
"Tata sayang, Dya, Bunda." Suara Al nyaring terdengar. Entah siapa sebenarnya yang dia cari, semua seisi rumah dia panggil.
"Dimana mereka ?" Tanyanya heran. Tangan Al tak kalah aktif, membuka setiap pintu yang ada. Namun tidak ada satupun orang di sana.
"Mbak Watik, Mbak_"
"Iya Mas !"
Belum sampai Al berjalan ke belakang, suara Mbak Watik sudah terlebih dahulu terdengar.
"Papa !"
Bukan hanya Mbak Watik yang dia dapati, ada Nindya bersamanya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Wajahnya muram, matanya sembab, seperti habis kehilangan sesuatu yang berharga.
"Kenapa sayang, ada apa, Mama sama Eyang dimana ?" Tanya Al bertubi, saat putrinya mulai erat memeluk sambil menitikkan air mata.
"Mama, Mama_" ucapnya tertahan.
"Mama kenapa sayang, ada apa dengan Mama ?"
"Jadi, Mas Al belum tahu ?" Tanya Mbak Watik heran.
"Ada apa Mbak ?" Tanya semakin dengan penuh rasa khawatir.
"Dari kemarin saya dan Bunda mencoba menghubungi Mas Al, tapi tidak bisa."
"Iya Mbak, kami terjebak hujan dan angin kencang di daerah setempat, signal juga sangat susah. Makanya handphone ku tidak bisa dihubungi." Terang Al panjang lebar.
"Mbak Ata dirawat di rumah sakit Mas." Jawab Mbak Watik singkat dan jelas.
"Dirawat ?"
"Sebaiknya, Mas Al langsung ke Rumah Sakit 'Harapan Sehat'. Jangan sampai Bunda mengkhawatirkan Mas Al terlalu lama."
Al segera beranjak pergi ke tempat dimana istrinya dirawat, usai mendengar apa yang Mbak Watik sampaikan.
"Papa !" Rengek Nindya.
"Dya sama Mbak Watik dulu ya, besok kalau Mama sudah sembuh, kita besuk sama-sama." Bujuk Mbak Watik menenangkan Nindya.
Secepat kilat, Al melajukan kendaraannya. Sudah terlihat ada mobil Bunda di area parkir pasien.
Tok... tok... tok ...
Dia ketuk kaca pintu mobilnya, ada Pak Slamet sedang tidur di dalam.
"Mas Al ?"
"Bunda di mana Pak ?"
"Di ruang Krisna VIP satu Mas."
"Terimakasih Pak."
Tanpa menunggu jawaban kembali dari Pak Slamet, Al langsung berlari menuju tempat sesuai yang Pak Slamet infokan.
'Krisna, VIP satu.'
Begitu dia baca tulisan yang terpampang di atas pintu ruang yang dia cari.
Ceklekk ...
Perlahan dia buka pintunya, memastikan siapa yang ada di dalamnya. Benar juga, ada Tata yang masih terbaring lemas dan Bunda yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Al." Ucap Bunda lirih.
Dia melangkah mendekati ranjang dimana istrinya berbaring. Anita masih memejamkan mata, Dia genggam jemari tangannya yang terasa sangat dingin.
"Biarkan dia tidur Nak, Tata masih terpukul dengan kondisi yang dia alami." Kata Bunda lirih.
Mata Al tertuju pada perut yang sudah tidak terlihat timbul lagi.
"Bunda, bayi kami ?" Tanya Al bingung.
"Kemana saja kamu Nak ? Kenapa dari kemarin susah sekali dihubungi ?" Jawab Bunda balik bertanya.
"Bayi kami, kenapa dengan bayi kami Bunda ?" Tanya Al lagi, tanpa menghiraukan pertanyaan Bunda Arum.
"Tata terpeleset di kamar mandi, dia mengalami pecah ketuban." Jawab Bunda sepenggal.
"Lalu, bagaimana dengan bayi dalam kandungannya ?" Tanya Al terdengar panik.
"Maafkan Bunda Al, Bunda harus mengambil tindakan, sesuai instruksi Dokter agar bayi kalian segera dilahirkan."
"Lalu, dimana bayi kami Bunda, bagaimana kondisinya ?"
"Ada di ruang khusus Nak, bayi kalian masih sangat rentan, dan harus dirawat intensif."
"Ya Allah." Gumamnya, ada nada penyesalan di dalam nya.
"Lihat dia Nak, ada di ruang kaca sebelah sana. Mintalah izin kepada Suster, bilang kalau kamu ayahnya."
Tanpa menjawab, Al langsung bergegas. Dilihatnya bayi mungil yang masih tak berdaya di dalam ruang kaca inkubator.
'Maafkan Papa Nak, Papa tidak bisa menemani Mama disaat Mama sangat membutuhkan support dari Papa.' Sesalnya dalam hati.
