
Mentari pagi bersinar begitu cerah. Secerah harapan yang selalu Tata panjatkan. Semilirnya angin pagi, menambah kesejukan hati. Seakan ikut merasakan kebahagiaan yang Tata rasakan saat ini.
Sayup-sayup terdengar alunan musik mulai ikut menyemarakkan suasana. Di balik sebuah ruangan, ada tangan terampil yang mulai menggoreskan sebuah warna, mempercantik ciptaan-Nya.
Ya, hari yang dinanti telah tiba. Seorang gadis duduk diam di depan cermin. Menikmati goresan demi goresan yang dia rasakan di wajahnya.
"Masya Allah, tidak salah Mas Al memilih. Mbak Tata jadi semakin cantik." Komentar juru rias saat melihat karyanya di depan cermin.
Yang disanjung hanya tersenyum manis. Detak jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang dia rasakan, jemarinya pun terasa dingin, meskipun sinar mentari mulai menyusup memberikan kehangatan.
"Jangan tegang Mbak, rileks." Kata perias lagi, seolah tahu apa yang Tata rasakan saat ini.
"Tangan Mbak Ata dingin sekali. Sebentar ya, biar diambilkan air hangat." Ucapnya kembali dan langsung meminta asistennya untuk mengambilkan segelas teh hangat untuk Tata.
"Kenapa sayang ? Kamu baik-baik saja kan ?" Tanya Bunda yang ikut masuk ruang rias setelah mendengar asisten perias meminta teh hangat untuk Tata.
"Gak papa Bunda, mungkin Mbak Tata cuma gugup saja." Jawab Mbak perias.
"Jangan terlalu banyak pikiran, semua sudah diatur. Tata tinggal duduk diam menikmati prosesnya." Kata Bunda memberikan support.
"Iya Bunda, tapi entah kenapa, perasaan Tata gak enak."
"Sssatttt ... Sudah, jangan berfikir yang aneh-aneh. Semoga semua berjalan lancar."
"Inggih Bunda." Jawab Tata mencoba untuk lebih tenang.
"Ya sudah, dilanjut Mbak. Sebentar lagi Pak Naib akan datang." Kata Bunda sebelum meninggalkan ruang rias.
Hingga waktu yang ditentukan sudah tiba, persiapan sudah berjalan maksimal. Namun ada satu hal yang membuat mereka sedikit ribut.
'Paklek mana ? Kenapa belum hadir juga ?' bisiknya dalam hati.
Gelisah yang dia rasakan cukup beralasan. Satu moment penting yang membutuhkan kehadiran Paklek Arman, harus tertunda.
Al sibuk dengan handphonenya. Mungkin dia sendiri yang berusaha menghubungi keluarga Paklek Arman. Namun tidak ada satupun yang bisa dihubungi.
"Pak Al, apa tidak sebaiknya saya pergi ke rumah Pak Arman. Biar lebih jelas kendala apa yang membuat beliau tidak datang tepat waktu." Kata Reza menawarkan diri.
"Pergilah Za, jemput Pak Arman sekarang." Jawab Al sedikit geram.
"Bagaimana Pak ? Apa wali nikahnya belum bisa dihubungi ?" Tanya Pak Naib.
"Sebentar Pak, mohon tunggu sebentar lagi, asisten saya sedang menjemput Beliau." Jawab Al tak kalah resahnya.
"Tapi masalahnya, saya sudah ada jadwal lain jam sebelas nanti."
Jawaban Pak Naib semakin membuat Al gelisah.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.
'Tinggal tiga puluh menit lagi.' Keluhnya dalam hati.
"Halo Za, bagaimana Za ?" Tanya Al melalui sambungan selulernya.
"Maaf Pak, rumah Pak Arman kosong Pak. Kelihatannya memang Beliau tidak sedang ada di rumah." Kata Reza memberikan informasi.
'Astaqfirullah ... kemana Pak Arman ? Kenapa menghilang tanpa kabar.' Keluh Al dalam hati.
__ADS_1
"Ada apa Nak ?" Tanya Bunda.
"Pak Arman tidak ada di rumah Bunda." Jawab Al lemas.
"Apa ! Apa maksudnya ? Kenapa tidak memberikan kabar terlebih dahulu." Komentar Bunda ikut geram.
'Ada apa dengan Paklek ? Kenapa Mas Al dan Bunda kelihatan gelisah begitu.' Tanya Tata dalam hati.
"Ya sudah Nak, jangan cemas begitu. Kasihan Tata, dia pasti ikut khawatir kalau tahu kejadian ini." Kata Bunda lirih.
"Iya Bunda, lalu bagaimana dengan akad nikahnya ?"
"Sudah, gakpapa. Kita minta nasehat Bapak Naib saja."
Bunda menggiring putranya menuju meja dimana Pak Naib masih dengan sabar menunggu.
"Bagaimana Pak Al ?" Tanya Beliau.
"Mohon maaf, membuat Bapak harus lama menunggu." Jawab Al.
"Jadi begini Pak, wali nikah anak saya tidak bisa hadir karena ada suatu hal. Ini baiknya bagaimana ? Mohon penjelasannya." Kata Bunda meminta pertimbangan.
"Kira-kira, apa alasan Beliau tidak bisa hadir ?" Tanya Pak Naib sebelum memberikan saran lebih lanjut.
"Kami juga belum tahu, yang jelas Beliau tidak ada di tempat saat ini."
