
Hari kedua si rumah sakit. Masih sama seperti kemaren, kepalanya masih terasa pusing, pandangan matanya juga berkunang-kunang.
Namun tidak hanya itu, kali ini ada rasa mual yang mulai dia rasakan. Isi perutnya mulai naik turun, seperti segerombolan masa yang sedang melakukan demonstrasi.
Hhhoooeeekkkk ...
"Sayang, kenapa ?" Tanya Al panik.
Al segera bergegas mendekat, saat melihat istrinya mau turun dari ranjang.
"Jangan banyak bergerak, apa yang kamu perlukan ?"
Tata meminta sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menampung apa yang akan dia keluarkan dari perutnya.
'Kenapa perut ku mual sekali, padahal aku belum makan apapun pagi ini.' Gumamnya dalam hati.
Al memberikan sebuah plastik hitam. Seperti seorang yang sedang mabuk kendaraan, Tata memuntahkan semua isi perutnya.
Tok ... tok ... tok ...
"Silahkan Dok." Jawab Al saat seseorang mengetuk pintu kamar rawat inap istrinya.
"Selamat pagi Pak Al." Sapa Dokter Yasmin.
'Sokter Yasmin, bukannya Dokter Yasmin itu Dokter kandungan ya.' Pikir Al dalam hati.
Sedikit banyak Al tahu, siapa dan di bidang apa para tenaga medis ini bertugas. Karena rumah sakit ini, bagian dari anak perusahaan yang Almarhum Ayah Danu rintis.
"Selamat siang Dok." Jawab Al bimbang.
"Kenapa Pak Al, kaget atau bingung melihat saya berkunjung." Sapa Dokter Yasmin memecah ketegangan di pagi hari.
"Jujur iya Dok, tapi silahkan, mungkin ada kaitannya dengan kesehatan istri saya." Kata Al mempersilahkan Dokter Yasmin untuk memeriksa kondisi istrinya.
"Baik, terimakasih Pak Al."
Dokter Yasmin mendekati Anita, yang masih duduk bersandar di ranjang.
"Selamat Pagi Ibu Anita, ada yang ibu rasakan pagi ini ?" Tanya Dokter Yasmin.
"Iya Dok, saya masih merasa pusing dan pagi ini juga saya rasakan sedikit mual." Jawabnya.
"Tidak apa-apa, itu bagian dari proses. Biasa dikenal dengan morning sicknees."
"Morning sick ?" Kata Al terperanjat.
Al yang lebih paham dengan apa yang dokter ucapkan, segera mendekat dan ingin penjelasan lebih detail. Dokter Yasmin tersenyum, dia tidak bisa lagi menyembunyikan kabar bahagia yang dia bawa pagi ini.
"Selamat Pak Al, hasil pemeriksaan Ibu Anita positif hamil, dan usia kandungannya baru berjalan tiga minggu." Kata Dokter Yasmin sembari memberikan lembar hasil tes urine yang team medis ambil kemaren.
"Alhamdulillah, terimakasih Dok. Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya ?" Tanya Al lagi.
"Tidak apa-apa, hal ini wajar dialami ibu hamil. Apalagi ini kehamilan pertama dan usia kandungannya juga masih terlalu muda. Yang jelas, Ibu harus banyak-banyak istirahat karena kandungannya masih lemah." Terang Dokter Yasmin.
"Terimakasih banyak Dok."
"Sama-sama, sekali selamat Pak Al. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Silahkan Dok."
Bahagia, haru bercampur aduk yang Tata rasakan saat ini. Air matanya meleleh setelah kepergian Dokter Yasmin dari ruang rawat inapnya.
Al pun serta merta menghampiri dan memeluk istrinya erat. Kebahagiaan yang dia dapatkan saat ini, melebihi kebahagiaan saat memenangkan sebuah tender besar dalam sebuah proyek.
'Pantas saja, kamu berpikir yang aneh-aneh. Tidak kusangka Allah memberikan amanah besar untukku.' syukur Al dalam hati.
"Terimakasih sayang, Aku janji, tidak akan membuatmu menangis. Tapi ingat, jangan pernah berpikir negatif, agar bayi kita tumbuh sehat dan cerdas nantinya." Pinta Al.
Tata yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa mengangguk dan kembali memeluk suaminya.
"Ssattt ... Jangan menangis, aku juga tidak mau anak kita ikut bersedih. Kita sambut kabar gembira ini dengan senyum bahagia." Kata Al lagi.
__ADS_1
"Iya Mas, aku ingin menelpon Nindya Mas. Baru kemaren dia pergi, rasanya aku kangen sekali." Ucapnya.
Memang, sejak bangun dan sebelum pingsan kemaren, dia sempat kepikiran dan mencari Nindya ke kamarnya.
"Nanti saja ya, Dya sedang mengikuti acara bersama Bunda. Takutnya malah dia geger minta pulang." Kata Al melarang.
"Kamu gak ingin mengabarkan kabar gembira ini kepadanya ?"
"Iya sayang, nanti kita sampaikan, kalau sudah pulang ke rumah."
"Iya Mas, terserah Mas saja." Ucapnya menurut.
"Yang penting sekarang, kamu fokus dengan kesehatan kamu. Jaga calon baby kita."
***
Sore ini, Tata sudah boleh pulang, tapi dia harus bedrest demi menjaga kandungannya.
"Al, ingat, kandungan istrimu lemah. Meskipun Dokter sudah memberikan vitamin penguat, tapi Dia harus tetap bedrest untuk waktu yang tidak bisa ditentukan." Begitu pesan Dokter Widya sebelum mereka pulang tadi.