Tak terasa, setetes cairan bening mengalir di pipinya. Perasaan tak tega membuat Al berpaling untuk kembali ke ruang rawat inap istrinya.
"Dyah." Jawab Al mengingat-ingat.
"Kamu masih ingat aku, apa kabar ?"
"Alhamdulillah, baik. Kamu dinas di sini ?" Tanya Al melihat pakaian yang dia kenakan.
"Ya, baru beberapa bulan yang lalu."
"Kamu sendiri, ada keluarga yang dirawat kah ?"
"Istri dan anak saya di rawat di sini." Jawab Al.
"Oh ya, di ruang apa ?" Tanya Dokter Dyah ingin tahu.
"Krisna VIP satu."
Mendengar nomor itu, Dokter Dyah berhenti sejenak, seakan ingin memperjelas pendengarannya.
"Tunggu-tunggu, jadi, Baby A, itu putra kamu ?"
"Baby A ?"
"Iya, maksud saya baby dari Ibu Anita, yang kemarin harus kami lahirkan karena pecah ketuban." Jelasnya.
"Iya." Jawab Al singkat.
"Kamu beruntung Al, istri kamu wanita yang hebat, kuat. Dan untungnya, semua belum terlambat, jadi putra kamu bisa lahir dengan selamat. Dan kebetulan juga, saya sendiri salah satu team Dokter, dari Dokter anak yang menangani." Ucapnya.
Mendengar apa yang Dokter katakan, Al ingin tahu lebih lanjut, bagaimana perkembangan putranya kelak. Dyah, salah seorang teman Al waktu mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
__ADS_1
Sejak masih duduk di bangku sekolah, Dyah sudah bercita-cita menjadi seorang Dokter. Cuma Al tidak tahu, Dokter ahli di bidang apa yang dia inginkan waktu itu.
"Terimakasih banyak. Kebetulan, tadi saya habis dari ruang rawat anak saya. Dan saya ingin menjumpai Dokter, untuk menanyakan lebih lanjut, bagaimana perkembangan kesehatan anak dan istri saya."
"Mau ke ruangan saya ?" Tanya Dokter Dyah memberikan opsi.
"Tidak masalah."
"Mari, silahkan."
Alfatih, bukan hanya seorang yang cerdas dan pekerja keras. Tapi dia juga sangat sayang dan perhatian dengan keluarganya.
Terutama menyangkut anak dan istrinya.
"Baik Dok, saya paham. Saya mohon kesediaan Dokter untuk menangani langsung perkembangan kesehatan putra saya." Pinta Al, usai diberikan penjelasan panjang lebar oleh Dokter Dyah.
"Jangan terlalu formal, ini sudah menjadi bagian dari tugas saya." Jawabnya.
"Terimakasih banyak, kalau begitu saya mohon pamit dulu."
"Sama-sama Al, jangan khawatir, dengan penanganan yang tepat, Baby A akan tumbuh sama seperti kelahiran bayi normal lainnya." Kata Dokter Dyah membesarkan hatinya.
***
"Al, kenapa lama sekali ?" Tanya Bunda yang kebetulan akan keluar dari ruang rawat inap istrinya.
"Tadi, saya konsultasi dengan Dokter Dyah Bunda."
"Dokter Dyah ?"
"Iya Bun, Dokter anak yang menangani kesehatan cucu Bunda. Kebetulan, dia teman Al dulu di sekolah."
"Lalu bagaimana kondisi putra kalian ?"
"Alhamdulillah, kondisinya sudah berangsur membaik Bunda."
"Alhamdulillah. Sana, temui dulu istrimu, Dia sudah bangun. Besarkan hatinya, buat dia bahagia." Pinta Bunda mendorong tubuh Al untuk masuk.
"Bunda sendiri, mau ke mana ?"
"Bunda mau ngopi sebentar." Jawabnya sambil berlalu.
Sikap Bunda, sering membuat Al tersenyum bahkan tertawa sembari menggelengkan kepala.
Ditinggalkannya Bunda, yang sudah hampir tak terlihat punggungnya.
"Mas Al." Ucap Tata lirih, melihat kehadiran Al di ambang pintu.
Al tersenyum, mendekat dan memeluk erat tubuh istrinya.
"Maafkan aku Mas." Ucapnya lagi dengan suara terbata.
"Ssssttt ... Jangan dipikirkan lagi, semua sudah berlalu."
"Lalu, bagaimana putra kita ?"
"Doakan segera sehat, agar kita bisa segera membawanya pulang."
Al kembali memeluk erat tubuh istrinya. Tangis Tata pecah, antara senang dan sedih. Diciuminya kening Tata berkali-kali. Dia sematkan kata-kata manis, untuk menghibur hatinya.
____________________
____________________
__ADS_1
____________________