak awal mereka datang, Tata tidak memesan menu makan apa-apa. Hanya segelas jus jeruk yang sudah dia nikmati sejak tadi.


Al sendiri hanya bisa diam dan mengiyakan. Tapi jika dia boleh memilih, ingin rasanya dia teriakan Nindya supaya Tata kembali duduk di tempatnya.


Tutt ... tutt ... tutt ...


["Hallo Za."] Al mulai bicara saat panggilannya terjawab.


["Iya Pak."]


["Cari tahu, kenapa Tata begitu saja keluar dari tempat kerjanya. Dan cari tahu juga, dimana dia bekerja sekarang."] Perintah Al lagi.


["Baik Pak."]


"Dya, sini sayang, kita makan dulu."


Bocah kecil yang sedang lincah-lincahnya itu mendekat.


Pandangan matanya berputar, seolah mencari sesuatu yang hilang.


"Ayo duduk, berdoa dulu sebelum makan." Bujuk Al yang paham apa sebenarnya yang sedang putri kecilnya cari.


"Mama mana Pa ?" Tanya Nindya penuh harap.


"Mama ... Mama ada urusan sebentar." Jawab Al sekenanya.


"Dya gak mau makan, Dya mau Mama." Rengeknya.


"Dya, Dya gak boleh begitu. Ayo makan dulu, Papa suapin ya." Bujuk Al.


"Dya mau Mama."


"Ya sudah kita kejar Mama ya." Kata Al berbohong.


Al meminta pelayan resto untuk membungkus semua pesanannya. Dia bawa putri kecilnya kembali pulang. Karena disaat Nindya merajuk seperti ini, hanya Bunda Arum yang bisa menenangkan.


"Papa bohong." Ucapnya sembari masuk ke dalam kamar.


Nindya marah, setelah tahu kalau tujuannya bukan ke tempat yang dia minta, tapi malah kembali pulang ke rumah Eyang.


"Nindya, Nindya." Bahkan panggilan Eyang sudah tidak dia dengarkan lagi.


"Kenapa Dya Al ?" Tanya Bunda Arum.


"Dya marah Bunda, tadi kebetulan di tempat care free day, Dya bertemu dengan Anita." Jawab Al.


"Pasti Dya merajuk, tidak mau diajak pulang." Kata Bunda berusaha menebak apa yang terjadi.


"Ya, salah satunya seperti itu."


Bunda Arum langsung masuk ke kamar Nindya. Beliau bujuk cucu kesayangannya, namun sia-sia.


"Anak pintar tidak boleh suka marah."


"Dya mau makan sama Mama Eyang." Rengeknya terus menerus.


"Iya, nanti Eyang minta Mama Tata ke sini buat suapin Nindya."


Untuk sementara Nindya sudah sedikit tenang. Bahkan dia mulai kelelahan dan langsung tertidur.


"Dya sudah mau makan Bunda ?" Tanya Al.


"Belum, tadi cuma minum susu. Setelah mandi langsung tidur." Jawab Bunda Arum.


Untuk sementara waktu, Al bisa lebih tenang tanpa mendengar tangisan Nindya.

__ADS_1


"Pak Al, di luar ada Pak Reza mencari Bapak." Kata Pak Slamet.


"Oh, iya Pak. Suruh dia tunggu di ruang kerja saya."


"Baik Pak."


'Ada apa Reza datang sore-sore begini ? Apa mungkin ada hubungannya dengan permintaan ku tadi ? Tapi secepat itukah dia dapat informasi.' Kata hati Al bertanya-tanya.


"Reza ? Hari Minggu begini ada acara apa dia datang Al ?" Tanya Bunda.


"Al belum tahu Bunda, mungkin ada hal yang ingin dia sampaikan. Atau mungkin hanya sekedar silaturahmi." Jawab Al menebak.


"Ya sudah, kamu temui dia. Jangan biarkan dia lama menunggu." Perintah Bunda.


"Iya Bunda."


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Al segera menuju ruang kerjanya. Dia sendiri juga penasaran, kabar apa yang akan dia dengar sore ini.


"Sore Za."


"Sore Pak."


"Ada yang sudah kamu dapatkan ?"


"Iya Pak, kebetulan tadi saya pergi ke tempat dimana Mbak Tata bekerja. Saya bertemu dengan Sari, teman kerja sekaligus teman sekamar dengan Mbak Tata. Meskipun saya belum mendapatkan informasi apa-apa dari dia." Terangnya.


"Lalu ?"


"Tapi, ada hal menarik yang membuat saya harus beritahu Pak Al secara langsung." Lanjutnya lagi.


"Apa itu ?" Al mendekat, dia lihat video yang Reza berikan.


•On video


"Sari, cepat kasih tahu dimana Tata sekarang tinggal ?" Teriaknya, hingga memancing beberapa pengunjung minimarket untuk kepo.


"Saya tidak tahu Mas, Mbak Ata gak bilang apa-apa."


Terlihat jelas pada raut wajah Sari, ada rasa takut yang dia sembunyikan.


"Awas saja, kalau sampai kamu berbohong."


Sari menggeleng-gelengkan kepalanya. Takut jika amarah Andri lebih besar lagi.


Dia pergi usai melampiaskan kekesalannya kepada Sari.


"Yang salah siapa, yang kena marah siapa. Pusing kalau sama Bos, maunya menang sendiri." Gerutunya sendiri.


•Video Off


"Kalau melihat adegan barusan, kelihatannya Mbak Tata keluar, karena ada masalah dengan Bos nya tadi Pak." Komentar Reza.


"Kemungkinan begitu."


"Kamu sudah dapatkan, tempat tinggal anita sekarang ?"


"Sudah Pak, kebetulan tadi saya sempat mengikuti Mbak Sari pulang kerja. Dan dia juga sangat berhati-hati sekali. Seolah takut ketahuan seseorang." Kata Reza menerangkan.


"Itu dia, pasti ada masalah yang terjadi diantara mereka." Pikir Al.


Entah apa lagi yang akan mereka rencanakan. Yang jelas Reza harus memutar otak untuk memenuhi perintah Bos nya.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2