Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 31. Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Tak terasa, sudah hampir satu jam dia duduk termenung di pinggir taman. Sinar matahari semakin terik. Beberapa orang mulai melangkahkan kakinya untuk kembali pulang.


Dengan enggan, Tata kembali berdiri untuk melanjutkan jalan kakinya. Sama seperti mereka menuju tempat tinggalnya.


Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, ada sesuatu yang membuatnya harus kembali berhenti. Tali sepatunya lepas dan hampir membuatnya terjatuh.


Tata merunduk, seolah takut sinar mentari menyapu wajahnya. Dia benahi tali sepatunya agar kembali terlihat sempurna.


Bbrrraaaakkkk ... !


Dia urungkan niat untuk kembali berdiri, saat seorang anak kecil jatuh tepat di depan kakinya. Entah karena Tata yang sedang memenuhi jalan saat membenahi tali sepatunya atau mungkin juga salah si bocah yang jalan sambil menikmati es krim di tangannya.


"Oh, maaf sayang. Kakak tidak sengaja. Apa ada yang sakit ?" Tanya anita khawatir.


Anak itu hanya diam, tidak memperhatikan pertanyaan yang Tata lontarkan. Dia sibuk dengan es krimnya yang lepas dari tangan.


"Sudah, biarkan ya ... Nanti kakak ganti es krimnya, kita beli yang baru." Bujuknya, membuat si bocah sadar, dan melihatnya dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Mama."


"Nindya." Bisiknya lirih.


Nindya langsung memeluk erat leher anita, seperti pelukan seorang anak yang rindu kepada ibunya.


"Dya sayang, Dya sama siapa ?" Tanya Anita yang sebenarnya enggan bertemu dengan orang yang biasa Dya panggil 'Papa'.


Terlepas dari Andri, dia ingin menghindari Alfatih. Meski Tata sadar, sifat mereka jauh berbeda.


Al yang sedikit jutek, tapi sopan terhadap perempuan. Sedangkan Andri yang terlihat halus tutur katanya, ternyata punya sifat yang tersembunyi.


"Sendili." Jawabnya asal.


"Sendiri ? Mana mungkin Dya sendiri."


Anak itu mengangguk, dan masih berusaha memeluk Tata tanpa mau lepas.


Anita melihat sekeliling tempat itu. Dan benar saja, tidak ada satupun yang dia kenal di sana.


'Tapi, mana mungkin Dya sendiri ke tempat ini ?' kata hatinya.


Pandangan matanya kembali tertuju pada es cream yang sudah tergeletak kotor di tanah.


"Dya mau es krim lagi ?"


"Mau."


"Ayo, kita beli di sana."


Dya bergelayut manja di gendongan anita. Setiap kali ada kesempatan, Dya mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.


"Ih, kakak penuh keringat lo. Mana masih bau lagi, belum mandi." Elaknya.


"Dya suka, Mama wangi."


Anita menurunkan Dya dari gendongan. Di ajaknya Nindya duduk, sebelum mereka sampai di tempat penjual es krim.


"Kenapa belhenti Mama." Ucapnya cedal menggemaskan.


"Dya, panggil Mama Mbak Tata ya." Pintanya.


Dya menunduk, ada perasaan sedih yang dapat Tata rasakan.


"Mama jahat." Nindya mulai menangis.


"Mama, gak sayang lagi sama Dya." Gerutunya berulang-ulang.


"Bukan begitu sayang, tapi ... "

__ADS_1


Belum sempat Anita melanjutkan kalimatnya, air mata Nindya semakin deras mengalir, terisak-isak tanpa suara.


Nurani keibuannya muncul. Di peluknya Nindya penuh kasih sayang.


'Seandainya saja kamu paham bagaimana kehidupan orang dewasa. Mungkin hal ini tidak akan terjadi sayang.' Bisiknya dalam hati.


"Maafkan Kakak ya." Bisiknya menenangkan.


Tapi bukannya tenang, Nindya semakin menangis tersedu.


"Sayang, sudah dong. Jangan menangis ya." Bujuknya Tata yang merasa bersalah.


"Nindya." Panggil seseorang yang sudah jelas Tata kenali suara itu.


Tata mengangkat sedikit kepalanya, sekedar memastikan apa benar pemilik suara itu seorang yang dia kenal.


"Papa."


Dya berlari. Pelukannya berpindah merangkul leher Papa Al.


"Papa cari kemana-mana." Ucapnya sembari mengelus kepala Nindya.


"Maaf, tadi Dya bilang, dia sendiri."


"Iya, tidak apa-apa." Jawab Al lebih halus.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Percakapan mereka sangat kaku. Seperti dua insan yang tidak pernah saling mengenal.


"Dada Dya, kakak jalan dulu ya." Ucapnya sembari melambaikan tangan.


"Mama !" Teriaknya masih diiringi isak tangis khas seorang anak.


Mendengar teriakkan Nindya, Tata berhenti dan menoleh kembali ke arahnya.


"Mama jangan pelgi." Ucapnya.


"Tapi ... " Bibirnya seakan keluh tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Dia pandangi pria yang masih berdiri sejajar tepat di depannya. Al dan Tata saling pandang, saling berprasangka, saling menebak isi hati mereka satu sama lain.


