
Malam itu, Tata dan Bu Ranti tidur di gazebo yang ada di sekitar Masjid. Tata tidak tega meninggalkan Bu Ranti sendirian menunggu kedatangan anaknya.
Usai sholat subuh, Tata pergi meninggalkan Bu Ranti yang kembali memejamkan mata, untuk mencari makan dan minum untuk mereka berdua.
"Tata, dimana kamu Nak ? Kenapa kamu tinggalkan Ibu sendirian ?" Rengeknya saat tidak mendapati Anita di sisihnya.
Tapi hatinya merasa lega, tangisnya pun terhenti, saat pandangan matanya tertuju pada sebuah tas jinjing yang berisi pakaian Anita.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu sudah su'udzon kepadamu." Gumamnya sendiri.
"Ibu sudah bangun ?" Sapa Tata yang baru saja kembali.
Bu Ranti tidak menjawab pertanyaan Tata, tapi malah menghambur ke pelukan gadis yang baru saja beranjak dewasa itu.
"Jangan pergi tinggalkan ibu Nak, ibu takut sendirian di sini." Rengeknya kembali.
"Tidak Bu, Tata tidak akan pergi meninggalkan Ibu." Jawabnya menenangkan.
"Maaf ya Bu, tadi Tata tidak pamit sama Ibu. Tata hanya keluar sebentar mencari makan."
Ucapnya sembari menunjukkan bungkusan yang dia pegang.
Bu Ranti tersenyum penuh arti. Berharap akan mendapatkan keluarga kembali. Karena sampai saat ini anaknya belum juga kembali.
"Kita makan dulu ya Bu."
Beliau mengangguk, tidak ada kata yang bisa dia ucapkan, selain rasa syukur.
"Oh ya Nak, semalam waktu kamu pergi, ibu mendapatkan ini dari seorang pemuda yang baik." Kata Bu Ranti sembari mengeluarkan uang dan roti yang Al berikan.
Semalam Bu Ranti belum sempat cerita, karena beliau sudah tidur waktu Tata kembali.
"Dan dia juga memberikan ini untukmu." Ucapnya kembali, saat Bu Ranti memberikan sebuah kartu nama.
"Uang ini, simpan saja untuk Ibu." Tata hanya mengambil kartu nama itu.
'Alfatih ? Siapa dia ?'
Tata menyimpan kartu nama itu ke dalam tasnya. Dia kembali menikmati sarapan paginya bersama Ibu Ranti.
"Ibu, jika nanti Tata tinggal sebentar, ibu tidak apa-apa kan ?" Tanyanya berhati-hati, takut kalau Bu Ranti akan tersinggung dan sedih.
Maklum, kondisi psikis nya saat ini sedang kurang baik. Beliau mengalami trauma karena ditinggal anaknya.
"Kamu mau kemana Nak ?"
"Tata akan mencoba mencari pekerjaan dan tempat tinggal sementara untuk kita."
"Iya Nak, Ibu akan menunggumu di sini. Siapa tahu, nanti anak ibu datang menjemput ibu kembali." Ucapnya penuh harapan.
"Ingat, ibu tidak boleh pergi jauh-jauh dari sini ya. Dan jika ibu lapar, ibu bisa makan roti pemberian orang baik itu, atau ini masih ada nasi bungkus yang sengaja Tata belikan untuk makan siang." Pesannya panjang lebar.
"Iya Nak."
__ADS_1
Sesuai apa yang Tata ucapkan, usai mandi dan mengganti pakaiannya, dia pergi mencari apa yang ingin dia dapatkan.
Setiap warung, toko ataupun tempat - tempat umum dia singgahi. Berharap ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Dia lupa dengan pesan Bu Ranti mengenai kartu nama itu.
Namun semuanya nihil, tanpa hasil.
'Ya Allah, kemana lagi aku harus mencari pekerjaan dan tempat untuk berteduh. Tidak mungkin aku akan selamanya menginap di gazebo Masjid Raya.' Keluhnya dalam hati.
Tata pergi ke sebuah minimarket, sekedar untuk mendinginkan badan, setelah berjam-jam di kepanasan berjalan. Untuk menutupi rasa malu, dia ambil sebuah air mineral sebagai teman untuk berteduh sebentar.
"Tata." Terdengar seseorang menyapanya.
"Mbak Wulan."
"Kamu ngapain disini ? Sama siapa ?" Tanya Mbak Wulan heran.
Karena gak biasanya dia berada di tempat ini. Minimarket ini lumayan jauh dari tempat dimana dia biasa berjualan.
"Saya, saya sedang mencari pekerjaan Mbak." Jawabnya lirih.
