
Gemericik air yang jatuh dari langit membuat irama tersendiri di malam yang sunyi ini. Suara katak bersautan, bersuka ria, seakan ikut menikmati kemeriahan pesta yang alam berikan untuknya.
Al mematikan AC di kamarnya. Udara malam ini sudah terasa dingin tanpa bantuan alat pendingin ruangan. Semakin larut, suasana semakin sepi, tanpa dengung alat pendingin yang biasa menina bobokan mereka.
"Dingin sayang." Bisiknya saat melihat istrinya tidur meringkuk di dalam bedcover.
"Hhhhmmmm ... " Jawab Tata tanpa mengeluarkan tenaga.
Al ikut tenggelam di dalamnya. Ingin rasanya menawarkan diri untuk mencoba menghangatkan suasana. Namun sikap mereka sama-sama jaim dan memilih untuk saling diam.
Perasaan yang terpendam, ungkapan itu mungkin yang tepat untuk mereka.
"Eehhhmmmm ... " Al meregangkan kedua tangannya hingga mencapai bahu istrinya yang jauh dari lengannya.
"Hhhhmmmm ... " Balas Tata lirih, sembari menggeliat, yang tadinya meringkuk gini tidur terlentang dengan kedua tangannya memegang tepi bedcover tepat di atas dadanya.
Perlahan tapi pasti, Al mulai menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit. Demikian pula dengan Tata yang merasa terdorong untuk merapatkan barisan.
Hingga akhirnya, bukan hanya rapat, tapi memang tak bercelah. Mata mereka saling pandang, saling mengharap satu sama lain. Jemari mereka saling beradu, saling menggenggam.
Dengan susah payah, Tata meraih knop lampu tidur yang masih menyala remang.
Ceklik ...
Lampu berhasil padam, gelap tanpa penerangan. Seolah menjadi isyarat 'bahwa aku sudah siap'.
Hanya kilat cahaya alam dari luar yang sesekali menerangi melalui sela-sela kaca jendela. Memperlihatkan seraut wajah cantik yang ada di sampingnya.
Al mulai melancarkan gerakan tangannya, menyibak anak rambut yang ikut andil menutupi sebagian wajah istrinya.
Bukan hanya itu, bahkan bibirnya tidak mau kalah, bergerilya di sekitar area wajahnya. Suasana malam yang tenang seakan mendukung aktivitas dua insan yang saling menghangatkan.
Desah nafas Al semakin tak beraturan, seiring dengan gerakan liuk tubuh yang gemulai. Bak seorang penari mengayunkan keindahan gerak tubuh yang harmonis.
"Mas ... Al ... " Desah Tata terbata.
Satu gigitan tak sengaja dia tenggerkan di lengan kekar suaminya.
Air mata Tata mengalir tanpa suara tangis, tapi ada senyum tersungging di bibirnya.
"Maaf sayang." Bisik Al lirih usai menunaikan satu tugas utama yang sempat tertunda.
Entah apa makna kata 'maaf' yang Al ucapkan. Dia usap lembut kening istrinya, dia berikan kecupan beberapa kali di bibirnya, sebelum akhirnya turun dari singgasana.
Desiran hangat mengalir, ada pedih yang dia rasakan saat bercak tanda suci tumpah dari cawannya.
"Mau Mas bantu bangun ?" Ucap Al menawarkan, setelah beberapa menit mereka merebahkan diri, menata nafas dan menghimpun tenaga kembali.
Tangan lembut Al kembali menghapus sisa air mata di pipinya. Dengan sabar Al memapah istrinya. Guyuran air hangat mengurangi rasa nyeri pada sebagian tubuhnya.
Untuk beberapa saat lamanya, Tata berada di dalam kamar mandi. Dan keluar dengan keadaan lebih segar, meskipun masih agak sempoyongan.
__ADS_1
"Kemana Mas Al." Gumamnya sendiri, saat tidak mendapati suaminya di kamar.
Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan.
Lampu sudah menyala terang, sprei yang tadi berantakanpun sudah tergantikan.
"Apa Mas Al yang melakukan ini semua ? Wangi dan rapi." Gumamnya memuji suaminya.
Tata duduk di depan cermin meja riasnya. Dia pandangi wajahnya sembari menyisir rambutnya.
"Minum ini, biar lebih hangat." Kata Al yang tiba-tiba datang membawa secangkir wedang uwuh. Minuman khas yang dipercaya punya khasiat lebih dari sekedar menghangatkan badan.
