
Seperti gadis remaja yang beru pertama kali dimabuk asmara, Tata merasa hidupnya bagai di taman impian yang penuh bunga warna-warni dengan aroma semerbak mewangi.
Dia hirup dalam-dalam sejuknya udara pagi ini, hingga merasuk ke dalam relung hatinya. Tetesan embun pagi, kicauan burung-burung seakan ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Tata rasakan.
"Mama, ayo belenang." Ajak Nindya yang sedang main air bersama Al.
"Dingin sayang, jangan lama-lama main airnya." Jawabnya menolak.
"Sini Mama, ailnya enggak dingin." Ucapnya bersikeras.
Demi memenuhi kebahagiaan gadis kecil yang dia sayangi, Tata rela membiarkan kakinya telanjang terkena percikan air kolam.
Dia duduk di tepi kolam renang, memperhatikan Nindya yang sudah mulai mahir berenang. Sedangkan Al, dimana dia ?
'Perasaan tadi ada di sini ?' tanya Tata dalam hati.
Meskipun masih ada perasaan jaim di dalam hatinya, namun diam-diam dia memperhatikan.
Siapa yang tidak akan terpikat, seorang pria tampan dan mapan seperti Al. Postur tubuhnya yang tegap dengan lekuk dada dan perut sixpack, menambah nilai plus pada dirinya.
Aaacccchhhhh ...
Teriakan Tata terdengar menggema saat Al mendorong tubuhnya dari belakang berbarengan dengan terceburnya dirinya sendiri ke kolam.
Bbyyyyuuuurrr ...
"Mas Al !" Teriaknya gelagapan.
Kakinya mencoba menggayuh sampai ke dasar kolam, namun tidak sampai.
Kedua tangan Tata melambai-lambai seakan meminta sebuah pertolongan.
"Mas Al." Lagi-lagi dia sebut nama Alfatih, namun kali ini lebih lirih bahkan hampir tak terdengar.
Al yang masih asyik melanjutkan renang, berbalik arah dan baru dia tahu keadaan Tata pada saat itu.
"Tata !" Teriaknya segera memberikan pertolongan pertama.
"Tata, bangun Tata." Panggil Al mencoba memompa dadanya dengan menekankan kedua tangannya didada.
"Papa, Mama kenapa ?" Tanya Nindya ikutan panik.
"Gakpapa Nak, Dya duduk dulu di situ ya." Pinta Al agar tetap tenang.
'Dimana aku, kenapa dingin sekali. Sepi, tidak ada seorangpun yang ada di sini. Kemana aku harus melangkahkan kakiku ?' Keluh Tata dalam hati.
"Mama !" Isak tangis Nindya mulai terdengar berat.
Berbagai cara dia lakukan, agar Tata siuman. Hingga cara terakhir Al terapkan.
Uugghhh ... uugghhh ...
Akhirnya, cairan bening bisa dia muntahkan setelah Al memberinya nafas buatan.
"Kepalaku." Keluhnya lirih.
"Tata, kamu sudah sadar ?" Tanya Al setelah terdengar dia mengeluh sakit.
Al membawanya masuk ke dalam, dia keringkan tubuh mungil dalam dekapannya dengan sebuah handuk lebar.
__ADS_1
"Sayang, boleh Papa minta tolong ambilkan minyak kayu putih itu ?" Pintanya kepada Nindya.
"Ini Papa."
"Terimakasih sayang."
"Boleh Dya balurkan ini ke tubuh Mama ?"
Nindya mengangguk, dia balur tubuh anita dengan minyak kayu putih, dengan maksud untuk menghangatkan. Dia ratakan ke seluruh tubuh seperti saat Tata memberikan minyak telon pada tubuhnya sehabis mandi.
"Tata, sadar sayang." Ucapnya lirih.
Perlahan Tata mulai membuka matanya. Dia merasakan punggung, leher, perut bahkan dadanya terasa hangat.
"Mas Al, apa yang_" kalimatnya terputus, saat melihat Al berada di sisihnya dengan minyak kayu putih di tangannya.
"Hei, jangan berprasangka buruk dulu." Sanggah Al.
Tata terduduk saat dia dapati kancing kemeja bagian atasnya terbuka.
"Bukan aku yang_"
"Mas mencari kesempatan dalam kesempitan." Protesnya lirih.
Pandangan matanya tajam, seperti seekor burung yang hendak memangsa buruannya.
"Mama !" Panggil Nindya girang.
"Ahilnya Mama bangun, Dya takut Mama gak bangun." Rengeknya menahan tangis.