"Pekerjaan ?" Mbak Wulan duduk disampingnya, memastikan apa maksud dari ucapan Tata barusan.
"Iya Mbak, saya diusir dari rumah Mbak."
"Astagfirullah." Mbak Wulan membungkam mulutnya sendiri.
"Lalu, sekarang kamu tinggal dimana ?"
"Saya masih berteduh di gazebo yang ada di Masjid Raya Mbak." Terangnya.
"Tapi Mbak, saya bersama seorang Ibu yang kehilangan anaknya."
"Maksudnya ?"
"Iya Mbak, kemaren saya bertemu ibu Ranti di masjid Raya. Menurut cerita Beliau ditinggalkan putranya di sana." Cerita Tata.
"Ya Allah, ada-ada saja." Komentar Mbak Wulan.
"Dan Beliau tidak mau saya tinggalkan, sebelum bisa bertemu dengan putranya."
"Hhhhmmmm...." Mbak Wulan menghela nafas panjang. Seolah ikut merasakan beban berat yang sedang Tata rasakan saat ini.
"Ya sudah, kita ketempat dimana kamu dan Ibu Ranti tinggal saat ini."
Tidak membuang banyak waktu, mereka berdua segera pergi ke tempat Bu Ranti menanti.
Dengan segala upaya, Tata dan Mbak Wulan merayu Bu Ranti agar mau ikut serta bersama mereka.
"Tapi Nak, bagaimana jika anak ibu datang nanti ?" Tanyanya resah.
"Ibu, saya akan bantu sampaikan kepada Bapak takmir masjid, supaya jika ada orang yang mencari ibu, bisa menghubungi saya di rumah singgah." Rayu Mbak Wulan.
Bu Ranti melihat ke arah wajah Anita, pandangan matanya, seolah meminta pertimbangan apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Ibu tidak usah khawatir, karena ada Tata juga disana."
Bu Ranti tersenyum dan menuruti apa yang mbak Wulan sampaikan.
Akhirnya, mereka sampai di rumah singgah. Tata bersyukur bisa berada di tempat ini lagi. Ada Bu Sari dan Bu Nilam yang menyambutnya.
Mereka memeluk Tata bergantian.
"Ini juga rumahmu Nak, kenapa kamu tidak langsung ke sini, saat tidak punya tujuan lain." Ucap Beliau.
Mungkin Mbak Wulan sudah banyak bercerita mengenai perjalanan hidupnya kali ini.
"Maaf Ibu, Tata kalut sekali waktu itu. Dan hanya rumah Allah yang Tata ingat." Jawabnya.
"Iya Nak, dan sekarang, ini juga rumahmu."
"Terimakasih Bu."
"Biar Mbak Wulan yang tunjukkan kamar Tata. Ibu Ranti sudah Ibu sendiakan kamar sendiri."
"Terimakasih banyak Ibu."
Tak henti-hentinya Tata bersyukur atas apa yang dia dapatkan hari ini. Bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pekerjaan sementara, untuk bantu-bantu di rumah singgah.
Semakin lama, Tata mulai menikmati kehidupan barunya. Keluarga baru dengan suasana yang baru pula.
Meskipun sudah merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang, namun Tata harus tetap mencari pekerjaan yang lebih untuk kehidupan di masa yang akan datang.
***
Hari berganti, waktu pun berlalu. Tata yang kebetulan mendapatkan giliran belanja waktu itu, melihat banner bertuliskan lowongan kerja yang ditempel pada pintu gerbang kantor.
"Dibutuhkan office boy / office girl, pendidikan minimal SMP sederajat, kirim lamaran anda ke alamat yang tertera di bawah ini." Gumamnya membaca pengumuman yang ada.
'Pendidikan minimal SMP, aku kan hanya lulusan SD. Tapi kalau cuma bersih - bersih saja, aku juga bisa. Apa sebaiknya aku coba ya.' Pikirnya dalam hati.
"Maaf Pak, apa benar disini membutuhkan tenaga bersih-bersih ?" Tanya Tata memberanikan diri kepada satpam.
"Iya Mbak, itu ada banner nya." Jawab Pak satpam menunjuk ke arah pengumuman yang tadi Tata baca.
"Oh ya, kalau begitu saya boleh mencatat ya Pak."
"Iya, silahkan. Kalau lamarannya sudah siap, dibawa ke sini langsung saja."
"Iya Pak, terimakasih."
"Sama-sama Mbak."
Usai mencatat apa yang dia perlukan, Tata meninggalkan kantor itu dengan perasaan bahagia. Seolah dia merasakan ada secercah harapan di sana.
_____________________
_____________________
__ADS_1
_____________________