Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 82. New Rival


__ADS_3

"Pagi Hanifa." Sapa seseorang yang suaranya sudah mulai dia kenal.


"Selamat pagi Pak." Jawab Hanifa membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah sumber suara.


"Hari ini, saya ada tugas khusus buat kamu." Ucapnya mengawali pembicaraan.


"Tugas apa Pak ?" Tanya Hanifa penasaran.


"Pagi ini saya ada meeting dan ini proyek besar, saya mau kamu temani saya untuk handle semuanya." Lanjutnya sembari berjalan menuju lift.


Di dalam lift pria itu menerangkan panjang kali lebar, namun Hanifa sedikit gagal fokus dengan suaranya.


Suaranya saja sudah cukup menghipnotis kesadarannya apalagi kalau harus memandang wajahnya, bisa-bisa lemas semua persendiannya.


Ya, Anton, dialah yang menyapa pagi ini di area parkir kantor nya. Hari ini, hari pertama dia bekerja. Dan sudah mendapatkan ucapan semangat dari atasannya.


Siapa yang tidak terpesona dengan paras tampan seorang Anton. Masih muda, ganteng dan mapan.


'Andai saja aku masih gadis, pasti tidak akan aku sia-siakan kesempatan seperti ini.' Kata hatinya mulai usil.


'Kamu masih muda Hanifa, kamu juga cantik, meskipun statusmu janda, tapi kamu masih pantas berdampingan dengan pria manapun, termasuk Pak Anton.' Komentar sisi hatinya yang lain.


'Ngaca Hanifa, ngaca, Pak Anton masih single, ganteng dan kaya. Mana mau dia sama janda, masih banyak gadis yang antri di luar sana.' Gertak sisi hatinya yang lain.


"Astagfirullahaladzim." Ucapnya lirih, mengumpulkan kesadarannya.


Namun selirih apapun dia bicara, Anton masih sempat mendengarnya.


"Kenapa Ifa, apa ada yang belum kamu mengerti ?"


"Oh tidak, iya, bukan Pak. Maaf saya belum begitu paham." Jawabnya gugup.


Bukan belum paham, tapi memang Hanifa tidak memperhatikan sejak tadi.


"Apa kamu belum sarapan ? Atau ada aqua ?" Kelakar Anton bercanda.


"Bapak bisa saja."


Entah dari mana dia mendapatkan keberanian untuk mengimbangi candaan atasannya.


Yang jelas, baru sehari bertemu, mereka sudah terlihat akrab.


"Selamat pagi Pak." Sapa Bella saat Anton dan Hanifa sampai di depan pintu ruang kerjanya.


"Pagi." Jawabnya sambil berlalu.


Namun baru beberapa langkah sebelum sampai ruang kerjanya, Anton kembali berbalik.


"Bella, tolong siapkan semua berkas penawaran kita untuk persentasi hari ini." Pintanya.


"Siap Pak, sudah saya siapkan." Ucapnya dengan senyum pagi yang merekah.


"Bagus, serahkan kepada Hanifa. Hari ini, dia yang akan membantu saya persentasi."


Raut muka Bella seketika berubah. Ada perasaan kesal yang jelas terlihat dari mimik wajahnya.


Bella dan Hanifa saling berpandangan.


"Ikut saya." Perintah Bella merasa menjadi senior.,


"Iya Mbak."


"Nih, pelajari dengan teliti, jangan sampai membuat bos kecewa." Ucapnya sedikit ketus.

__ADS_1


"Iya Mbak." Hanya dua kata itu yang keluar dari bibirnya.


Hanifa membawa setumpuk berkas yang harus dia pelajari, sebelum jadwal meeting yang telah ditentukan tiba.


'Gila tu orang, pakai pelet apa dia, bisa-bisanya dia mengambil alih posisiku di saat yang penting seperti ini.' Gerutu Bella dengan tatapan kebencian saat Hanifa meninggalkan ruang kerjanya.


Hanifa membolak-balik lembar demi lembar kertas yang ada di hadapannya. Satu persatu dia baca, dia teliti, kekurangan dan kelebihannya.


Drrttt ... drrttt ...


Handphone nya bergetar, disaat sedang konsentrasi penuh pada apa yang sedang dia pelajari.


"Pak Anton." Gumamnya sendiri, saat melihat nama atasannya di layar handphonenya.


"Ya hallo Pak."


"Kamu sudah siap ?"


"Oh, iya Pak."


"Kita berangkat sekarang."


Perdana menjalankan tugas, ada rasa gugup di dalam hatinya. Tangan nya begitu dingin. Bahkan telapak kakinya yang sudah terbungkus sepatu, juga masih terasa dingin.


"Kenapa ? Nervous ?" Tanya Anton saat sopir pribadinya sudah memasuki area parkir sebuah hotel bintang, tempat dimana mereka melakukan presentasi.


"Oh, sedikit Pak. Maklum, setelah sekian lama fakum." Jawabnya jujur.


