Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 92. Rindu Dimanja


__ADS_3

Malam semakin larut, diiringi semilir angin yang semakin dingin menyejukkan. Suara hewan-hewan malam meramaikan suasana, yang terkadang terdengar menakutkan.


Namun seramnya gelap malam ini, tak seperti malam-malam sebelumnya. Di atas sana, banyak bertabur bintang-bintang yang gemerlapan. Cahaya sinar rembulan, ikut menghiasi indahnya bentangan langit malam.


"Eeehhhmmm ... "


Tata menggeliat, berusaha melepaskan rasa penat di tubuhnya. Rasanya, dua puluh empat jam dalam sehari, tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya.


Namun semuanya terasa menyenangkan, saat kedua buah hatinya selalu ada dengan senyum ceria.


Perlahan, Dia mulai memejamkan mata. Berharap esok pagi akan datang kebahagiaan yang lebih untuknya.


Antara sadar dan tidak, dia rasakan hembusan hangat di wajahnya. Semakin lama terasa sentuhan ringan yang membuat bulu kuduk nya merinding.


Aroma maskulin yang sangat dia kenali, membuat nya terbangun dari mimpi. Perlahan, dia buka kembali matanya.


"Capek ?" Bisik Al yang entah sejak kapan dia berbaring di sisinya.


"Ehhmmmm ... sedikit." Jawab Tata enggan, masih dengan mata setengah terpejam.


Namun, jawaban manja istrinya tidak mengurungkan niat Al untuk melanjutkan aktivitas tangan dan bibirnya.


Sentuhan demi sentuhan dia lancarkan. Penat yang tadi Tata rasakan, seakan sirna. Berganti dengan perasaan menggebu penuh cinta.


"Miss you sayang." Bisik Al.


Entah sejak kapan kata-kata itu keluar dari bibirnya.


"Tumben ?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Tata.


"Kamu pikir aku tidak bisa romantis ?" Tanya Al yang terdengar langka.


"Bucin."


"Biarin."


"Norak."


"Bodoh amat." Jawab Al jengkel dan terdengar ada amarah di dalamnya.


Tata tersenyum ringan. Ingin tertawa tapi takut dosa. Semakin Tata memancing emosinya semakin geregetan Al mendengar. Alhasil...tak peduli apa yang Tata katakan, aksinya tetap berjalan.


"Aaaa !" Teriak Tata saat tangan jail Al menggelitik pinggangnya.


"Jangan berisik." Gertak Al lirih.


"Geli Mas." Protesnya.


"Makanya diam."


Bukan diam seperti yang Al minta, Tata malah bangkit berbalik menguasai keadaan. Mengambil alih pimpinan, dari mulai membuka hingga mengakhiri serangan.


"Miss you sayang." Merasa belum terjawab, kalimat itu keluar lagi dari bibir Al. Kali ini terdengar berat dan sedikit serak.


"Miss you too." Jawab Tata sembari mengatur nafasnya.


***


"Mas, sudah siang, nanti terlambat ke kantor." Bisik Tata membangunkan.


"Melihatmu disini, membuat aku enggan beranjak dari tempat tidur." Gombal nya.


"Apaan sih, aneh."


"Apa, coba ulangi sekali lagi."


"Dari semalam Mas Al aneh, tau gak."


"Eeehhhmmm ... Memang, aku selalu aneh kalau dekat denganmu." Rayunya, sembari memeluk erat tubuh Anita.

__ADS_1


"Mas, sudah siang lo, bangun. Jangan kebanyakan mimpi melulu." Elak Tata malu-malu, mendengar rayuan suaminya.


"Hari ini aku gak ngantor, semua sudah Reza handle." Bisik Al masih dengan posisi setengah bergelayut di pundak istrinya.


"Terus, mau ngapain ?" Tanya Tata heran.


"Mau dimanja sama kamu."


"Idih, ketempelan dari mana ini ya." Canda Anita.


"Apaan sih, masak suaminya pengen di manja saja, dibilang kesambet." Gerutu Al melepas pelukannya, sambil berlalu ke kamar mandi.


Tata terkekeh mendengar celoteh suaminya. Jika dirasa memang aneh. Al yang dingin dan tidak romantis sama sekali, hari ini kelihatan manja dan bucin.


Mungkin inilah, fase dimana dia harus pandai berbagi perhatian antara anak dan suami. Dibiarkannya Al yang masih sedikit ngambek, Tata kembali dengan rutinitas paginya mempersiapkan sekolah Nindya.


"Dya sudah siap sayang ?" Tanya Mama Tata, usai melihat piring sarapannya kosong.


"Udah Mama, Dya berangkat sama Pak Slamet lagi Ma ?" Tanya Nindya yang sudah dua hari ini diantarkan sopir ke sekolah.


Biasanya ada Eyang Arum yang ikut serta. Tapi kali ini Nindya harus belajar mandiri. Karena kebetulan Eyang Arum ada acara ke Bali untuk beberapa hari.


"Dya diantar Papa ya." Sahut Al, sebelum Tata menjawab pertanyaannya.


"Hore, diantar Papa !" Teriaknya girang.


