Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 29. Berusaha Menghindar


__ADS_3

Masih di suasana yang sama, Cafe Minora yang menjadi saksi kemarahan Al sore itu.


"Lalu sekarang, dimana dia ?" Lagi-lagi Al menanyakan keberadaannya.


"Saya benar-benar tidak tahu Pak, karena setelah selesai menyelesaikan administrasi dan Dokter mengizinkan Tata pulang, kami segera berpisah." Jawab Wulan yang merasa serba salah.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu dimana dia. Bukankah kamu juga salah satu orang yang bertanggungjawab dengan apa yang terjadi pada warga rumah singgah ?"


"Iya Pak, tapi untuk Tata, karena dia bukan anak kecil lagi, jadi saya tidak ada hak untuk melarang apa yang dia kerjakan." Jawabnya membela diri.


"Apa dia tidak bilang, perginya kemana atau dengan siapa ?"


"Sebenarnya saya juga tidak tahu siapa pastinya Pak. Tapi sebelum kami berpisah, pada saat kami berada di lobi, ada seorang pria yang entah kebetulan atau memang mereka sudah janjian." Kata Wulan yang sebenarnya dia juga ragu memberikan informasi itu. Karena dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Maksud kamu, dia pergi bersama seorang laki-laki ? Kamu tahu siapa dia ?" Satu pertanyaan belum terjawab, masuk lagi pertanyaan yang lain.


"Saya kurang tahu siapa, mungkin laki-laki itu saudara atau teman Tata Pak."


'Apa mungkin dia laki-laki yang pernah Buleknya bicarakan ?'


Masih banyak PR yang harus dia kerjakan. Sebenarnya, Al sendiri masih bingung dengan dirinya sendiri.


'Untuk apa aku cari tahu tentang dia, toh dia bukan siapa-siapa ku. Tapi kenapa aku ingin sekali tahu latar belakangnya.' Gumamnya sendiri.


"Pak Al, apa masih ada yang lain, yang Pak Al perlukan ?" Tanya Wulan saat melihat Al mulai diam termenung sendiri.


"Oh tidak, terimakasih. Tapi cepat kabari saya jika kamu tahu sesuatu tentang dia."


"Iya Pak."


"Oh ya, ini sedikit untuk tambahan beli bensin."


"Tapi Pak, Saya ..."


"Itu rezeki, jangan ditolak."


"Terimakasih Pak."


Kembali seperti beberapa tahun yang lalu, saat Al meminta Reza untuk mencari keberadaan penjual kue putu ayu.


"Pak Arman juga tidak tahu Pak, dimaan mbak Tata tinggal sekarang. Tapi beberapa hari yang lalu Mbak Tata sempat berkunjung ke rumah Beliau."


Begitu informasi yang didapatkan Reza, untuk sementara dia harus menjadi detektif kembali.


"Terus selidiki, kalau perlu cari orang untuk mengintai rumah Pak Arman, jika sewaktu-waktu dia datang ke rumahnya."


"Baik Pak."


Itulah Al, apapun yang dia kehendaki harus terpenuhi.


'Menemukan banyak orang yang tak biasa, bisa dengan mudah aku dapatkan. Kenapa begitu sulit menemukanmu ?' Keluhnya dalam hati.


'Apa aku terlalu keras kepadanya, sehingga dia merasa takut dekat denganku.' Al mengingat-ingat kembali semua perlakuan yang di berikan selama dekat dengan Anita.

__ADS_1


Rasanya tidak ada yang berlebihan. Berbeda dengan apa yang pernah Al lakukan kepada Bella, Al sangat tegas terhadapnya. Meski begitu, Bella masih saja berusaha mendapatkan hatinya.


Bella adalah gadis bule yang dia kenal saat masih kuliah di luar negeri dulu. Situasi yang rumit bagi Al, saat Bella berusaha menjebaknya dengan perbuatan liciknya.


Rasa sakit hati karena sebuah penolakan cinta, membuat Bella buta perasaannya. Dia bekerja sama dengan rival Al dan berusaha menjatuhkan nama baiknya.


Andai saja tidak ada CCTV yang dipasang tersembunyi di gedung itu, mungkin saat ini Al masih berurusan dengan hukum.


Sebuah peristiwa pasti ada hikmahnya, itulah yang menjadi pedoman hidupnya. Al harus banyak bersyukur, meskipun dia harus kembali ke Indonesia dengan kondisi berduka, namun dia bisa terbebas dari kejaran Bella.


Kling ...