"Hahaha, itu hal biasa, lama-lama akan terbiasa." Bisik Pak Anton, mulai terdengar nakal.


Entah apa maksudnya, tapi sampai di sini, Hanifa masih harus tetap berfikir positif.


"Kamu tunggu disini, kalau sudah selesai saya hubungi." Pintanya kepada sopir pribadinya.


"Baik Pak."


"Saya yang akan handle semuanya, kamu tinggal ikuti saja dan siapkan apa yang saya butuhkan." Kata Pak Anton sambil berjalan menuju ruang yang sudah ditentukan.


Ada banyak orang di sana yang hadir dari berbagai perusahaan besar maupun kecil di kota ini.


"Pak, maaf, boleh saya izin ke toilet sebentar ?" Ucapnya setelah dirasa masih ada waktu senggang sebelum acara dimulai.


"Ya, silahkan." Jawab Anton.


Hanifa berjalan mengikuti tanda panah ke arah toilet.


Sesekali dia lirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Masih cukup lama." Gumamnya sendiri.


Usai menyelesaikan hajatnya, Hanifa berjalan sembari merapikan blazer yang dia kenakan.


Brukk ... !


"Aduh." Keluh Hanifa, saat merasakan kepalanya terantuk sesuatu.


"Oh maaf, maaf, saya buru-buru." Jawab seorang pria yang menabraknya.


'Dari suaranya, sepertinya saya kenal.' Pikirnya dalam hati.


"Hanifa." Sapa pria tersebut.


Hanifa menengadahkan wajahnya, memastikan siapa pemilik suara yang memanggilnya.

__ADS_1


"Al, kamu, kamu di sini juga." Jawabnya gugup.


"Kamu sendiri, ngapain ?" Tanya Al yang belum mengetahui kalau Hanifa kembali bekerja.


"Saya, saya_"


Drrttt ... ddrrrrttt ...


"Oh, maaf, ada telefon masuk. Saya duluan ya." Kata Al sebelum Hanifa menyelesaikan ucapannya.


Hanifa mengangguk sembari mengelus dada merasa lega. Karena dia tidak harus menjelaskan tentang keberadaannya di tempat ini.


Meskipun pada akhirnya, Al juga akan tahu bahwa dia juga melakukan hal yang sama seperti yang sedang Al lakukan saat ini.


"Tapi, sebentar deh, Al ada di tempat ini juga, jangan-jangan ... " Gumamnya mengambil kesimpulan.


'Kalau benar Al mengikuti persentasi yang sama, itu berarti aku akan bersaing dengan dia.' Pikirnya dalam hati.


"Kok lama, ada masalah ?" Tegur Pak Anton yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak Pak, cuma toilet nya agak sedikit antri tadi." Ucapnya mencoba berbohong.


"Oke, sebentar lagi giliran kita."


"Baik Pak."


Benar apa yang Hanifa pikirkan. Ada Al disana, sedang duduk diantara sekian banyak peserta dari berbagai perusahaan.


"Rival terberat kita ada di ujung sana." Bisik Pak Anton, dengan mata menunjuk ke arah Al.


"Maksudnya yang mana Pak ?" Tanya Hanifa ingin memastikan.


"Kamandanu Group, yang dipegang langsung oleh anaknya. Dia sangat cerdas dan cekatan, lulusan dari salah satu universitas ternama di luar negeri, begitu info yang saya dapat." Jawabnya.


'Benar dugaanku, jadi aku harus bersaing dengan perusahaan Al.' komentarnya dalam hati.


Satu per satu perwakilan perusahaan menunjukkan kebolehannya. Begitupun dengan Al dan Hanifa. Belum bisa diketahui kemenangan jatuh ke tangan siapa.


Dari situ Al baru menyadari ada Hanifa di kubu lawan.


"Selamat sore Pak Al." Sapa Anton saat mereka bertemu di pintu keluar.


"Sore Pak Anton."


"Selama ini saya hanya mendengar banyak pujian-pujian tentang anda. Senang sekali bisa bertemu secara langsung. Boleh jika lain waktu kita ngopi bareng ?" Ucapnya basa basi.


"Terimakasih Pak Anton, Insha Allah, bisa kita agendakan." Jawab Al.


"Saya tunggu waktu luangnya."


"Baik Pak Anton, kalau begitu, saya permisi dulu." Pamitnya.


"Silahkan Pak, senang bertemu anda."


"Sama-sama Pak, mari."


Hanifa memperhatikan kepergian pria yang dulu pernah ada di hatinya itu. Dia juga tidak sendirian. Ada Reza yang setia menemaninya.


Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Anton banyak membicarakan tentang Kamandanu Group yang semakin berkembang pesat, sejak dipegang oleh Al.


Ada rasa kagum di hatinya, saat Anton memuji Al. Meskipun sejak awal, Anton memperkenalkan Al sebagai rivalnya, tapi Anton sendiri mengakui masih harus banyak belajar dari Al.


___________________

__ADS_1


___________________


___________________


__ADS_2