
Sinar mentari pagi merona, membiaskan warna keemasan yang menyusup di sela-sela jendela.
Al menggeliat sembari menyepak selimut dari kakinya. Dia lirik jam beker yang bertengger di atas nakas di sisi tempat tidurnya.
Pukul tujuh lewat lima belas menit. Masih terlalu pagi untuk bangun. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur dengan pulas.
Dengung pendingin ruangan, menyentuh lembut anak rambutnya, seolah mengajaknya untuk tidur kembali.
'Pukul tujuh lebih ?' Pikirnya sembari memperlebar bola matanya melihat jam beker yang tadi sempat dia lirik sebentar.
Al melompat turun dari ranjang yang sejak tadi menimang, membuat pulas tidurnya. Dia sambar handuk yang tadinya tergantung untuk dibawa membersihkan diri.
Al mengingat-ingat lagi jadwal meeting dengan klien yang harus dia hadiri pagi ini.
"Kenapa tidak ada yang membangunkanku !" Kata Al sesampainya di meja makan.
Baik Tata maupun Mbak Watik, hanya bisa saling pandang.
Memang selama ini tidak ada yang berani mengganggu Al saat dia berada di dalam kamarnya, kecuali Bunda. Tapi saat ini Bunda sedang tidak berada di rumah.
"Kenapa diam ?" Tanya dia kembali di sela-sela suapan sarapannya.
"Tapi, biasanya Bunda yang membangunkan Mas Al saat terlambat bangun." Kata Mbak Watik.
"Jadi kalau Bunda tidak ada di rumah, saya harus telat bangun terus begitu." Ucapnya protes.
"Maaf Mas, tapi memang Mbak Watik tidak tahu. Mas Al kan baru datang, Mbak pikir masih harus istirahat." Kata Mbak Watik membela diri.
"Kamu juga, kenapa tidak mengingatkan Mbak Watik, kalau saya harus berangkat ke kantor pagi ini."
Kali ini Tata yang kena sasaran omelan Al.
"A, saya _"
"Papa kenapa marah-marah sama Mama ?" Tanya Nindya menyela, sebelum Tata sempat menjawab,
"Enggak sayang, Papa enggak marah." Ucapnya pelan.
"Kata Mama Tata, tidak boleh bising-bising di depan makanan." Kata Nindya lagi menirukan.
"Oh, iya sayang. Maafkan Papa ya ... Kalau begitu, kita makan lagi yuk." Ucapnya mengalah.
"Ayuk, makanannya enak lo Pa. Mama Tata yang masak." Celotehnya lucu, seakan dia bisa merasakan seenak apa makanan orang dewasa.
'Enak ? Benar kata Nindya, sarapan kali ini benar-benar terasa beda. Lebih enak dan lebih berasa.' Pikirnya dalam hati.
"Betul kan Pa, ayamnya enak, sayulnya juga enak." Celotehnya lagi, seolah mengerti apa yang Al pikirkan.
"Ah, iya-iya, enak sekali." Komentar Al mengiyakan.
Mbak Watik dan Tata hanya diam dan masih saling pandang.
'Terkadang Pak Al itu menyenangkan, terkadang juga sangat menyebalkan.' Komentar Tata dalam hati.
"Sayang, Papa berangkat kerja dulu ya." Pamitnya.
"Iya Papa, hati-hati dijalan." Balasnya.
"Pak Al." Panggilan lembut Tata membuat Al menghentikan langkah kakinya. Dia putar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat.
__ADS_1
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Selanjutnya sebuah tindakan yang tidak pernah Al duga sebelumnya.
Tata merapikan sesuatu yang ada pada krah kemeja yang Al kenakan. Ada benang yang terurai dari dasinya.
Melihat tindakan gadis itu, refleks Al membungkukkan sedikit sebagian tubuhnya, agar yang bersangkutan bisa menjangkaunya.
Tanpa dia sadari, Tata menepuk-nepuk ringan bahu dan Dada atas Alfatih. Bermaksud ingin membersihkannya, tapi lain menurut pandangan Al.
'Dia begitu cantik pagi ini.' Puji Al dalam hati.
"Maaf." Ucapnya setelah menyadari kalau Al sedang memperhatikan tingkahnya.
"Terimakasih." Jawab Al tidak sesuai dengan yang Tata sampaikan.
"Dada Papa." Kata Nindya sembari melambaikan tangannya, setelah Al bersiap untuk melajukan kendaraannya.
Tangannya melambai ke arah Nindya, putri kecilnya. Namun pandangan matanya jatuh pada perempuan yang berdiri di belakang Nindya.
"Mas Al, mas Al ... Hahh ... Ada-ada saja." Keluh Mbak Watik menghela nafas panjang.
"Kenapa Mbak ?"
"Ini nih, coba baca." Jawabnya, sembari menunjukkan pesan singkat pada telepon selulernya.
["Mbak Watik, tolong nanti suruh Tata untuk mengantarkan makan siang ke kantor ya ? Menu seperti sarapan tadi pagi."] ā
Tata menyerahkan kembali handphond mbak Watik. Belum juga ada satu jam sejak kepergiannya ke kantor, tapi sudah mengirimkan pesan singkat untuk makan siangnya.
