Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 11. Sinyal Kuat di Masjid Raya


__ADS_3

Sedangkan di bagian sisi lain kota ini, seorang gadis sedang duduk bersandar, memeluk buntalan pada sebuah emperan toko yang sudah tutup.


Hari semakin gelap, sinar mentari perlahan mulai menyisir belahan bumi bagian barat.


'Sebentar lagi malam, kemana aku harus pergi ?' Keluhnya dalam hati.


Ingin rasanya dia meneteskan air mata. Tapi malu kepada Allah. Zat yang maha membolak-balikkan hati. Tata percaya, suatu hari nanti, akan ada hal baik yang datang kepadanya.


Mungkin, saat ini dia masih harus banyak bersabar. Ini bukanlah sebuah akhir, tapi awal yang panjang.


Kerucuk ... kerucuk ...


Dia pegangi perutnya yang terdengar keroncongan. Cacing - cacing di dalam perutnya seolah protes karena belum sebutir nasipun masuk melalui mulutnya.


'Uuurrgggghhh...perutku lapar sekali.' keluhnya dalam hati.


Dia rogoh saku celananya, masih tersimpan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang kecil hasil dia berjualan.


"Masya Allah, aku lupa kalau aku masih punya simpanan dari Bunda waktu memborong semua jajananku dulu." Gumamnya merasa senang.


Dia berjalan untuk mencari makan. Tidak jauh dari tempatnya berteduh, ada sebuah angkringan.


Tata memesan sebungkus teh hangat dan sebungkus nasi, lengkap dengan lauknya.


"Berapa Bu ?"


"Mau tambah apa lagi ?"


"Sudah itu saja Bu."


"Mau tambah gorengan mungkin ?"


"Tidak, terimakasih."


"Semua sembilan ribu saja."


"Ini Bu." Ucapnya sembari memberikan selembar uang pecahan sepuluh ribuan.


"Masih ada kembalian seribu rupiah, mau kerupuk saja mungkin ?" Ucap Ibu penjual angkringan menawarkan.


"Iya, gakpapa Bu."


"Ini Nak."


"Terimakasih Ibu."


"Sama-sama Nak."


Begitulah percakapan Tata dengan seorang ibu penjual angkringan, sebelum akhirnya dia harus pergi mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perut nya.


'Alhamdulillah, aku masih punya cukup uang untuk makan beberapa hari.' Gumamnya bersyukur.


'Tapi, mulai besok, aku harus berusaha mencari pekerjaan dan tempat tinggal. Semoga ada jalan keluar yang baik, agar aku tidak sampai merepotkan orang lain.' Harapannya di dalam hati.


Karena sudah hampir memasuki waktu sholat magrib, Tata memutuskan untuk beristirahat di sekitar masjid. Selain bisa sekalian melaksanakan ibadah, dia juga lebih merasa aman jika terpaksa harus bermalam disana.


Tata meletakkan barang bawaannya di sisi luar bagian sudut masjid Raya. Dia ambil air wudhu sebelum akhirnya mengikuti sholat berjamaah di sana.


***


"Za." Panggil Alfatih yang duduk di belakang kemudi.


"Iya Pak."

__ADS_1


"Kita berhenti sholat magrib dulu di Masjid Raya." Pinta Al.


"Baik Pak."


Reza segera mengarahkan kendaraan nya menuju Masjid Raya. Dan mencari tempat kosong di area parkir.


Petang itu, menjadi awal Anita dan Alfatih beribadah dalam satu atap. Signal kuat masjid Raya menjadi penghubung kedatangan mereka berdua. Namun Allah masih menguji kesabaran mereka, dan belum mempertemukan keduanya.


Hingga sholat jama'ah selesai, Tata yang masih duduk di teras masjid, menghampiri seorang Ibu yang sedang duduk termenung sendiri.


"Ibu, maaf, ibu sendirian ?" Sapa Tata yang melihat si Ibu duduk bersandar dengan lemas.


"Iya Nak, ibu menunggu anak ibu yang gam datang-datang menjemput." Jawabnya dengan suara parau.


"Astagfirullah, rumah ibu dimana ? Biar saya antarkan."


"Ibu lupa jalan pulang." Jawabnya kembali, mulai menitikkan air mata.


'Ya Allah, aku yang merindukan seorang Ibu, ingin sekali bisa merawat dan berbakti kepeda Beliau. Tapi ini, kenapa tega seorang anak meninggalkan ibunya sendiri di tempat asing. Apakah dia lupa atau memang sengaja ?' Rintih Tata dalam hati.


"Ibu sudah makan ?" Tanya Tata yang tidak tega melihatnya begitu lemah.


