Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 94. Kejutan Terindah


__ADS_3

Hari ke tiga di Pulau Dewata. Diluar prediksi awal, pekerjaan Alfatih sudah beres sebelum waktu yang ditentukan. Tapi entah kenapa, sejak mulai membuka mata, Alfatih terlihat sangat sibuk dengan laptop dan handphone nya.


"Gak bisa ditinggal barang sebentar ya Mas, kelihatannya sibuk sekali ?" Tanya Anita yang kesal melihat suaminya tidak bisa menjauhkan handphonenya ketika di meja makan.


"Sebentar sayang, ada yang harus Mas selesaikan." Jawabnya tanpa beralih pandangan sedikitpun.


"Hhmmm...kalau begitu selesaikan dulu, jangan membiarkan makanan menunggu terlalu lama untuk disantap." Ucapan yang sangat mengena di hati.


Melihat istrinya kesal, Alfatih segera meletakkan handphonenya dan fokus di hadapan sarapan paginya.


"Makan yang banyak sayang." Mencoba mengalihkan perhatian kepada Nindya yang lahap tanpa suara.


"Kita sudah tiga hari di Bali, tapi belum ketemu Bunda Mas, apa Bunda masih sibuk ?" Tanya Tata menanyakan keberadaan Bunda Arum.


"Iya Papa, Dya juga kangen sama Eyang." Kata Nindya turut bersuara.


"Eemmm... Eyang bilang, Eyang masih sibuk. Jadi belum bisa menyusul ke sini." Jawab Al terdengar mengada-ada.


"Tapi, aku khawatir Mas, kenapa handphone Bunda juga susah dihubungi ?"


"Daerah yang dikunjungi Bunda agak terpencil dari kota sayang. Jadi agak susah signal juga."


Anita hanya mengangguk mendengar jawaban suaminya.


Apalagi yang bisa dia lakukan kecuali mengiyakan pernyataan suaminya. Lagipula, dia juga tidak tahu seluk beluk pulau ini.


Tok tok tok...


Reza mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar sejak pagi itu. Di tangannya ada sebuah kotak, yang dilihat dari penampilannya, ada sebuah kejutan di dalamnya.


"Eh Za, sini, kita sarapan bareng." Kata Al menawarkan.


"Terimakasih Pak, saya baru saja sarapan tadi di hotel."


"Oh, oke." Komentar Al seolah sudah tahu apa maksud kedatangan asisten pribadinya.


"Ada apa Pak Reza ?" Tanya Anita ikut menyapa.


"Oh, iya, tidak Bu, cuma mau menyampaikan paket untuk Ibu." Jawabnya sembari menyodorkan kotak berwarna pink yang ada di tangannya.


"Paket ? Buat saya ? Dari mana Pak ?"


"Iya, buat Ibu, Nindya dan baby Dzaky."


Anita memandang heran ke arah suaminya.


"Ada tanda terimanya, siapa yang mengirimkan ?" Tanya Tata lagi.


"Tidak ada Bu, tapi yang jelas mungkin dari salah satu klien Pak Al


Al masih santai menikmati sarapan paginya. Terlihat mencurigakan memang. Pasalnya, Al tetap diam, santai tanpa menanyakan siapa yang mengirimkan paket untuk istrinya.

__ADS_1


"Mas, paket dari siapa ini ?" Tanya Anita masih dengan nada kesal melihat ketidakpedulian suaminya.


"Paling juga dari klien." Jawabnya santai, sesuai dengan apa yang Reza katakan tadi.


Anita membuka paket yang sudah berada di depan matanya. Sebuah gaun pesta ukuran anak-anak lengkap dengan setelan jas mini untuk anak cowok.


Tidak sampai di situ, pada lapisan bawah ada juga sebuah gaun dengan warna senada, seukuran dirinya.


"Mas, lihatlah." Pintanya kepada suaminya.


Takut akan menimbulkan kecurigaan, Al mendekat dan menyentuh kotaknya barang sebentar. Ada secarik kertas yang tadi belum sempat Tata temukan.


*Selamat pagi Nyonya Alfatih, ini merupakan wujud dari rasa terimakasih atas kerjasama yang telah kita sepakati dengan perusahaan anda. Bingkisan ini sekaligus undangan dari kami. Suatu kehormatan jika Nyonya beserta keluarga berkenan hadir.


"Hhhmmmm..." Komentar Al sembari menyerahkan secarik kertas yang ada di tangannya.


***


Malam yang gemerlapan, penuh cahaya lampu menyilaukan. Anita nampak begitu cantik dan anggun, dengan balutan gaun pesta yang sebenarnya dipesan secara khusus oleh suaminya sendiri.


