Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 46. Malaikat Penyelamat


__ADS_3

Kosong, itu yang ada di pikiran Tata saat ini. 'Andai saja Allah mengirimkan malaikat sebagai penolong hidupku saat ini, jika itu perempuan akan aku hormati dan aku sayangi sebagai saudara, jika itu laki-laki akan aku jadikan dia pendamping dalam hidupku.' Nadzarnya dalam hati.


"Sebenarnya ada satu hal yang bisa membantu kalian menyelesaikan masalah ini." Kata Pak Johan akan memberikan sebuah opsi.


Mata Tata yang tadi sempat terpejam, gini terbuka lebar. Berharap bukan satu hal yang tadi ada di dalam pikirannya.


"Ap itu Pak ?" Tanya Paklek antusias.


"Saya akan membebaskan kembali, kalian dari hutang. Dan aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi, namun dengan satu syarat." Ucapnya bernegosiasi.


"Syarat ? Syarat apa Pak ?"


"Syaratnya, sepele. Jika keponakanmu mau aku pinang menjadi menantuku, aku akan anggap lunas semua hutang-hutangmu."


Rasanya bagai disambar petir mendengar persyaratan yang Pak Johan berikan.


"Tidak, saya tidak mau. Dan perlu Bapak tahu, saya tidak pernah meminta apapun dari putra Bapak. Dan satu hal lagi, bukan saya yang mempermalukan putra Bapak, tapi putra Bapak yang mempermalukan dirinya sendiri." Ucapnya geram.


"Ya sudah, gampang saja. Tinggal kamu bayar semua hutang-hutang Paklekmu, atau mereka angkat kaki dari rumah ini." Gertaknya memberikan pilihan yang sama-sama menguntungkan untuk dirinya sendiri.


"Berapa semua hutang yang harus Pak Arman bayar ?"


Suara lantang nan merdu itu tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah Pak Arman yang terbuka lebar.


Semua mata beralih ke arah pintu, begitupun dengan Andri yang terlonjak kaget melihat kedatangan Al.


"Pak Al ?" Gumam Pak Johan yang semakin membuat Andri melongo.


"Bapak kenal dengan laki-laki ini ?" Tanya Andri lirih.


"Dia pengusaha muda yang sangat terkenal dermawan di kota ini Le." Terangnya.


Karisma Al memang tiada duanya. Semua kalangan, mulai dari yang bawah sampai yang atas mengenalnya.


"Apa kabar Pak Johan ?" Sapa Al setelah mengetahui salah satu dari tamu Pak Arman adalah Johan, pengusaha kayu ukir yang sering menawarkan barang produksinya ke perusahaan Alfatih.


"Ba, baik Pak. Pak Al sendiri apa kabar ?" Sapanya balik. Ada nada gugup pada kalimat yang dia sampaikan. Entah apa yang ada pada pikiran Pak Johan saat ini.


Senang karena uangnya akan segera kembali, atau takut usahanya bakal dibeli oleh Al.


"Alhamdulillah, sehat Pak. Pak Arman, sudah baikan ?" Sapanya berganti.


"Alhamdulillah, sudah banyak perubahan Pak."


"Oh ya, tadi saya sempat mendengar mengenai persoalan hutang piutang. Memangnya berapa hutang Pak Arman kepada Pak Johan ?" Tanya Al langsung pada pokok persoalan.


"Oh, itu .. itu bukan masalah yang serius Pak. Santai saja, bisa dibicarakan baik-baik." Kata Pak Johan basa-basi.

__ADS_1


"Bapak ini bicara apa ?" Protes Andri.


"Diam kamu, jangan ikut campur urusan Bapak." Gertaknya lirih.


Pak Johan mencoba memberi kode kepada anaknya, tapi Andri tidak memperdulikannya.


"Semua hutang Pak Arman tiga ratus juta, dan jika dalam jangka waktu satu minggu kedepan, mereka tidak bisa menyelesaikan, kami berhak atas rumah ini." Sela Andri mendahului.


"Andri." Cegah Pak Johan agar anaknya tidak banyak bicara.


"Keterlaluan kamu Mas Andri, belum ada sehari Pak Johan bilang kalau hutang Paklek dua ratus juta, kenapa kamu bilang tiga ratus juta !" Tata angkat bicara.


