Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 39. Kembar Bukan Sedarah


__ADS_3

Hari pertama di mana dia memutuskan untuk tinggal di kediaman keluarga Kamandanu.


"Mama."


Seperti biasa, Nindya berteriak kegirangan melihat kedatangan nya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga Nak." Ucap Bunda Arum.


Memang tidak sesuai yang Tata janjikan. Dua hari dari kepulangan Nindya dari rumah sakit, Tata baru bisa menepati janjinya.


Masih banyak yang harus dia bereskan di kontrakan. Terutama berbagai macam barang-barang yang tidak terpakai.


Alat-alat dapur dan perlengkapan lainnya dia bagi semua ke tetangga.


"Mbak Tata, yang ini boleh buat ibu ?" Tanya salah seorang tetangganya waktu itu.


"Silahkan Ibu, dipilih saja apa yang bisa digunakan. Kalau sudah tidak layak untuk dipakai, nanti tinggal dibuang." Begitu jawabnya.


Jika masih ada yang layak jual, dia lelang murah, seperti barang-barang elektronik, hanya untuk menambah uang sakunya.


Tata hanya membawa sebuah travel bag yang berisi pakaian yang masih dia suka. Itupun hanya beberapa, karena masih banyak baju-bajunya yang dia bagi-bagikan ke tetangga.


"Maaf Bunda, Tata harus beres-beres terlebih dahulu." Jawabnya apa adanya.


"Iya, Bunda mengerti. Ayo, Bunda tunjukkan kamar kamu." Kata Beliau menggiringnya ke sebuah ruangan di dalam rumah yang serba mewah itu.


Sebuah ruangan yang lebih besar dari rumah kontrakannya, lengkap dengan ranjang, AC dan almari pakaian, telah disiapkan untuknya.


"Maaf, hanya ini yang bisa kami sediakan. Ini sudah menjadi kamarmu, mau Tata renovasi, atau dihias seperti apa saja silahkan." Kata Bunda saat berada di dalam kamar yang diperuntukkan kepadanya.


"Alhamdulillah, ini sudah lebih bagus dari kamar-kamar yang selama ini pernah Tata gunakan Bunda." Jawabnya terharu.


Bahkan tidak pernah dia bayangkan akan tinggal di kamar yang sedemikian bagus menurutnya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka. Kita jalan-jalan ke belakang yuk. Taruh dulu saja tasnya, nanti di rapikan di almari itu kalau sudah hilang capeknya." Kata Beliau mengajak Tata untuk melihat ke belakang.


Beberapa hari yang lalu, sebelum dia memutuskan untuk tinggal, dia sudah diperkenalkan dengan semua penghuni di dalam kediaman Kamandanu.


Dan hari ini, hari pertama dia tinggal. Dengan ditemani Bunda Arum dan Nindya, dia gunakan waktunya untuk berjalan-jalan mengelilingi kediaman keluarga besar Kamandanu, hanya untuk sekedar menghafal ruang saja.


"Ini kamar Nindya, ada pintu tembus ke kamarmu. Jadi, kalian bisa lebih dekat."

__ADS_1


Kamar Nindya didominasi dengan warna merah muda terlihat sangat bersih dan rapi. Kedepannya, akan menjadi tanggung jawab dia untuk merapikan dan membersihkan kamar ini.


Di sela-sela pembicaraan nya, Nindya menunjukkan beberapa barang-barang kesukaannya. Banyak mainan yang tertata rapi ditempatnya.


Mereka melanjutkan berjalan menuju ruang berikutnya. Satu persatu ruang dibuka dan dipaparkan oleh Bunda.


Kecuali kamar Alfatih. Isi di dalam ruang kamar Al yang tidak Bunda tunjukkan. Beliau hanya memberi tahu kalau ruang yang berada di ujung paling depan itu adalah kamar kepala keluarga di rumah ini.


Dan ruang yang berada tepat di seberang kamarnya, adalah ruang kerja dimana Al selalu menghabiskan waktunya di rumah.


Al terbiasa merapikan dan membersihkan kamarnya sendiri, jadi tidak perlu repot-repot memanggil asisten rumah tangga untuk membantu memberikan nya.


Bagi Al, kamar adalah privasinya. Maka tidak boleh sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Kecuali Bunda Arum dan Nindya tentunya.


Tata mulai menghafal satu persatu ruang yang ada di dalam rumah etnik modern ini. Mulai dari pendopo depan sampai dapur belakang. Hingga akhirnya mereka sampai pada satu ruang yang terkunci rapat.


