Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 83. Incident


__ADS_3

Brakkk !


Aahhhgg !


Suara benturan benda tumpul terdengar begitu keras, diiringi rintihan seorang Tata yang terdengar lirih.


"Tata, itu suara Tata ada apa Mbak ?" Reflek Bunda Arum dan Mbak Watik menghentikan aktivitas mereka.


"Aaarrrggghh ... Mama !" Nindya jatuh terduduk melihat kondisi Mama Tata.


"Eyang, Mama Eyang !" Teriaknya.


Tangisnya pecah, dia belum paham pemandangan apa yang dia lihat saat ini.


"Astagfirullah, Mbak Ata, bagaimana ini." Komentar Mbak Watik panik.


"Ya Allah Nduk, cepat panggil Pak Slamet Mbak. Bagaimana ini ?" Ucap Bunda tak kalah panik.


Anita masih terduduk kesakitan di dekat wastafel yang ada di dalam kamar mandinya. Wajahnya pucat, pandangan matanya nanar. Cairan bening bercampur bercak darah mengalir dari sela-sela ************ kakinya.


Entah bagaimana awalnya, hingga hal ini bisa terjadi. Tidak ada yang berani bertanya, yang mereka lakukan saat ini hanyalah memikirkan bagaimana keadaan bayi di dalam kandungannya.


Pak Slamet, dengan sisa tenaga tuanya membantu Mbak Watik menuntun istri majikannya itu ke dalam mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Watik, jaga Nindya ya, Bunda antar Mbak Ata ke rumah sakit." Kata Beliau.


"Inggih Bunda."


"Jangan lupa, hubungi Al." Kata Beliau lagi.


"Inggih Bunda, nanti saya coba hubungi Mas Al. Semoga semua baik-baik saja."


Bunda Arum mengangguk, membesarkan hatinya sendiri. Meskipun Beliau tahu resiko apa yang akan terjadi melihat kondisi anak menantunya saat ini.


Usia kandungan Anita belum genap tujuh bulan. Bahkan baru akan memasuki bulan ke tujuh beberapa hari kedepan.


"Apa yang kamu rasakan Nduk ?" Tanya Bunda pelan, saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tata hanya menggelengkan kepala, seakan tak berdaya hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Bunda. Perlahan Bunda usap keringat yang mengucur deras di kening Anita.


Air mata Beliau tertahan, teringat kembali akan masa lalunya. Saat Beliau juga berjuang mempertahankan putra pertamanya di dalam kandungan.


Namun Allah lebih menyayanginya. Dan Bunda harus bersabar untuk waktu yang lama, demi memperoleh momongan lagi. Bayangan masa lalu itulah yang membuat Bunda takut akan terjadi pada Anita saat ini.


'Astaqfirullah ... apa yang aku pikirkan, kuatkan putriku Ya Allah, izinkan cucuku agar bisa ikut menikmati indahnya dunia.' Kata hati Bunda Arum.


Segera Beliau seka air matanya, saat Pak Slamet mulai memasuki Unit Gawat Darurat. Beberapa perawat mendatangi dan segera memberikan pertolongan pertama.


"Keluarga pasien mohon tunggu sebentar ya, biar dokter periksa kondisi pasien." Kata salah seorang perawat.


Namun terasa belum lama Bunda meletakkan pantatnya di ruang tunggu, seorang perawat yang tadi memintanya menunggu, sudah kembali memanggil Beliau.

__ADS_1


"Silahkan Ibu, Dokter ingin bicara." Ucapnya sopan.


"Terimakasih Sus."


Langkah kaki Beliau mengikuti kemana Suster itu pergi.


"Selamat sore Ibu, silahkan duduk."


"Terimakasih Dok, bagaimana kondisi putri saya Dok ?" Tanya Binda Arum tidak sabar.


"Mohon maaf Ibu, mengingat kondisi Ibu Anita yang sudah mengalami pecah ketuban, maka kami harus segera mengambil tindakan." Kata Dokter menerangkan.


"Apa cucu saya masih bisa diselamatkan Dok ?" Tanya Bunda dengan bibir mulai bergetar.


"Insha Allah, kita sama-sama berdoa ya Bu. Meskipun kecil kemungkinan, tapi kami usahakan semaksimal mungkin." Jawab Dokter meyakinkan.


Dengan berbagai pertimbangan yang Dokter sampaikan, Bunda menandatangani operasi yang akan Anita jalani saat ini. Berat memang, tapi itu harus Beliau lakukan, demi anak dan calon cucunya.


'Dimana Al, kenapa dari tadi pagi tidak bisa dihubungi ?' Kata Beliau dalam hati.


