Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 40. Kedatangan Astrid


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang, tanda pagi hampir menjelang. Dia buka mata dengan senyum cantik menawan.


'Ternyata ini bukan mimpi, aku benar-benar ada di sini.' Gumamnya dalam hati.


Seberkas cahaya lembut menyapa, semilirnya angin pagi melintas di depan anak rambutnya, seolah berkata 'semangat pagi cinta'.


Cinta ?


Apa itu cinta ?


Belum pernah sekali Tata merasakan yang namanya cinta. Bahkan cinta kedua orangtuanya juga belum sempat dia rasakan.


"Semangat pagi cintanya Mama Tata."


Begitu dia menyapa Nindya yang masih malas di ranjangnya.


Tata memainkan hidung mancung dan anak rambutnya yang sudah memanjang menutupi mata.


"Mama." Bisiknya lirih.


Manja dia rangkul leher anita, dia kecup kedua belah pipi dan keningnya. Tata membungkukkan sebagian tubuhnya agar gadis kecil itu bisa meraihnya.


"Bangun yuk...kita jalan-jalan, setelah itu mandi biar seger." Ajaknya.


"Ayuk.." sahutnya gembira.


Tidak perlu jauh-jauh, cukup di sekitaran halaman rumah saja, sudah membuat peluh mereka bercucuran.


"Mbak Watik, coba lihat mereka. Benar-benar seperti ibu dan anak." Komentar Bunda Arum yang melihat aktivitas Tata dan Nindya yang menyenangkan.


"Inggih Bunda, bukan hanya raut wajah Mbak Tata yang mirip dengan Almarhumah Mba Kinan, tapi juga kasih sayang Mbak Tata seperti sayangnya pada anak sendiri." Kata Mbak Watik ikut berkomentar.


Sejak kehilangan kedua orangtuanya, Tata tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan ibu. Mungkin karena hal itu yang membuat Tata ikut merasakan betapa kesepiannya hidup tanpa kedua orang tua.


'Cukup aku saja yang merasakan, jangan pernah ada Tata Tata yang lain di dunia ini.' Begitu Gumam nya dulu.


"Ayo sayang, sudah cukup untuk pagi ini. Kita mandi dulu, habis itu sarapan." Ajaknya kepada Nindya.


Tugas utama dia di rumah ini, untuk menjaga Nindya. Semua urusan yang ada kaitannya dengan si kecil Nindya menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya.


"Jangan pernah pegang pekerjaan yang lain, sebelum kebutuhan Dya terpenuhi." Instruksi Al sebelum dia pergi.


Pak Al, dimana dia ? Sejak kedatangannya di rumah ini, Tata belum bertemu dengannya.


'Ih, buat apa aku mencarinya. Toh dia juga tidak akan peduli denganku disini. Yang harus aku pikirkan, yang penting semua pekerjaan ku beres.' ungkapan hatinya.


"Masya Allah, cantik sekali cucu Eyang." Sapa Eyang Arum yang sudah menunggunya di meja makan.


Bukan hanya Nindya yang terlihat segar dan wangi. Tapi Tata juga, meskipun dia kurang dalam mengenyam bangku sekolah, tapi sopan santun dan cara dia membawa diri, mengalahkan seorang yang berpendidikan tinggi.


"Selamat pagi Eyang." Kata Tata mengajarkan kepada Nindya.


"Selamat pagi Eyang." Begitu ucapnya menirukan apa yang Tata sampaikan.


"Pagi sayang, bagaimana tidur kalian semalam ?" Tanya Bunda Arum.

__ADS_1


"Nyenyak Eyang, Dya seneng bobok sama Mama Tata. Sebelum bobok, Mama Tata baca dongeng buat Dya. Dya juga bobok dipeluk Mama Tata." Ceritanya antusias.


"Syukurlah, Eyang senang sekali mendengarnya." Komentar Beliau.


Adegan saat ini, Bunda kagum dengan cara Tata mengajarkan tata cara makan yang baik kepada Nindya.


"Kamu sendiri bagaimana Nak ? Apa kamu senang tinggal disini ?" Tanya Bunda ingin tahu.


"Alhamdulillah, Tata senang sekali Bunda. Apalagi ada Nindya yang menggemaskan." Jawabnya sembari mentowel sedikit pipil gembul Nindya.


'Memang, pilihanku tidak pernah salah. Jika aku bisa, aku ingin Tata bukan sekedar jadi ibu asuh bagi Nindya, tapi juga istri untuk Al.' Gumam Bunda dalam hati.


Perhatian Bunda tak luput dari semua gerakan Tata yang dengan sabar membantu Nindya sarapan.


"Oh ya sayang, Bunda nitip Nindya ya ... siang ini Bunda ada acara ke luar kota. Ada undangan yang harus Bunda hadiri." Kata Beliau memberi tahu.


"Inggih Bunda, Insha Allah, Tata akan selalu ada di dekat Nindya." Jawabnya.


"Dya gak boleh nakal sama Mama Tata ya. Eyang akan pergi selama dua hari. Mungkin nanti malam atau besok pagi, Papa sudah pulang." Kembali Bunda memberikan penjelasan.


