
Raut wajah Al berubah setelah dia menerima telepon dari seseorang.
"Baik, terimakasih informasinya." Begitu kalimat terakhir yang terdengar, sebelum dia lempar handphone dari tangannya.
"Pak Al, ada apa ? Apa ada masalah ?" Tanya Reza yang hampir terkena lemparan handphone itu.
'Uufffff.... lumayan sakit.' keluhnya dalam hati, sembari mengusap dadanya yang terkena lemparan.
"Dia pergi Za, tanpa bilang kepadaku." Gumamnya sendiri.
"Maksud Pak Al ?"
"Cari tahu, siapa yang membantunya keluar dari rumah sakit 'Sehat Waras'."
"Baik Pak."
Hanya dengan berbicara begitu, Reza paham kemana arah pembicaraan Bosnya. Dia segera pergi menuju tempat yang diperintahkan.
Sedangkan Al, masih di ruang kerjanya menahan emosi.
'Tata ... entah kenapa kamu begitu membuat hatiku repot.' Keluhnya dalam hati.
Ingin rasanya Al tanyakan perihal kepergiannya dari rumah sakit kepada Bunda. Tapi dia urungkan, sepanjang dia bisa mengatasi sendiri, akan dia kerjakan, tanpa harus melibatkan Bunda.
"Selamat siang." Sapa Reza sesampainya di Rumah Sakit 'Sehat Waras'.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu ?"
"Iya, saya Reza, asisten pribadi Pak Al. Mau tanya mengenai pasien VIP atas nama ibu Anita ?" Tanya Reza mengawali misinya pagi itu.
"Ditunggu sebentar ya Pak."
Di Rumah sakit ini, tidak ada yang tidak mengenal Alfatih. Karena dia juga salah satu supplier yang memasukkan alat-alat kesehatan di banyak Rumah Sakit Umum di kota ini.
Selang kurang lebih sepuluh menit, petugas bagian informasi memanggilnya kembali.
"Mohon maaf Bapak, pasien VIP atas nama Ibu Anita, sudah keluar dari rumah sakit pagi tadi."
"Boleh saya tahu siapa yang bertanggung jawab atas administrasi nya ?" Tanya Reza lebih kepo.
"Sebentar ya Pak." Jawabnya "Di sini tertulis atas nama ibu Wulan sebagai penanggung jawabnya."
"Ibu Wulan ?"
"Iya Pak."
"Baik, terimakasih informasinya."
'Wulan ? Apa yang di maksud Mbak Wulan yang ngurusin operasional di rumah singgah ?'
Reza berfikir sejenak, langkah panjangnya tertuju langsung ke rumah singgah.
"Assalamu'alaikum." Sapanya setelah memasuki pintu ruang pengurus rumah singgah.
"Wa'alaikumsalam. Pak Reza, silahkan masuk Pak." Bu Nilam yang menyambutnya.
"Terimakasih Ibu, kebetulan saya mampir."
"Ada apa Pak ? Mungkin ada yang bisa kami bantu ?"
"Iya Ibu, saya ingin bertemu dengan Mbak Wulan. Kebetulan ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Mbak Wulan." Ucapnya menyampaikan tujuan kedatangannya.
"Mohon maaf sekali Pak Reza. Hari ini kebetulan Wulan izin masuk agak siang, tadi pagi dia pamit karena ada keperluan mendadak."
"Kalau Mbak Tata, apa dia sudah sembuh ?"
Bu Nilam mengernyitkan dahinya. Sembari mengingat-ingat, kabar terakhir yang dia dapatkan mengenai salah satu penghuni rumah singgah yang Reza tanyakan.
__ADS_1
"Kalau setahu Ibu, Tata masih dirawat di Rumah sakit 'Sehat Waras' kalau gak salah." Jawabnya.
"Oh begitu ya Buk, baik kalau begitu, saya pamit dulu Buk."
"Lo ... Kok buru-buru, tidak ditunggu dulu ?"
"Tidak usah Bu, lain kali saya mampir lagi. Sampaikan saja salam saya kepada Mbak Wulan."
"Baik Pak, Insha Allah nanti saya sampaikan."
Begitu keterangan yang dia dapatkan dari Bu Nilam.
Tanpa membuang waktu lama, Reza segera memberikan informasi kepada Al.
"Hallo Za, apa ada informasi ?"
"Iya Pak, menurut keterangan pihak rumah sakit, Mbak Wulan adalah pihak yang bertanggung jawab atas keluarnya Mbak Tata."
"Wulan ?"
"Dugaan saya begitu Pak. Dan baru saja saya dari rumah singgah, ternyata benar Mbak Wulan dan Mbak Tata tidak ada di tempat. Bahkan Bu Nilam belum mengetahui keberadaan Mbak Tata. Beliau tahunya kalau Mbak Tata masih di rumah sakit." Jelasnya panjang lebar.
"Oke, makasih infonya Za." Al menutup teleponnya tanpa mengucap salam.
'Aku tahu apa yang harus aku kerjakan sekarang.'
