
Dua minggu telah berlalu, semenjak kepulangan mereka dari berbulan madu. Mulai saat ini, hari-hari anita dipenuhi warna. Bukan saja mengurus Nindya yang mulai banyak ingin tahu, tapi juga Alfatih yang juga banyak mau.
"Papa berangkat dulu sayang." Pamitnya kepada Nindya yang sudah sibuk dengan mainannya.
"Hati-hati di jalan Papa." Jawabnya sembari membalas ciuman di kening Papa angkatnya.
"Nanti siang, aku mau kamu bawakan makan siang ke kantor." Pinta Al pada Anita.
"Iya Mas, nanti Saya bawakan."
Lidah Al mulai dimanjakan dengan berbagai menu varian masakan yang Tata olah sendiri. Sampai-sampai, Al tidak pernah mau makan di luar jika jam istirahat makan siang tiba.
Dia lebih memilih meluangkan waktunya untuk pulang ke rumah dan makan siang bersama, jika tidak ada hal yang harus dia selesaikan di kantor.
Kalau tidak, seperti saat ini, Al meminta istrinya untuk mengirimkan sesuatu untuk makan siangnya nanti.
"Sayang, wangi sekali, apa yang kamu masak hari ini Nak ?" Tanya Bunda saat melihat Tata sibuk di dapur.
"Tata masak Gurami asam manis kesukaan Mas Al Bunda." Jawabnya, masih sibuk dengan penggorengan di depannya.
"Bukan cuma Al, Bunda juga mau." Kata Bunda meminta.
"Inggih Bunda, ini juga buat bersama-sama."
Percakapan mereka di warnai gelak tawa.
"Hhhhmmmm ... kelihatannya, masakan Watik sudah gak diminati lagi Bunda." Canda Mbak Watik berlagak memelas.
"Enggak lah, sayur asam Mbak Watik tidak ada duanya pokoknya." Balas Tata membesarkan hatinya.
"Tu, benar itu, apa kata Anita, sayur asam dan sambel terasi Mbak Watik tiada duanya." Komentar Bunda menimpali.
"Mana ada begitu, orang saya sendiri juga terbiasa makan masakan Mbak Tata, jadi ketagihan." Jawab Mbak Watik dengan muka sedihnya.
"Aduh, Mbak Watik bikin saya jadi besar kepala nanti." Jawab Tata lagi.
"Coba sini, Mbak Watik yang incip." Pintanya.
Tata berikan sesendok kuah gurame asam manis untuk dicicipi.
"Hhhhmmmm ... mantap !" Komentar Mbak Watik sembari mengacungkan jempolnya.
Sengaja dia perkeras seruputannya, agar lebih nikmat saat dicicipi katanya.
"Ada yang kurang Mbak ?" Tanya Tata memastikan.
"Pas, semua sudah pas. Cuma kurang banyak saja." Jawabnya bercanda.
"Boleh ini, mau langsung buat makan juga boleh." Kata Tata mempersilahkan.
Bukan hanya menu gurame asam manis yang dia masak sendiri, tapi semua makanan pendampingnya juga Tata siapkan sendiri.
"Dya mau ikut Mama ke kantor Papa ?" Tanya Tata sebelum berangkat menuju kantor Al.
"Eemmmm ... ikut enggak ya ?" Ucapnya menggemaskan.
Tangan kirinya di lipat di depan dada, sedangkan telunjuk tangan kanannya dia ketuk-ketukkan di jidatnya sendiri. Seolah berfikir apa yang akan dia kerjakan selanjutnya.
"Enggak ah ... Dya mau ikut Eyang saja." Ucapnya memberi jawaban.
"Beneran, Dya gak ikut Mama ?" Tanya Tata kembali memastikan.
"Enggak Mama, Dya mau ikut Eyang ke rumah Mbak Vania." Ucapnya memperjelas bilangan yang ada huruf R nya. Bermaksud ingin menunjukkan kalau Dya sudah bisa berkata R.
"Mbak Vania siapa ?" Tanya Tata ingin tahu.
__ADS_1
"Itu lo ... cucunya Bu Malta, teman Bunda waktu kami masih sama-sama aktif di lapangan dulu." Kata Bunda membantu Nindya menjawab pertanyaan Mama Tata.
"Oh iya, Mama ingat. Kalau begitu, Dya gak boleh nakal sama Eyang ya ?" Pesan Mama Tata.
"Iya Mama." Jawabnya mwmbalas ciuman Mama Tata.
"Bunda, Tata ke kantor Mas Al dulu ya ?" Pamitnya.
"Iya Nduk, mau bawa sendiri ?"
"Iya Bunda."
"Kalau begitu, Pak Slamet biar antar Bunda sama Nindya."
"Inggih Bun, nanti biar Tata bilang Pak Slamet di depan."
"Iya Nduk, kamu hati-hati di jalan ya."
"Inggih Bunda, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Dada Mama."
"Da sayang." Lambainya sebelum akhirnya keluar menuju pintu gerbang rumahnya.
Din ... din ...
"Siap, hati-hati Mbak Ata." Sapa Pak Slamet.
"Bapak nanti minta tolong antarkan Bunda sama Dya ke rumah teman Bunda ya ?"
"Siap Mbak, mau sekarang atau nanti ?"
"Ini Bunda sudah bersiap-siap."
