Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 47. Makan Malam


__ADS_3

Hidup ini penuh dengan teka-teki. Persis sebuah lirik lagu yang pernah tenar di era sembilan puluhan. Dunia ini bagai panggung sandiwara. Berbagai peran bisa kita mainkan.


Entah apa lagi yang akan terjadi nanti, semua atas kehendak ilahi. Kita manusia hanya sebagai wayang, yang siap dimainkan sang dalang.


Begitupun dengan seorang anita, yang senantiasa pasrah dengan kehendaknya. Sejak kejadian di rumah Paklek beberapa hari yang lalu, sikap Al menjadi lebih pendiam.


Seperti seorang yang sedang dilanda virus, harus selalu jaga jarak saat berpapasan. Bahkan mereka belum bicara atau membicarakan kelanjutan perhitungan yang Al keluarkan untuk keluarganya.


Akhir-akhir ini Al sendiri jarang pulang ke rumah. Kalaupun pulang, pasti tengah malam. Sampai-sampai, Bunda ikut mengkhawatirkan kesehatannya.


"Tata."


"Inggih Bunda."


"Bunda boleh minta tolong ?"


"Inggih Bunda, apapun untuk Bunda." Jawabnya bercanda.


"Sudah lama Bunda tidak memasak masakan kesukaan Al. Bunda ingin, malam ini kita makan malam spesial dari tangan Bunda." Kata Beliau.


"Lalu, apa yang bisa Tata bantu Bunda ?"


"Bunda minta tolong, belanjakan semua bahan yang ada pada catatan Bunda."


"Siap Bunda, segera laksanakan."


'Ingin sekali bisa mendekatkan kalian, tapi Bunda tidak tahu bagaimana caranya.' keluh Bunda dalam hati.


Anita seorang gadis yang periang, cantik dan energik. Sikapnya yang ramah dan keibuan itulah yang membuat Bunda semakin menyayanginya.


"Tata berangkat dulu Bunda." Pamitnya.


"Iya Nak, hati-hati dijalan ya."


"Mama.' Panggil Nindya manja.


"Iya sayang."


"Jangan lupa es klim nya ya ?"


"Iya cantik."


Dia cubit gemas pipi gembul Nindya.


Beberapa kecupan Dya hadiahkan di Pipi perempuan yang dia panggil Mama. Tidak ada ikatan darah diantara mereka, namun ikatan cinta keduanya mengalahkan cintanya seorang ibu dan anak.


Beberapa bahan harus Tata beli ke pasar swalayan yang lebih lengkap menjual berbagai macam produck.


"Ayo sayang, aku tidak mau kamu jatuh sakit karena terlalu banyak bekerja." Terdengar nada manja seorang perempuan yang sedang merayu kekasihnya untuk makan, saat Tata melewati sebuah resto cepat saji yang ada di sekitar pasar swalayan.


'Iiih ... lebay, memang ya, kalau sedang dimabuk cinta, dunia serasa milik berdua.' Komentar nya dalam hati.


Semakin mendekat semakin terlihat jelas dua sejoli yang sedang menikmati makan siang mereka.


"Kamu makan sendiri saja, aku tidak lapar." Jawab pasangannya menolak untuk disuapin. Dia lebih memilih memainkan handphonenya daripada ikut menikmati makanan di depan matanya.


'Tapi, rasanya aku mengenal punggung itu.' kata hati Tata.


Dia hentikan langkah kakinya, sekedar untuk memastikan.


"Pak Al ? dan wanita itu yang pernah aku lihat di ruang kerja Pak Al." Ucapnya lirih.


Benar saja, laki-laki itu adalah Al.

__ADS_1


Dan perempuan di hadapannya adalah Bella, masa lalu Al saat dia masih di luar negeri dan mencari pelarian saat hatinya rapuh ditinggalkan Kinanti menikah dengan pilihan hatinya.


Tata segera pergi meninggalkan tempat itu dan kembali dengan tugasnya.


***


Malam yang ditunggu telah tiba. Bunda sudah mengirimkan sebuah pesan singkat untuk putra kesayangannya.


Dan sore itu juga Al pulang lebih awal, demi menepati janjinya dengan sang Bunda.


"Makan yang banyak sayang, Bunda sudah siapkan semua untukmu." Kata Beliau.


"Pasti Bunda, ***** makan Al bertambah melihat masakan Bunda." Jawab Al membahagiakan Bunda.


Bukan hanya Bunda dan Al, tapi semua penghuni rumah ini ikut menikmati makan malam bersama. Itulah Bunda yang tidak pernah membeda-bedakan semua orang-orang di sekitar Beliau.


Canda dan tawa kebersamaan terasa indah. Namun di saat yang membahagiakan itu, Tata lebih banyak diam dan menyendiri bersama Nindya.


