Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 14. Rasa Yang Sama


__ADS_3

Gemerlap lampu dan kemeriahan acara ulang tahun seorang Nindya baru saja dimulai.


Lagu selamat ulang tahun dan riuh tepuk tangan anak-anak terdengar sangat ramai. Bunda Arum menunjuk Wulan sebagai pemandu acara.


🎶Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga🎶


Nindya kecil memejamkan mata, dan berdoa di dalam hati sebelum mulai meniup lilin ulang tahunnya.


'Ya Allah, aku ingin bertemu Mama. Aku kangen Mama Ya Allah.' doanya di dalam hati.


Suara tepuk tangan bahagia di berikan kepada si cantik Nindya. Tidak lama setelah lilin bertuliskan angka tiga itu padam, riuh suara nyanyian dilanjutkan.


🎶 Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga...🎶


"Ayo sayang, kita potong kuenya." Pinta Bunda Arum membantu memotong kue ulang tahun cucunya.


Namun, gadis cilik itu masih belum menyentuh pisau kue yang Bunda Arum berikan.


Pandangan matanya menuju ke arah pintu utama.


"Kenapa sayang ?" Tanya Bunda Arum lagi.


"Papa Al mana Eyang ?"


Ternyata ada yang dia nantikan malam itu. Alfatih, seorang yang sejak kecil sangat menyayanginya sebagai sosok seorang ayah bagi Nindya.


"Mungkin Papa Al lagi kena macet di jalan. Sebentar lagi pasti sampai." Bujuk Bunda Arum.


"Dya potong kuenya nungguin Papa pulang saja." Celotehnya.


"Sayang, kasihan temen-temen udah pada nunggu kuenya."


Gadis kecil itu terdiam, dia pandangi seluruh temannya yang hadir.


"Tapi Eyang, Dya mau sama Papa." Ucapnya merajuk.


"Iya sayang, sebentar lagi Papa datang ya." Kata Bunda berusaha meyakinkan cucunya.


Benar apa kata Bunda, seolah ada ikatan batin diantara mereka berdua, Alfatih muncul diantara kerumunan anak-anak seusia Nindya. Dia masuk bukan melalui pintu utama, melainkan pintu samping pendopo.


"Selamat ulang tahun sayang." Suara barito namun menyejukkan hati itu terdengar begitu merdu.


"Papa !" Teriak Nindya, dengan langkah kaki kecilnya dia berlari ke pelukan Alfatih.


"Eh, kenapa ada air mata di sini." Kata Al sembari menghapus sisa air mata yang tadi sempat mengalir di pipi Nindya.


"Dya sedih kalau Papa gak pulang." Ucapnya polos.


"Papa pasti pulang, ayo kita lanjutkan potong kue."


Sembari menggendong keponakan kesayangannya, Alfatih mendekati kue ulang tahun yang siap dipotong bersama Bunda Arum.


Potongan pertama Nindya berikan kepada Papa Alfatih, sedangkan potongan berikutnya sudah pasti untuk Bunda Arum yang sekarang sudah dipanggil Eyang.


"Terimakasih sayang, sehat selalu ya Nak." Kata Bunda.


Mbak Wulan dan team dari rumah singgah membantu membagikan kue ulang tahun yang selanjutnya diikuti dengan acara ramah tamah atau makan malam bersama.


Dalam moment itu, Alfatih juga sudah menyiapkan angpao yang siap dibagikan sebagai rasa syukur atas nikmat - Nya.


Bocah kecil itu sudah membaur dengan teman-temannya, disaat semua yang hadir sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan.


Alfatih duduk termenung bersama Reza tentunya.


"Al, kamu sudah makan Nak ?" Tanya Bunda sembari membawa satu paket jajan tradisional.


"Nanti saja Bunda, biar mereka menikmati acara terlebih dahulu." Jawabnya sembari melirik kue yang baru saja Bunda letaknya di atas meja.


"Reza, ayo cicipi, dijamin bikin ketagihan." Kata Bunda menirukan sebuah iklan.


Al mengambil sebuah kue berwarna hijau dengan rasa manis.


Kue puthu ayu buatan Anita yang sejak tadi menggelitik hatinya untuk merasakan.


'Kue ini, rasanya persis seperti kue yang selama ini aku cari.' Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa Nak ?" Tanya Bunda heran, melihat reaksi putranya saat gigitan pertama mendarat.


"Tidak apa-apa Bunda, kue nya enak." Jawabnya menutupi rasa penasaran di hatinya.


Ingin rasanya Al bertanya, dari mana Bunda Arum memesan kue - kue ini. Namun diurungkan, takut jika terdengar kepo dengan urusan dapur.


"Za, kue ini rasanya sama persis dengan kue yang pernah aku cari beberapa tahun lalu." Ucapnya lirih kepada Reza saat Bunda meninggalkan mereka berdua.


Reza hanya menganggukkan kepala sembari ikut menikmati apa yang disampaikan Bos mudanya.


"Apa perlu saya tanyakan kepada Bu Arum dimana beliau pesan Pak ?"


"Tidak, jangan dulu. Kita jangan melibatkan Bunda dalam hal ini."


"Baik Pak." Jawab Reza menurut.


Acara usai, satu persatu tamu yang mereka undang telah kembali. Al ikut memperhatikan mereka, berharap ada gadis penjual puthu ayu yang dia cari.


***


Hingga keesokan harinya, belum hilang rasa heran tentang keberadaan kue puthu ayu di rumah nya, gini Al kembali dikejutkan dengan kue yang sama di kantornya.