Satu pesan gambar masuk di akun WhatsApp nya. Betapa terkejutnya dia, saat Reza mengirimkan sebuah foto.


"Anita ?" Gumamnya.


Dia berpakaian layaknya seorang pelayan sebuah mini market.


"Jadi, kamu disini rupanya."


Al yang masih berpikir, dimana posisi tempat kerjanya, tiba-tiba pesan berikutnya masuk kembali.


Kling ...


["Pak Al, anak buah saya berhasil menemukan dimana posisi Mbak Tata sekarang."]


["Sudah kamu pastikan kalau itu benar-benar anita ?"] Balas Al.


["Sudah Pak, saya juga sudah tahu dimana Mbak Tata tinggal."]


["Siap Pak Al."]


Kali ini Al tidak boleh gegabah, dia harus lebih berhati-hati menghadapi lawannya.


Apalagi, anita mempunyai sifat yang lembut dan hatinya mudah rapuh.


***


Di batas kota ini, ada sebuah minimarket yang dibangun tepat di dekat rumah makan sederhana favorit Almarhum Ayahnya dulu.


Dan di minimarket itulah Anita bekerja saat ini. Sesuai petunjuk yang Reza berikan, Al meluncur ke tempat itu dengan menggunakan motor sports hadiah dari Ayah Danu saat dia diterima di SMA Favorit waktu itu.


Matanya begitu jeli memperhatikan setiap sudut ruang yang ada di dalam minimarket.


'Dimana dia ?' Tanya Al dalam hati.


Hingga langkah kakinya terhenti. Di ujung sana, ada seorang gadis yang sedang berjinjit menata barang di atas rak. Tubuhnya yang mungil membuatnya sulit untuk menaruhnya lebih sempurna.


"Jika perlu bantuan bilang, jangan diam." Kata Al tiba-tiba yang seketika itu membantu nya menata barang agar lebih tepat dan rapi.


"Pak Al ?"


Senyum Al merekah saat gadis itu menyebut namanya.

__ADS_1


Anita menyudahi kegiatannya dan berusaha pergi menghindar dari Al. Namun dengan cekatan, Al menarik pergelangan tangannya.


"Tunggu, saya mau bicara." Pintanya.


"Maaf Pak, saya sedang bekerja."


"Berapa gaji kamu di sini ? Aku akan ganti. Kalau perlu aku beli semua sama toko-tokonya." Kata Al memperlihatkan siungnya.


"Segala sesuatu tidak bisa dinilai dengan materi Pak. Dan itu yang tidak saya suka dari orang kaya seperti anda."


"Tunggu Ta, beri saya waktu untuk bicara."


"Maaf, tapi saya tidak ada waktu. Jika Bapak tidak ada keperluan lain, silahkan keluar." Jawabnya tegas.


Terdengar sadis memang, tapi hanya itu yang bisa Tata lakukan saat ini. Tata hanya ingin terbebas dari masalah bukan menghindar dari masalah.


"Oke, saya akan tunggu kamu sampai ada waktu."


Usai berkata begitu, Al segera keluar dari dalam minimarket.


Entah dimana dia hinggap, yang jelas matanya tetap mengintai gadis yang sedang hampir selesai jam kerjanya itu.


"Mbak Ata, ini laporan keuangan hasil penjualan hari ini." Kata Sari rekan kerjanya.


"Oh, ya. Sebentar lagi Mas Andri ke sini, kamu laporkan langsung saja."


"Memangnya gakpapa Mbak ? Kan biasanya harus melalui Mbak Ata dulu."


"Gakpapa, saya lagi gak bisa konsentrasi."


Hatinya sedang kalut saat ini. Sudah berusaha pergi sejauh mungkin, tapi tetap saja Al dengan mudah bisa menemukannya.


"Itu Mas Andri sudah datang Mbak."


"Iya, saya beres-beres dulu ya."


Ditinggalkannya Andri pemilik minimarket itu dengan Sari berdua sedang serah terima hasil penjualan hari ini.


"Tata kemana ?"


"Ada di belakang Mas."


"Kenapa bukan dia yang bawa uangnya ?"


"Gak tahu Mas, kata Mbak Ata suruh serahkan langsung ke Mas Andri. Dia lagi gak konsen katanya."


'Ternyata benar dugaan ku, Tata bersama laki-laki itu sekarang. Apa benar dia suaminya ?' Pikir Al yang melihat kedatangan Andri dari jauh.


Hingga akhirnya dia pergi membiarkan gadis yang dia cari berboncengan berdua dengan laki-laki lain.


________________


________________

__ADS_1


________________


__ADS_2