Sedih rasanya mendengar kenyataan bahwa Paklek Arman tidak hadir disaat yang dibutuhkan.
'Ada apa dengan Paklek, kenapa tiba-tiba tidak datang tanpa kabar.' tanya Tata dalam hati.
"Jadi begini, Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan. Yang berstatus sebagai wali hakim adalah pejabat terkait yang datang resmi atas nama lembaga dan bukan atas nama pribadi." Penjelasan Pak Naib.
Lega rasanya mendengar penjelasan Bapak Naib. Akad nikah bisa dilaksanakan, tapi pikiran Tata masih jauh ke tempat dimana Pakleknya berada saat ini.
Kejadian kali ini sangat menimbulkan tanda tanya. Pak Arman tidak pernah ingkar janji, apalagi semua hal yang menyangkut tentang keponakan kesayangannya.
Air mata anita tidak bisa terbendung lagi. Kalau saja hari ini bukan hari penting untuk dia, mungkin tangisnya akan lebih keras dibanding suara sound yang terdengar.
"Sabar sayang, bismillah, kita mulai ya." Kata Bunda menenangkan.
Tata hanya mengangguk tanpa bisa mengucap apa-apa.
"Baiklah kalau begitu, untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja akad nikahnya." Kata Pak Naib memulai acara.
"Silahkan Mbak Tata."
Dengan mengucapkan Bismillah, Tata meminta kepada Bapak Naib selaku wali hakim untuk menikahkannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anita binti Almarhum Sugiharto dengan maskawin tersebut, tunai." Jawab Al tegas.
"Bagaimana saksi ? Sah ?"
"Sah !"
'Alhamdulillah.'
Perasaan lega Tata rasakan, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan tentang dimana keberadaan Paklek Arman.
__ADS_1
Akad nikah berjalan lancar, walau tidak sesuai harapan. Sinar kebahagiaan yang seharusnya dia rasakan, berubah menjadi mendung kegelapan memikirkan apa yang terjadi dengan Pakleknya.
"Tata." Panggil seorang perempuan saat juru rias sedang mengganti pakaiannya.
"Mbak Wulan." Ucapnya sembari berlari memeluk perempuan yang selalu menjaganya disaat dia belum punya tempat untuk berteduh.
Dia luapkan emosi jiwanya di dalam pelukan hangat seorang kakak sekaligus sahabat baginya.
"Sudah, jangan bersedih. Semua sudah berjalan dengan lancar. Selanjutnya tugas kamu tinggal duduk diam menikmati acara demi acara yang ada." Kata Wulan memberikan support.
"Terimakasih Mbak."
"Coba lihat siapa yang datang bersama Mbak ?" Tanya Wulan sembari menggeser sedikit tubuhnya.
"Bu Ranti." Ucapnya girang.
"Selamat ya Nduk, semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan." Kata Bu Ranti tidak kalah girang.
"Bu Ranti, maafkan Tata ya Bu. Lama sekali Tata tidak menjenguk Ibu." Tangisnya tersedu.
"Sudah, jangan menangis. Hari ini hari bahagia untukmu. Tidak boleh ada air mata kesedihan."
Melihat kedatangan Bu Ranti dan semua keluarga rumah singgah, Bunda meminta Bu Ranti bersedia mendampingi Tata di kursi pelaminan.
Rentetan acara berjalan lancar, banyak tamu yang hadir. Baik dari lingkungan sekitar, keluarga, sampai rekan bisnis Alfatih.
"Selamat Pak Al, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah dan sukses selalu untuk bisnisnya." Begitu banyak ucapan yang dia terima. Baik secara langsung maupun melalui karangan bunga.
Belum hilang di dalam ingatan Tata, tragedi menghilangkannya Paklek, gini ada lagi keributan yang entah dari mana asal usulnya.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Alfatih !" Terdengar teriakan seorang perempuan.
"Maaf, tolong jangan bikin keributan di sini. Jika anda tidak bisa kami peringatkan baik-baik. Kami akan panggilkan pihak yang berwajib."
'Ada apa di luar ribut-ribut.' Tanya Al dalam hati, sembari memberikan kode kepada asistennya untuk mendekat.
"Ada apa Za ?" Bisik Al saat Reza sudah berada di sisihnya.
"Pak Al tenang saja, biar saya yang atasi." Jawab Reza, segera ke luar menuju tempat keributan.
"Mbak Bella lagi, apa masih belum jelas apa yang pernah saya katakan tempo hari !" Gertak Reza.
"Awas kamu ya ! Perlu kamu tahu, seharusnya aku yang ada di sana ! Bukan pengasuh itu !" Teriaknya lagi.
'Ada apa lagi ini ? kenapa begitu banyak rintangan yang harus kami hadapi ya Allah.' keluh Tata dalam hati.
"Mbak Bella, saya peringatkan sekali lagi. Jika Mbak tidak mau saya bertindak, tolong pergi dari sini !" Gertak Reza menenangkan suasana.
"Sialan, beraninya mengancam !" Ucapnya geram.
"Ini bukan ancaman, kalau Mbak tidak mendengar apa yang pernah saya katakan. Saya tidak akan tinggal diam."
Entah peringatan apa yang Reza berikan. Usai berkata begitu, Bella langsung pergi meninggalkan area gedung resepsi pernikahan Al dan Tata.
___________________
___________________
__ADS_1
___________________