Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 73. Malam Yang Melelahkan


__ADS_3

Aaaarrrgggghhh ...


Pekik terdengar teriakan Nindya dari kamar pribadinya yang berdampingan persis di sebelah kamar Al dan Tata.


Tata dan Al yang kaget bercampur khawatir dengan kondisi putrinya, segera berlari turun dari ranjang, memastikan kalau tidak terjadi apa-apa dengan Nindya.


"Ada apa sayang ? Dya tidak apa-apa ?" Tanya Anita ikut panik.


Dya memeluk erat leher Mama Tata, tubuhnya basah oleh keringat. Padahal semua orang merasakan udara sekitar ruangan terasa dingin oleh mesin pendingin ruangan.


Wajahnya terlihat pucat, bibirnya bergetar, hingga akhirnya samar-samar mulai terdengar isak tangisnya.


"Dya, lihat Papa, cerita, Dya kenapa ?" Kali ini Papa Al yang membujuk.


"Gina Papa, Gina pergi meninggalkan Dya." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Gina ?"


Ucap Al mengulangi sebuah nama yang disebutkan oleh Nindya.


Nindya mengangguk, wajahnya sudah terlihat memerah setelah Tata menyeka peluh dan air matanya dengan tisu.


Nindya terlihat kebingungan, tidak tahu mau cerita mulai dari mana. Telapak tangannya terasa dingin, seperti seorang anak yang sedang ketakutan, Dya menggenggam erat tangan Mama Tata.


"Mungkin Dya mimpi Gina Mas." Ucap Mama Tata lirih.


Lagi-lagi Nindya mengangguk, membenarkan ucapan Mamanya.


"Sayang, Dya hanya bermimpi. Tidak terjadi apa-apa dengan Gina." Kata Papa Al mengingatkan. Usapan lembut dia berikan perlahan di kening putrinya.


"Tapi, mimpi Dya seperti nyata Pa, terlihat sangat jelas kalau Gina _" Ucapnya tertahan, masih kekeh dengan pendiriannya.


"Itu hanya bunga tidur sayang, menandakan kalau Nindya sayang sama Regina. Kita do'akan Regina segera sehat kembali ya." Pinta Mama Tata.


"Tapi Dya mau lihat Gina Mama, Dya tidak mau kehilangan Gina." Rengeknya berlinang air mata.


"Iya, besok kita besuk Gina. Ini masih malam, Dya tidur dulu." Bujuk Mama Tata.


"Beneran ya Ma."


"Iya sayang, Mama janji, sepulang sekolah, kita langsung ke rumah sakit buat besuk Gina." Jawab Mama Tata meyakinkan.


Nindya kembali mengangguk, mendengar apa yang Mama ucapkan. Seakan lega karena apa yang dia minta akan segera terpenuhi. sebelum akhirnya dia tertidur kembali dalam pelukan Mama Tata.


"Dya sudah tidur, ayo kita kembali tidur." Ajak Al.


Perlahan Tata melepaskan pelukannya. Namun, ada sesuatu yang dia rasakan saat akan beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Aggrrrhhhh ... Mas." Rintihnya lirih sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kenapa sayang ?" Tanya Al tak kalah panik dari kejadian mimpi Nindya.


"Perutku, oh ... sakit sekali." Rintih Tata semakin tak terdengar. Bukan hanya karena takut Nindya terbangun, tapi memang nafasnya terasa berat untuk bicara lebih keras.


Al segera menggendong istrinya kembali ke kamar.


"Tahan ya sayang, tunggu sebentar di sini." Pintanya.


Dan entah kemana dia pergi, yang pasti tiba-tiba menghilang dari pandangan.


"Kenapa Tata ?" Tanya Bunda, yang datang beberapa saat setelah Al keluar.


Rupanya, tadi Al buru-buru keluar hanya untuk melaporkan kepada Bunda Arum, apa yang dialami oleh istrinya.


"Perut saya rasanya kaku Bunda, sakit banget, dada juga terasa sesak buat nafas." Jawabnya bertubi-tubi.


"Sebentar Nduk, buat rebahan dulu ya." Pinta Bunda.


"Bagaimana Bun ? Tata kenapa ?" Tanya Al khawatir.


"Apa kita bawa ke rumah saja Bunda, atau biar Al telfon dokter Widya." Tanyanya panik, sebelum Bunda menjawab pertanyaan awal yang dia sampaikan sebelumnya.


"Panggil mbah Milah Nak, ajak Mbak Watik. Kelihatannya ada yang salah dengan kandungan istrimu."