'Jadi, Pak Al juga ada urusan di luar kota. Sehingga aku belum bertemu dengannya.' Pikir Tata dalam hati.


"Iya Eyang." Jawabnya manja.


"Anak pintar." Puji Eyang lagi.


Bunda bukan saja anggun dan cantik, tapi juga pandai. Bahkan di usia Bunda yang sudah tidak muda lagi, Beliau masih beraktivitas di dunia luar sana.


"Eyang berangkat dulu ya ?" Pamit Beliau.


"Iya Eyang."


"Ingat pesan Eyang, Dya gak boleh nakal dan harus nurut sama Mama Tata." Pesan Bunda.


Nindya mengangguk dan masih bergelayut di gendongan Anita.


Bunda sudah berangkat dan Al belum kembali. Hanya Tata, Nindya dan beberapa asisten rumah tangga yang ada di rumah.


"Mbak Ata."


Belum sempat Tata dan Nindya melangkahkan kakinya ke dalam rumah, Pak Slamet memanggilnya tergopoh-gopoh.


"Iya Pak, ada apa ?"


"Di depan ada seorang gadis mencari anda." Kata Pak Slamet menginformasikan.


"Gadis ?"


"Iya Mbak, dia bilang saudara Mbak Tata, dia ngotot pengen bertemu. Katanya ada hal penting yang mau dia sampaikan."


"Apa dia tidak bilang, siapa namanya ?"


"Namanya Astrid Mbak."


"Oh iya Pak, dia sepupu saya. Tapi saya tidak berani menerima tamu Pak."

__ADS_1


"Sudah saya sampaikan, tapi dia tidak percaya."


Antara ragu dan bimbang memang tidak ada bedanya. Di situasi inilah saat ini Tata berada.


"Coba, biar saya temui dari dalam pagar Pak."


"Iya Mbak."


Pak Slamet mengekor di belakang, begitu pula dengan Nindya. Ada perasaan tidak enak yang bakal terjadi dengan kedatangan sepupunya.


"Astrid maaf, saya tidak bisa menerima tamu, ada apa ? Dan dari mana kamu tahu kalau saya ada di sini ?" Tanya Tata kepada seorang gadis yang berdiri membelakanginya.


"Kamu ini ya, belum cukup kamu membuat keluarga saya menderita. Sekarang kamu bikin ulah dan kami yang kena imbasnya !" Teriaknya lantang.


"Apa maksud kamu ?"


"Jangan berlagak bodoh ya, sesudah kamu puas merebut mas Andri dari saya, sekarang kamu enak-enakan hidup di rumah mewah ini." Umpatnya lagi.


Tata terpaksa menutup kedua telinga Nindya, agar bocah polos itu tidak mendengar kata-kata kasar sepupunya.


Melihat apa yang Tata perbuat, dengan cekatan Pak Slamet menggendong dan membawa Nindya sedikit menjauh dari tempat itu.


"Cepat katakan apa yang membuatmu semarah ini dan tolong jangan bikin keributan di rumah ini." Pinta Tata halus.


"Kamu salah satu orang yang bertanggungjawab atas hancurnya keluargaku." Kata Astrid penuh amarah.


"Jangan terlalu banyak bicara Astrid, cepat katakan, apa tujuanmu datang kemari ?" Kata Tata masih dengan kesabarannya.


"Mas Andri dan keluarganya datang ke rumah. Mereka marah-marah karena merasa kamu permalukan. Dan sekarang mereka mengancam Bapak, akan menyita rumah Bapak jika dalam satu minggu ini Bapak tidak bisa mengembalikan hutang-hutangnya." Jawab Astrid.


'Menyita rumah Paklek ? Itu berarti rumah ku juga, rumah peninggalan almarhum kedua orang tuaku ? Tapi hutang buat apa yang Paklek gunakan sehingga harus menggadaikan sertifikat rumah ?' Pikirnya dalam hati.


"Memangnya berapa hutang Paklek ?"


"Gak banyak sih, cuma seratus juta." Jawab Astrid ketus.


"Maaf Astrid, aku tidak bisa berkata apa-apa. Kalau Bunda dan Pak Al sudah kembali, aku akan temui Paklek. Aku akan minta penjelasan kepada Beliau." Jawab Tata ragu-ragu dengan apa yang disampaikan Astrid.


"Kamu pikir saya berbohong !"


"Bukan begitu, tapi saya hanya butuh penjelasan saja."


"Oke, saya tunggu !"


Usai berkata begitu, Astrid pergi meninggalkan kediaman Kamandanu. Sedangkan Tata, dia tidak bisa berpikir saat ini. Hanya Al yang dia butuhkan disaat darurat seperti ini.


'Tapi, apa Pak Al bisa membantuku ? Sedangkan satu minggu bukanlah waktu yang cukup untuk mencari uang sebanyak itu.'


Hatinya diliputi rasa ragu saat itu. Tapi, apapun yang terjadi Tata harus bisa menjaga sikapnya, terutama di depan Nindya.


_________________


_________________


_________________

__ADS_1


__ADS_2