
Kling ... kling ... kling ...
Beberapa kali pesan gambar masuk ke dalam aplikasi whatsapp milik Anita. Entah dari mana dan siapa yang mengirimkan pesan itu.
Terlihat ada nada tidak suka pada raut wajahnya, bahkan lebih cenderung ke marah.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Mungkin lusa aku baru pulang." Pamit Al pagi itu.
Sudah beberapa hari ini Al banyak menghabiskan waktu bekerjanya di luar kota.
"Iya, hati-hati di jalan Mas." Jawabnya datar, tanpa senyum dan tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa ?" Tanya Al heran.
"Hhhhmmmm ... gakpapa."
"Tidak apa-apa bagaimana, kelihatan sekali lo kalau kamu lagi badmood gitu." Kata Al, mencoba untuk berhenti sejenak.
"Aku_"
Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
"Tunggu bentar, hallo, ya, ya, sebentar lagi sampai, oke-oke." Itulah sekelumit percakapan yang Tata dengar dari suaminya.
Akhir-akhir ini Al sering pergi ke luar kota. Bahkan tidak jarang pergi tanpa asisten pribadinya.
"Aku berangkat ya." Pamitnya sembari mencium kening istrinya.
Tata hanya mengangguk. Tidak baik sebenarnya berprasangka buruk terhadap suami.
Dan bukan sifat Anita yang suka berprasangka tidak baik. Tapi pesan yang dia terima dari nomor tak dikenal barusan, memaksanya untuk berprasangka yang kurang baik.
"Jagoan Papa, gak boleh rewel sayang. Baik-baik sama Mama." Pamitnya kepada Dzaki buah hatinya.
Sikap Al juga banyak berubah. Al yang dulu cuek dan masa bodoh tapi pengertian, sekarang lebih romantis. Namun perubahan sikap seperti itu yang Tata khawatirkan.
Kling ...
Satu pesan dari nomor yang sama masuk lagi.
["Hallo Nyonya Alfatih, sudah lihat foto-foto yang saya kirimkan ? Jangan terlalu abai, kalau tidak ingin suami anda jatuh ke pelukan perempuan lain."]
Satu pesan yang membuat darah Anita mendidih.
'Siapa sebenarnya orang ini, apa mau dia, dan bagaimana saya harus cari tahu kebenaran foto-foto yang dia kirimkan, siapa yang bisa aku percaya untuk mencari tahu akan hal ini ?' Pikir nya dalam hati.
"Reza, apa aku tanyakan saja hal ini kepada asisten Mas Al."
"Tidak, tidak, jika itu diluar prediksi ku, sama saja aku membuka aib suamiku sendiri. Lalu kemana aku mencari tahu." Ocehnya sendiri.
Kling ...
__ADS_1
["Itu memang baru sebuah permulaan Nyonya, tapi semakin lama kedekatan itu pasti ada ujungnya."]
Pengirim pesan misterius itu nekad meracuni pikiran dan hati Anita. Mungkin karena sejak tadi Tata hanya membaca dan mengabaikan pesan itu, tanpa membalasnya sedikitpun.
Dia berusaha untuk tetap tenang. Namun setenang-tenangnya hati seorang perempuan, pasti ada rapuhnya juga.
"Aku tidak boleh percaya begitu saja, jika aku terpancing, mungkin akan membuat si pengirim pesan ini merasa menang. Karena tidak mungkin dia mengirimkan pesan ini tanpa maksud da tujuan sama sekali." Gumannya sendiri.
Dipandanginya kembali tiga gambar yang dia terima dari pengirim misterius tadi. Satu adegan Al sedang duduk memeluk seorang perempuan yang entah siapa dia, karena wajahnya tidak begitu kelihatan.
Satu lagi adegan keduanya yang saling berpelukan, dan satunya lagi Al sedang memapah perempuan itu ke dalam mobilnya.
"Mungkin, perempuan ini sedang tidak sadarkan diri, dan Mas Al membantunya, tapi situasi itu dimanfaatkan orang lain untuk merusak rumah tangganya." Gumamnya, seolah menenangkan hatinya sendiri.
Ceklekk ...
Karena kaget, seseorang membuka pintu kamarnya, Tata melemparkan handphonenya yang masih dalam keadaan menyala, hingga terpelanting ke karpet tepat di depan jemari kakinya.
"Tata." Sapa Bunda.
"I, iya Bunda." Jawabnya gugup, sembari menginjak ringan handphone di dekat kakinya. Karena ada Dzaki di dalam pangkuannya, jadi Tata tidak bisa mengambilnya.
"Hei, kenapa diinjak ?" Tanya Bunda sembari mengambil handphone yang setengah tertutup telapak kakinya.
