Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 89. Adegan Palsu


__ADS_3

"Bunda mau dengar versi kamu seperti apa ?" Tanya Bunda langsung pada inti permasalahannya.


Seperti yang sudah Bunda janjikan pagi tadi, Bunda ingin bicara empat mata dengan putranya usai menurunkan Nindya di sekolahnya.


"Maksud Bunda, mengenai apa ?" Tanya Al yang sebenarnya sudah bisa menebak, kemana arah pembicaraan Ibunya pagi ini.


Tanpa banyak bicara, Bunda menunjukkan beberapa foto dirinya dengan seseorang yang sempat Tata terima beberapa hari yang lalu.


'Sudah kuduga, pasti ini yang akan Bunda bicarakan. Tapi apa yang harus aku jelaskan, sedangkan aku sendiri belum tahu betul kebenarannya.'


"Oh, masalah ini. Saya juga meminta seseorang untuk mencari tahu kebenarannya." Kata Al santai.


"Yang Bunda pertanyakan, foto-foto ini tidak akan pernah ada yang membidik, kalau kamu tidak melakukannya." Ucap Bunda sedikit geram.


"Saya sendiri bingung Bunda. Kejadian sebenarnya tidak seperti ini." Jawab Al membela diri.


"Berarti ada maksud tertentu di balik foto-foto yang tidak jelas ini." Terka Bunda.


"Menurut saya juga begitu."


'Tapi siapa dan apa tujuan si pengirim foto itu ?' Pikir Al dalam hati.


Jemari tangannya sibuk memainkan pena sembari berpikir.


"Bunda hanya bisa mengingatkan, agar kamu berhati-hati dalam bertindak Nak. Jangan sampai hal ini disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab." Pinta Beliau.


"Al paham Bunda."


"Apalagi kamu sudah berkeluarga, Bunda tidak mau kalian berselisih paham, hanya karena hal yang belum jelas duduk permasalahannya."


Lagi-lagi Al mengangguk.


Benar kata Bunda, sudah sepantasnya kalau Tata marah, karena tidak mungkin seorang istri tidak merasa cemburu, jika suaminya dengan perempuan lain. Kecuali kalau dia sudah tidak cinta lagi.


Apalagi saat ini Tata sedang menyusui dan butuh perhatian ekstra pasca melahirkan, bukan isu-isu negatif mengenai suaminya yang dia rasakan.


"Satu lagi Al." Kata Bunda membuyarkan lamunan Al.


"Apa benar perempuan di foto itu adalah Hanifa ?" Tanya Bunda yang belum percaya kalau lawan Al di foto itu adalah Hanifa.


Hanifa yang Bunda kenal adalah seorang perempuan yang pemalu, lembut dan sopan.


"Iya Bun." Jawab Al menghela nafas panjang.


"Bunda tidak pernah menduga akan hal ini." Sesal Beliau.


"Tapi Bunda harus percaya sama Al, semua yang terjadi tidak seperti yang ada di dalam foto-foto itu." Sanggah Al lagi.


Tok ... tok ... tok ...


Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Al, disaat perdebatan Al dengan Bunda semakin terdengar sengit.

__ADS_1


"Masuk."


"Selamat pagi Pak Al, selamat pagi Bunda." Sapa Reza, asisten pribadi Alfatih.


"Pagi Za." Jawab Bunda.


"Ada apa Za ?" Tanya Al yang tidak suka berbasa-basi.


"Ada hal penting yang harus saya sampaikan Pak." Ucapnya lirih, sembari diam-diam melirik ke arah Bunda.


"Ada apa ?" Tanya Al lagi.


Bunda yang ikut penasaran, mulai menajamkan pendengarannya.


"Ini mengenai tugas yang Pak Al berikan kepada saya kemaren." Lirihnya.


"Tidak apa-apa, sampaikan saja. Bunda sudah tahu semuanya." Perintah Al.


Jadi itu yang membuat Reza berbelit-belit dari tadi.


"Tahu mengenai apa ?" Tanya Bunda yang masih penasaran dan pura-pura tidak tahu.


"Mengenai teror foto yang Bu Anita terima beberapa hari yang lalu Bunda." Jawab Reza.


Mendengar apa yang Reza katakan, Bunda sangat antusias ingin mengetahuinya.


"Apa yang kamu tahu Za ?" Tanya Bunda lagi. Bahkan tidak ada ruang bagi Al untuk bertanya.


β€’On Video


"Bagus sekali, saya suka cara kerja kamu." Kata seorang lak-laki yang mereka kenal dengan nama Anton itu.


