
"Tata, Dya, kita sudah sampai."
Sentuhan dingin tangan Al membangunkan Anita yang ikut lelap dalam perjalanan.
"Jangan dibangunkan Mas, biar saya gendong saja." Jawab Tata setelah sadar kalau mereka sampai di sebuah bungalow.
Al yang tadinya berniat untuk membuka pintu, kembali duduk dan berbalik menghadap dia, saat mendengar Tata memanggilnya dengan sebutan Mas.
"A, apa ada yang salah ?" Tanya Tata gugup.
"Iya, banyak kesalahan yang harus kamu perbaiki nanti." Jawab Al.
Mata Al tak berkedip memandang perempuan di sebelahnya. Separuh tubuhnya mulai condong ke arah Tata yang masih duduk kaku di tempatnya.
Semakin dekat, semakin dia rasakan hembusan hangat pada wajahnya. Entah apa yang Tata rasakan saat ini, matanya terpejam, jantungnya berdegup kencang.
Ceklekk ...
Bunyi seat belt terlepas dari sarungnya.
"Turun, jangan tidur di sini, istirahat di dalam." Kata Al sembari membuka pintu mobilnya dan keluar mendahului.
Hhhuuuff ..
Tata menghela nafas panjang. Sedangkan di luar sana, Al hanya tersenyum penuh kemenangan.
'Lucu juga kalau dia sedang gugup, wajahnya memerah.' Bisiknya dalam hati.
Tata menidurkan Nindya, sedangkan Al masih sibuk dengan barang bawaan mereka.
Tempat ini begitu sejuk dan nyaman juga jauh dari pusat keramaian. Sepertinya Al sudah terbiasa ke tempat ini, nyatanya dia sudah membawa sebuah kunci tanpa reservasi terlebih dahulu.
"Apa kamu tidak punya cita-cita untuk membantu saya ?" Tanya Al mencoba bercanda.
Tata hanya tersenyum menanggapi candaan Al.
"Hhhuuuff...hhhhssss ..."
Desis Al sembari mengusap kedua lengannya. Mungkin dia merasa kedinginan.
"Mas Al mau saya bikinkan teh atau kopi mungkin ?" Tanya Tata pengertian dengan keadaan. Memang, dia sendiri merasakan hawa dingin di sekitar.
"Boleh, kalau tidak merepotkan." Kata Al bernegosiasi.
"Kan saya yang menawarkan, tentunya tidak ada yang direpotkan." Jawabnya mulai bersahabat.
"Hhhhmmmm ... Mungkin, secangkir kopi lebih nikmat." Jawab Al berangan-angan.
"Oke, one minute."
Mata Al mengikuti kepergian wanita misterius yang sedang bersamanya saat ini. Terkadang dia pendiam, terkadang menangis, terkadang juga bisa bercanda.
'cewek yang aneh.' Gumamnya sendiri.
Al duduk di sebuah teras yang menghadap ke sebuah kolam renang. Disekitar banyak ditanam bunga-bunga yang indah menawan.
Tempat ini memang indah, tempat favorit Al yang tidak boleh disewakan. Awalnya, Al membangun bungalow ini, hanya untuk berlibur menenangkan hati dan fikiran.
Namun seiring berjalannya waktu dan permintaan pasar, dia perbanyak bangunan nya untuk dia sewakan kepada mereka-mereka yang mempunyai kesibukan sama dengan Al.
Keindahan alam, nuansa yang asri dan menyejukkan, serta pelayanan yang memuaskan, menjadi pelengkap larisnya peristirahatan di bungalow pribadinya ini.
"Silahkan, pesanan sudah datang." Kata Anita
__ADS_1
menyuguhkan dua cangkir kopi hitam, lengkap dengan cemilan yang tadi sempat dia bawa dari rumah.
"Terimakasih." Jawabnya ramah.
ddrrrrttt ... ddrrrrttt ...
Handphone nya bergetar, nama Bunda yang nampak pada layar depan.
"Assalamu'alaikum Bunda."
Al kembali meletakkan cangkir kopinya, demi menjawab panggilan selulernya.
"Wa'alaikumsalam Al, apa kalian sudah sampai ?" Tanya Bunda yang sejak tadi menunggu kabar Al dan Tata dalam perjalanan.
"Maaf Bund, sampai belum sempat mengabarkan. Alhamdulillah kami baru saja sampai."
"Syukurlah kalau begitu. Apa Dya rewel di jalan."
"Tidak Bunda, Dya tidur terus di jalan. Ini juga sudah lelap dalam mimpi." Jawab Al apa adanya.
"Baiklah kalau begitu, kalian baik-baik ya. Bunda tunggu kabar baik dari kalian." Kata Beliau mengharapkan.
"Insya Allah Bunda."
