
Semakin hari kandungan Tata terlihat semakin membesar. Trisemester pertama telah dia lewati. Masa-masa rawan sudah dia lalui.
Kini dia sudah terbiasa dengan perutnya yang mulai mengganjal.
"Pagi sayang, sudah rapi anak Papa, cantik lagi." Sapa Al kepada Nindya di meja makan.
"Iya dong Pa, ini kan hari pertama Dya masuk sekolah." Jawabnya ceria.
Sudah hampir dua tahun, Tata mengasuh Nindya. Sejak dia belum menjadi istri pengusaha muda yang tampan dan penuh pesona ini.
"Dya mau Papa antar ?" Tanya Al disela-sela sarapan mereka.
"Papa enggak kerja ?" Tanya Nindya kembali yang mulai lancar dengan huruf R nya.
"Papa kerja dong. Tapi Papa akan menyempatkan waktu untuk mengantar Dya ke sekolah." Jawab Al.
"Emmmm ... Tapi Dya boleh ditungguin Mama gak Pa ?"
"Mama_"
"Boleh sayang, nanti Mama tunggu ya." Jawab Tata memotong.
"Sayang, kamu yakin mau menunggu Nindya di sekolah ?" Tanya Al beralih kepada istrinya.
"Iya Mas, memangnya kenapa ?"
"Takutnya nanti kamu capek kebanyakan duduk atau apalah." Kata Al khawatir.
"Gakpapa Mas, aku kan bisa jalan-jalan di sekitar sana, ngobrol sama ibu-ibu yang sama-sama menunggu."
"Yakin ?" Tanya Al memastikan.
"Iyalah Mas, lagipula harus dibiasakan, biar kuat." Jawab Tata meyakinkan.
"Iya Al, lebih baik begitu. Tata juga pasti jenuh di rumah terus. Biarkan dia berinteraksi di luar." Kata Bunda menyela pembicaraan mereka.
"Iya Bunda." Jawab Al setuju.
"Tapi ingat, jaga diri. Aku tidak mau kamu kecapean nanti." Pinta Al lagi.
"Iya Mas, tenang saja."
"Horeee ... Aku diantar Mama sama Papa !" Komentar Nindya setelah melihat perdebatan yang barusan terjadi.
"Ayo lekas, habiskan sarapanmu. Kita segera berangkat." Pinta Al.
"Iya Papa."
Hari pertama Nindya masuk sekolah. Sudah sejak usia tiga tahun Nindya minta untuk sekolah. Tapi Bunda Arum hanya menitipkan di paud terdekat dengan rumah.
"Biar di dekat sini saja Al, biar Bunda lebih gampang memantau. Lagipula kalau mulai dini kamu masukkan Dya di sekolah yang sama, takutnya malah nanti Dya bosen." Kata Beliau waktu Al berniat akan memasukkan Nindya ke penitipan yang lebih elit.
Selama dalam perjalanan, Nindya yang tidak sabar ingin segera sampai di sekolah, senantiasa memeluk tas ranselnya di pangkuan.
"Mama."
"Kenapa sayang."
"Nanti teman-teman Dya baik gak ya Ma ?" Ada nada pesimis di dalam kalimat yang dia lontarkan kepada Mamanya.
"Baik dong, asalkan Nindya baik kepada teman-teman, pasti teman-teman Nindya juga baik-baik." Jawab Tata bijak.
Al hanya mendengarkan percakapan dua bidadari hatinya. Meskipun orang bilang, kalau istrinya hanya lulusan sekolah dasar, tapi dia sangat cerdas dan santun dalam bertindak.
Bukan hanya itu, Tata juga mengajarkan hal-hal yang positif kepada putri kecilnya.
"Kita sampai sayang." Kata Al.
"Eehhhmmmm ... "
"Kenapa, ayo." Ajak Tata yang melihat Nindya mulai ragu.
"Dya malu."
"Kan ada Mama, anak pintar harus berani." Supportnya lagi.
__ADS_1
"Ayo."
"Berdoa dulu, biar sekolahnya lancar." Ucapnya, sebelum mereka turun dari mobil.
"Ya Allah, semoga teman-teman Dya baik-baik Ya Allah, Aamiin." Doanya pagi ini.
"Aamiin." Kata Al dan Tata bersamaan.
'Ternyata, Dya ragu karena takut punya teman yang tidak baik.' Gumam Tata dalam hati.
"Sayang, Aku ke kantor dulu ya. Kalau peelu sesuatu, kamu hubungi aku." Ucap Al sebelum meninggalkan ibu dan anak ini di sekolah.
"Iya Mas, nanti waktunya pulang aku kabari."
"Kalau aku gak bisa jemput, biar Reza yang jalan."
Tata mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya.
"Dya, salim sayang Papa dulu sayang." Pinta Mama Tata.
"Emmuach ... Dya belajar dulu ya Pa."
"Baik-baik di sekolah ya sayang." Balas Al dengan kecupan di keningnya.
"Da Papa."
"Dada."
Tangan kanan Tata menggandeng tangan mungil Nindya. Sedangkan tangan kirinya, menopang perutnya yang terlihat membuncit.
Al memperhatikan keduanya, memastikan kalau mereka baik-baik saja, sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat ini.
Nindya memang anak yang ramah dan cerdas. Baru pertama mengenal, dia sudah bisa beradaptasi dengan teman dan lingkungan sekolahnya.