'Maafkan Kakak Dya, tapi memang Kakak bukan Mama Nindya.' Bisiknya dalam hati.


'Jika saja kamu belum menikah, mungkin akan lebih mudah bagi Nindya untuk dekat denganmu.' Komentar hati Al.


"Dya, kita pulang ya. Eyang sudah menunggu." Ajak Al.


"Tapi, Dya mau main sama Mama." Rengeknya terus.


"Dya, sudah berapa kali Papa bilang !" Nada suara Al terdengar meninggi.


Nindya memeluk Tata semakin erat, bahkan seakan tidak mau lepas.


Dari gerak tubuhnya, ada rasa takut yang dia perlihatkan. Entah itu rasa takut akan kehilangan seorang Mama kembali, atau takut akan gertakan yang Papa Al berikan barusan.


"Dya, jangan bikin Papa marah ya." Ulangnya sekali lagi.


"Dya gak mau sama Papa, Dya mau sama Mama." Bantah Nindya di selingi Isak tangisnya.


"Dya !"


Teriakan Al dan bantahan Nindya, memancing banyak mata melihat ke arahnya.


"Pak Al, biarkan Dya tenang terlebih dahulu." Bisik Anita, setelah dia sadar kalau mereka menjadi bahan perhatian.


"Kasihan anaknya ya..." Terdengar sebuah komentar tak sedap.

__ADS_1


"Itulah kehidupan, kadang kita punya suami penyabar juga kurang bersyukur. Coba kalau rumah tangga sampai berantakan begitu, siapa juga yang menyesal." Komentar yang lain.


Adegan pagi ini memang seperti sepasang suami istri yang terpisah dan harus mengorbankan anaknya demi keegoisan masing-masing.


Menyadari akan hal itu, Al mengajak Tata dan Nindya yang masih dalam gendongannya, ke sebuah tempat yang nyaman untuk bicara sambil menikmati sarapan.


Disana ada sebuah tempat untuk bermain anak-anak. Meskipun kecil, tapi terbilang komplit. Ada ayunan, prosotan dan beberapa mainan edukasi untuk anak-anak.


"Papa, dia main pelosotan di sana ya ?" Pamitnya minta izin.


"Iya sayang, hati-hati mainnya ya."


"Biar kakak temani ya ?" Kata Tata menawarkan diri.


"Enggak apa-apa Mama, Dya belani sendili." Kata Nindya menolak.


"Duduklah, biarkan Dya sendiri. Dia sudah terbiasa main sendiri." Jawab Al meyakinkan.


Sebenarnya Tata merasa tidak nyaman harus duduk berdua di cafe seperti ini. Apalagi disini banyak orang yang mungkin salah satunya ada yang mengenal Al.


Tata mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri ke setiap sudut ruangan. Sikapnya sangat gugup, terlihat dari permainan ujung jari-jarinya yang dia putar-putar.


"Kamu kenapa ? Ada masalah ?" Tanya Al heran dengan sikapnya


"Apa tidak apa-apa jika saya mengikuti Pak Al begini ?" Tanya Tata bingung.


Al mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan pertanyaan yang Tata lontarkan.


"Maksudnya ?"


"Maksud saya, saya takut jika di sini ada seseorang yang mengenal Pak Al, dan menyampaikan berita yang tidak benar, sehingga sampai ke telinga Ibu dan tentunya akan berpengaruh dalam kehidupan rumah tangga Pak Al." Kata anita panjang lebar berputar-putar.


"Hahaha ... Kamu itu lucu. Bukankah seharusnya pertanyaan itu aku berikan untukmu ?" Kata Al balik bertanya.


"Untukku ?"


Tata menunjuk hidungnya sendiri.


"Ya, untukmu. Apa suami kamu tidak marah jika tahu istrinya berdua dengan seorang yang ganteng seperti saya ?"


"Uuppsss..." Komentar Tata membungkam mulutnya sendiri.


Entah kalimat mana yang dia tertawakan. Pada kalimat yang menyatakan aku seoy istri, atau seorang pria ganteng ?


"Kenapa tertawa ?" Sungut Al.


"Memangnya Bapak ganteng ? Ganteng dari hongkong."


Sebuah kalimat yang lazim digunakan untuk sebuah ejekan.


"Kalau dibandingkan suami kamu, pasti masih gantengan saya." Celetuk Al menyadarkan Tata akan kata-katanya.


"Suami ? Suami yang mana maksud Bapak ? Maaf Pak, bukan saya gak tahu malu ya Pak. Saya takut kalau istri Bapak jadi salah paham nantinya.


Sebenarnya, keduanya terlihat bingung.


"Oke, dimana suami kamu ,?"


"Suami yang mana Pak ?"


"Laki-laki yang pernah bertemu beberapa hari yang lalu dan sekarang katanya menjadi Bos kamu itu."


Pertanyaan Al mengingatkan dia kembali tentang kejadian kemarin malam. Kejadian memilukan yang hampir merenggut kesuciannya.


_____________________


_____________________

__ADS_1


_____________________


__ADS_2