"Ibu belum makan dari tadi siang, bahkan setetes airpun belum ibu rasakan Nak."


Mendengar jawaban si Ibu, Tata segera memberikan bungkusan yang tadi dia beli untuk makan malamnya.


"Ini Bu, ibu minum dulu tah hangat. Setelah itu ibu makan ya."


Tata mengajak si Ibu untuk duduk di gazebo yang ada di sekitar masjid. Mungkin gazebo itu memang dibangun untuk kaum dhuafa yang kebetulan singgah.


"Terimakasih Nak, semoga Allah membalas semua kebaikan - kebaikanmu." Ucapnya berlinang air mata.


"Aamien."


"Kamu sendiri tidak makan ?"


"Nama kamu siapa Nak ?"


"Saya Anita Bu, biasa dipanggil Tata."


"Iya Nak Tata, saya Bu Ranti." Ucapnya memperkenalkan diri, di sela-sela suapan makan malamnya.


"Rumahmu dimana Nak ?"


"Saya belum dapat tempat tinggal lagi Bu."


Bu Ranti menghentikan suapannya.


"Maksud Nak Tata bagaimana ?"


"Saya diusir dari rumah Almarhum Bapak dan Ibu, oleh Bulek saya sendiri."


"Astagfirullah, kasihan kamu Nak."


Tata tersenyum mendengar komentar Bu Ranti.


"Tidak apa-apa Bu, Allah punya banyak tempat untuk Tata berteduh."


"Masya Allah, betapa mulia hatimu Nak. Obu yakin, suatu saat nanti kamu akan hidup bahagia dan serba berkecukupan."


"Aamien."


Tidak ada keraguan dalam doa seorang Ibu dan itu patut kita amini.

__ADS_1


"Ibu, Tata tinggal ke belakang sebentar ya. Ibu habiskan makanannya." Pamitnya, karena sebenarnya dia juga merasa perutnya lapar.


Tata melihat ada pedagang asongan yang juga singgah di masjid. Dia dekati dan membeli sebuah air mineral, sekedar untuk membasahi tenggorokannya.


Sementara itu, Alfatih yang hendak meninggalkan masjid, kembali membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar.


'Rasanya, aku mengenal tas itu.' Gumamnya dalam hati.


"Pak Al, mau kemana Pak ?" Tanya Reza kaget melihat Bos mudanya tiba-tiba keluar dari dalam mobil yang sudah siap untuk jalan.


"Sebentar Za." Jawabnya tidak jelas.


Dia berjalan menuju dimana Ibu Ranti menikmati makan malamnya.


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam Nak."


"Ibu sendirian ?"


"Tidak Nak, ibu berdua dengan anak yang Allah turunkan untuk menjaga Ibu."


Alfatih memang kurang paham dengan jawaban beliau. Namun dia yakin si ibu ini memerlukan bantuannya.


Dan tas itu, tas milik Anita yang Alfatih kenali waktu dia pakai saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu.


'Apa mungkin, ibu ini bersama gadis itu ?' Tanyanya dalam hati.


"Lalu dimana anak Ibu ?"


"Dia sedang pergi sebentar."


Sebenarnya ada perasaan takut pada Bu Ranti, tapi beliau yakin orang yang ada di hadapannya saat ini, adalah orang baik.


"Ibu, ini ada sedikit rezeki, bisa ibu dan anak ibu gunakan. Dan ini juga ada roti buat ibu."


"Masya Allah, terimakasih banyak Nak. Allah akan membalas semua kebaikan anak kepada kami."


"Amien. Oh ya Bu, ini kartu nama saya, jika anak ibu membutuhkan sesuatu, bisa hubungi saya."


Bu Ranti memegang tangan Al dengan erat.


"Kamu orang baik, suatu saat kamu akan mendapatkan seorang yang baik pula."


Al mendengarkan apa yang Bu Ranti katakan. Seolah terdengar seperti sebuah ramalan.


"Aamien, kalau begitu saya permisi dulu Bu."


"Iya Nak, hati-hati dijalan."


Sepanjang perjalanan Al mengingat - ingat, apa yang Bu Ranti ucapkan tadi.


"Ada apa Pak ?" Tanya Reza yang melihat perubahan mimik pada wajah Bos mudanya.


"Gakpapa Za."


"Kita kemana lagi ini Pak ?"


"Langsung pulang saja."


'Kenapa aku tidak menunggunya sebentar, siapa tahu anak ibu tadi adalah gadis yang aku cari.' Gumamnya dalam hati.


__________________

__ADS_1


__________________


__________________


__ADS_2