Hanya itu yang Tata dengar. Bahkan dia tidak tahu apa yang sedang Bunda dan Al bicarakan.
"Bunda bicara apa Mas ?" Tanya Tata penasaran.
"Bunda hanya khawatir, kenapa saya belum kasih kabar."
"Oohh ..."
"Apa kamu mulai terbiasa memanggilku Mas ?" Tanya Al sembari meneguk sedikit demi sedikit secangkir kopinya.
"Ahahah ... bisa saja kamu ini."
"Apa ini termasuk bagian dari kerja juga ?"
"Maksudnya, Mas mengajak saya dan Dya ?"
"Ya."
"Bisa iya, bisa juga tidak."
"Hhehehmm ... Kenapa bisa begitu ?
"Saya bekerja, karena memang ada Nindya di sana dan misi saya memang untuk Nindya. Bisa dikatakan tidak, karena ibarat kata sambil menyelam minum air, sembari bekerja menjaga Nindya juga sekalian nebeng buat refreshing." Jawab Tata panjang kali lebar.
"Cerdas sekali, kalau suatu hari aku mengajakmu sendiri tanpa Nindya ?"
"Hhmmmm ... Mungkin itu bonus Pak." Jawabnya sembari menutup mulutnya sendiri. Sadar ada kesalahan yang dia ucapkan.
"Pasti, suatu sata, akan aku berikan bonus itu untukmu." Kata Al terdengar serius.
"Mas Al, enggak kok. Saya cuma bercanda."
"Tapi saya serius." Jawabnya sembari berdiri meninggalkan teras yang semakin lama semakin dingin.
Tata mengekor kemana Al pergi. Mereka berpindah ke sebuah ruang santai yang dilengkapi dengan LED TV dengan layar yang cukup lebar.
"Mas Al, jangan suka bercanda, saya takut BaPer." Ucapnya semakin lirih.
"Hhhhmmmm ... jadi saya pernah membuat kamu BaPer ?"
__ADS_1
Diam dan membungkam. Satu kesalahan lagi dia ucapkan, membuat peluang bagi Al melihat kelemahan hatinya.
"Kenapa diam ?"
"Sering, bahkan sampai menitikkan air mata." Jawab Tata lirih.
"Apa aku sejahat itu ?"
Kali ini Al menatap pekat dan berbicara lebih serius menghadap ke arah lawan bicaranya.
"Tidak Mas, Mas Al baik, saya banyak merepotkan Mas Al. Itu yang membuat saya menangis." Jawabnya merunduk.
Bukan hanya merunduk, ternyata setetes cairan bening juga ikut mengalir di pipinya.
"Kamu menangis ?"
"Oh, tidak." Jawabnya memaksa untuk tersenyum.
Dia hapus sisa air mata yang masih sempat mengalir di pipinya. Al meraih kedua tangan Anita dan masih dia tahan di genggaman, saat Anita berusaha melepaskan.
"Sebenarnya, aku tidak suka melihatmu menangis." Ucapnya sembari mengusap lembut pipi Tata.
"Mas jangan seperti itu, peran saya di sini hanya sebagai seorang pengasuh." Ucapnya merendah, sembari menghindar.
"Apa kamu tidak mau jika aku memintamu menjadi seorang pemeran utama ?"
Entah apa yang yang Al maksud. Hati Tata saat ini tak beraturan. Matanya pun berkaca-kaca mendengar kalimat yang Al utarakan.
"Maksud Mas Al ?"
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, bukan hanya sebagai seorang pengasuh dari putri angkatku, tapi lebih dari itu."
Secara tidak langsung, itu merupakan ungkapan hati seorang pria kepada lawan jenisnya.
'Ya Allah, rencana apa lagi yang Engkau siapkan untukku ? Apa ini sebuah jawaban atas semua doa-doaku ?' Kata hati Tata.
"Apa Mas yakin dengan ucapan Mas ?"
"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi jujur, sudah lama aku ingin mengenalmu lebih dekat." Kata Al terus terang.
"Tapi, saya, saya hanya_"
"Hanya seorang pengasuh." Kata Al mendahului.
"Bukan begitu."
"Hanya orang biasa ?" Tanya Al mencoba menebak.
"Iya, Mas." Jawabnya terbata.
"Kata-kata itu tidak ada pada kamus keluarga kami." Jawab Al singkat.
Tata tidak bisa berkata apa-apa lagi, bibirnya terasa keluh untuk menjawab sebuah pertanyaan yang sangat mudah, namun susah diungkapkan.
Hanya derai air mata yang menggantikan ungkapan isi hatinya.
"Tidak perlu dijawab sekarang, tapi akan menjadi PR untukmu selama jawaban itu belum aku terima." Kata Al yang melihat wajah bingung Tata.
__________________
__________________
__________________
__ADS_1