
Pllaakkkk ...
Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi kiri Astrid. Terpaksa Tata mengotori tangannya sendiri karena geram dengan kelakuan sepupunya.
"Auu ... Apa-apaan kamu !" Teriak Astrid mengeluh kesakitan. Dia elus pipinya sendiri, berharap rasa sakitnya bisa berkurang.
Sudah sejak masih berada di rumah sakit, Tangan Tata terasa gatal ingin melampiaskan amarahnya kepada sepupunya.
"Tata ! Mentang-mentang sekarang kamu sudah menjadi istri orang kaya. Kamu berani menampar anak saya, sepupu kamu sendiri." Bela Bulek Rukmini yang entah tahu apa tidak tentang kelakuan anak perempuannya satu-satunya itu.
"Dia pantas mendapatkannya Bulek. Selama ini Tata hanya diam karena Tata menghormati Bulek dan Paklek. Tapi apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan." Jawab Tata mulai emosi.
"Apa maksudmu ! Kamu pikir kamu lebih baik dari anak saya !" Maki Bulek Rukmini masih dengan misi pembelaannya.
"Ya, saya memang tidak lebih baik dari dia. Tapi, minimal saya tidak akan meracuni orang tua saya sendiri." Ucapnya sembari melotot kepada Astrid.
Kata-kata itu seolah dia tujukan kepada gadis di depannya. Astrid hanya diam, berdiri mematung sambil memegang pipinya yang mungkin masih terasa sakit.
Kalimat barusan seperti ikut menampar mulut Bulek Rukmini yang tiba-tiba diam tanpa kata.
'Kenapa dia bicara seperti itu ? Atau jangan-jangan ...' Pikir Astrid dalam hati.
"Astrid, apa sebenarnya yang terjadi ? Kenapa Tata berkata seperti itu ? Apa yang kamu lakukan Nak ?" Tanya Bulek Rukmini.
"Aku tidak tahu Buk, dia hanya mengarang cerita. Mana mungkin Astrid setega itu. Ibu tahu sendiri kan, Bapak seperti ini setelah makan makanan kiriman dari keluarganya kemaren." Sanggahnya membela diri.
"Pintar kamu Astrid, apa kamu juga tidak makan ? Kenapa cuma Paklek yang merasa kesakitan ?" Tanya Tata.
'Mungkin benar apa yang Tata katakan. Secara aku juga ikut makan kiriman itu. Dan hanya Bapak yang mengalami diare dan muntah-muntah. Tapi kenapa ? dan untuk apa Astrid melakukan itu.' Pikir Bulek Rukmini, mengingat-ingat kejadian tempo hari.
"Apa ? apa maksud kamu ? kamu menuduhku meracuni Bapakku sendiri !" Teriak Astrid, seolah tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan kepadanya.
"Nduk, jangan sembarang menuduh. Mana mungkin Astrid seperti itu kepada Bapaknya sendiri." Bela Bulek lagi.
"Saya bicara karena ada bukti Bulek." Jawab Tata tegas.
Tata membuka kembali video yang dia dapatkan dari Reza. Bukan hanya Bulek yang kaget melihatnya, tapi juga Paklek Arman yang shock saat melihat langsung apa yang dilakukan anak gadisnya.
"Benar apa yang ada di dalam video itu Astrid ?" Tanya Pak Arman meminta penjelasan.
"Astrid !" Bentak Bulek saat Astrid diam dan tidak mau berkata jujur.
"I, iya Buk. Saya mencampur makanan Bapak dengan obat pencuci perut." Ucapnya lirih.
"Astagfirullah." Ucap Paklek kecewa dengan kelakuan anaknya sendiri.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu Astrid." Maki Tata jengkel.
"Kamu tahu, secara tidak langsung kamu meracuni Bapak kamu sendiri. Karena dosis yang kamu berikan berlebihan. Dan itu sudah termasuk tindakan kriminal." Kata Al mempertegas.
'Sial, dari mana mereka tahu. Ini semua gara-gara Andri. Aku harus minta pertanggungjawaban dari dia.' Gerutunya dalam hati.
"Bapak tidak menyangka, kamu tega melakukan hal ini kepada Bapak Nak." Keluh Pak Arman.
"Memalukan, kenapa kamu melakukan itu kepada Bapakmu sendiri !" Kali ini Bulek Rukmini ikut menyalahkan.
"Aku hanya ingin memberi pelajaran sama Tata. Lagipula, ibu juga tidak suka kan kalau Tata mendapatkan apa yang dia mau." Teriaknya mencari alibi.
"Tapi bukan begitu caranya Astrid, apa jadinya jika sampai Bapakmu benar-benar keracunan." Kata Bulek merasa bersalah.
