Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 33. Nindya Sakit


__ADS_3

Awal minggu di bulan Oktober, berharap semua berjalan dengan lancar. Namun tidak untuk Al. Meskipun karier dan usahanya semakin berkembang pesat, namun hati dan perasaannya masih belum tertata dengan baik.


Saat ini yang ada dalam pikirannya, hanya kerja, kerja dan kerja. Dia lupa, ada seorang Nindya yang membutuhkan kasih sayangnya.


Kring ... kring ...


Sambungan telepon lokal di dalam kantor berdering. Pasti sinta sekretarisnya yang menghubungi.


"Ya Hallo."


"Pak Al, ada telepon dari rumah."


"Dari rumah ?"


"Iya Pak, handphone Bapak tidak aktif."


"Oke, sambungkan."


Sinta menyudahi pembicaraan dan menyambungkan dengan Bunda Arum yang menelfon dari rumah.


'Ada apa dengan Bunda, tumben-tumbenan Bunda menelfon di jam-jam segini.' Pikirnya.


Memang jarang sekali Bunda menghubungi Al pada jam kantor. Bahkan hampir tidak pernah, jika tidak ada hal yang sangat penting untuk disampaikan.


"Assalamu'alaikum Bunda." Sapa Al saat telepon sudah tersambung.


"Dya Al."


"Dya ? Ada apa dengan Dya Bunda ?" Tanya Al panik.


"Dya sakit, badan Dya panas tinggi, makannya juga susah. Bunda mau bawa Dya ke rumah sakit." Informasi dari Bunda Arum.


"Bunda bawa Dya ke Rumah Sakit 'Ibu dan Anak' ya Bun, kita ketemu di sana."


"Iya Nak, Bunda tunggu ya."


"Iya Bunda, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Nindya menangis kesakitan. Dokter dan beberapa suster berusaha mencari vena yang tepat untuk dipasang infus.


Tidak tega rasanya mendengar rintihannya. Apalagi tangisnya mulai pecah saat Al datang.


Bunda Arum, yang sejak tadi mendampingi, memilih keluar karena tidak tega melihat Nindya menangis kesakitan.


"Sabar ya, sedikit lagi selesai. Anak sholehah, biar lekas sembuh ya Nak." Kata dokter menenangkan.


"Sakit Pa, sakit."


"Iya, sebentar lagi ya, satu, dua, tuh kan sudah selesai." Sambung Bu Dokter lagi.


"Dya tidak mau diikat Papa, Dya mau pulang." Rengeknya memohon.


"Dya diobati dulu ya, biar lekas sembuh. Kalau sudah sembuh kita pulang terus jalan-jalan." Bujuk Papa Al.

__ADS_1


"Dya gak mau disini." Tangisnya terisak.


"Makanya, Dya makan yang banyak ya. Biar kuat, biar gak sakit lagi." Bujuk Eyang Arum.


"Enggak mau, Dya mau Mama." Teriaknya lebih kuat.


Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Kecuali harus menuruti apa kemauan Nindya.


Karena pengaruh obat dan setelah puas dengan tangisannya, Nindya kelelahan dan tertidur pulas. Disaat itulah menjadi kesempatan bagi Bunda untuk berbicara dengan putra sekaligus seorang Papa bagi Nindya.


"Al, Bunda mau bicara sebentar."


"Iya Bunda."


Al mengambil posisi duduk dekat Bunda di sofa ruang tunggu dan masih menunggu, apa yang akan Bunda bicarakan.


"Dari kemarin, Dya susah sekali makannya." kata Bunda mengawali cerita.


"Setiap Bunda tanya, Dya mau apa ? Dya selalu menjawab, 'Dya mau Mama'." lanjutnya.


"Bunda tahu, ini berat buat kamu. Tapi setidaknya, lakukan demi Nindya." Kata Beliau hampir ke pokok permasalahan.


"Maksud Bunda ?"


"Maksud Bunda, Bunda ingin kamu sampaikan kondisi Nindya saat ini kepada Anita. Karena dialah yang selama ini Dya anggap Mamanya. Minta dia untuk meluangkan waktunya sedikit menjenguk Nindya. Syukur-syukur kalau Tata mau tinggal bersama kita, agar Dya lebih dekat dengannya."


'Maafkan Bunda Nak, Bunda tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya Bunda juga mau kamu dekat dengan gadis itu. Dia gadis yang baik dan perhatian. Tapi untuk hal pribadi, kamu yang lebih mengerti tentang dirimu sendiri.' Kata Bunda dalam hati.


Begitu mendengar keterangan dari Bunda, Al sedikit merasa lega sekaligus galau.


"Iya Bunda, Al akan coba bujuk Anita, supaya dia mau menjadi pengasuh Nindya." Ucapnya meyakinkan.


