
"Tata, sayang."
Terdengar suara Al memanggilnya dari luar kamar mandi. Sudah sekian lama Tata masih saja berada di dalam. Guyuran air dari shower membuatnya tidak begitu jelas mendengar suara panggilan suaminya.
Tok ... tok ... tok ...
Dia ketuk pintunya, setelah dirasa tidak ada jawaban dari dalam.
"Iya Mas." Jawab Tata dari dalam.
"Masih lama kah ?"
"Enggak, sebentar." Ucapnya singkat.
Tak berapa lama, dia keluar dengan selembar kain handuk yang masih terlilit di tubuhnya. Berkali-kali Al melihat tubuh istrinya, tapi masih saja ada rasa kagum setiap matanya memandang. Seperti baru pertama kali dia melihatnya.
"Ada apa Mas ?" Tanya Tata yang masih sibuk dengan ikatan di rambutnya.
"Hallo ... Mas." Panggilnya lagi, saat melihat suaminya masih bengong tanpa suara.
"Hhhhmmmm ... Kamu mau mencoba menggodaku lagi ya ?" Tanya Al salah tingkah.
"Idih, siapa yang mau menggoda. Orang dari tadi say tanya, Mas malah bengong." Sanggah Tata.
"Terus itu ngapain, belum pakai baju ?"
Tata melihat dirinya sendiri, mengikuti jari telunjuk tangan Al yang tertuju padanya.
"Eeehhhmmm ... Mas tergoda ya, hayo bilang saja, jangan malu-malu." Canda Tata sembari mencubit kecil perut sixpack Al.
"Apaan sih, eh ... geli Ta. Sayang, udah dong." Keluhnya minta ampun.
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
Canda tawa mereka terhenti, saat handphone Al bergetar di atas nakas.
"Bentar sayang." Ucapnya sembari meraih handphondnya.
"Hallo, iya, oke, siap-siap."
Entah apa dan siapa yang menjadi lawan bicaranya. Hanya terdengar jawaban-jawaban persetujuan dari bibir Al.
"Siapa Mas ?" Tanya Tata ingin tahu, saat Al menyudahi panggilan selulernya.
"Oh, itu, Pak Rudi. Dia yang mau ambil tiga unit rumah di daerah sini." Jawab Al sembari membalas chat yang tadi sempat dia tinggalkan.
"Tiga unit ? banyak sekali, buat apa Mas ?" Tanya Tata heran, mendengar ada seorang pembeli, yang menginginkan tiga unit rumah sekaligus.
"Buat ketiga istrinya." Jawab Al apa adanya.
"Apa ? buat ketiga istrinya ? maksudnya istrinya tiga ?" Tanya Tata, yang kali ini lebih heran dengan jawaban Al.
"Iya."
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
"Sebentar, Mas angkat telepon dulu ya."
Tata mengangguk mengiyakan. Ada waktu luang baginya untuk segera berpakaian. Dia biarkan suaminya menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
"Sayang, Mas tinggal sebentar, tidak apa-apa kan ?" Tanya Al meminta persetujuan.
"Mas mau kemana ? Lama tidak ?" Rengeknya manja.
__ADS_1
"Cuma sebentar, barusan orang kantor yang menghubungi, meminta saya datang ke lokasi. Karena Pak Rudi menginginkan untuk bertemu langsung dengan saya." Jawab Al menjelaskan.
"Iya, gakpapa Mas. Tapi jangan lama-lama ya."
"Siap tuan putri."
Kecupan dan cubitan kecil selalu Al tinggalkan sebelum akhirnya pamit keluar sebentar.
"Hati-hati ya Mas."
"Iya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Begitulah Al, disetiap ada kesempatan pasti dia gunakan waktu untuk kepentingan pekerjaan.
"Kok gak ikut suaminya Mbak ?" Sapa si ibu yang punya warung sebelah.
"Tidak Bu, ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan." Jawab Tata.
Disekitar sini, belum banyak yang mengenal siapa Al, berbeda dengan Almarhum Ayah Danu atau Bunda Arum yang sudah banyak dikenal, seperti halnya bungalow yang saat ini mereka tempati, orang sekitar lebih mengenalnya milik keluarga Kamandanu.
"Yah, ditinggal sendirian dong."
"Iya Bu, lagian juga cuma sebentar."
"Sini, nongkrong dulu sama ibu." Pinta si ibu menawarkan.
"Terimakasih Bu, kelihatannya saya perlu tambahan istirahat sebentar, agar badan enakan." Ucapnya sembari melemaskan persendian di kakinya.
