
Seharian Tata bertugas membersihkan lantai di lobi utama. Hari ini kantor terlihat sangat ramai, banyak orang keluar masuk.
Ada yang memesan armada untuk perjalanan wisata, ada juga yang sekedar tanya-tanya dan berfoto saja.
"Dya, pelan-pelan Nak. Jangan lari-lari, nanti jatuh."
Terdengar teriakan seorang Ibu yang memperingatkan anaknya.
Suara itu sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga Tata.
Bbraaakkk .... !
Tubuh kecil seorang anak hampir jatuh terantuk sebuah banner iklan di dalam ruangan.
Teriakan khawatir itu terdengar lega setelah Tata berhasil menangkap tubuh mungilnya.
"Sayang, adek tidak apa-apa ?" Tanya Tata tersenyum ramah.
Bocah yang dia panggil dengan sebutan adek itu masih terdiam, bahkan tertegun memandang wajah Tata.
"Kenapa sayang ? Ada yang sakit ?" Tanya Tata kembali. Dia elus kening dan dada bocah yang masih setengah lingkaran dalam pelukannya.
"Mama ?" Ucapnya lirih.
Tata mengernyitkan dahiy, entah siapa Mama yang dia maksud.
"Mama !" Ucapnya kembali.
Kali ini diiringi tangis dan pelukan erat melingkar di leher Tata.
Tata masih terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan di ambang pintu lobi ada Bunda Arum dan Alfatih yang masih tertegun dengan perbuatan Nindya putri Almarhumah Kinanti.
"Siapa dia Al ?" Tanya Bunda Arum yang hanya melihat tubuh Tata bagian belakang.
Sedangkan Al sendiri juga belum tahu, siapa yang sedang dipeluk dan dipanggil Mama oleh keponakannya.
"Dya, sini sayang." Pinta Bunda Arum.
Tata melepaskan pelukannya.
"Eyang ! Mama Eyang !" Teriaknya kembali, sembari menghambur ke pelukan Bunda Arum.
Seketika itu, Bunda Arum baru menyadari bahwa wanita yang di panggil dengan sebutan 'Mama' oleh cucunya itu adalah gadis pembuat kue puthu ayu yang sudah Beliau kenal selama ini.
"Bunda ?" Sapanya.
"Tata, kamu di sini Nak ?"
"Iya Bunda. Tata bekerja di sini."
Bahkan Bunda sendiri tidak tahu kalau Tata bekerja di perusahaan putranya.
"Sudah lama kamu bekerja di sini Nak ?"
"Alhamdulillah, sudah Bunda. Sejak saya tinggal di rumah singgah." Jawabnya.
Mereka sama-sama tertegun mendengar jawaban Tata. Terutama Alfatih, ternyata gadis yang dia cari - cari selama ini, sangat dekat dengannya, bahkan Bundanya sendiri terlihat sangat dekat dengannya.
Begitupun dengan Tata yang juga sama-sama belum mengenali Bos nya.
__ADS_1
"Eyang, Mama Eyang." Celoteh Nindya lagi.
"Dya, sini Eyang gendong." Ucapnya berusaha menenangkan cucunya.
"Maaf Bunda, Tata lanjutkan pekerjaan Tata dulu. Silahkan Bunda kalau ada keperluan." Pamitnya, yang memang belum menyadari bahwa Bunda Arum dan Alfatih adalah owner dari 'Kamandanu Group'.
"Iya Nak, silahkan. Bunda ke dalam dulu."
Dengan sikap sopan santunnya, Tata pergi meninggalkan mereka berdua.
"Eyang, kenapa Mama ada disini ?"
Bunda Arum memandang wajah mungil bocah tanpa dosa itu.
Air matanya mendesak ingin segera keluar, setiap Nindya menyebut 'Mama' di depannya.
"Kita ke ruang kerja Al Bunda." Ajak Al mengalihkan perhatian.
Sejujurnya dia sendiri heran dengan situasi barusan.
"Bunda, dari mana Bunda mengenal gadis itu ?" Tanya Al, saat mereka sudah berada di dalam ruang kerja CEO.
"Sudah lama, sejak kepergian Kinanti."
"Selama itu ?" Tanya Al ingin meyakinkan dirinya sendiri.
"Waktu itu, Bunda juga merasa dia telah kembali."
Air mata yang tadi hanya mendesak, akhirnya keluar juga.
"Bunda selalu memperhatikan dia, jika Bunda rindu dengan Kinan, Bunda berjalan - jalan, mencari keberadaan dia dan akhirnya Bunda dekat dengan dia." Cerita Bunda.
"Apalagi, dia sangat pandai membuat kue, Bunda sangat sayang padanya." Lanjut cerita Bunda.
Alfatih berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan dan mengambil sesuatu di sebuah laci.
