Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 25. Minggu Yang Kelabu


__ADS_3

Semilirnya angin pagi ini menyusup di sela-sela jendela kaca yang sengaja Al buka, membuat gorden warna kelabu mengalun bagai ombak di tepi pantai.


Sinar mentari yang diharapkan bisa menghangatkan, seakan enggan keluar. Berganti awan hitam berarak yang siap menjatuhkan tetesan hujan.


Minggu yang kelabu, kata itu yang tepat untuk Al pagi ini. Dipandanginya telepon seluler yang sejak semalam tergeletak di nakas. Diam tanpa terdengar deringnya.


'Dia tidak membalas chat ku sama sekali.' Pikirnya dalam hati.


"Bahkan, dibaca saja tidak." Gumamnya sendiri saat memastikan tanda centang dua belum berubah warna.


Bentangan alam yang megah, gagahnya puncak Merapi seakan ikut bersedih mendengar keluhan pria lajang yang duduk termenung di atas kursi malas, tempat paling nyaman sejak kecil bersama almarhum ayahnya.


Tak .. tok .. tak ...tok ...


Terdengar ketukan tak beraturan yang membuyarkan lamunannya.


"Papa." Suara mungil Nindya.


Al beranjak dari mimpi buruk yang membayanginya pagi ini.


"Iya sayang." Digendongnya bocah yang sedang lucu-lucunya itu.


"Kita main yuk, kata Eyang Papa libul hali ini." Ucapnya cedal menggemaskan.


"Ayok, Nindya mau main apa ?"


"Kalau main ail hujan boleh gak ?"


"Jangan dong, nanti Nindya masuk angin." Kali ini Eyang Arum yang menjawab.


"Tu, dengarkan kata Eyang."


"Lagipula, Nindya kan sudah mandi, sudah wangi, cantik lagi. Masak mau mainan air hujan." Kata Eyang mengingatkan lagi.


Hujan ?


Ya, diluar sudah mulai turun rintik-rintik air hujan. Anugerah ilahi yang kadang tidak disyukuri oleh sebagian manusia.


"Tapi Dya bosen main telus di lumah." Rengeknya lagi.


Seusia Nindya memang mulai lebih senang beraktivitas di luar rumah.


'Kalau saja hari ini cuaca mendukung, aku pasti akan ajak kamu dan Eyang pergi ke rumah singgah.' Kata hati Al.


"Nanti ya Nak, tunggu hujan reda. Lalu kita pergi jalan-jalan." Bujuk Eyang.


"Hole, kita maen ke tempat Mama ya Eyang."


Al dan Bunda Arum saling berpandangan. Mereka paham siapa 'Mama' yang Nindya maksud. Bukan berziarah ke makam Mama Kinan, tapi ke tempat Mama yang masih bisa dia ajak bercanda.


"Cantik, kita makan dulu yuk." Ajak Mbak Watik, pekerja paruh waktu yang membantu Bunda Arum mengurus pekerjaan rumah dan merawat Si kecil Nindya.


"Eyang, Dya mamam duyu ya." Pamitnya mengajak mbak Watik ke tempat favoritnya. Taman yang ada di ruang tengah yang di lengkapi dengan berbagai macam mainan edukasi.


Begitupun dengan Bunda Arum dan Al yang juga menikmati sarapan paginya, diiringi irama merdu rintik air hujan.


"Al."

__ADS_1


"Iya Bunda."


"Anita apa kabar ?"


'Tumben-tumbenan Bunda menanyakan anita ?' Tanya Al dalam hati.


"Anita ?"


"Iya, gadis yang tinggal di rumah singgah. Dia masih bekerja di perusahaanmu kan ?"


"Oh, iya." Jawabnya terbata.


"Dia gadis yang baik Al. Bunda mau, kapan-kapan kita undang dia untuk makan di rumah."


"Buat apa Bunda ?"


"Apa kamu tidak lihat bagaimana sikap Nindya kalau bertemu dengannya."


"Hhhhmmmm, iya Bunda." Al menghela nafas panjang.


"Beri Dya kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang Ibu."


"Maksud Bunda ?"


"Bunda yakin, kamu paham maksud Bunda."


Jawaban Bunda membuat Al harus berfikir lebih panjang. Seorang pendamping, itu yang Bunda minta. Tapi sampai saat ini, belum satupun wanita yang bisa meluluhkan hatinya.


"Bunda juga ingin melihatmu bahagia Nak. Dan kebahagiaan bagi Bunda, bukanlah keberhasilanmu dalam usaha semata. Tapi juga kebahagiaan yang murni dari sini." Kata Beliau lagi, sembari menunjuk dada Al sebagai kata hati yang dimaksud.