"Maaf Buk, Astrid menyesal melakukannya."
Astrid hanya bisa merunduk dan menyesali apa yang dia perbuat. Entah benar atau tidak itu yang dia ucapkan.
"Boleh saya tahu, apa tujuanmu melakukan itu. Tidak mungkin hanya karena ingin memberi pelajaran istri saya. Kenapa ada orang lain yang terlibat ?" Tanya Al merasa dipermainkan.
Sebenarnya Al sangat marah. Karena upacara pernikahannya yang sakral harus terhambat oleh ulah nakal seorang Astrid. Bukan hanya itu, bahkan dia berani mengorbankan orang tuanya sendiri demi mencapai sebuah kepuasan semata.
"Aku, aku tidak punya tujuan apa-apa." Sangkalnya.
"Bohong, apa perlu saya laporkan kasus ini, supaya kamu jera." Ancam Al yang sempat membuat Astrid ketakutan.
"Bantu ? Siapa yang kamu bantu ? Apa ada orang lain yang menginginkan agar pernikahan kami batal, selain kamu ?" Tanya Al lagi, memancing agar Astrid menyebut nama seseorang.
"I, iya Pak Al." Ucapnya gugup.
"Oke, mungkin hanya kamu saja yang tahu. Tidak perlu kamu sampaikan, karena saya sendiri sudah tahu."
"Andri Pak, Andri ikut andil dalam masalah ini." Akhirnya tanpa banyak bicara, Astrid mengatakan apa yang sebenarnya.
"Ya Allah, Astrid. Kenapa kamu lakukan ini sama Bapak Nak." Sesal Paklek Arman.
"Astrid tidak tahu lagi harus bagaimana Pak. Apa yang Tata inginkan semua tercapai. Sedangkan Astrid, pengorbanan apa yang sudah Bapak berikan untuk Astrid !" Protesnya.
"Apa selama ini yang Bapak lakukan untukmu belum cukup !" Nada suara Paklek semakin meninggi.
"Terserah Bapak, belain saja terus keponakan kesayangan Bapak itu !" Kata Astri tak kalah kerasnya.
Dia sambar tas jinjingnya, lalu pergi ke kamar dan menutup paksa pintu kamarnya, hingga terdengar benturan yang sangat keras.
"Astrid ! Bapak belum selesai bicara !" Panggil Pak Arman lagi.
__ADS_1
"Sudah Paklek, jangan diteruskan lagi. Tata hanya ingin Paklek mengetahui saja." Kata Tata menenangkan.
"Maafkan Astrid Nduk. Paklek sudah salah mendidiknya." Sesalnya.
"Bukan salah Paklek, semua karena Astrid sendiri yang salah dalam bergaul."
"Paklek takut Nduk, jika suatu saat nanti, saat kami sudah tua, Astrid tidak bisa menerima dan merawat kami dengan baik." Keluh Paklek membayangkan masa tuanya.
"Jangan bicara begitu Paklek, kita do'akan agar Astrid bisa lebih bersikap dewasa." Ucap Tata bijak.
Bulek Rukmini yang tadi sempat menggebu-gebu, hanya bisa pasrah dan terdiam melihat adegan barusan.
'Mungkin memang benar, Astrid salah dalam bergaul. Tapi ini juga salahku yang selalu membela dan memanjakannya.' keluh Bulek dalam hati.
Dirasa semua sudah tenang, Tata dan Al segera berpamitan.
"Lupakan yang sudah terjadi Paklek, biarkan Astrid merenungi kesalahannya." Pesan Tata sebelum pamit pulang.
"Terimakasih atas semuanya Nak."
"Kami pamit dulu Pak, Bu."
"Hati-hati di jalan Nak Al, titip Tata ya Nak."
"Insha Allah, ini juga amanah besar yang harus saya jaga." Jawab Al.
"Kami pamit Paklek, Bulek." Kata Tata, sembari mencium punggung tangan Paman dan bibinya.
"Hati-hati ya Nduk."
"Inggih Paklek, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Selama dalam perjalanan pun, Tata masih tetap diam. Mungkin masih memendam kesal sama Al. Tapi dia harus banyak berterimakasih, kalau bukan karena suaminya, siapa yang akan menjadi pelindungnya disaat dalam kesulitan.
"Kenapa Mas ?" Tanya Tata yang akhirnya angkat bicara.
Entah apa yang Al lihat, sejak pulang dari rumah Paklek, Tata merasa Al memperhatikan dirinya.
"Gakpapa, aku tidak menyangka saja, kalau istriku ternyata bisa keras juga." Gumamnya seakan berbicara sendiri.
Senyum Al tertahan, melihat istrinya yang salah tingkah dan kembali diam.
_________________
__ADS_1
_________________
_________________