"Oh, eh, biarkan saja Bunda." Ucapnya ingin mencegah Bunda mengambil handphone nya.
Tapi terlambat, Bunda sudah terlebih dahulu mengambil nya. Bukan hanya mengambil, tapi tanpa sengaja Bunda menyentuh layarnya.
"Ini, foto_"
"Bukan foto siapa-siapa Bunda, itu cuma foto di aplikasi saja." Jawab Tata memotong.
"Tunggu-tunggu." Bunda menggeser tubuhnya sedikit menjauh, agar Tata tidak mampu menjangkaunya.
Bunda lihat dengan seksama, siapa pemilik wajah yang ada di dalam foto itu.
"Al ? Apa benar ini Al ?" Tanya Bunda setengah tidak percaya.
"Bunda, itu _"
"Dari mana kamu dapatkan foto ini ?" Tanya Bunda kembali, tanpa menghiraukan apa yang akan Tata katakan.
"Seseorang telah mengirimkan nya Bunda." Jawabnya lirih.
"Seseorang, siapa Nduk ?" Tanya Bunda ingin tahu.
"Saya juga belum tahu Bunda. Tapi, Bunda tidak usah khawatir, bisa saja itu cuma editan, atau memang sengaja mereka lakukan untuk memancing emosi Tata dan bisa berdampak buruk bagi keluarga kami." Ucapnya mencoba menenangkan hati Bunda.
"Apapun itu, Bunda tidak bisa tinggal diam Nduk. Ini sudah keterlaluan. Kalaupun Al tidak tahu menahu soal foto ini, bisa dilaporkan sesuai hukum yang berlaku. Tapi jika foto ini benar adanya." Bunda menghentikan ucapannya.
Entah apa yang sedang Beliau pikirkan.
__ADS_1
"Bunda ingin tahu, siapa pengirimnya." Tegas Bunda sembari menyodorkan handphone itu kembali ke Tata.
"Ini nomornya Bun, Tata sendiri tidak mengenali itu nomor siapa."
Bunda membaca dengan seksama, isi pesan yang seseorang kirimkan itu.
Beliau juga mencatat nomor itu di handphone nya.
"Bunda sendiri yang akan mencari tahu."
"Tapi Bun, apa tidak sebaiknya kita tanyakan langsung saja kepada Mas Al ?"
"Kelamaan, sebelum Al mengetahui hal ini, Bunda akan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu." Jawab Beliau tegas.
Kalau sudah Bunda Arum sendiri yang turun tangan, Tata tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dengan kondisi dia sekarang yang harus lebih banyak memperhatikan perkembangan kesehatan Dzaki putranya.
"Oh ya, Bunda tadi ke sini mau melihat cucu Bunda." Ucap Bunda yang sudah mulai tenang kembali.
"Alhamdulillah, sudah banyak perkembangan baik Bunda. Nanti siang juga jadwalnya Dokter Dyah melakukan cek up rutin."
"Sehat ya Le, sini gendong Eyang, kita berjemur, mumpung cuacanya sedang bagus." Pinta Bunda.
Selagi Dzaki dalam gendongan Eyangnya, Tata segera membersihkan diri dan melakukan aktifitas layaknya seorang ibu muda.
Kesibukannya setiap hari seperti ini, membuat dia lupa akan hal-hal negatif yang sempat tersirat di dalam benaknya tadi.
Namun di sisi lain, dari jauh terlihat tangan kanan Bunda mulai sibuk dengan handphonenya sendiri. Meskipun ada Dzaki di dalam pangkuannya.
Entah siapa yang Beliau hubungi, sepertinya Beliau sedang menjalankan misi sesuai yang tadi Bunda janjikan.
"Iya, segera informasikan kepada saya. Apapun hasilnya."
Begitu sepenggal kalimat yang sempat Tata dengar, saat dia mulai bergabung di taman untuk berjemur.
"Sini biar Tata gantikan Bunda." Pintanya.
"Oh ya, Bunda tinggal sebentar ya. Bunda ada urusan, nanti sekalian Bunda jemput Nindya di sekolah."
"Iya Bunda."
'Urusan apa yang Beliau katakan. Dari tadi Bunda tidak cerita ada agenda apa hari ini. Apa hal ini ada kaitannya dengan tragedi jatuhnya handphone yang membuat Bunda tahu segalanya.' Pikirnya dalam hati.
Tapi apapun itu, Tata sangat bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga kamandanu, yang selalu saling melengkapi satu sama lain.
'Aku berharap, tidak ada yang dikecewakan di rumah ini.' Bicaranya secara umum.
Padahal, jika dilihat yang sebenarnya, dialah yang merasa kecewa saat ini.
____________________
____________________
__ADS_1
____________________