Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 74. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Mengingat kejadian semalam, Al yang masih takut terjadi sesuatu dengan calon buah hatinya, meminta agar istrinya periksa pagi ini juga.


"Tapi Mas, jadwal periksaku masih minggu depan." Tolaknya.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu dan calon bayi kita baik-baik saja." Kata Al kekeh.


"Aku sudah enakan Mas, tidak merasakan sakit lagi." Ucapnya tak kalah kekeh.


"Iya, tapi minimal sudah ada pemeriksaan dari Dokter. Jadi lebih jelas bagaimana kondisi kandungan kamu dari sudut pandang kesehatan." Ocehnya Al panjang lebar.


"Iya Mas, tapi_"


"Tata, tidak ada salahnya kamu periksa lebih awal. Biar semua lega, dan bisa dipastikan kalau kamu dan calon cucu Eyang dalam keadaan sehat." Kata Bunda Arum sembari mengedipkan sebelah matanya.


Sebagai tanda agar Tata menurut apa yang Al katakan.


"Tu, dengarkan apa kata Bunda." Ucap Al merasa menang mendapat dukungan dari sang Bunda.


Tata tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Saat ini mungkin Al memasuki vase sensitive, dimana segala sesuatu yang dia lihat dan dia rasakan harus sesuai dengan hatinya.


Meskipun terkadang dia terlalu over protektif, namun itu salah satu sikap yang dia tunjukkan, sebagai pengganti rasa perhatian yang mendalam.


"Mau Bunda antarkan ?" Tanya Bunda menawarkan.


"Tidak Bunda, terimakasih. Nanti sekalian antar Dya ke sekolah, Tata mampir untuk periksa." Jawab Tata.


"Biar nanti Al sendiri yang antar Bun." Kata Al menyela.


Tata dan Bunda saling berpandangan dan saling melemparkan senyum.


"Papa, kapan kita akan menjenguk Gina ?"


Pertanyaan yang sejak tadi Dya pendam, akhirnya dia sampaikan juga.


"Nanti sayang, sekalian kita periksa kandungan Mama ya."


"Yeee ... " Jawaban Papa Al membuat hati Nindya lega.


"Gina siapa sayang ?" Tanya Eyang Arum ingin tahu.


"Itu Bunda, Regina anaknya Mbak Hanifa." Jawab Tata.


"Hanifa ?" Tanya Bunda sembari berfikir, merasa tidak asing dengan nama 'Hanifa'.


"Iya, teman Nindya di sekolah. Kemaren dia jatuh dari ayunan, dan sudah dua hari ini di rawat di rumah sakit." Kata Mama Tata, membantu menjawab pertanyaan Eyang disaat Nindya sedang menikmati suapan demi suapan sarapan paginya.


"Oh, kasihan. Nindya hati-hati kalau bermain ya. Jangan sampai kejadian jatuhnya Regina terulang pada yang lain." Nasehat Eyang.


Nindya mengangguk, mengiyakan apa yang Eyang sampaikan. Tapi mendengar nama Hanifa, Bunda jadi teringat kembali dengan sahabat Almarhumah Kinanti di bangku SMA, yang dulu sering bermain di rumah ini saat mereka masih sama-sama sendiri.


Hanifa bukan sekedar sahabat bagi Kinanti, tapi sudah melebihi saudara. Bahkan, rasa simpati dan perhatian yang Hanifa tunjukkan kepada Al, membuat Bunda sempat ingin menjodohkan keduanya.


Bunda sempat kecewa, saat Al memutuskan untuk menggapai cita-cita nya ke negeri orang. Dan karena itulah, jarak menjadi sebuah alasan kenapa kedekatan mereka terhenti.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Hanifa memilih seorang pria yang dia kenal dari perkenalan antara keluarga. Bisa dikatakan, kalau mereka menjalani sebuah pernikahan yang berawal dari perjodohan.


Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, timbul benih-benih cinta pada keduanya.


"Ada apa Bunda ?" Tanya Tata yang melihat perubahan mimik wajah Bunda Arum.


"Apa, oh tidak apa-apa." Jawab Bunda gugup.


Bunda melanjutkan sarapannya, yang tadi sempat terhenti.


"Eee ... Al, boleh Bunda ikut menemani Nindya besuk temannya ?"


Sejenak Al berfikir, apa yang sedang Bunda pikirkan.


'Kenapa tiba-tiba Bunda ingin ikut besuk teman Nindya ? Apa karena nama ibu dari bocah itu sama dengan sahabat Kinan waktu SMA ?' Pikir Al dalam hati.


"Al ?"


Panggilan Bunda membuyarkan lamunan nya.


"Hhmmm ... Oh iya Bunda." Jawab Al setengah ragu.


'Bagaimana jika apa yang ada pada anganku, itu sebuah kenyataan ?' Pikir Al kembali.


Tak jauh beda dengan Anita, yang mau tak mau harus menaruh rasa curiga dengan keberadaan Hanifa.