Bersamaan dengan kepulangan anita dari rumah sakit, sore itu juga Bunda dan Nindya kembali dari Solo.
"Papa, Mama !" Teriak Nindya saat bertemu kembali dengan ibunya.
Namun, langkah kakinya terhenti, saat melihat Papa Al mendorong sebuah kursi roda yang sedang Mama Tata duduki.
"Eyang, Mama kenapa ? Mama sakit ?" Tanya Nindya kepada Bunda Arum.
"Iya sayang, Mama lagi sakit. Dya gak boleh nakal ya, gak boleh gendong-gendong dulu sama Mama." Kata Bunda Arum.
Si kecil Nindya hanya mengangguk. Dia masih bergelayut manja pada pergelangan tangan Eyangnya.
"Dya, sini sayang, Mama kangen sekali." Pinta Tata sembari merentangkan kedua tangannya.
Melihat apa yang Tata lakukan, Nindya segera berlari menghampiri dan memeluk pelan Mama Tata.
"Mama kenapa ? Mama sakit ya ?" Tanya Nindya polos.
Bunda masih penasaran, sakit apa yang diderita anak menantunya, sehingga dia harus duduk si kursi roda.
"Assalamu'alaikum Bunda."
"Wa'alaikumsalam Nak, bagaimana keadaan mu ?" Tanya Bunda khawatir.
"Alhamdulillah, Tata sudah baikan Bunda."
"Syukurlah kalau begitu." Kata Bunda sembari membelai lembut kepalanya.
"Kamu mau ke kamar atau _" Tanya Al memberi pilihan.
"Tidak Mas, aku mau ke ruang tengah. Bermain bersama Nindya." Pintanya.
"Jangan terlalu banyak gerak dulu, kamu masih lemah." Kata Al mengingatkan.
"Iya Mas."
Al kembali mendorong kursi roda istrinya masuk ke dalam.
"Mbak Ata, Ya Allah, saya jadi ikut cemas memikirkannya. Bagaimana keadaan Mbak Tata ?" Tanya Mbak Watik yang buru-buru lari ke depan setelah mendengar suara majikannya pulang.
"Mbak Watik, minta tolong bawa Mbak Ata ke dalam." Pinta Al.
"Siap Mas."
"Mas, sebenarnya aku gak perlu pakai beginian juga bisa jalan sendiri lo." Cegah Tata.
"Enggak-enggak, jangan membantah." Jawab Al kekeh dengan pendiriannya.
Mbak Watik segera menyelesaikan tugasnya. Ada Nindya yang selalu mengekor di belakang.
"Al." Panggil Bunda.
__ADS_1
"Iya Bun "
"Kamu belum cerita, apa kata dokter mengenai kondisi Istrimu ?"
Pertanyaan yang sejak tadi Bunda pendam, akhirnya disampaikan juga.
"Bunda jangan khawatir, Tata hanya perlu bedrest, karena sebentar lagi dia akan memberikan cucu untuk Bunda." Jawab Al sembari tersenyum.
Tapi tidak sesuai yang Al harapkan. Mendengar kabar gembira itu, Bunda malah mengernyitkan kedua alisnya. Seolah tidak senang dengan apa yang putranya sampaikan.
"Ada apa Bunda ?" Tanya Al ingin tahu komentar Bunda.
"Keterlaluan kamu." Ucap singkat Bunda sembari berlalu meninggalkan putranya yang masih kebingungan dengan sikap Bunda Arum.
'Kok, apa yang salah denganku ?' Tanya Al dalam hati.
"Tata, Tata."
Dari depan, dia dengar Bunda memanggil-manggil istrinya.
'Ada apa dengan Bunda ?
Al segera menyusul Bunda masuk ke dalam.
"Inggih Bunda." Jawab Tata menoleh ke arah sumber suara.
Bunda memeluk dan mencium keningnya berkali-kali. Al yang semula takut akan membuat kesalahan, kini bisa bernafas lega saat melihat adegan ibu dan istrinya.
"Maafkan Bunda, Bunda tidak peka dengan kondisi tubuhmu." Kata Beliau.
"Bunda, Tata tidak apa-apa Bunda. Tata baik-baik saja."
"Selamat ya Nak, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu dari dua anak." Kata Beliau lagi.
"Terimakasih Bunda."
Lagi-lagi rasa syukur yang mendalam Tata panjatkan.
"Bunda, bikin Al takut saja." Komentar Al yang mulai mendekat.
"Kami juga keterlaluan, Bunda sudah bilang, kabari Bunda kalau ada apa-apa. Kenapa berita sebesar ini kamu sembunyikan dari Bunda." Kata Bunda dengan nada marahnya.
"Bukan begitu Bunda, cuma belum Al sampaikan saja." Jawabnya.
"Terus, mau kapan menyampaikannya ?"
"Iya, nanti."
"Nanti, nanti, mau bikin Bunda marah duluan." Gerutu Bunda.
"Maaf Bunda."
Tata hanya tersenyum melihat adegan ibu dan anak barusan.
'Ternyata Mas Al bisa manja juga.' Gumamnya dalam hati.
"Eyang, Dya mau punya adik ya ?"
"Iya sayang, Dya harus sayang sama dedek bayi ya."
"Iya Eyang, Dya sayang Eyang, sayang Mama, sayang Papa, sayang dedek bayi juga." Celotehnya manja.
Lengkap sudah kebahagiaan yang Tata alami saat ini.
'Ini baru awal dari kebahagiaan, masih banyak hal yang harus aku lakukan kedepan. Melihat senyum orang-orang yang aku sayangi merupakan tugas pokok yang harus aku jalani.' Kata hati anita.
_________________
_________________
_________________
__ADS_1