"Tapi, apa tidak kita bawa ke dokter saja Bunda."


Bunda lebih tahu bagaimana kondisi istrinya saat ini.


Namun pemikiran modern seorang Alfatih tetap mengkhawatirkan kondisi yang Tata alami. Meskipun begitu, tanpa banyak bertanya lagi, Al menurut apa yang Bunda sampaikan.


Dengan diantar Mbak Watik, dia pergi ke rumah seorang yang di panggilnya 'Mbah Milah'. Seorang sesepuh yang ahli memijat, terutama ibu hamil dan bayi.


"Ayo, segera berangkat saja. Jangan biarkan istrimu lama menahan sakit." Kata Mbah Milah yang hanya mendengar sedikit penjelasan mengenai kondisi Tata saat ini.


Hanya dengan mendengar cerita awal saja, Beliau sudah yakin dengan apa yang akan Beliau kerjakan nanti.


"Assalamu'alaikum." Sapa Mbah Milah saat bertemu Bunda.


"Wa'alaikumsalam Mbah." Jawab Bunda sembari menjabat tangan Beliau.


"Pie kabarmu Nduk ?"


"Alhamdulillah sehat Mbah."


Bukan suatu hal yang asing bagi keduanya. Kedekatan Mbah Milah dan Bunda Arum sudah terjalin sejak Bunda masih kecil.


"Kenapa Rum, ada apa dengan menantumu ?" Tanya Beliau sambil berjalan menuju kamar dimana Tata masih berbaring kesakitan.


"Meniko Mbah, tiba-tiba dia merasa perutnya kaku." Jawab Bunda menerangkan.

__ADS_1


"Oh ... " Cuma itu komentar Mbah Milah.


"Tekuk lututmu Nduk, lemas ya, ini pasti sakit sekali, biar Simbah benahi posisinya." Kata Mbah Milah memberikan instruksi.


Kedua tangan Tata meremas sprei sebagai pengganti rasa sakit yang dia rasakan.


"Bagaimana Mbah ?" Tanya Bunda yang ikut merasa nyeri melihat peluh Tata yang membasahi keningnya.


Pasti sakitnya tidak main-main, di dalam ruangan sedingin ini, dia masih saja berkeringat.


"Ora popo, mungkin tadi kamu bangun mendadak." Kata Mbah Milah menebak.


Pandangan mata Bunda beralih kepada Al, seolah ingin mengatakan, 'Apa yang terjadi sebelumnya tadi ?'


"Iya Bunda, tadi sebelumnya memang Tata bangun kaget, langsung lari saat mendengar teriakkan Nindya." Kata Al menerangkan.


"Benar begitu Nak ?" Tanya Bunda beralih kepada Tata yang sudah kelihatan lebih baik. Kulit putihnya yang tadi terlihat pucat sudah kembali memerah.


"Iya Bunda." Jawabnya dengan suara lebih jelas dibandingkan tadi.


"Besok lagi jangan diulangi."


"Inggih Bunda."


"Kelihatannya sepele Nduk, tapi sakitnya tidak karuan, dan itu tidak seketika sakit. Tapi pelan-pelan bertahap." Begitu kata Mbah Milah.


Memang benar, sebelum dia merasakan perutnya kram. Tata masih merasa nyaman dan tidak sakit saat berada di dalam kamar Nindya.


Malam yang melelahkan, belum cukup dia beristirahat memejamkan matanya, harus terbangun kaget karena teriakan Nindya. Dan disaat Dya sudah mulai tenang, berganti Tata yang merintih kesakitan.


"Ingat Mas, masih sakit lo, jangan terlalu kuat mainnya." Goda Mbak Watik saat melihat Al pulang mengantarkan Mbah Milah.


Namun bukan Al namanya kalau tidak tahan godaan. Di ajak bercanda Mbak Watik seperti itu saja hanya terdiam bahkan nyelonong masuk ke kamar saja tanpa senyum.


"Aaahhhh ... " Desah Al saat kembali merebahkan tubuhnya di sisi istrinya usai mengantarkan Mbah Milah pulang.


"Maaf, jadi bikin kamu terbangun lagi." Ucapnya sembari membelai anak rambut yang menutupi kening istrinya. Tata tersenyum melihat tingkah suaminya yang merasa bersalah.


"Maaf, membuat Mas khawatir." Jawabnya.


"Gakpapa, tidur lagi ya." Ajaknya.


Tidak ada kisah hidup tanpa cerita. Begitupun dengan Tata, yang selalu bahagia dengan berbagai warna dalam kisah hidupnya.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2