
Setelah seharian kemarin berbaring tanpa aktivitas sama sekali, hari ini Tata ingin kembali merasakan hangatnya sinar mentari.
Kebiasaan pagi, menggoda suaminya yang masih meringkuk, gini harus dia tunda.
"Aku berangkat dulu ya, ingat pesan Dokter, kamu harus banyak istirahat. Jaga kesehatan dan calon anak kita." Begitu pesan Al, sebelum berangkat ke Bali karena urusan bisnisnya.
'Baru sehari ditinggal Mas Al, rasanya sudah kangen.' Gumamnya sendiri.
Perasaan kangen itulah yang mendorong tangannya untuk meraih handphone di atas nakas nya.
Kling ... kling ... kling ...
Satu pesan masuk, saat Tata menyalakan data seluler nya.
["Selamat pagi penyemangat hatiku, bagaimana tidurmu malam ini, nyenyak ?"]
Pesan pertama masuk sejak pukul empat waktu Indonesia bagian barat. Kalimat di dalam pesan itu, berhasil membuat hati Tata berbunga-bunga. Bibirnya tersenyum sendiri tanpa instruksi dari sebuah lelucon.
Disusul pesan yang kedua selang beberapa menit, dan pesan-pesan berikutnya.
["Sudah subuh sayang, bangun."]
["Tapi ingat, pelan-pelan saja jalannya."]
["Jangan lupa makan yang banyak, tidur yang nyenyak, minum vitamin yang Dokter berikan."]
Tata tersenyum kembali membaca rentetan pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp di handphone nya.
"Semangat pagi matahariku, semangat berkarya belahan jiwaku."
Sebuah kalimat yang padat dan singkat, sebagai balasan atas pesan-pesan yang Al kirimkan. Namun sayang, pesan itu belum tersampaikan.
'Masih centang satu, ini baru pukul tujuh, tapi di sana sudah pukul delapan. Mungkin Mas Al sudah mulai sibuk.' Pikirnya dalam hati.
Memang, antara Jawa dan Bali, waktu mereka terpaut satu jam.
Tata kembali merebahkan punggungnya pada sandaran ranjangnya, sembari membaca berulang-ulang semua pesan yang Al kirimkan.
Manja, mungkin satu kata itu yang tepat bagi seorang ibu muda di masa kehamilan pertamanya. Maunya diperhatikan, disayang dan dimanja.
Orang jawa bilang.
"Kalau pengen sesuatu harus dituruti, biar dedek bayinya gak ileran." Begitu kebanyakan mitos yang berkembang.
Terutama Bunda Arum, yang pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung pada trisemester pertama. Mual, muntah, pusing, badan lemas tak berdaya.
Pengalaman tu juga yang Beliau jadikan patokan saat memperlakukan anak menantunya saat ini. Apalagi melihat kondisi kandungan Anita yang lemah.
Begitu banyak larangan yang Bunda berikan. Bahkan terkadang Bunda melarangnya untuk tidak banyak bergerak, walau sekedar berbaring di ranjang
"Eh, eh, mau kemana ?" Tanya Bunda, saat melihat menantunya turun dari ranjang.
__ADS_1
"Mau cari angin, di depan Bunda." Jawabnya, masih duduk di tepi ranjang.
"Tunggu, tunggu." Ucapnya mencegah Tata untuk turun dari ranjangnya.
"Mbak Watik." Panggil Bunda.
"Mbak Watik." Ulangnya saat yang di panggil tak kunjung menjawab.
"Inggih Bunda." Jawab Mbak Watik mendekati.
"Tolong bantu Mbak Ata ke taman depan." Pinta Bunda.
"Bunda, Tata bisa jalan pelan-pelan Bunda." Ucap Tata menolak.
"Tidak, tidak, Bunda tidak mau kamu kecapean." Kata Beliau.
"Iya Mbak Ata, sini biar Watik bantu."
Dengan cekatan, Mbak Watik mengambil alih tugas yang sejak tadi diamanahkan kepadanya.
"Cuma jalan sebentar ke depan, mana capek Mbak." Ucap Tata setengah berbisik.
"Sssttt ... Nurut saja, Bunda over protektif karena Beliau sayang sama Mbak Ata, juga calon cucunya." Kata Mbak Watik.
Memang, akhir-akhir ini Bunda terlihat sangat berlebihan, melihat kondisi menantunya yang lemah.
Lagi-lagi pengalaman pahit pernah Bunda alami, kehilangan calon putranya karena kondisi serupa. Hingga harus menunggu bertahun-tahun, sampai hadirnya Sekar Kinanti.