Ting tong ...


Bel pintu gerbang berbunyi ditengah asyiknya makan malam.


"Biar saya lihat Mbak." Kata Pak Slamet saat melihat Tata mulai berdiri.


Tak berapa lama, Pak Slamet melaporkan kedatangan seorang tamu.


"Siapa Pak ?" Tanya Al.


"Seorang wanita setengah bule Mas." Jawabnya.


'Pasti Bella.' pikir Al.


"Biarkan masuk saja Pak." Ucap Al sembari melirik ke arah anita yang masih duduk diam menyuapi Nindya.


"Siapa Nak ?"


"Bella ?" Tanya Bunda mengulangi jawaban Al.


"Maksud kamu, Bella teman kuliah kamu di Luar Negeri dulu ?"


"Iya Bunda."


Belum sempat Bunda berfikir apa-apa, yang mereka bicarakan sudah ada di depan mata.


"Selamat malam semuanya." Sapa perempuan yang punya nama Bella.


"Dari mana kamu tahu alamat rumahku ?" Tanya Al, ada nada kurang suka dari pertanyaan nya.


"Dari orang kantor." Jawabnya.


Pandangan mata nya tertuju pada Bunda.


"Selamat Bunda, saya Bella, kekasih Al. Al banyak cerita tentang Bunda."


"Bella !" Gertak Al menyanggah ucapan Bella.


"Iya, silahkan duduk, kami sedang makan malam. Mbak Watik, ambilkan alat makan buat tamu kita."


Bella menempatkan dirinya di sisi Al.


"Hhhhmmmm... Masakannya enak sekali sayang." Puji Bella tanpa basa basi.


"Tata sayang, sini Nak... Ajak Nindya duduk di dekat Eyang." Panggil Eyang kepada Anita.

__ADS_1


"Inggih Eyang."


Nindya mendahului untuk duduk di dekat Papa angkatnya.


"Papa, ini siapa ?" Tanya Dya ingin tahu, siapa wanita asing yang ada diantara mereka.


"Papa ? Siapa dia ? Kenapa memanggilmu Papa sayang ?" Bella memberondong beberapa pertanyaan.


"Dia Nindya, cucu saya, putri Alfatih."


Bella membelalakkan mata mendengar jawaban Bunda Arum.


"Apa ? Mana bisa begitu ? Al, apa benar yang Mama kamu bilang ?" Suara Bella terdengar meninggi.


"Mama." Rengek Nindya sembari memeluk Anita.


Nindya sempat ketakutan saat nada tinggi Bella terdengar.


"Iya, Bunda benar. Dya putri saya." Kata Al memperjelas.


"Jadi, pembantu ini istri kamu ?" Ucapnya mengarah kepada Anita.


"Sayang, kita masuk ke dalam saja yuk." Ajak Tata menghindari omongan yang kurang pantas di dengar anak-anak.


"Saya ke belakang dulu Bunda."


"Iya Nak."


Pamit Tata sembari menggendong Nindya.


Makan malam yang diharapkan menjadi sebuah kenangan indah, harus berakhir tanpa ending yang jelas.


Entah apa yang terjadi di luar, yang Tata lakukan hanyalah menyelamatkan Nindya dari kebisingan orang dewasa.


'Kenapa aku mulai ilfil saat melihat Pak Al dekat dengan perempuan lain ?' dalam hati kecilnya bicara.


Tata mengajak Nindya ke ruang tengah, ruang dimana banyak mainan yang bisa membuat Nindya lebih nyaman. Tapi bukan mengajaknya bermain, Tata lebih banyak melamun.


"Mama, ini pasangannya mana ?" Tanya Nindya saat mencari sebagian mainannya yang hilang.


"Mama ?" Panggilnya lagi, saat apa yang dia tanyakan tidak terjawab.


"Eh ... Iya sayang, ada apa ?" Tata balik bertanya.


"Memangnya kamu tidak mendengar apa yang Dya tanyakan ?" Suara Al mengagetkan.


'Pak Al, sejak kapan dia disitu ?'


Apalagi pertanyaan Nindya, kedatangan Al saja tidak dia ketahui.


"Maaf sayang, Mama tidak mendengar tadi." Jawabnya lembut.


"Pasangan yang ini Mama, kok tidak ada ?"


"Oh, sebentar, Mama carikan ya ... "


Tata mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari mainan yang Dya inginkan, tanpa menggubris kedatangan Al.


'Apa acara di luar sudah selesai ? Kenapa Pak Al tiba-tiba ada di sini ?' Pikirnya dalam hati.


Ingin bertanya, namun tak sampai. Sikap mereka sama-sama jaim, sama-sama tidak mau terbuka. Dan masih sama-sama menyembunyikan perasaan.


________________

__ADS_1


________________


________________


__ADS_2