
Setiap hari adalah hari yang luar biasa untuk mengucap syukur atas karunia-Nya. Seperti pagi ini, Anita berjalan dengan telanjang kaki, menyisir tepi taman kota yang mulai ramai.
Minggu yang cerah, bukan hanya dia yang menikmati kebebasan di hari Minggu. Tapi juga hampir seluruh masyarakat di kota ini.
Sesekali dia berhenti dan duduk di pinggiran taman, menikmati setetes air putih membasahi tenggorokannya. Minggu pagi sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk sekedar melemaskan otot-otot kaki.
Ada yang bersepeda, ada yang berlari bersama pasangannya, ada juga yang sekedar jalan-jalan menikmati kuliner pagi.
Namun tidak untuk Anita, jarang sekali dia ada waktu untuk menikmati hari. Bahkan hampir tidak ada. Hidupnya yang dulu penuh dengan keharusan untuk mencari uang.
Namun kali ini, dia serasa bebas. Apa yang dia dapatkan bisa dia nikmati sendiri. Makan enak, tidur nyenyak, bisa dia rasakan meski masih kembali tinggal di dalam rumah kontrakan.
Fasilitas kos gratis satu ruangan yang dilengkapi kamar mandi dalam, milik keluarga Andri yang dulu dia tempati gini sudah dia tinggalkan.
Bahkan pekerjaan yang sangat mudah dengan gaji yang cukup tinggi dari Andri pun terpaksa dia lepaskan.
Semua itu bukan tanpa tujuan, dengan fasilitas yang Andri berikan, dia ingin mengenal Anita lebih dekat. Bukan hanya sekedar karyawan, tapi lebih jauh dari sebatas teman.
Namun hal itu belum bisa sepenuhnya Tata rasakan. Bagi dia Andri seorang yang baik. Tapi entah kenapa, tidak ada perasaan yang spesial di hatinya.
Anita yang mengira kalau Andri pahlawan baru dalam hidupnya, ternyata salah. Ingin rasanya dia menangis jika mengingat kembali kejadian malam itu.
Kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Saat Andri datang menemuinya dengan paksa.
•Flashback On
"Mbak Ata, hari saya izin pulang siang ya ?" Pamit Sari setengah merayu dengan mata berkedip-kedip manja.
"Memangnya kamu mau kemana ?" Jawab Tata balik bertanya.
"Ada dech." Jawab Sari penuh rahasia.
"Suka-suka kamu sajalah."
Entah itu sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan. Tata bertugas sendiri sampai malam. Dan malam itu, Andri lah yang berbaik hati menemani saat toko mau tutup.
Tapi ada yang aneh dengan sikapnya.
"Sudah mau tutup Ta ?"
"Iya Mas."
"Kita pulang bareng ya ?"
"Oh, iya." Jawab Anita sembari menyelesaikan tugasnya menutup toko, tanpa memperhatikan lawan bicaranya kembali.
"Mas andri mabok ya ?" Tanya Tata saat menyadari ada bau alkohol di dari mulutnya.
"Enggak, cuma dikit."
"Ya sudah, saya naik ojek online saja Mas."
Rasa takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan, membuat Tata mengurungkan niat untuk ikut pulang bersama Andri.
"Tidak, kamu tetap bareng sama aku." Jawabnya sembari menarik tangan Anita.
"I, iya Mas. Tapi lepaskan tangan saya, sakit." Rintihnya.
"Anita, sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini." Kata Andri entah kemana maksudnya.
__ADS_1
Anita masih diam tanpa berani bergerak. Semakin dia berontak, semakin erat cengkraman di pergelangan tangan kanannya.
"Dari dulu, aku sangat mencintaimu Ta." Ucapnya lirih.
Suasana gelap di dalam toko. Hanya seberkas cahaya dari luar yang mencoba menerobos celah pintu yang masih sedikit terbuka.
"Lepaskan Mas." kata anita memohon.
"Seharusnya sudah sejak dulu aku dapatkan dirimu cantik. Tapi laki-laki itu selalu menghalangi jalanku !" Ceracau Andri yang semakin tidak jelas.
"Apa maksud Mas Andri, tolong Mas lepaskan tangan saya."
"Tidak ! Sebelum kamu jawab permohonan dariku."
Terlihat sinar mata yang tajam dengan raut muka amarah pada wajah Andri.
"Apa kamu mau menerima ku jadi kekasihmu ?"
"Mas, bukan begini caranya." Ucapnya mencoba menyadarkan Andri.
"Halahhh...sudah kuduga sebelumnya, kamu pasti menolak ku !" Teriaknya.
"Bukan begitu Mas, tapi Mas mabok. Mas gak sadar apa yang Mas ucapkan." Kata anita meminta pengertian.
