Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 19. Diam-diam Perhatian


__ADS_3

Suara ketukan di pintu ruang kerja CEO yang sengaja dibiarkan terbuka, membuat Al mengangkat wajahnya, memastikan siapa yang datang.


"Permisi Pak Al, ini pesanan makanannya sudah datang."


Ternyata Pak Ketut, satpam kantor yang bertugas hari ini.


"Oh, ya, terimakasih. Taruh saja di meja sana." Jawab Al masih berada di balik meja kerjanya.


Memang tadi Al sempat memesan beberapa kotak nasi box untuk dia, satpam jaga dan perempuan di ruang sebelah yang belum juga membuka matanya.


Pak Ketut meletakkan dua nasi box dan dua gelas teh panas.


"Itu apa ?" Tanya Al, karena merasa tidak memesan sesuatu selain menu makan malamnya.


"Ini tadi kebetulan Pak Man membuat kopi Pak, jadi kami buatkan teh hangat juga untuk Pak Al dan Mbak Tata kalau sudah bangun." Jawabnya menerangkan.


"Terimakasih Pak."


"Sama-sama Pak Al, saya permisi dulu."


Al melemparkan senyum diiringi dengan lambaian tangannya, sebagai pengganti jawaban pamitnya Pak Ketut dari ruangan itu.


'Sudah hampir magrib, tapi dia belum bangun juga. Sebenarnya dia pingsan apa tidur ?' Pikir Al dalam hati.


"Apa perlu aku hubungi Dokter Ridwan lagi." Gumamnya sendiri.


Al mulai berdiri, dia ingin memastikan kalau perempuan yang sedang dia jaga itu dalam keadaan baik-baik saja.


Klotaakkk ...


Tanpa sengaja Al membuat gaduh saat meletakkan gelasnya di meja kaca.


Anita sempat terlonjak kaget, saat dua benda mudah pecah itu berbenturan satu sama lain. Perlahan tapi pasti dia mulai membuka matanya.


"Kamu sudah bangun ?" Tanya seorang bertubuh tegap dengan suara khas baritonya yang merdu.


Anita mengingat - ingat kembali, hal apa yang terjadi sehingga dia berada di tempat ini. Tempat yang sangat asing baginya.


'Aku tadi ke kantor, kemudian putri Pak Al memelukku, tapi setelah itu aku jatuh pingsan dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi ?' Hatinya mulai gundah.


'Dimana aku ? Dan suara itu, rasa - rasanya aku mengenal pemilik suara itu.' Pertanyaan itu berputar - putar di kepalanya.


"Anda siapa ? Dan dimana saya ?"


Akhirnya pertanyaan itu dia lontarkan juga.


"Kamu berada di tempat yang aman." Jawab Al singkat.


Pandangannya berkunang - kunang. Kurang lebih lima meter dari tempat dia berbaring, berdiri seorang yang tegap dengan tangan dilipat di depan dada.


Dia mencoba mempertajam penglihatannya.


"Aauu..." Keluhnya. Kepalanya masih terasa pusing.


Dengan cekatan, Al membantu dia bangun.


"Minum dulu, mumpung masih hangat."


Al menyodorkan segelas teh hangat yang tadi Pak Ketut buatkan.


'Aroma parfum ini ? Apa indera penciumanku tidak salah ?' Pikirnya dalam hati.


"Pak Al." Gumamnya lirih saat menerima gelas dari tangan Alfatih.


"Hhhhmmmm."


"Kenapa anda ada disini ? Apa yang terjadi dengan saya ? Putri Pak Al, apa dia tidak apa-apa ?" Tanya Tata bingung.


"Memangnya kamu sendiri sedang berada dimana ?" Jawab Al balik bertanya.


"Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Minum dulu dan habiskan makananmu, biar tenagamu pulih kembali." Perintah Al.

__ADS_1


Anita menurut saja apa yang Al perintahkan. Dia seruput teh hangat yang masih ada pada genggamannya.


'Ternyata, meskipun dia jutek dan dingin, tapi punya hati yang baik.' puji Tata dalam hati.


Kesadarannya berangsur membaik, saat dia lirik jarum jam menunjukkan pukul delapan belas lebih tiga puluh menit.


'Astaqfirullah, ternyata aku sudah terlalu lama di sini.' Gumamnya dalam hati.


'Ya iyalah lama, orang kamu pingsan berasa tidur panjang.' Komentar sisi hatinya yang jutek.


'Gakpapa Tata, kamu kan lagi sakit.' Bela sisi hatinya yang lain.


'Berarti sudah tidak ada karyawan lagi di luar. Apa kata mereka jika tahu aku masih berada di sini, dengan Pak Al lagi.' kata hatinya kembali.


'Sudah, jangan dipikirin. Pak Al kan ganteng, jarang-jarang lo ada yang bisa dekat dengan dia.' pengaruh sisi hatinya yang buruk.


'Huss ! Gak baik ngomong begitu, ayo pulang Tata, jangan sampai kamu menjadi benalu di dalam rumah tangga Bos kamu sendiri.' Nasehat sisi hatinya lagi.


Yang akhirnya membuat Anita tersadar dan meletakkan kembali nasi box di tangannya.