"Gimana Mbak Ata ? Saya harus jawab apa ?" Tanya Mbak Watik meminta pendapat.
"Gakpapa Mbak, dijawab saja iya."
"Iya, gakpapa, nanti biar saya antarkan."
"Baiklah kalau begitu, biar nanti Dya dirumah sama saya. Mbak Ata ke kantor Mas Al." Kata Mbak Watik usai membalas chat dari Alfatih.
"Lagian tumben-tumbenan dia minta diantarkan makan siang. Biasanya juga makan di luar." Gerutu Mbak Watik sendiri.
"Saya tahu, pasti karena ada hubungannya dengan masakan Mbak Tata tadi pagi. Masakan Mbak Ata benar-benar enak, sampai-sampai Mas Al tidak mau makan di luar." Puji Mbak Watik.
"Ah, Mbak Watik bisa saja. Lagian biar bisa ngirit kali Mbak, masak makan di luar terus." Komentar Tata, yang mulai memasak sesuatu untuk dia bawa ke kantor Alfatih.
Siang ini, menu komplit tumis sayuran dan bola-bola daging dia siapkan untuk Al.
***
Hingga jam makan siang hampir tiba, saat Tata sudah berada di lantai dasar kantor Alfatih.
"Loh, Mbak Tata ?" Tanya salah seorang scurity yang sudah lama dia kenal.
"Iya Pak, saya diminta Pak Al untuk mengirimkan makan siang. Pak Al nya ada di ruang kerjanya ?" Tanya Tata sembari menunjukkan barang bawaannya.
"Pak Al ada di kantor, kelihatannya baru selesai meeting. Iya kan ya Dul ?" Tanyanya kepada seorang scurity lainnya memastikan kalau Keterangan dia akurat.
"Pak Al, iya, ada. Tapi kalau gak salah sedang ada tamu."
"Gakpapa Pak, saya coba ke dalam saja." Kata Anita.
"Iya, silahkan Mbak. Kalau sudah ada janji, kemungkinan Mbak Tata sudah ditunggu." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Iya, terimakasih Pak."
Ruang kerja Al ada di lantai tiga. Butuh sedikit waktu untuk sampai di sana.
"Tata."
Tata menoleh setelah seseorang memanggil namanya.
"Mbak Nia."
"Apa kabar ?"
"Alhamdulillah baik Mbak."
"Ada perlu apa ke sini ? Ngobrol dulu yuk, kita ke ruangan aku dulu."
Ajak Nia yang sudah lama tak bersua.
"Tapi Mbak, saya ada pesanan makan siang untuk Pak Al." Jawabnya sembari menunjukkan barang bawaannya.
"Oh gitu ya, tapi Pak Al sedang ada tamu kelihatannya." Ucapnya ragu.
"Tamu penting ya Mbak ? Atau saya titipkan saja pesanan Pak Al ke Mbak Nia."
"Enggak dech, mending kamu langsung ketuk saja. Itu kelihatannya pintu ruang Pak Al sedikit terbuka. Mungkin juga tamunya sudah pergi, atau dengan kehadiran kamu, dia bisa segera pergi." Kata Nia terdengar tidak suka dengan seseorang yang ada bersama Al.
'Siapa sebenarnya tamu Pak Al, kenapa di setiap sudut ruangan membicarakan dia.' Pikir Tata dalam hati.
"Kalau begitu, saya ke sana dulu ya Mbak."
"Iya, silahkan. Jangan lupa nanti pulangnya mampir ke ruangan aku dulu ya ?"
"Insha Allah."
Rasa penasaran membuat Tata memberanikan diri untuk melangkah menuju ruang kerja Alfatih.
"Bella, tolong, jaga sikapmu, ini kantor."
Samar-samar terdengar suara Al memaki seseorang.
"Assalam... Maaf, saya tidak tahu. Pintunya sedikit terbuka, saya pikir Pak Al sedang tidak sibuk." Ucap Tata terbata.
Sebuah pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Seorang perempuan cantik dengan kulit putih, mata yang bersinar biru dan wajah indo itu duduk di meja kerja Al tepat di hadapannya.
"Tidak apa-apa Tata, masuk saja." Jawab Al beranjak dari tempat duduknya, namun perempuan yang Al panggil dengan nama 'Bella' itu sedikit menahannya.
"Ini pesanan Pak Al." Ucapnya sembari meletakkan rantang susun yang berisi menu makan siang untuk Al.
"Tata." Panggil Al, dan mulai terlihat jelas wajahnya. Dasi dan krah baju yang tadi dia rapikan, sekarang sudah berantakan.
"Saya permisi dulu Pak." Pamitnya setelah misinya selesai.
"Tata, Tata, tunggu !" Hanya itu yang Tata dengar.
Namun tidak ada seorangpun yang mengejarnya. Apalagi memintanya untuk kembali.
____________________
____________________
__ADS_1
____________________