"Ahahhaha... Mabok kamu bilang ? Orang mabok itu lebih jujur goblok !" Kata-kata Andri mulai kasar.
Perlahan tapi pasti, Anita mulai mencoba melepaskan diri. Tapi Andri lebih cekatan dan malah meraih tubuh mungilnya terjebak di dalam pelukannya.
Rasa takut akan terjadi sesuatu di jalan telah hilang, berganti rasa takut terjadi pada dirinya saat ini.
"Lepaskan Mas, apa mau Mas Andri." Rintihnya masih di dalam dekapan paksa seorang Andri.
Sebuah bisikan yang membuat Tata bukan hanya takut, tapi lebih merasa jijik pada dirinya sendiri.
Andri mulai meletakkan tangannya di pipi tawanannya. Detak jantung anita berdegup kencang, tubuhnya terasa panas terbakar amarah. Namun sampai saat ini dia belum bisa berbuat apa-apa.
Tangan Andri tidak hanya mendarat di pipi, tapi mulai turun ke leher dan hampir membuka kancing leher kemeja yang Tata pakai.
Merasa tidak mendapatkan perlawanan dari tawanannya, Andri memutar tubuh anita menghadap ke arahnya.
Anita masih berfikir, apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dan apa yang akan dia lakukan untuk melawannya.
Kedua tangan Andri berada pada kedua pipinya. Andri mulai mengangkat dagu Anita dan meninggalkan sebuah kecupan di bibirnya.
Pada saat itulah, tangan Tata yang terlepas dari jeratan tangannya, bisa meraih sesuatu yang dia gunakan untuk memukul punggung Andri.
Aaarrggghhh ... !
Teriaknya kesakitan.
Akhirnya, Dia dapat melarikan diri. Membiarkan Andri di dalam yang sedang kesakitan.
Tak peduli apa yang terjadi, saat ini yang bisa Tata lakukan hanya berlari sejauh mungkin. Pergi dari tempat yang menakutkan baginya.
"Pak tolong antarkan saya ke jalan manggis." Pintanya kepada Bapak tukang becak yang kebetulan melintas.
"Mari Nduk, hati-hati." Ucapnya halus memperingatkan anita untuk berhati-hati saat naik.
Dia elus pergelangan kakinya yang terasa pegal. Ada sedikit rasa perih dia rasakan pada telapak kakinya.
__ADS_1
Panik dan takut menghantui, hingga dia melupakan alas kakinya. Namun, rasa pedih terkena remahan kerikil tidak dia rasakan lagi. Karena luka dihatinya lebih sakit dia rasakan.
•Flashback Off
Terbayang kembali saat-saat menakutkan yang pernah terjadi pada dirinya. Entah apa yang akan terjadi kepadanya, jika tidak ada pertolongan Yang Maha Kuasa.
'Ya Allah, hal apa lagi yang akan terjadi kepada ku ? Kenapa begitu berat cobaan yang Engkau berikan kepada ku ?' Keluhnya dalam hati.
Apakah itu sebuah keluhan, atau sebuah kalimat yang bisa membuatnya lebih kuat. Karena Jika harus mengeluh, sudah banyak keluhan yang sudah dia sampaikan melalui setiap doa-doanya.
Bukkkkkkkkk !
Sebuah bola terlempar mengenai kakinya. Menyadarkan dia untuk bangun dari mimpi buruknya.
"Boleh saya ambil bola saya kembali kak ?"
Sapa anak kecil yang meminta bolanya kembali.
"Ini punya adek ?"
"Iya."
Tata mengulurkan tangannya, menyerahkan sebuah bola karet mainan, punya seorang anak laki-laki sekitar usia enam tahun.
"Terimakasih Kak, Maaf ya Kak lemparan Aldo mengenai kaki kakak." Ucapnya sopan.
"Gakpapa sayang, siapa nama kamu ?"
"Aldo kak."
"Aldo ke sini sama siapa ?"
"Sama teman-teman."
Jari telunjuk kanannya, menunjuk beberapa teman sebayanya sedang bermain lempar tangkap bola.
"Kakak punya permen, mau ? Biaa dibagi sama teman-teman."
Dia keluarkan plastik pembungkus permen yang masih ada beberapa biji di dalamnya.
"Mau-mau." Jawabnya girang.
"Nih, bagi rata ya."
"Terimakasih kakak."
"Sama-sama."
Senyum manis tersungging di bibirnya. Suatu hari, mungkin dia akan kembali lagi ke tempat ini dengan seorang anak di gandengan tangannya.
Anak ?
Siapapun perempuan pasti menginginkan seorang anak, jika dia menikah nanti. Tapi dengan siapa dia menikah. Sedangkan hatinya masih tertutup rapat hingga saat ini.
__________________
__________________
__________________
__ADS_1