'Semua kamar sudah Bunda tunjukkan dan semuanya dalam keadaan tidak terkunci, kecuali kamar Pak Al. Lalu kamar siapa ini ?' Tanya Tata dalam hati.


Kamar terakhir yang mereka kunjungi berada di belakang, seperti sebuah gudang. Tidak mungkin Bunda akan menunjukkan sebuah gudang yang tidak terpakai.


Ceklekk ...


Bukan sebuah gudang, ruangan ini tertata sangat rapi dan bersih pula. Seperti sebuah ruang baca atau bisa dibilang musium mini.


Tata sudah banyak tahu tentang Beliau. Di kantor tempat dia dulu bekerja juga terpampang jelas gambar pemilik perusahaan itu.


"Kalau yang itu foto putri Bunda dan suaminya. Sekar Kinanti, Mamanya Nindya." Kata Beliau sembari memandang sebuah foto prewedding berukuran besar yang terpampang di dinding.


Pandangan mata yang lembut, penuh dengan kerinduan.


"Lihat baik-baik wajah putri Bunda Nduk, apa kamu bisa merasakan sesuatu ?" Kata Beliau yang menghipnotis Anita untuk segera melihat ada apa dengan wajah putrinya.


"Masya Allah ... " Tata membungkam mulutnya sendiri, setelah dia lihat sebuah foto sigle seorang Kinanti, tanpa makeup dengan pakaian sederhana.


Senyumnya mengembang, wajahnya polos, ceria tanpa beban. Itu semua bagai gambaran dirinya.


Ya ... seperti yang pernah kita dengar, bahwa kita mempunyai kembaran bukan sedarah. Mungkin ini salah satunya.


Bibir itu, rambut itu bahkan senyumnya hampir tidak bisa dibedakan.


"Mirip sekali dengan saya Bunda." Bisiknya lirih.

__ADS_1


Tak terasa air mata Tata tiba-tiba mendesak ingin keluar.


"Itulah kenapa, Nindya memanggil mu 'Mama', karena Dya tahu wajah Mamanya sama persis dengan wajah Mama Tata." Kata Bunda menerangkan.


Pernikahan mereka baru seumur jagung. Bahkan Nindya masih sangat merah waktu mereka pergi.


Perasaan haru tidak dapat dibendung lagi. Air mata yang tadi masih tertahan akhirnya menyeruak keluar.


"Posisi Nindya dan saya sama Bunda, sama-sama kehilangan kedua orang tua kami, disaat kami masih membutuhkan mereka. Tapi bedanya Nindya masih ada Bunda dan orang-orang yang sangat sayang kepadanya." Ucapnya lirih.


Bunda Arum menepuk-nepuk bahu Anita. Beliau sangat paham apa yang sedang dia rasakan. Sedikit banyak Bunda sudah pernah mendengar cerita mengenai kehidupan dia bersama Paklek dan Buleknya dari Wulan.


Tata kecil yang harus terus berjuang demi masa depannya, harus rela kehilangan dunia pendidikan, hanya karena keegoisan semata.


"Sabar ya Nak, Bunda percaya, banyak hikmah dibalik sebuah peristiwa." Kata Beliau memberi semangat.


"Bunda bersyukur, Allah mempertemukan kembali Bunda dengan putri Bunda yang telah berpulang. Meskipun dalam raga yang berbeda." Begitu kata Beliau kembali.


"Boleh Tata peluk Bunda ?" Ucapnya meminta izin.


Dengan senang hati, Bunda membuka lebar-lebar rentangan kedua tangannya.


Bunda memeluk erat tubuh mungil Anita di dalam dekapannya. Bukan hanya pelukan hangat yang dia rasakan, tapi juga sebuah kecupan sayang dia terima.


"Eyang, kenapa Mama menangis ?" Tanya Nindya polos.


"Gakpapa sayang, Mama menangis karena bahagia bisa bersama Nindya." Jawab Tata beralih memeluk Nindya.


Dia harus rela melepaskan pelukan hangat Bunda Arum berganti menerima pelukan sayang dari Nindya.


Satu hari telah Tata lalui, bercengkrama dengan keluarga barunya. Kasih sayang dan perhatian yang dia dapatkan lebih dari kasih keluarganya.


Malam ini begitu tenang, Bunda sudah beristirahat di kamarnya. Dan si kecil Nindya sudah lelap dalam mimpinya.


Tapi, rasanya ada yang kurang. Seharian Tata tidak melihat keberadaan Al.


'Dimana dia ? Kenapa jam segini belum juga kelihatan batang hidungnya ?' Pikirnya dalam hati.


_________________


_________________

__ADS_1


_________________


__ADS_2