"Apakah kue ini, juga dia yang bikin ?" Tanya Al sembari menunjukkan sebuah stiker bertuliskan 'Putri Ayu' yang di tempel pada pembungkus makanan tersebut.
"Ya." Jawabnya Beliau singkat.
Bunda Arum lebih heran dengan kertas lebel di tangan putranya.
Darimana dia mendapatkan kertas itu dan untuk apa dia menyimpannya. Karena sejak tinggal di rumah singgah, Tata sudah tidak menggunakan lebel itu kembali.
'Atau jangan-jangan ?' Entah apa yang Bunda pikirkan dalam hati. Sesekali dia melirik ke arah Nindya yang sedang asyik dengan mainan di tangannya.
"Al, dari mana dan untuk apa kamu menyimpan kertas lebel itu ?" Akhirnya, pertanyaan itu keluar juga.
"Oh ini, itu, apa ?" Ucap Al tidak jelas.
"Atau jangan-jangan, selama ini ada yang kamu rahasiakan dari Bunda ?" Tanya Bunda kembali, seolah bisa membaca pikiran putranya.
"Ya Bunda, sejak pertama melihat gadis itu. Al merasa melihat Kinan kembali." Gumamnya lirih.
Bunda menggeser tempat duduknya. Dia dekati putranya yang sudah mulai menata hatinya.
"Dia gadis yang baik Al. Bunda yakin kamu paham maksud Bunda."
Hanya itu yang Bunda sampaikan, tanpa harus dijawab oleh Alfatih putranya.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka menyudahi tema pembicaraan tentang Anita dan kembali pada tujuan awal Beliau berkunjung ke kantor itu.
Sedangkan di ruang pantry, tidak sedikit karyawan yang membicarakan mengenai siapa perempuan yang masih terlihat cantik dan anggun tadi.
"Kalian tahu siapa yang kalian bicarakan ?" Tanya Nia mengagetkan.
Tata hanya diam dan tidak ingin banyak tahu.
"Siapa Mbak ?" Tanya balik dari salah satu diantara mereka.
"Iya Mbak, memangnya siapa ?" Pertanyaan yang sama disampaikan oleh seorang karyawan baru.
"Beliau adalah Ibunda dari Bapak Alfatih, pemilik perusahaan 'Kamandanu Group'." Jawab Nia yang membuat melongo seisi ruangan.
Begitu juga dengan Tata, yang baru menyadari bahwa Bunda Arum adalah Ibunda dari atasannya sendiri. Bahkan baru kali ini juga Tata melihat secara langsung wajah atasannya.
"Lalu, anak kecil yang mau jatuh tadi, anak Pak Bos ya Mbak ?" Tanya yang lain lagi.
"Iya." Jawab Nia singkat, sembari pergi meninggalkan tempat itu.
'Jadi, Pak Bos sudah menikah dan punya seorang putri ? tapi, kenapa ada yang bilang kalau Pak Bos masih singel.' Pikirnya dalam hati.
'Ah, kenapa aku jadi memikirkan Pak Bos, mau singel, sudah menikah atau duda sekalian, kagak ngaruh. Lagipula apa peduliku.' Gumamnya dalam hati, menepis pikirannya sendiri.
"Woi ! Kok bengong. Hati - hati entar kesambet lo !" Ledek teman seperjuangannya saat melihat Tata duduk diam termenung sendiri.
"Apaan sih, ganggu saja orang mau berkhayal." Canda nya.
"Idih, berkhayal dia bilang. Jangan-jangan lagi berkhayal jadi istri Bos ini." Tebak temannya hampir benar.
"Udah ah, makin siang makin pada gak bener ngomongnya."
"Hei mau kemana ? Kok pergi ?"
"Balik lah."
Jam kerjanya kali ini sudah usai. Dia segera ke ruang istirahat untuk berkemas mengganti pakaian dan mengambil tasnya.
"Ta, mau kemana ?" Tanya Mbak Nia, saat melihatku berkemas-kemas.
"Pulang Mbak, kan jam kerja saya sudah selesai."
"Gak nunggu Pak Bos dulu ?"
Setelah dipikir-pikir, mungkin lain kali saja pertemuan singkat membicarakan kue puthu itu terjadi. Lagipula, saat ini masih ada Bunda Arum yang sibukdi ruang kerja Bos mudanya.
"Gak usah Mbak, lain waktu saja." Tolak nya.
"Oke dech, gakpapa. Kamu pulang dulu saja, nanti saya kabari kalau ada info lebih lanjut.
"Siap Mbak."
Pesona Alfatih masih membekas di hati Anita. Meskipun hanya sekedar melirik saat Tata mulai penasaran dengan sosok tegap pemilik bersuara barito itu.
Meski begitu, sangat tidak mungkin bagi seorang Anita bisa dekat dengan Bos mudanya. Meski dengan perantara kue puthu ayu sekalipun.
_________________
_________________
__ADS_1
_________________