"Mama kenapa ?
Dya kasih minyaknya kebanyakan ya ?
'Jadi, Nindya yang memberikan minyak kayu putih di tubuhku.' Pikirnya sudah salah sangka.
Dia lihat Al mengangkat tangannya dan berdiri dari tempat dia bersimpuh tadi.
"Keringkan tubuhmu, dan ganti bajumu juga." Kata Al meninggalkan mereka berdua.
"Dya sudah ganti pakaiannya ?"
"Sudah Ma, Papa yang bantu tadi." Jawabnya polos.
"Apa tadi juga, Dya yang basuh Mama pakai minyak kayu putih ?" Tanya Tata masih penasaran.
"Iya Mama, Papa yang kasih petunjuk Dya buat bantu Mama agal Mama cepat bangun." Jawabnya, ada rasa takut kehilangan pada nada kalimat yang dia utarakan.
"Terimakasih sayang, maafkan Mama ya."
Nindya mengangguk dalam dekapannya.
"Jangan tidul-tidul lama lagi ya Ma, Dya takut." Ucapnya memohon.
"Iya sayang, Mama ganti baju dulu ya. Dya tunggu di luar sama Papa." Pintanya.
"Iya Mama, jangan lama-lama ya Ma."
Tata tersenyum penuh arti. Ada rasa malu pada hatinya yang telah sempat berburuk sangka terhadap Al tadi.
__ADS_1
'Ternyata Mas Al tidak seburuk yang aku kira.' bisiknya dalam hati.
Tata keluar menemui Al dan Nindya yang sudah menunggunya, usia berganti pakaian.
"Mama, kita mamam dulu yuk. Papa sudah buatkan minuman hangat untuk Mama." Kata Nindya perhatian.
Segelas susu jahe, memang cocok untuk menghangatkan tubuhnya yang tadi sempat menggigil kedinginan.
Tak hanya itu, perutnya pun mulai merasa keroncongan. Al yang sudah menyediakan semuanya. Mungkin dia pesankan saat Tata masih berganti pakaian tadi.
"Makan yang banyak, biar tidak kebawa angin." Bisik Al bercanda.
Dya sudah lahap dengan menu sarapan di hadapannya.
"Maafkan saya Mas." Ucap Tata.
"Maaf buat apa ? Seharusnya saya yang minta maaf." Jawab Al.
"Tadi, saya sudah berburuk sangka sama Mas Al." Balasnya.
"Bukannya memang saya buruk ya ?"
Nada tanya Al terdengar marah.
"Mas Al marah sama saya ?"
"Ya, aku memang marah. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu gak bisa renang ?"
"Saya bukan gak bisa renang Mas, tapi memang saya takut dengan air banyak." Jawabnya polos seperti Nindya.
"Itulah kenapa aku ingin mengenalmu lebih dekat, agar aku tahu apa kelebihan dan kekuranganmu." Kata Al tulus.
"Apa kekurangan seseorang perlu untuk dipublikasikan, meskipun itu terhadap pasangan kita sendiri ?"
"Kekurangan seseorang, terutama pasangan kita, bukan untuk dipublikasikan, tapi untuk dilengkapi. Agar aku tidak gegabah dalam bertindak, sehingga tidak menyakiti pasanganku." Bisiknya lirih.
Lirih, sampai-sampai Tata merasakan hembusan nafas Al yang begitu lembut, penuh perasaan dan perhatian yang tulus.
Tata membuang wajahnya, menyembunyikan malu.
"Mau kemana saja kamu sembunyikan wajah merahmu, aku pasti bisa menemukan nya." Lagi-lagi Al membuat Tata semakin salah tingkah.
"Satu lagi, aku masih menunggu jawaban dari PR yang aku berikan semalam." Ucapnya mengingatkan.
"Makan Mas, jangan kebanyakan ngomong." Jawabnya kesal.
"Papa, kata Eyang, Mamam gak boleh sambil ngomong." Tegur Nindya.
"Iya sayang, maaf ya." Jawab Al sembari mengusap lembut rambutnya.
'Ya Allah, betapa bahagianya aku, jika Engkau karuniakan keluarga bahagia ini kepadaku.' Mohonnya dalam hati.
Menjadi idaman setiap perempuan, yang mendambakan suami yang sayang dan pengertian, seorang putri yang cantik, pintar dan menggemaskan.
"Makan Mama, jangan melamun." Panggil Nindya mengagetkan.
Tata tersenyum penuh harapan besar yang belum bisa dia utarakan.
________________
__ADS_1
________________
________________