***
Rasa gelisah, sungkan, merasa bersalah atau mungkin bahkan takut, gini sedang melanda diri Wulan.
'Apa yang akan Pak Al tanyakan ? Kenapa perasaanku tidak enak.' Resahnya dalam hati.
Wulan masih berdiam diri di Minora Cafe, menunggu kedatangan Al. Dia sengaja memilih tempat yang paling pojok. Lebih sepi dan agak jauh dari tempat favorit pengunjung cafe.
"Sudah lama menunggu ?"
"Oh, belum Pak, lumayan." Jawabnya gugup.
"Belum lama atau lumayan lama ?"
Nada pertanyaan Al terdengar mencurigakan.
Wulan sendiri merasa takut, jangan-jangan ada kesalahan fatal yang dia perbuat.
'Tapi apa ?' Otaknya berputar mengingat-ingat kesalahan apa yang dia perbuat sehingga dia harus dipanggil untuk menghadap langsung pimpinan utama pemilik 'Kamandanu Group'.
"Lumayan cukup lama Pak."
Wulan menghela nafas panjang, mulai menata diri agar tidak nampak seperti seorang yang sedang di interogasi.
"Kamu tahu, kenapa saya minta datang ke tempat ini ?"
"Tidak Pak."
"Kamu tidak tahu, kesalahan apa yang telah kamu perbuat ?"
Pertanyaan itu yang membuat Wulan merasa takut.
"Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu." Ucapnya merunduk.
"Oke, langsung saja ke pokok bahasan." Kata Al. "Saya hanya ingin tahu, Tata ada dimana ?" Lanjutnya.
"Tata ?"
'Jadi Tata yang membuat Pak Al marah ?'
Al mengedipkan kedua matanya mengiyakan pertanyaan Wulan yang menegaskan nama Tata.
__ADS_1
"Tata, dia, saya tidak tahu Pak." Jawabnya terbata.
"Tidak tahu ?" Al tersenyum sinis.
"Bukankah kamu yang membantu dia keluar dari rumah sakit ?" Tanya Al lagi.
"Iya Pak, tapi saya hanya membantu menjualkan perhiasan peninggalan ibunya untuk menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit."
"Maksud kamu ?"
"Iya Pak jadi, kemaren pagi sebelum saya pergi ke rumah singgah, saya mampir dulu ke rumah sakit buat besuk dia."
•Flashback On
"Selamat pagi." Sapa wulan yang pagi ini kebetulan mampir sebelum beraktivitas di rumah singgah.
"Mbak wulan, kebetulan mbak datang. Aku boleh minta tolong ?"
"Boleh dong, minta tolong apa ?"
Tata mengeluarkan kotak merah oval dari dalam tas jinjing yang kemana-mana selalu dia bawa.
"Tapi Mbak Wulan janji, jangan bilang siapa-siapa ya ? Terutama Bunda Arum dan Pak Al." Ucapnya kemudian.
"Bunda Arum, Pak Al. Memangnya kenapa ?"
"Mbak Wulan janji dulu. Nanti aku ceritakan."
"Iya, iya aku janji."
Anita mulai membuka dan mengeluarkan isi dari dalam benda berwarna merah itu.
"Ini perhiasan peninggalan Almarhumah Ibuku, aku mau minta tolong jualkan salah satu gelangnya. Tapi sebelumnya Cek biaya rawat inapku dan bayarkan Mbak." Ucapnya meminta.
Tangan anita memegang erat pergelangan tangan wulan sembari memohon.
"Tapi, semua biaya perawatan ini kan ditanggung Pak Al, uuppsss...maksud saya ditanggung perusahaan." Jawabnya menyampaikan apa yang pernah dia dengar.
"Saya tidak mau merepotkan Mbak, saya mohon mbak Wulan bisa bantu saya." Rengeknya lagi.
"Iya-iya, biar saya tanyakan dulu ya."
Tata mengangguk penuh harap. Usai mendapatkan informasi mengenai biaya rawat inap Tata yang harus di selesaikan, Wulan segera pergi ke toko perhiasan untuk menjual gelang peninggalan Almarhumah Ibu Anita.
Dan pagi itu, semua biaya sudah terselesaikan tanpa harus merepotkan orang lain.
"Ta, bagaimana jika Pak Al tahu tentang hal ini. Tidak seharusnya kamu pulang paksa, Lagipula kondisi kamu belum fit betul." Ocehan Wulan yang dibiarkan saja oleh Tata.
"Ta, Mbak Wulan takut kena marah Pak Al." Rengeknya lagi.
"Mbak, Pak Al tidak akan tahu kalau Mbak Wulan tidak cerita."
"Tapi cepat atau lambat, Pak Al pasti akan tahu."
"Disaat itulah, kami sudah tidak akan bertemu lagi."
"Maksud kamu apa Ta ?"
"Aku belum tahu Mbak. Yang jelas, aku akan keluar dari rumah singgah."
•Flashback Off
_________________
_________________
_________________
__ADS_1