"Mas yang melakukan semua ini ?" Tanya Tata, masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.
"Menurut kamu ?" Tanya Al kembali.
Tata tersenyum sembari merasakan kehangatan cangkir wedang uwuh melalui telapak tangannya.
"Punya Mas Al mana ?" Tanya Tata saat mendapati tangan kosong suaminya.
"Sudah, buat kamu saja." Jawab Al sembari duduk pada pinggiran meja rias yang menghadap ke arah istrinya.
Benar saja, satu seruput wedang uwuh sudah berhasil menghangatkan badan, bahkan suasana hatinya.
"Sakit ?" Tanya Al masih dengan pandangan mata nakal yang tak luput dari wajah istrinya.
"Sedikit." Jawabnya malu.
"Memangnya, Mas sendiri sudah biasa ?" Celetuknya tanpa dosa.
"What's ! Sembarangan, mau aku lakukan lagi." Kata Al gemas menanggapi canda istrinya.
Di luar masih gerimis, terkadang kilat atau bunyi petir mengagetkan. Membuat Tata berlari kembali ke atas ranjang. Meringkuk ketakutan seperti saat-saat lalu semasa masih sendirian.
"Sssuuuttt ... sini, dekat sini, biar lebih nyaman." Pinta Al.
Memang benar, di dalam dekapan seorang Al terasa lebih aman dan nyaman.
'Cukup sekali untuk malam ini, akan ada beberapa kali untuk malam-malam yang akan datang.' bisik Al dalam hati, sembari tersenyum sendiri.
Lelah membuat mereka lelap di dalam mimpi. Mimpi indah meniti hari esok bahagia.
***
"Wah, semalam hujannya lebat ya Bun ?" Canda Mbak Watik, saat melihat Al dan Tata keluar dari kamar dalam keadaan basah.
'Alhamdulillah, kelihatannya mereka sudah bisa menikmati hari-harinya sebagai suami istri.' Gumam Bunda dalam hati.
"Alhamdulillah, iya Mbak Watik. Semoga lebatnya hujan semalam membuat tumbuh subur dan segera berbuah." Komentar Bunda menjurus.
"Ehem ... ehem ... ehem ... "
__ADS_1
Kali ini sengaja Mbak Watik memperjelas candaannya. Tata hanya tersenyum malu-malu, sedangkan Al stay cool.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Tata lebih memilih mendekati Nindya yang asyik menikmati sarapannya.
"Pagi Bunda." Sapa Al datar.
"Pagi Nak, bagaimana istirahat kalian semalam ?"
"Alhamdulillah, nyenyak Bunda."
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh ya Al, weekend ini, Bunda mau kamu ajak istri kamu untuk liburan." Pinta Bunda.
"Liburan ?" Tanya Al, heran dengan permintaan Bunda.
"Ya, anggap saja sebagai bulan madu."
"Tidak perlu Bunda, lagipula banyak yang harus Al kerjakan di kantor." Sanggah Al.
"Al, namanya pekerjaan tidak ada habisnya. Lalu kapan kamu punya waktu intens berdua saja dengan istri kamu." Desak Bunda.
"Masih banyak waktu Bunda, lagipula sudah ada Nindya bersama kita." Lagi-lagi Al mencari alasan.
"Nindya aman bersama Bunda. Yang penting sekarang, agendakan waktu kalian berdua. Tidak perlu waktu lama, cukup weekend ini dulu saja." Kata Bunda lebih kekeh.
"Tapi Bun _"
"Tidak ada kata tapi, sampai kapan mau kamu tunda-tunda terus." Potong Bunda.
"Iya Bunda, iya." Kata Al mengakhiri perdebatan dengan Bunda Arum.
Perdebatan kecil yang semakin melekatkan keakraban keduanya.
"Papa mau pelgi ?" Tanya Nindya ikut andil.
"Enggak sayang, Papa di rumah hari ini."
"Holeeee ... Kita main ail ya Pa."
Al mengangguk mengiyakan ajakan putri kecilnya. Bukan hanya Bunda, tapi juga Nindya yang selalu minta dituruti kemauannya.
Entah kebetulan atau memang karena Nindya mendengar percakapan Mbak Watik dengan Eyangnya. Pada intinya, air yang menjadi topik utama di meja makan pagi ini.
Dalam hati, Bunda tersenyum.
'Semoga apa yang belum Allah berikan, akan segera terwujud.' Doa Bunda untuk kebahagiaan putra dan menantu kesayangannya.
_____________________
_____________________
__ADS_1
_____________________