Memang, akhir-akhir ini Al sibuk, hingga jarang sekali bisa meluangkan waktu sebentar untuk mengantar putri angkatnya ke sekolah.


Namun kali ini, dia luangkan waktu beberapa hari untuk keluarga kecilnya.


"Mas Al beneran gak ngantor ?" Tanya Tata memastikan.


"Enggak sayang, hari ini kamu siapkan perlengkapan Dzaki dan Nindya. Kita akan liburan, berangkat usai Nindya pulang sekolah." Kata Al.


"Hore, kita mau jalan-jalan Pa ?" Tanya Nindya antusias.


"Iya." Jawabnya girang.


"Kita mau kemana Mas ?" Tanya Tata masih diliputi rasa penasaran.


"Sudah, siapkan saja baju ganti untuk satu minggu kedepan. Jangan lupa bawa baju renang buat anak-anak juga." Jawab Al tanpa mau memberi info kemana mereka akan pergi.


"Satu minggu, lama amat ?"


"Sudah, jangan banyak protes." Kata Al sembari menyambar kontak mobilnya.


Kalau sudah begini, Tata hanya nurut sesuai instruksi. Entah kemana suaminya akan mengajak mereka pergi, yang penting anak-anak bahagia.


Lagipula, sudah lama sekali mereka tidak berlibur. Mungkin memang inilah waktunya, kebetulan juga sekolah Nindya libur kenaikan kelas, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki yang kemaren sempat tertinggal. Apalagi sejak kejadian kesalahpahaman mereka dengan Hanifa, membuat hubungan Al dan Tata sedikit hambar.


Ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...


"Hallo Mas."


"Iya Ma, aku lupa, ajak sekalian Mbak Watik. Biar bisa bantu-bantu menjaga Dzaki nanti disana." Ucapnya.


"Iya Mas, tapi sebenarnya mau kemana kita ?"


"Udah siap-siap dulu saja." Jawab Al sebelum menutup sambungan selulernya.


"Mbak Watik." Panggil Tata.


"Iya Mbak Ata, ada yang bisa saya bantu ?"


"Mbak Watik siap-siap juga ya, kita akan liburan selama satu minggu."


"Hah, satu minggu ? menginap Mbak ?"


"Iya."

__ADS_1


"Lama amat Mbak, mau kemana ?" Tanya Mbak Watik ikut penasaran.


"Entahlah, ngikut saja apa kata Pak Bos." Candanya sambil berlalu.


Membutuhkan waktu cukup lama untuk mempersiapkan apa yang harus dia bawa. Terutama perlengkapan Nindya dan Dzaki yang tidak boleh tertinggal sedikitpun.


Dua koper besar cukup untuk memuat pakaian dan perlengkapan yang harus dikemas.


"Mama." Terdengar suara nyaring Nindya dari dalam kamar.


"Sayang, kok sudah pulang, ini kan baru jam sembilan."


"Iya Ma, kata Bu Guru, hari ini pulang agak cepat karena Bu Guru mau rapat." Jawabnya riang.


"Lalu, Papa mana ?"


"Papa masih di luar sama Om Reza."


"Ya sudah, Dya ganti baju dulu ya. Minta tolong Bude Watik buat bantu Nindya."


"Iya Ma."


Tata berjalan ke depan, benar kata Nindya. Ada Reza sedang berbincang dengan suaminya.


"Semua sudah siap Pak, hotel, resto dan apa yang Bapak minta sudah dipersiapkan dengan matang."


"Hhhmmm, makasih Za."


"Baik Pak, kalau begitu saya berangkat terlebih dahulu."


"Iya, hati-hati dijalan."


Itulah sekelumit percakapan yang tidak sengaja Tata dengar dari laporan asisten pribadi Al.


"Kok buru-buru Pak Reza ?"


"Oh, iya Bu, ada yang harus saya kerjakan lagi."


"Oh, begitu."


"Mari Pak, Bu."


"Silahkan."


Al terlihat gelisah, saat istrinya datang menyapa.


'Jangan-jangan, Tata dengar apa yang Reza katakan tadi.' Pikirnya.


"Kenapa Mas, ada masalah ?" Tanya Tata saat melihat perubahan mimik wajah suaminya.


"Oh, fine, tidak ada masalah. Kamu sudah siap ?"


"Ya, semua sudah beres. Tapi, kelihatannya tadi kalian bicara serius sekali." Kata Tata kembali memancing.


"Ya serius lah, apalagi yang kita bicarakan masalah pekerjaan." Jawab Al tenang.


"Oh ... " Komentar Tata tanpa arti.


'Kelihatannya, Tata tidak mendengar apa yang tadi aku dan Reza bicarakan.' Pikir Al dalam hati.


'Kelihatannya ada yang sedang Mas Al sembunyikan. Tapi apa ya ?' Komentar hati Tata.


Tapi apapun itu, biarlah menjadi rahasia perusahaan mereka. Sebagai seorang istri, kewajiban dian hanya mensupport dan mendoakan yang terbaik untuk semua usaha suaminya.


___________________


___________________


___________________

__ADS_1


__ADS_2