Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 13. Sebuah Awal


__ADS_3

Tiga tahun kemudian...


Kuncup bunga perlahan mulai mekar. Menunjukkan pada dunia, betapa indahnya dia.


Anita, gadis lugu yang selalu tampil apa adanya itu, sekarang lebih modis dan selalu memperhatikan penampilannya.


"Alhamdulillah, semakin lama tabunganku semakin bertambah." Ucap syukurnya saat menerima buku tabungan dari kasir usai menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya bekerja menjadi seorang Office Girl.


Sudah hampir dua tahun belakangan Tata bekerja sebagai office girl di anak perusahaan milik 'Kamandanu Group'.


"Mbak Ata, tumben masih pagi sudah pulang ?" Sapa Rini, salah seorang penghuni rumah singgah.


"Iya, tadi Mbak Wulan memintaku untuk pulang lebih awal." Jawabnya.


"Ada acara apa ?" Tanya Rini kepo.


Tata hanya mengangkat bahunya, karena dia sendiri tidak tahu, apa hal yang membuat Mbak Wulan memintanya untuk pulang lebih awal.


"Ya sudah, sana cepat temui Mbak Wulan. Takutnya penting lagi."


"Oke." Jawab Tata sembari mencubit gemas pipi Si centil Rini.


"Auu... Mbak Ata !" Teriaknya, entah geli atau kesakitan yang dia rasakan.


Anita pergi ke kamarnya. Sebelum mencari dimana keberadaan Mbak Wulan, dia berganti pakaian dan menaruh tasnya di kamar.


"Tata, kamu sudah pulang Nak ?" Kali ini Ranti yang bertanya.


Beliau masih tinggal di rumah singgah. Karena sampai detik ini, belum ada seorang anakpun yang mencari dan menjemputnya pulang.


"Iya Bu, Mbak Wulan memintaku untuk pulang lebih awal." Jawabnya.


"Oh iya, Ibu lupa. Tadi Bunda pemilik rumah singgah datang ke sini."


"Bunda ? Ada apa Bu ?"


"Ibu juga gak tahu, kelihatannya mereka berbicara serius di kantor."


Mendengar penjelasan Bu Ranti, Tata bergegas menuju kantor untuk mengetahui maksud kedatangan Bunda ke rumah singgah, dan apa hubungannya dengan permintaan Mbak Wulan kepadanya.


Tok .. tok .. tok ..


"Iya, masuk." Terdengar suara Ibu Nilam dari dalam.


"Assalamu'alaikum Ibu."


"Wa'alaikumsalam, Tata. Masuk Nak." Jawab Bu Nilam lembut.


"Maaf Bu Nilam, Saya mencari Mbak Wulan. Mbak wulannya ada ?" Tanya Tata, matanya melirik sekeliling ruangan. Tapi yang dia cari tidak ada di tempat.


"Mbak Wulan sedang keluar berbelanja."


"Maaf Ibu, tadi Mbak Wulan meminta Tata untuk izin lebih awal, katanya ada hal penting. Ada apa ya ?" Tanya Tata penasaran.


Karena yang bersangkutan sedang tidak ada di ruang kerja, maka Tata menanyakan hal tersebut kepada Ibu Nilam. Siapa tahu Beliau juga lebih paham akan hal itu.


"Duduk dulu sini, ada yang mau Ibu sampaikan." Pinta Beliau.

__ADS_1


Dalam hati sebenarnya Tata sangat deg-degan. Takut jika tanpa sengaja dia telah membuat kesalahan.


"Tadi pagi, Bunda datang ke rumah singgah." Kata Bu Nilam mengawali cerita. Tata diam dan mendengarkan dengan seksama.


"Malam ini, Bunda akan mengadakan tasyakuran hari ulang tahun cucunya yang ke tiga tahun." Imbuhnya.


"Dan kita semua di undang." Kata Beliau mengakhiri cerita.


"Lalu, kenapa saya diminta pulang lebih awal ? Kan acaranya masih nanti malam."


"Iya, ada satu permintaan Bunda. Sebagai pelengkap menu makanan nanti malam, Bunda ingin kamu membuatkan kue puthu kesukaan cucunya yang ulang tahun. Makanya Mbak Wulan belanja keperluan pembuatan kue puthu." Terang Bu Nilam.


"Oh ... " Komentar Tata sembari mengangguk - anggukkan kepala.


"Kok O saja ?"


"Hehehe... Maaf Bu Nilam, saya heran saja. Masak orang kaya sukanya kue puthu." Ucapnya cengengesan.


"Kamu ini, memangnya tidak boleh ?"


"Ya aneh saja, biasanya kan menu makanan yang ke barat - baratan gitu."


"Bunda dan keluarganya memang orang kaya. Tapi Beliau tidak sombong, bahkan tidak pernah malu jika harus makan bersama satu meja dengan kita - kita."


Lagi - lagi Tata hanya mengangguk, mendengar cerita Bu Nilam.


"Tata, kita ke dapur yuk. Biar Mbak bantu." Kata Mbak Wulan, yang tiba-tiba nyelonong saja ke dalam ruangan.