Perlahan dia berjalan memasuki aula sesuai yang tertera pada undangannya. Penampilannya menarik puluhan pasang mata yang memandang.


Ada perasaan gugup di hatinya, namun dia berusaha untuk tetap tenang dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Siapa dia ?" Tanya salah seorang undangan setengah berbisik.


Yang diajak bicara hanya menggelengkan kepala. Sedangkan, beberapa yang lain saling pandang dan merasa heran dengan kehadirannya.


"Cantik sekali." Komentar salah seorang undangan, yang menarik perhatian Al untuk memastikan siapa yang sedang mereka bicarakan.


Ya, Alfatih sudah menunggunya. Pesona wajah tampannya selalu terpancar diantara banyaknya undangan yang ada.


"Mas Al." Panggilnya lirih.


Bagai sebuah pintu gerbang yang terbuka, sebagian undangan menggeser tubuhnya, memberikan peluang bagi Anita untuk bisa berjalan menuju tempat dimana suaminya berada.


"Selamat ulang tahun sayang." Bisik Al.


Doorr ... doorr... doorr...


"Happy anniversary." Teriak rekan kerja, teman dan sebagian para undangan.


Ya...tiga tahun yang lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun Anita, Al mengucapkan akad di depan penghulu.


Hal yang sama dilakukan Al saat ini. Sebuah cincin berlian dia sematkan di jari manisnya.


"Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidupku." Kata Al.


"Jangan pernah lelah mengingatkan, jika aku lupa, dan jangan pernah bosan untuk tetap mencintaiku." Bisik nya kembali.


Tepuk tangan riuh terdengar. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Tak terasa, sebuah cairan bening, hangat mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


"Terimakasih Mas ... love you more, then, now and forever." Balas Tata tidak kalah romantis.


"Love you too."


"Mama !" Panggil Nindya dari ambang pintu aula.


"Dya."


Nindya berlari kecil, menuju tempat dimana Mama dan Papanya berdiri.


Dia tidak sendiri, ada Bunda Arum yang telah lama mereka rindukan dan Dzaki yang bergelayut di gendongan Mbak Watik.


"Bunda." Panggil Anita riang.


"Selamat ya Nak, Bunda selalu berdoa agar kalian bahagia."


"Amin, terimakasih Bunda. Tata senang sekali, Bisa bertemu Bunda disini." Jawabnya.


"Samawa ya Mbak, semoga bertambah lagi momongannya." Canda Mbak Watik.


"Terimakasih Mbak." Ucapnya malu-malu.


"Tenang saja Mbak, stock nya masih banyak." Canda Al.


Al yang dulu selalu dingin dan cuek, bahkan hampir tidak pernah terlihat tersenyum, sekarang sudah banyak berubah. Al lebih ramah, lebih murah senyum dan yang bikin asyik, dia juga suka bercanda.


"Selamat Pak Al dan Ibu, kami turut bahagia dengan kebahagiaan Pak Al." Ucap salah seorang rekanan bisnis Alfatih.


"Terimakasih Pak Bagus, doa terbaik juga untuk Bapak sekeluarga." Jawab Al.


Acara demi acara sudah berlangsung. Beberapa tamu undangan menikmati hidangan dan hiburan yang ada. Sebagian lagi sedang asyik mengobrol.


"Pak Al, selamat ya. Alhamdulillah acaranya berjalan lancar, tidak sia-sia saya kerap kali berbohong." Kali ini Reza yang mengucapkan.


"Terimakasih Za." Kata Al yang sesekali terlihat mengedipkan sebelah matanya, seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Ada apa Pak Reza ?" Tanya Anita penasaran.


"Hehehe ... gak papa Bu, selamat ya Bu, semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga Ibu dan Pak Al." Jawabnya cengengesan.


"Terimakasih." Kata Anita yang sebenarnya penasaran dengan sikap mereka berdua. Namun, apapun itu, bukan sebuah masalah untuk Anita.


Yang ingin dia lakukan saat ini, menikmati kebersamaan dan kebahagiaan bersama keluarga.


"Kamu senang sayang ?" Tanya Al setengah berbisik.


"Bukan senang lagi Mas, aku sangat bahagia." Jawabnya.


Al memeluk erat tubuh istrinya. Tak peduli ada banyak pasang mata memandang nya.


'Rasanya seperti mimpi, seolah aku kembali ke masa lalu. Masa-masa dimana pertama kali aku mengubah status ku dari lajang menjadi seorang istri.' Bisik Anita dalam hati.

__ADS_1


'Terimakasih Ya Allah, lengkap sudah kebahagiaan ku sekarang. Suami yang sabar dan penyayang, anak-anak yang menggemaskan dan keluarga yang saling melengkapi."


----------------- End -----------------


__ADS_2