Meskipun begitu, Bunda bersyukur, selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Allah menghadirkan Alfatih yang menjadi penerang di dalam keluarga kecilnya.
Air mata Beliau kembali menitik, saat gambaran masa lalu terbayang kembali. Bunda Arum segera berlari masuk ke kamarnya. Di dalam ruang pribadinya itulah, beliau kembali menumpahkan air matanya.
"Begitu cepat engkau pergi meninggalkanku Mas." Bisiknya sembari memandang foto Almarhum Danu di tangannya.
Pelukan semu Bunda lampiaskan ke dalam bingkai berukuran dua puluh centi yang selalu menghiasi nakasnya. Bagi Bunda, ini bukan sekedar sebuah pelukan, tapi lebih dari pelampiasan kerinduan terhadap almarhum suaminya.
'Allah lebih sayang kepada mu dan putri kita Mas, semoga Allah menempatkan kalian di syurga-Nya.' ucapnya masih dengan bingkai foto di dalam dekapannya.
***
"Mbak Ata mau Watik ambilkan sesuatu ?" Tanya Mbak Watik sesudah menempatkan istri majikannya itu di taman favoritnya.
"Enggak Mbak, terimakasih. Saya cuma mau menghirup udara segar." Jawab Tata sambil turun dari kursi rodanya.
"Eh, mau kemana, duduk di sini saja." Pinta Mbak Watik.
"Capek Mbak, duduk terus. Mau jalan-jalan sebentar, biar gak kaku kakinya." Jawab Tata nekat.
"Iya, hati-hati, pelan-pelan saja. Mumpung gak ada Bunda." Kata Mbak Watik setengah berbisik.
Meskipun belum pernah merasakan bagaimana rasanya seorang ibu mengandung, Mbak Watik tahu betul, beratnya perjuangan seorang ibu.
__ADS_1
Mbak Watik menikah sudah hampir sepuluh tahun. Tapi Allah, belum memberikan kepercayaan kepada dia dan suaminya untuk menimang seorang anak.
"Eh, Mbak Ata, hati-hati." Teriaknya, saat melihat Tata hampir jatuh karena menginjak batu kerikil.
"Gakpapa Mbak, cuma kaget saja."
"Hhhuuuff ... syukur deh, bikin deg-deg an saja." Komentarnya mengelus dada.
"Mama." Sapa si kecil Nindya yang sudah terlihat cantik berseri pagi ini.
"Kesayangan Mama, sini sayang."
"Papa kapan pulang Ma ?"
Tata memandang lembut putrinya. Tidak biasanya Nindya menanyakan kepergian Papanya. Apalagi kepergian Al belum terlalu lama. Biasanya, meskipun Al pergi berhari-hari, Nindya juga tidak pernah menanyakan kapan dia pulang.
"Sayang, Papa kan baru berangkat kemaren."
"Iya, tapi kenapa lama pulangnya."
"Papa masih banyak kerjaan, nanti kalau urusan pekerjaan Papa sudah selesai, pasti Papa pulang."
Tata kembali melihat pesan singkat yang dia kirim melalui WhatsApp. Masih sama seperti tadi, belum ada yang berubah.
'Masih centang satu, kenapa aku jadi ikut khawatir ya.' Pikirnya dalam hati.
"Dya sudah makan ?" Tanya Tata mencoba mengalihkan perhatian.
"Enggak, Dya mau telfon Papa." Ucapnya.
"Iya, nanti ya. Papa masih sibuk." Jawab Tata, mengingat pesan yang dia kirim belum juga Al terima.
Tidak dipungkiri, ada perasaan khawatir di dalam hatinya. Apalagi dengan kondisi dia saat ini, perasaannya sangat sensitif.
'Harus positif thinking, mungkin Dya hanya kangen sama Papanya.' Komentarnya dalam hati.
"Sayang, kita jalan-jalan di taman depan yuk." Ajaknya, berusaha mengalihkan perhatian putri kecilnya.
"Ayuk, Mama pelan-pelan ya. Kata Eyang, Mama enggak boleh capek."
"Iya sayang."
Kelihatanya, kali ini usahanya berhasil.
"Sini Mama, Dya bantu." Celotehnya sembari mengulurkan kedua tangannya.
Untuk sementara waktu, perhatian Nindya teralihkan.
'Semoga waktunya istirahat nanti, Mas Al sudah bisa dihubungi, agar Nindya tidak menanyakan lagi.' Kata hati anita yang sebenarnya juga rindu suara Alfatih.
___________________
__ADS_1
___________________
___________________