Tidak ada lagi yang bisa Al katakan. Bukan dia tidak mau menikah, tapi memang belum ada yang tepat untuk menjadi pendampingnya.


Manusia itu makhluk yang misterius, orang lain tidak bisa menebak apapun yang dia rasakan. Tapi seorang ibu, terkadang bisa merasakan keresahan yang sedang dialami anak-anaknya.


Begitupun dengan Bunda Arum, tidak tahu pasti apa yang Al inginkan, tapi Bunda Arum bisa merasakan apa yang Al resahkan.


"Bunda ke dalam dulu ya Nak, habiskan sarapanmu."


Tepukan lembut Bunda berikan tepat di pundak putra tercintanya. Seakan mengatakan, kalau 'kamu bisa'.


'Mungkin aku terlalu memaksa, tapi aku rasa memang sudah waktunya untuk Al menata hatinya. Aku tidak mau dia larut dengan aktivitas kerjanya.' Gumam Beliau dalam hati, saat melihat putranya diam tanpa komentar mendengar nasehat-nasehat yang Bunda berikan.


Sarapan pagi ini terasa hambar, setelah apa yang dia dengar tentang harapan Ibundanya.


Al kembali meraih handphonenya. Dan masih sama seperti beberapa jam yang lalu.


Jarinya kembali sibuk dengan layar enam inci di depan matanya. Entah apa yang sedang dia cari dengan benda elektronik itu, sampai-sampai dia melupakan sarapannya.


"Al, Al !"


Teriakan Bunda mengagetkan.


"Ada apa Bunda ? Ada masalah ?" Sambut Al sedikit khawatir.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ajaknya.


"Rumah sakit ? Siapa yang sakit ?"

__ADS_1


Belum juga Al mendapatkan jawaban, Bunda sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


Sesuai perintah Bunda Arum, Al segera mengganti bajunya yang lebih layak untuk pergi ke rumah sakit.


"Watik, titip Nindya ya, saya ada urusan sebentar."


"Inggih, Bunda."


Nindya yang terbiasa ditinggal, sudah merasa nyaman dengan Mbak Watik pengasuhnya.


"Memangnya siapa yang sakit Bun, di rumah sakit mana ?" Tanya Al yang belum mengetahui siapa yang akan Bunda besuk.


"Nanti kamu juga akan tahu, di rumah sakit 'Sehat Waras'." Jawab Bunda.


Al sangat berhati-hati membawa kendaraannya. Diluar sedang hujan, jalanan sangat licin. Apalagi banyak kendaraan roda dua yang terkadang tidak tahu aturan.


Sesampainya di lobi rumah sakit, Bunda turun terlebih dahulu dan langsung menuju bagian informasi. Sedangkan Al masih harus memutar kendaraannya untuk menuju tempat parkir.


"Selamat siang Ibu, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya seorang petugas di bagian informasi.


"Iya Mbak, mau tanya pasien atas nama anita, dirawat di mana ?"


"Sebentar ibu, kami cek terlebih dahulu."


Terdengar tut keyboard yang sedang di tekan beraturan. Bunda menunggu dengan sabar. Sesekali pandangan matanya menuju ke luar. Sekedar memastikan kalau putranya tidak nyasar setelah memarkirkan kendaraannya.


"Mohon maaf, karena lama menunggu." Kata petugas bagian informasi.


"Untuk pasien atas nama Ibu Anita, saat ini dirawat di kamar melati nomor tiga." Lanjutnya memberi keterangan.


"Baik, terimakasih banyak."


"Sama-sama Ibu."


Dalam waktu yang bersamaan, Al sudah berada di belakang Bunda.


"Kita ke kamar melati nomor tiga Nak."


Sesuai petunjuk yang diberikan dan dengan berpatokan pada rambu-rambu arah yang ada di papan informasi, Al dengan mudah mendapatkan kamar yang mereka cari.


"Di sebelah sana Bunda."


"Iya Nak."


Al menghitung mundur nomor yang tertera pada papan di atas pintu, sembari berjalan memasuki lorong ruang melati.


"Nomor tiga, ini Nak."


"Iya Bunda."


Kata Al setelah menemukan ruang yang mereka cari.


Langkahnya semakin ringan, seakan ada medan magnet yang memaksa kaki Al untuk segera masuk ke ruangan itu. Meskipun belum dia ketahui pasti, siapa sebenarnya yang ada di balik ruangan melati nomor tiga.


________________


________________

__ADS_1


________________


__ADS_2