'Hanya sebatas itukah kedekatanmu dengan Anita ? Tidakkah kamu mempunyai sedikit rasa yang terselip di hatimu Nak ?' Keluh Bunda dalam hati, menyayangkan tanggapan Al tentang keinginan Bunda.


"Terimakasih ya Nak, kamu sudah rela melakukan apa saja untuk Nindya. Kasihan dia, seusia dia sudah harus merasakan kehilangan kedua orang tuanya."


Sebenarnya, apa yang Bunda katakan merupakan curahan isi hati seorang nenek yang harus mengasuh cucu nya sendiri tanpa kasih sayang seorang Ibu.


Konkritnya adalah Bunda menginginkan Al untuk segera menentukan pilihan. Tapi Al belum peka akan hal itu.


Bukan hanya pilihan yang tepat untuknya, tapi juga yang mempunyai jiwa keibuan dan kasih sayang terhadap seorang anak. Dan semua kriteria itu ada pada Anita yang Bunda kenal.


Air mata Bunda Arum mulai mengalir membasahi pipinya. Rasa rindu kepada putrinya, selalu dia curahkan kepada Nindya, cucu kesayangannya.


Rasanya belum lama Bunda Arum menimang dan membesarkan Kinanti, tapi Allah sudah memintanya kembali.


Nindya kecil yang selalu menjadi pelipur disaat hatinya sedang lara. Bukan hanya Bunda, tapi Al juga.


Disaat rasa lelah melanda, sepulangnya dari kantor, pasti akan terobati dengan keceriaan dan sikap manja Nindya kepadanya.


Malam itu juga, Al bergegas menuju tempat dimana Anita tinggal. Sesuai yang Reza informasikan, sebuah rumah berukuran empat kali enam yang meskipun kecil dan berada di lingkungan kumuh, namun tertata rapi dan bersih.


Tok ... tok ... tok ...


Beberapa kali Al mengetuk pintu dan mengucapkan salam, namun tidak juga ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


"Maaf Mas, mencari siapa ya ?" Tanya seorang Bapak yang kebetulan melintas di depan.


"Iya Pak, apa benar ini tempat tinggal Mbak Tata ya ?" Tanya Al.


"Mbak Anita maksudnya ?"


"Oh, iya Mbak Anita."


"Iya betul Mas, tapi Mbak Anita nya sedang keluar Mas. Kebetulan tadi saya bertemu di ujung jalan sana." Kata si Bapak memberi keterangan.


"Kira-kira dia kemana ya Pak ?"


"Waduh, kurang tahu saya Mas. Tapi kalau jam-jam segini paling cuma mau cari makan. Sebentar lagi juga kembali." Kata Beliau.


"Kalau begitu, apa saya boleh menunggu di sini Pak ?"


"Oh, silahkan. Tapi kalau boleh Bapak tahu, Mas apanya Mbak anita ya ?" Tanya Beliau yang merasa bertanggungjawab mengizinkan.


"Saya teman kerja Anita Pak, ada hal penting yang harus saya sampaikan. Karena nomor handphone dia tidak bisa saya hubungi, jadi saya langsung menuju ke sini." Jawab Al meyakinkan.


"Iya-iya tidak apa-apa, silahkan ditunggu. Rumah Bapak di sebelah situ Mas. Kalau ada apa-apa bisa ketuk saja."


"Baik, terimakasih banyak Pak."


"Kalau begitu, Bapak tinggal dulu ya Mas."


"Monggo, silahkan Pak."


Masih banyak orang baik dan berprasangka baik di kota ini. Tidak harus menunggu lama, apa yang Bapak tadi infokan ternyata benar. Anita datang dengan membawa bungkusan di dalam tas kresek bening.


"Pak Al ?" Sapanya sedikit kaget, ketika melihat Al sudah duduk di teras yang hanya diterangi lampu lima watt dan tidak begitu terang.


Sengaja Al memarkirkan kendaraannya agak jauh dari tempat tinggal Anita. Karena dia takut, gadis itu akan menghidar lagi.


"Maaf, saya mengganggu malam-malam begini."


"Dari mana Bapak tahu saya tinggal ?"


"Itu tidak penting, yang penting ada hal yang harus saya sampaikan."


"Ada apa Pak ?"


"Nindya sakit dan Bunda minta saya untuk menyampaikan hal ini sama kamu." Kata Al to the point.


"Nindya sakit ?"


"Ya, dia tidak mau makan, setiap malam mengigau panggil-panggil nama kamu."


Mendengar tentang Nindya, naluri keibuannya muncul. Entah kenapa, dia juga begitu sayang dengan bocah kecil itu. Padahal mereka tidak ada hubungan darah sama sekali.


_________________


_________________


_________________

__ADS_1


__ADS_2