'Ya Allah, pertanda apa ini ? Hampir saja aku melupakan gadia itu, tapi hari ini Engkau hadirkan kembali dalam ingatanku.' Gumamnya dalam hati.


Pikiran Alfatih dipenuhi bayang - bayang gadis penjual kue putu ayu. Bahkan, sampai membuat Al hampir tidak bisa konsentrasi dalam acara meeting pagi ini.


Tangannya sibuk dengan pena yang dia mainkan, pikirannya sibuk mengingat-ingat sebersit wajah yang hampir hilang dalam ingatannya.


"Pak Al, apa bisa kita tutup acara ini ?" Tanya Sinta yang hampir tidak terdengar olehnya.


"Oh, ya, tidak apa-apa." Jawabnya gugup.


Hampir saja Al mempermalukan dirinya sendiri. Untung saja Sinta lebih cekatan dalam memimpin acara.


"Ini sangat enak sekali Pak Al, saya suka masakan Indonesia." Puji salah satu klien dari luar negeri.


Tidak ada yang tidak suka dengan kue tradisional yang tersaji dengan cantik hari ini.


"Za, panggil Nia ke ruanganku." Pintanya kepada Reza, saat semua tamunya sudah kembali.


"Ada apa ya Pak ?" Tanya Nia gugup dan takut.


"Saya kurang tahu, Pak Al memintamu ke ruangannya sebelum pulang."


"Baik Pak."


'Ada apa ya Pak Al memanggilku, apa ada yang salah dengan menu yang aku sajikan tadi ?' Pikirnya dalam hati.


Sejujurnya, Nia sangat takut. Tapi apapun resikonya akan tetap dia hadapi.


Nia masih berdiri di depan pintu ruang CEO. Tangannya seakan mulai beku, badannya terasa panas dingin.


"Hei !" Tegur Reza setengah mengagetkan.


"Astagfirullah, Pak Reza. Bikin saya jantungan saja." Gerutunya cemberut.


"Kamu ngapain disini ?"


"Saya, saya mau menghadap Pak Al." Jawabnya gugup.


"Terus ?"


"Nervous pak, takut. Salah saya apa ya Pak ?"


"Ya mana saya tahu." Jawab Reza berlagak tidak mengerti.


Tok ... tok ... tok ...


Reza mulai mengetuk pintu.


"Pak Reza, sebentar." Rengeknya.


"Masuk."


Reza hanya mengangkat bahunya, tanpa memperdulikan permintaan Nia, setelah mendengar jawaban dari pemilik suara yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


"Ada apa Za ?" Tanya Al yang melihat Nia mengekor di belakangnya.


"Saya cuma mau ambil berkas saya yang ketinggalan Pak." Jawabnya menunjuk sebuah map merah yang tanpa sengaja dia tinggalkan di meja.


"Oh, ya." Jawab Al singkat.


"Selamat sore Pak." Sap Nia merunduk, saat Al mulai memperhatikan keberadaannya.


"Duduk Nia."


"Iya Pak." Ucapnya sembari menata hati dan pantatnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak." Pamit Reza.


'Mampus gue, mana Pak Reza malah pergi lagi.' Gerutunya dalam hati.


"Tunggu sebentar Za, kamu temani saya dulu." Jawab Al.


"Baik Pak."


'Alhamdulillah, slamet - slamet.' Gumamnya dalam hati, sembari mengelus dadanya sendiri.


"Kenapa Nia ?"


Pertanyaan Alfatih mengagetkan.


"Tidak apa-apa Pak." Masih merunduk gugup.


Reza hanya senyum - senyum sendiri melihat tingkah Nia.


"Saya hanya mau tanya, dimana kamu pesan kue - kue tradisional yang tadi kamu suguhkan waktu meeting ?"


Seketika wajah Nia memerah dan tidak tahu harus menjawab apa. Antara jujur dan tidak, secara Al minta Nia untuk pesan di tempat langganan catering mereka, sedangkan Nia malah memesankan di tempat khusus, yaitu kue - kue tradisional buatan Anita.


'Ada apa ini ? Apa ada yang kurang pas dengan penyajian Tata tadi. Ya Allah, lindungi hambamu.' Gumamnya dalam hati.


"Kenapa diam ?"


"Maaf Pak, nanti biar saya complain ke tempat saya pesan kue."


"Nia, saya hanya tanya, dimana kamu pesan kuenya ?"


"Iya, saya pesan di tempat rumah produksi pembuatan kue tradisional Pak." Jawabnya belepotan.


"Dimana itu ?" Tanya Al lagi.


"Apa kuenya ada yang tidak enak atau rusak mungkin Pak ?" Nia balik bertanya.


"Kamu terlalu bertele-tele Nia, saya cuma tanya dimana ?"


"Di teman saya Pak." Jawabnya sembari merunduk antara takut dan bingung.


"Bisa kamu panggilkan teman kamu ke sini besok ?"


"Iya Pak, semoga bisa."


"Kenapa semoga ?"


"Karena dia sibuk Pak." Jawabnya asal.


"Oke, besok saya mau ketemu dan mau order banyak kue-kue nya, jadi tidak ada alasan dia sibuk. Karena ini bisnis."


Kalimat Al seakan sebuah ultimatum bagi Nia.


"Baik Pak."


"Kamu boleh pulang."


"Iya Pak, terimakasih banyak. Saya permisi Pak."


Reza masih tidak habis pikir, betapa besar tegat Bos mudanya ini untuk bisa menemukan wanita pembuat kue tradisional itu.


___________________


___________________

__ADS_1


___________________


__ADS_2