Tata yang dulu masih seperti Tata yang sekarang. Ramah, murah senyum dan penyayang. Meskipun statusnya sekarang telah berubah menjadi seorang Nyonya Alfatih, tapi dia tidak pernah menyombongkan diri dengan harta suaminya.
Sejak lulus Sekolah Dasar, Tata memang tidak mengenal bangku sekolah. Namun kecerdasannya melebihi mereka yang lama bergelut dengan dunia sekolah.
Berkat asuhan Bunda Arum, Tata bisa mengimbangi suaminya dalam membawa diri.
Bagaimana bertutur kata yang baik, berpakaian yang pantas dan bersikap yang sesuai dengan keadaan. Dia juga cepat menangkap sesuatu yang Al ataupun Bunda ajarkan.
Seperti saat ini misalnya, Tata sudah berani membawa kendaraan sendiri setelah beberapa hari yang lalu sempat Al ajarkan.
"Selamat siang Bu Tata." Sapa salah seorang karyawati Al di kantor.
"Siang Mbak, Pak Al ada ?"
"Ada Bu, Beliau sedang sedang ada tamu di ruang kerjanya."
"Oh, baiklah kalau begitu, saya tunggu di sini saja." Ucapnya sembari menempatkan pantatnya di sofa ruang tunggu.
Demi menjaga kelancaran suaminya dalam bekerja, Tata rela menunggu.
"Hei, ada Nyonya Al rupanya."
Tata meletakkan remote tv, yang belum sempat dia nyalakan. Pandangan matanya beralih kepada suara yang menyapanya.
"Masih ingat saya ?" Tanya wanita itu mengulurkan tangan.
"Ya, apa kabar Mbak Bella ?" Kata Tata balik menyapa.
"Baik, tapi kenapa kamu tidak langsung menuju ruang kerja Al ? Bukannya kamu Nyonya di kantor ini ? Atau mungkin hanya statusnya saja ?" Ucap Bella memancing emosi.
__ADS_1
'Apa maksud bicara perempuan ini ? Apa tadi dia tamu yang dimaksud resepsionis ?' Pikir Tata dalam hati.
"Oh, tapi sudahlah, itu tidak penting bagi saya. Saya sudah selesai perlu dengan Al, silahkan kalau anda ingin bertemu." Ucapnya lagi, merasa satu point menang diatasnya.
"Saya permisi dulu, sampai ketemu dilain waktu Nyonya Al."
"Silahkan." Jawab Tata mempersilahkan dia pergi.
Bbrrruuuuukkkk ...
Tapi, belum ada beberapa langkah dia keluar, sudah membuat sebuah kegaduhan.
"Haduh ! Kamu tidak punya mata ya !" Teriaknya setelah merasa tubuhnya terantuk sesuatu.
"Bukan saya yang tidak punya mata, tapi Mbak sendiri yang jalannya gak pake mata." Jawab seorang laki-laki yang dia tabrak.
Tata hanya tersenyum melihat adegan itu. Reza, asisten suaminya yang kini sedang dalam masalah bersama perempuan bernama Bella itu.
Tak mau berlama-lama lagi, dia memilih meninggalkan perdebatan mantan rivalnya dengan asisten suaminya itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk." Jawab suara khas barito dari dalam.
"Selamat siang Pak." Sapa Tata saat suaminya masih sibuk dengan laptop di meja kerjanya.
"Hhhhmmmm." Gumamnya masih fokus dengan layar monitornya.
"Saya mengirimkan makan siang untuk Bapak."
Kalimat itu menyadarkan Al, suara merdu barusan milik istrinya. Bukan sekedar seorang istri yang dia butuhkan saat di ranjang, tapi lebih dari segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
Wanita itu juga yang bisa mengubah peringai kerasnya menjadi lembut dan lebih perhatian kepada semua orang.
Dia pandangi pemilik suara barusan, dia pastikan kali ini bukan perempuan yang salah.
"Saya letakkan di sini Pak." Kata Tata, saat tidak ada reaksi sama sekali dari suaminya.
"Kalau begitu, saya pamit dulu." Ucap Tata, meskipun ada keraguan untuk kembali pulang.
Al menutup laptopnya, melebarkan langkahnya dan menggapai tubuh istrinya dari belakang saat Tata sudah berhasil berbalik arah hampir menggapai handle pintu.
"Kenapa lama sekali, sejak tadi aku menunggumu." Bisik Al lirih sembari mengigit lembut leher istrinya.
"Mas, apaan sih."
"Kamu yang apaan, ngomong gak jelas, bikin bete." Kata Al yang sebenarnya tahu kalau istrinya sedang dilanda rasa cemburu.
Keributan di luar membuat Al paham situasi barusan, salah satu efek dari rasa cemburu yang Tata tunjukkan padanya.
"Tidak mau menemani saya makan ?" Tanya Al sedikit memaksa.
"Aku pulang saja." Jawab Tata datar tanpa ekspresi.
"Enggak, aku tidak mau makan kalau gak disuapin." Pinta Al manja.
Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi apapun itu dia tidak boleh lemah.
'Siapapun dia, aku lebih berhak atas suamiku.' Kata hati Tata.
Akhirnya dia harus tetap tinggal dan menemani Al makan siang dengan suapan demi suapan dari tangannya.
________________
________________
__ADS_1
________________