"Bukankah tadi Bapak juga bilang, kalau nominal sekian, belum termasuk bunganya." Jawab Andri percaya diri.


Pak Johan malah nampak geram dengan ulah putranya sendiri. Ada rasa malu yang terlihat pada raut wajahnya.


Sedangkan Al, hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Andri.


"Oke, anggap saja rumah ini sudah kalian sita dan saya bersedia membeli sesuai nominal yang kalian sebutkan." Kata Al datar.


"Oh, itu tidak perlu Pak Al. Maafkan anak saya. Semua masih bisa dibicarakan baik-baik." Ujar Pak Johan.


"Tidak apa-apa, saya suka dengan putra Bapak yang terlalu jujur. Sekarang, saya mau kita sepakat jual beli rumah ini. Saya terima sura tanahnya, anda terima uang dari saya."


"Ee ... Begini Pak Al_"


"Oh, tidak, jangan-jangan. Baik, baik kita sepakat." Jawab Pak Johan takut kerjasama mereka batal.


Transaksi berjalan lancar. Al telah menyelesaikan semuanya. Seperti malaikat yang Allah turunkan untuk membantunya.


'Malaikat ? Apa benar Allah menciptakan dia untuk selalu ada di sampingku ?'


Selama ini, Al selalu ada di saat Tata sedang dalam masalah.


Seperti pada saat ini, hanya Al yang datang sebagai Malaikat penolongnya.


"Oh, terimakasih sekali Pak Al, terimakasih sudah menolong kami." Ucap Bulek Rukmini basa-basi.


"Maafkan kami yang selalu merepotkan Pak Al." Tambah Paklek Arman.


"Ah, akhirnya, surat tanah ini kembali lagi." Kata Bulek sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil surat berharga itu di ataa meja.


Namun dengan sigap, Al mengambilnya.


"Pak Arman dan keluarga, silahkan menempati rumah ini sebagaimana yang telah diamanahkan kedua orang tua Anita. Tapi untuk sertifikat ini, saya akan menyimpannya. Karena ada yang lebih berhak atas surat ini."


Pak Arman sangat setuju dengan keputusan yang Al sampaikan. Tidak untuk Bulek, tapi bibirnya keluh seakan tak mampu lagi untuk melawan.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit dulu Pak. Semoga hal ini menjadi pelajaran yang baik dan bisa kita ambil hikmahnya." Kata Al.


"Sekali lagi, terimakasih banyak Pak Al."


"Ayo Ta, kita pulang." Ajaknya.


"Iya Mas." Sesuai permintaan Al, hari ini dia mau Tata memanggilnya selain kata Pak.


Al berjalan terlebih dahulu usai mengucapkan salam.


"Nduk." Panggil Paklek.


"Iya Paklek."


"Maafkan Paklek ya."


Tata tersenyum mendengar permintaan maaf Pakleknya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Paklek. Tata bersyukur, semua sudah selesai."


"Paklek selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Ndok, jangan pernah berbohong dengan perasaanmu sendiri."


Entah bagaimana Tata harus menjawabnya, namun apapun itu adalah doa yang terbaik untuk dia.


"Tata pamit ya Paklek."


"Hati-hati Nduk, jaga dirimu baik-baik."


Pulangnya Al dan Tata, tidak menutup kemungkinan adanya perdebatan lagi di dalam keluarga Pak Arman.


Sikap Bulek yang masih belum terima dengan keputusan Al, masih saja menyalahkan Paklek yang tidak bisa tegas mengambil sikap.


Tata mengikuti langkah kaki sosok pria penyelamat yang ada di depannya saat ini. Langkah lebarnya menunjukkan sikap sabar dan lapangnya dalam menghadapi segala hal.


'Andai sosok itu yang nanti selalu ada di sisihku ... ' Kata hatinya berandai-andai.


Namun, apalah daya. Jangankan dalam kehidupan nyata, bermimpi saja Tata tidak berani.


Biarlah nadzar di dalam hatinya menjadi rahasia dia dengan sang pencipta.


'Jika jodah pasti tak kan kemana.'


Kalimat itulah yang saat ini bisa sedikit menenangkan hatinya.


___________________


___________________

__ADS_1


___________________


__ADS_2