Dengan cekatan, Tata membuat adonan kue puthu ayu. Bak seorang chef, dalam waktu yang tak lama, dia sudah menyelesaikan beberapa paket kue puthu ayu.


"Bunda."


Tata mendekat dan menjabat tangan Beliau.


"Bunda mengundang kalian semua untuk datang ke syukuran ulang tahun ke dua cucu Bunda." Pinta Bunda Arum.


"Insha Allah Bunda."


Sore itu Bunda Arum datang untuk mengundang Ibu pengurus rumah singgah beserta anak-anaknya dan mengambil pesanan kue puthu ayu buatan Anita.


Tepatnya habis magrib, Sebuah mobil medium bus berkapasitas sekitar tiga puluh orang, datang menjemput keluarga besar penghuni rumah singgah.


Usai menjalankan ibadah sholat Maghrib, semua sudah siap berangkat. Termasuk juga dengan Tata.


Ddrrrrttt... drrrttt...


Anita mengurungkan niatnya untuk pergi, ketika handphone di sakunya bergetar.


"Iya Buk, baik. Sebentar lagi saya sampai." Ucapnya saat mengakhiri pembicaraan melalui sambungan selulernya.


"Ada apa Ta ?" Tanya Mbak Wulan, yang melihatku mengurungkan niat untuk memasuki medium bus yang sebentar lagi berangkat menuju kediaman Bunda Arum.


"Maaf Mbak, kelihatannya saya tidak bisa ikut ke tempat Bunda." Jawabnya masih setengah sibuk dengan handphonenya.


"Kenapa ?" Lanjut Mbak Wulan ingin tahu.


"Barusan Bu Nia mengubungi saya, untuk ikut lembur malam ini."

__ADS_1


'Lembur ? Bukannya Tata bekerja sebagai office girl ya, lalu lembur apa yang dia kerjakan ?' Pikirnya dalam hati.


"Maaf Ta, memangnya office girl juga ada tugas lembur ya ?"


"Iya, baru kali ini juga sih Mbak. Karena kebetulan tadi siang saya izin, jadi Bu Nia meminta saya dan beberapa teman, untuk membantu menata dan membersihkan ruang meeting di kantor." Terangnya panjang lebar.


"Memangnya mau ada meeting malam ini ?"


"Kurang tahu Mbak, tapi kata Dinda, besok pagi - pagi betul akan ada meeting dengan klien dari luar negeri." Terangnya lagi.


"Wulan, Tata, ayo segera masuk. Nanti keburu telat lo." Panggil Bu Nilam.


"Ya sudah kalau begitu, Mbak pergi dulu ya. Kamu hati-hati di jalan." Pamit Wulan.


"Lo...Tata gak ikut ?" Tanya Bu Nilam saat Wulan menutup pintu mobilnya sebelum Tata masuk ke dalam.


"Tata ada tugas malam di tempat dia kerja Bunda." Kata Wulan menjelaskan.


Tata melambaikan tangan, dalam hati ingin rasanya ikut merayakan acara tasyakuran ultah cucunya Bunda Arum.


Tapi apalah day, dia hanya seorang karyawan paling rendah jabatannya di kantor. Tanpa buang waktu lagi, Tata segera bergegas menuju tempat kerja.


"Malam Bu Nia."


"Malam Ta, akhirnya kamu datang juga. Aku benar-benar butuh bantuan kamu." Ucapnya tergesa-gesa.


"Iya Bu, sebentar saya ambil alat bersih - bersih saya dulu." Jawab Tata berbalik akan meninggalkan lawan berbicaranya.


"Tunggu, sebentar, bukan itu maksud saya." Nia kembali mencegah Tata pergi.


"Lalu apa Bu ?"


"Gini Ta, saya bingung. Besok setelah meeting dengan klien, ada jamuan makan siang. Pak Bos minta ada jajan pasar komplit di suguhkan. Karena tema kita kali ini bukan cuma wisata tapi juga kuliner Indonesia." Terangnya.


Tata mengernyitkan dahinya. Masih bigung, kemana arah pembicaraan Nia kali ini.


"Jadi, apa yang bisa saya bantu Bu Nia ?"


"Hehehe... pertanyaan itu yang dari tadi saya tunggu."


"Hhuufff..." Komentar Tata mendengus.


"Saya pernah kapan hari makan kue buatan kamu, rasanya enak sekali. Jadi, malam ini sudah aku siapkan bahan-bahannya untuk kamu buat berbagai macam kue, so... besok pagi fokus bikin semacam parcel secantik mungkin. Bisa !"


Penekanan kalimat terakhir, terdengar seperti sebuah paksaan. Tapi tidak apa, karena Tata sudah ahli di bidangnya.


"Jadi, saya diminta datang bukan buat bersih-bersih ?"


"Bukan, semua sudah beres. Hehehehe..."


Malam itu juga Tata kembali ke rumah singgah, dia persiapkan segala sesuatu untuk membuat berbagai macam jajanan tradisional.


_________________


_________________


_________________

__ADS_1


__ADS_2