'Atau mungkin, Watik sudah dapat kabar tentang Al.' Gumamnya sembari mengalihkan panggilannya ke nomor handphone Mbak Watik.


"Wa'alaikumsalam Tik, ada kabar dari Al ?" Tanya Bunda.


"Oh, ya sudah. Tolong siapkan perlengkapan dan baju ganti untuk Mbak Ata, biar diambil Pak Slamet." Kata Beliau lagi.


"Iya, belum, Dokter masih menanganinya. Titip Dya dulu ya."


"Pak Slamet."


"Inggih Bunda."


"Pak Slamet pulang dulu, ambil perlengkapan dan baju ganti untuk Mbak Tata. Saya sudah hubungi Watik untuk menyiapkan tadi." Pinta Bunda yang masih dalam keadaan bingung.


"Inggih Bunda."


Bunda kembali termenung sendiri. Menunggu hasil apa yang akan Dokter kabarkan kepadanya usai dari ruang operasi nanti. Menunggu dengan rasa yang bercampur aduk, bukan hanya khawatir tentang keadaan anak menantunya. Tapi juga khawatir tentang putranya yang sejak siang tadi belum bisa dihubungi.


Tut, tut, tut, tut.


'Reza, kenapa handphone kamu juga tidak aktif.' Tanya Bunda heran.


Jemari Bunda tak henti-hentinya mencari tahu dimana keberadaan putranya saat ini.


"Hallo Nia, apa Bapak masih ada di kantor ?" Tanya Bunda melalui sambungan seluler salah satu karyawati di kantor Alfatih.


"Mohon maaf Bunda, Bapak sedang ada acara dadakan ke luar kota bersama Pak Reza tadi siang." Jawabnya.


"Apa kamu tahu, kira-kira Bapak menginap atau pulang, karena handphone keduanya tidak bisa Bunda hubungi."


"Iya Bunda, memang Beliau berada di area pegunungan yang sedikit susah signal. Tapi setahu saya, kalau acara sudah selesai langsung pulang Bunda."

__ADS_1


"Oh, ya sudah. Terimakasih infonya Nia."


"Sama-sama Bunda."


Mendengar apa yang salah satu karyawatinya sampaikan, Bunda merasa sedikit lega. Meskipun hatinya masih menggerutu.


"Kebiasaan, gak pernah mau pamit, akan pergi kemana." Gerutu Bunda sendiri.


Sudah lebih dari dua jam Bunda menunggu di depan ruang operasi. Namun belum ada tanda-tanda sama sekali dari penghuni di dalamnya.


Ceklekk ...


"Dokter, bagaimana keadaan anak dan cucu saya ?" Tanya Bunda tidak sabar, setelah melihat dokter keluar dari ruang operasi.


"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Ibu dan bayinya selamat. Tapi bayinya masih perlu perawatan intensif, karena terlahir prematur." Jawab Dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah, apa bisa saya melihatnya Dok ?"


"Silahkan, untuk babynya ada di ruang khusus, bisa dilihat melalui kaca depan. Kalau untuk ibundanya, biar pasien dipindahkan terlebih dahulu di ruang rawat inap."


"Baik, terimakasih banyak Dok."


"Sama-sama Ibu, sudah menjadi tugas dan kewajiban kami."


'Alhamdulillah, satu masalah sudah teratasi. Allah mengabulkan doaku. Diizinkannya cucuku untuk menikmati indahnya dunia.' Syukur Beliau dalam hati.


"Suster, apa yang disebelah sana itu cucu saya ?" Tanya Bunda menunjuk ke arah seorang bayi mungil di dalam inkubator.


"Baby Ibu Anita ?"


"Iya Sus."


"Iya betul Ibu, ganteng. Hidungnya mancung." Jawab Suster.


"Bagaimana kondisinya Sus ?"


"Masih perlu perawatan intensif Ibu, nafasnya masih terdengar berat."


"Apa memerlukan waktu yang lama untuk kesembuhannya Sus ?" Tanya Bunda yang Beliau sendiri tidak tahu bagaimana menyampaikan pertanyaan itu.


"Insha Allah, dengan perawatan yang benar, akan segera sehat kembali Bu."


Bunda hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Suster. Pandangan matanya tak luput dari bayi mungil yang tertidur tenang di dalam ruang kaca berukuran tujuh puluh kali empat puluh lima centi itu.


Beliau pasrahkan semua kepada yang Maha membolak-balikkan hati untuk menyempurnakan yang belum sempurna.


_______________________


_______________________


_______________________

__ADS_1


__ADS_2