"Aduh ... Ibu maklum dah, namanya pengantin baru." Komentar si ibu bercanda.
"Ibu bisa saja, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu." Pamitnya.
"Silahkan Mbak, selamat beristirahat."
Samar-samar terdengar deburan ombak di pantai, seakan mendukung suasana hening di sekelilingnya, untuk kembali bercengkrama dengan nikmatnya bersantai di pulau kapuk.
Semakin dalam semakin terpejam matanya, menerawang jauh ke dalam dunia mimpi yang indah di siang hari.
Sejak pagi Tata belum menikmati sarapan, tapi rasa kantuk telah mengalahkan rasa lapar yang melanda.
***
Beberapa kali Al mengetuk pintu. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam.
"Kemana dia ?" Gumamnya lirih.
Tok ... tok ... tok ...
"Tata, sayang." Panggilnya berkali-kali.
"Maaf Mas, mungkin Mbak Tatanya sedang tertidur. Karena tadi sempat berbincang dengan saya, katanya ngantuk." Terang si ibu penjual di warung sebelah.
"Oh, iya. Terimakasih Bu."
Al merogoh isi tengah dalam tasnya. Dia mencari sesuatu yang bisa membantunya masuk ke dalam bungalow ini.
Dia ingat-ingat kembali, dimana dia simpan kunci serep bungalow favorit keluarganya.
"Ini dia." Gumamnya sembari tersenyum penuh arti.
Ceklekk ...
__ADS_1
Akhirnya pintu terbuka dengan sempurna. Benar kata si Ibu, dia dapatkan istrinya masih meringkuk di dalam hangatnya bedcover.
Bukannya membangunkan, Al malah ikut tenggelam di dalamnya.
"Ah ... !" Teriak Tata kaget, ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh belakang lehernya.
"Aduh." Keluh Al, kesakitan.
Tata yang secara reflek melayangkan tangannya hingga mendarat di pipi Al.
"Maaf, aku gak sengaja. Lagian Mas juga ngapain bikin kaget." Protesnya setelah memastikan siapa pemilik suara yang mengaduh kesakitan barusan.
"Mas, sakit ya ?" Tanya Tata khawatir melihat suaminya masih merunduk kesakitan.
"Maaf Mas, aku baru saja tertidur, jadi gak dengar kalau Mas datang." Ucapnya mengiba.
Gggrrrrrr ...
Tiba-tiba Al ikut menyusup ke dalam selimut yang masih menutup sebagian tubuh Anita.
"Mas, Mas, Mas mau ngapain ?" Tanya Tata panik, saat merasa satu persatu kancing piyamanya lepas dari sarangnya.
Tanpa suara, tanpa berani protes kembali, dia biarkan semua berjalan sesuai alurnya. Entah apa lagi yang terjadi di dalan gundukan selimut itu, hanya mereka yang tahu.
Tata kembali menata nafasnya, usai melakukan olahraga di siang bolong. Tanpa dia sadari, pandangan mata Al sejak tadi lekat ke wajahnya.
Bibirnya bergetar, dan getaran itu seakan gayung bersambut, sedemikian kuatnya daya tarik itu membuat Al mengambil alih kembali posisinya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Tata yang sedikit terbuka.
"Mau lagi ?" Tanya Al bercanda.
Bukan jawaban ya atau tidak yang keluar dari bibir Tata. Tapi sebuah gelengan kepala, sembari menarik selimut, berusaha menutupi sebagian tubuhnya.
Entah kenapa, hari ini Al begitu terlihat buas. Sampai-sampai Tata merasa engap menuruti kemauannya.
Demi menghindari adegan selanjutnya, Tata rela menggeser tubuhnya dan berlari menuju kamar mandi.
Tok ... tok ... tok ...
"Sayang, buka dong."
"Bentar Mas."
"Buruan, keburu ngompol." Kata Al berbohong.
Akhirnya Tata membukakan pintu kamar mandinya. Dan benar saja, untuk kesekian kalinya mereka bercanda tanpa merasa bosan, bahkan membuat keduanya merasa ketagihan.
"Terimakasih sayang."
"Terimakasih untuk apa ?"
"Untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku."
"Eeehhhmmm ... Semua sudah menjadi kewajibanku Mas."
Di tengah guyuran air dari dalam shower, Al melingkarkan sebuah perhiasan berupa kalung di leher istrinya.
"Apa ini Mas ?"
"Bukan apa-apa, hanya sebuah tanda sayangku padamu."
Mendengar jawaban suaminya, Tata refleks memeluk dan menciumnya berkali-kali.
____________________
__ADS_1
____________________
____________________