'Apa benar, Hanifa Mama Gina dan Hanifa sahabat Kinanti adalah orang yang sama ?' Tanya Tata dalam hati.


'Tapi, memangnya ada apa dengan Hanifa, jika mereka satu orang yang sama ?' Komentar sisi hati Tata yang lain.


***


Jam belajar Nindya telah usai, ini waktunya Tata berganti memeriksakan dirinya ke dokter. Kebetulan jadwal pemeriksaan nya, bersamaan dengan jam besuk pasien. Jadi Dya bisa sekalian besuk ke ruang rawat Regina.


"Dya, selagi menunggu Mama Tata mendapatkan giliran periksa, bagaimana kalau kita ke ruang rawat inap teman Dya ?" Tanya Eyang Arum memberikan penawaran.


"Eeehhhmmm ... boleh juga Eyang." Jawabnya semangat.


Tapi tiba-tiba sinar matanya redup, saat pandangannya tertuju kepada Papa Al dan Mama Tata.


"Iya sayang, Dya besuk Regina sama Eyang dulu ya. Biar gak bosen nunggunya di sini." Kata Mama Tata.


Tinggal izin dari sang Papa yang membuat Nindya masih belum beranjak dari tempat duduknya.


Namun, satu kedipan mata Al sudah mewakili semua pertanyaan di dalam hati Nindya.


"Makasih Papa. Dya janji, Dya tidak akan nakal." Ucapnya sembari meloncat turun dari kursi yang berada di ruang tunggu.


"Hhhhmmmm." Gumam Al sembari mengangguk dan mengusap anak rambut putrinya.


"Bunda jalan dulu ya." Pamit Bunda Arum.


Beliau berjalan bersama Nindya menuju kamar rawat inap yang Tata tunjukkan, sebelum meninggalkan ruang tunggu periksa kandungan.

__ADS_1


"Ini kamarnya Eyang." Tunjuk Nindya


Sebuah kamar rawat inap kelas satu yang di pilih untuk merawat kesembuhan Regina.


"Assalamu'alaikum." Sapa Nindya sembari membuka perlahan pintu kaca yang menghubungkan ruangan dengan lorong depan.


"Wa'alaikumsalam." Jawab salah seorang yang ada di dalam ruangan.


Nindya sudah berlari masuk terlebih dahulu, saat Eyang Arum masih melepaskan alas kakinya di luar.


"Tante, Gina apa kabar ?" Tanya Nindya kepada Hanifa.


"Alhamdulillah, Regina sudah lebih baik. Insha Allah, besok sudah boleh pulang." Jawab Hanifa.


"Eh, tapi ngomong-ngomong, Nindya ke sini sama siapa ?" Tanya Oma Gina, ibunda dari Hanifa yang kebetulan ikut menemani Regina di rumah sakit.


"Dya sama Eyang Oma." Jawabnya lembut.


"Assalamu'alaikum."


Bersamaan dengan sapaan Eyang Arum di ambang pintu yang sudah sedikit terbuka.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Oma dan Hanifa serentak.


Bukan hanya Bunda Arum yang tertegun melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Jeng Ratri, Hanifa." Ucapnya lirih.


"Jeng Arum." Sapa Oma yang dikenal dengan nama Ratri itu.


Keduanya saling pandang, tak percaya. Lama sekali mereka tidak bertemu. Bukan hanya berhari-hari, bahkan dalam hitungan tahun. Tidak saling bertatap muka, atau sekedar bertanya kabar.


Dan hari ini, generasi kedua dari Bunda Arum yang mempertemukan mereka kembali. Dulu, Bunda Arum dan Mama Ratri berteman. Baik sebagai rekan kerja, juga teman ngobrol bareng.


Begitupun juga Hanifa dan Kinanti, mereka dua sahabat yang tak terpisahkan pada masanya. Bahkan hal yang tidak pernah mereka duga akan terjadi pada cucu keduanya. Yaitu terjalinnya persahabatan Nindya dan Regina.


"Arum apa kabar ?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu Ratri, lama sekali kita tidak bertemu."


"Aku masih sama seperti dulu Arum, tidak kurang suatu hal apapun." Jawab Oma Ratri sembari tersenyum manis.


Sebuah percakapan yang sama seperti dulu, waktu mereka masih sama-sama meniti karier berdua. Keduanya kembali saling berpelukan, melepas rindu.


Puas bertanya kabar dengan ibunya, pandangan mata Bunda Arum tertuju kepada Hanifa.


"Hanifa." Sapa Bunda merentangkan kedua tangan Beliau.


Hanifa menyambutnya dengan senang hati. Pelukan ini, sangat lama dia rindukan. Dulu, dikala dia sedang gundah, dekapan Bunda Arum yang selalu menenangkan hatinya.


'Ternyata, apa yang aku pikirkan benar-benar menjadi kenyataan. Hanifa yang Tata ceritakan adalah satu orang yang sama, Hanifa sahabat Kinanti.' Gumam Bunda dalam hati.


__________________

__ADS_1


__________________


__________________


__ADS_2