"Terimakasih Pak, kalau dilihat secara sekilas, foto-foto ini terlihat asli." Jawab seorang laki-laki yang di puji.


"Betul sekali, dengan begitu istri pengusaha muda, Nyonya Alfatih Wijaya pasti akan percaya dengan perselingkuhan suaminya." Ucapnya terkekeh.


"Kalau boleh saya tahu, apa tujuan Bapak merencanakan semua ini ?" Tanya seorang perempuan yang ada di antara mereka. Dan perempuan itu tidak lain adalah Hanifa.


"Dan yang membuat saya tidak nyaman, kenapa harus saya yang Bapak libatkan ?" Ucapnya lirih.


"Tenang saja Hanifa, semua akan segera berlalu begitu saja. Reputasi Al sebagai pengusaha muda akan hancur. Dari situlah kita yang akan menjadi bintangnya."


"Tapi adegan-adegan itu kan tidak nyata Pak, bagaimana kalau ketahuan, betapa malunya saya, keluarga kami sudah seperti saudara Pak." Rengeknya.


"Kamu tenang saja, tidak akan ketahuan kalau kamu bisa lebih tenang."


"Tapi_"


"Saya tidak mau mendengar kata tapi. Bukankah kamu sudah mendapatkan bagianmu." Potong Anton tegas.


"Maaf Pak Anton, saya permisi dulu. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan." Pamit seorang laki-laki yang ada bersama mereka berdua.

__ADS_1


"Terimakasih Jo, saya selalu puas dengan kerja kamu."


"Sama-sama Pak. Mbak Hanifa, saya duluan ya." Ucapnya setengah mengejek.


"Hanifa, apapun yang akan terjadi denganmu nanti, aku yang akan bertanggungjawab." Janji Anton kepada Hanifa.


Video itu berakhir setelah kepergian mereka berdua dari sebuah restoran private room yang mereka booking.


***


"Dari mana kamu dapatkan rekaman itu ?" Tanya Bunda masih belum percaya.


"Dari orang-orang kepercayaan saya Bunda." Jawab Reza yang tidak mau menyebutkan siapa mata-mata yang dia kirim.


"Tata harus tahu ini Al, sebelum semuanya berlarut-larut." Pinta Bunda tidak sabar.


"Saya rasa jangan dulu Bunda, saya hanya ingin tahu, apa tujuan mereka sebenarnya di balik foto-foto palsu itu." Jawab Reza.


"Lalu bagaimana dengan perasaan menantu saya Za, dia sedang dalam keadaan sensitif, dia habis melahirkan dan sekarang dalam masa menyusui. Pasti pikirannya macam-macam terhadap suaminya." Kata Bunda geram.


"Iya Bunda, saya tahu. Tapi dengan diam dan marahnya Bu Anita, akan membuat mereka semakin gencar melancarkan aksinya. Dari situ kita tahu apa tujuan mereka." Sanggah Reza lagi.


"Bukannya semua sudah jelas Za, ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena persaingan bisnis." Nada suara Bunda sedikit meninggi.


Al hanya diam memperhatikan, sembari memainkan jemarinya pada dagunya. Namun diamnya Al sedang berfikir, bagaimana cara yang tepat untuk menyelesaikan semua masalah ini.


"Bunda akan sampaikan hal tang sebenarnya kepada Anita, dan Bunda juga akan menengur Hanifa, kenapa dia melakukan hal ini." Ucap Beliau geregetan.


"Tunggu Bunda, saya punya rencana yang lebih tepat dari itu." Kata Al memecah suasana.


"Rencana ?" Tanya Bunda penasaran.


Al menyampaikan sesuatu yang panjang. Bukan hanya Bunda, Reza juga mendengarkan dengan seksama.


"Oke, Bunda setuju. Lalu kapan kita laksanakan ?" Tanya Bunda yang sudah merasa percaya diri.


"Mungkin, lusa atau malam Minggu bisa kita jalankan." Jawab Al.


"Lebih cepat lebih baik, Bunda akan atur segala sesuatunya."


"Aku butuh rekaman itu dan kehadiranmu buat handle situasinya Za." Pinta Al.


"Baik Pak, pasti." Jawab Reza tegas.


Entah rencana apa yanga akan Al jalankan. Yang jelas ide yang muncul telah meluluhkan kekhawatiran Bunda dan hampir menyelesaikan satu masalah kecil di dalam rumah tangganya.


__________________


__________________


__________________

__ADS_1


__ADS_2