"Kenapa gak dimakan ?"


"Saya, saya mau pulang saja Pak." Jawabnya meleset dari apa yang ditanyakan.


"Saya tanya, kenapa tidak dimakan ?"


"Belum lapar Pak."


"Seharian kamu tidak makan, jangan bikin perusahaan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu sama kamu." Ucapnya ketus.


'Astagfirullah, aku pikir benar-benar perhatian. Ternyata takut kalau perusahaannya bangkrut, gara-gara ngurusin yatim piatu seperti aku.' Tangisnya hampir pecah, namun dia tahan demi mempertahankan harga dirinya.


"Itu tidak akan terjadi Pak, saya paham betul bagaimana kondisi tubuh saya. Terimakasih sudah menolong saya. Saya mau pamit dulu Pak." Ucapnya sembari turun dari tempat tidur.


'Ternyata, berani juga gadis ini bicara.'


Sikap Anita yang membuat Al bingung dan salah tingkah.


Tanpa menoleh barang sebentar, Anita tetap melangkahkan kakinya keluar.


"Hei, kamu tidak dengar saya bicara !"


Al yang tiba-tiba menarik tangan Anita, membuat gadis itu limbung dan hampir jatuh.


"Aaarrggghhh !"


Bak seorang penari, Al dan Anita saling berpelukan, saling memandang. Lama tanpa bicara sepatah katapun.


Bahkan mungkin di dalam hatinya ada perasaan saling memuji satu sama lain. Hingga kesadaran mereka terkumpul kembali.


"Ma, maaf." Ucap Anita, berusaha berdiri tegak kembali.


"Kamu, tidak apa-apa ?"


"Tidak Pak."


Sangat terlihat jelas wajah Anita yang merah merona dibawah terangnya sinar lampu.


"Saya permisi dulu Pak." Pamitnya menghindari rasa malu.


"Tunggu, biar saya antarkan."


"Tidak usah Pak, Saya bisa pesan ojek online." Tolaknya.


"Ini perintah, jangan membantah."


Al menyambar handphone dan kunci mobilnya.


"Malam Pak Al." Sapa Pak Man saat membukakan pintu gerbang.


"Malam Pak, di meja saya masih ada dua box nasi kotak. Pak Man ambil saja untuk makan malam nanti."

__ADS_1


"Lo... bukannya itu untuk makan malam Pak Al dan Mbak Tata ya ?" Tanya Pak Man yang tahu betul berapa tadi Pak Ketut mengantarkan makanannya.


"Ambil saja, Mbak Tata sedang diet, jadi gak mau makan." Jawab Al asal.


"Baik Pak, terimakasih."


Anita hampir terkekeh mendengar apa yang barusan Al sampaikan. Ternyata, di sela-sela keseriusannya, dia juga bisa bercanda.


Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibir mereka berdua. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, yang jelas ada hal yang sama-sama terpendam.


["Tata."] ["Pak Al."]


Ucap mereka bersamaan.


"Silahkan Bapak duluan." Ucapnya sopan.


"Tidak, kamu duluan saja."


"Gakpapa Pak, gak penting kok."


"Ok." Komentar Al sembari menghela nafas panjang.


Sebenarnya tadi, Anita mau tanya. Apakah tidak ada masalah jika istri Bos nya itu tahu kalau dia mengantarkan pulang salah seorang karyawannya.


Tapi pertanyaan itu dia urungkan.


'Bodo amatlah, yang penting aku gak ngapa-ngapain.' kata hatinya menenangkan diri.


"Kamu masih tinggal di rumah singgah ?" Tanya Al.


"Iya Pak, masih. Tapi, dari mana Bapak tahu kalau saya tinggal di rumah singgah ?"


"Bunda yang cerita." Begitu saja jawabannya.


"Oh." Hanya itu juga komentar Anita.


Sikap lugu dan rasa sungkan membuat Anita tidak urakan seperti kebanyakan wanita seusianya.


Meskipun dia tidak berpendidikan tinggi, tapi dia punya ettitude yang tinggi.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berdua sudah sampai di depan pintu gerbang rumah singgah.


"Lama sekali, aku tidak mampir ke tempat ini." Gumam Al lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


Betapa dia sangat mengagumi konsep beramal yang selama diterapkan Almarhum Ayahnya.


Sampai-sampai dia lupa, kalau pintu mobilnya masih terkunci. Sehingga membuat Anita tidak bisa bergerak keluar.


"Apa kamu akan duduk diam disitu saja ?" Tanya Al yang melihat teman sebangkunya masih terdiam tanpa bicara.


"Apa saya bisa keluar dengan pintu yang masih terkunci ?"


"Oh, maaf."


Menyadari kesalahannya, Al segera membuka kunci pintu mobilnya.


"Terimakasih Pak Al, maaf sudah merepotkan." Ucapnya sembari berpamitan.


"Jangan lupa, makan dan minum vitamin yang diberikan Dokter Ridwan."


"Iya Pak."


"Dan satu lagi, istirahatlah yang cukup."


"Terimakasih Pak."


Anita segera memasuki gerbang rumah singgah, setelah Al pergi menjauh dari tempat itu.


__________________


__________________

__ADS_1


__________________


__ADS_2