Bukan hanya Dya, tapi hampir semua murid-murid di taman kanak-kanak ini ditunggu orang tuanya. Ada ruang tunggu khusus yang disediakan untuk wali murid yang menunggu.
"Hallo, menunggu juga ?" Sapa salah seorang wali murid.
"Iya." Jawab Tata singkat.
"Saya Anita."
"Salam kenal Mbak Anita, putri apa putra yang sedang ditunggu ?" Tanya perempuan bernama Hanifa.
"Putri saya, Nindya."
"Ini sedang hamil ya, anak ke dua ?" Tanya dia lagi, masih mendominasi percakapan mereka.
"Iya."
"Sudah berapa bulan ?"
"Baru memasuki bulan ke lima."
"Alhamdulillah, semoga sehat ya."
"Aamiin."
Banyak yang berada di tempat ini. Tapi entah kenapa, perempuan yang bernama Hanifa ini lebih tertarik untuk berbincang dengan Anita.
Wajahnya cantik, putih berseri. Usianya sekitar dua atau tiga tahun lebih tua dari Anita.
'Perempuan ini, rasanya tak asing bagiku. Tapi siapa dia, kenapa mirip sekali dengan Almarhumah.' Gumam Hanifa yang masih memperhatikan Tata dengan seksama.
"Ada apa Mbak ?" Tanya Tata yang merasa risih diperhatikan seperti itu.
"Oh, maaf, tidak apa-apa. Saya hanya ingat kepada seseorang." Jawabnya masih menyimpan rahasia.
"Oh, iya. Tidak apa-apa." Jawab Tata biasa saja.
Dia tidak menyadari, bahwa kehadirannya di dalam keluarga Kamandanu juga karena wajahnya mirip dengan seseorang.
Begitupun dengan perempuan di sebelahnya, yang merasa tertarik untuk berteman, karena dia mirip dengan seseorang.
"Apa kita boleh bertukar nomor WhatsApp ?" Kata Hanifa meminta.
__ADS_1
"Oh, iya, tentu saja." Jawab Anita dan segera memberikan apa yang Hanifa minta.
"Terimakasih, saya save ya, semoga kita bisa berteman baik." Ucapnya lagi.
"Aamiin, oh ya, putrinya namanya siapa ?" Tanya Tata ganti, mengalihkan perhatian hanifa yang sejak tadi melihatnya tanpa kedip.
"Oh, putri saya Regina."
"Regina, semoga putri-putri kita juga berteman dengan baik."
Doa seorang ibu yang berharap, putrinya mendapatkan teman yang baik-baik, seperti yang Nindya minta.
Banyak sekali yang mereka obrolkan, hingga jam sekolah hampir usai.
"Mbak Anita, bawa kendaraan sendiri atau diantar ?" Tanya Hanifa sebelum anak-anak mereka keluar dari kelasnya.
"Tadi kami diantar sama suami."
"Kalau begitu, pulangnya bareng saya saja. Kita kan satu arah." Ucapnya menawarkan tumpangan.
"Terimakasih, tapi asisten suami saya sudah berjalan menuju arah sini." Jawab anita apa adanya.
Memang, barusan sebelum terdengar bunyi bel pulang, Tata sudah berkomunikasi dengan Al bahwa waktu belajar di sekolah sudah hampir usai.
Dikarenakan masih ada tamu di kantor, Al meminta Reza untuk menjemput kedua bidadarinya.
"Mama." Panggil Nindya yang lebih dulu keluar dari kelasnya.
"Hei, anak Mama, kok sudah keluar ?"
"Sudah dong, tadi Dya duduknya anteng, jadi boleh keluar lebih dulu." Ucapnya bahagia.
"Hallo Nindya."
"Hai Regina."
Sapa mereka saling melambaikan tangan.
"Jadi kalian sudah saling kenal ?" Tanya Tata yang tadi sempat berharap putrinya bisa punya banyak teman.
"Iya dong Ma, Regina kan teman satu kelompok dengan Dya." Jawab Nindya senang.
"Wah, syukurlah, putri-putri kita saling berteman ya Mbak." Komentar Hanifa.
"Iya, Alhamdulillah."
"Tadinya saya takut, kalau sampai Regina tidak punya teman. Karena dia kan baru pindah ke kota ini." Cerita Hanifa sambil berjalan menuju tempat dimana mereka memarkirkan kendaraannya.
"Oh, begitu, tadinya tinggal dimana ?"
Din ... din ...
Belum sempat Hanifa menjawab pertanyaan Tata, Reza sudah datang menghampiri.
"Oh maaf, jemputan saya sudah datang, saya pamit dulu ya."
"Iya Mbak, hati-hati di jalan."
"Iya, kamu juga ya. Sampai ketemu lagi besok." Ucapnya.
"Da Regina." Lambai Nindya kepada temannya.
"Da Nindya."
Anita segera masuk dan keluar dari area parkir sekolah lebih dulu.
"Pak Al meminta untuk ke kantor terlebih dahulu Bu Tata." Kata Reza sesuai instruksi yang diberikan atasannya.
"Baik Pak." Jawab Tata menurut.
Apapun alasannya, pasti ada hal yang Al inginkan, sehingga Reza diminta membawa anak dan istrinya ke kantor terlebih dahulu.
_________________
_________________
__ADS_1
_________________