
Kediaman seorang keluarga Sultan yang nampak sederhana dari luar, namun jika masuk ke dalamnya, setiap orang pasti akan berdecak kagum dengan penataan ruang nya.
Rumah mewah dengan desain etnik modern ini menunjukkan betapa pemiliknya sangat menghargai kekayaan dan budaya Indonesia, namun tetap tidak ketinggalan tekhnologi modern.
Seperti kebanyakan rumah etnik jawa lainnya, rumah ini juga mempunyai halaman yang luas. Dihiasi dengan pohon-pohon yang rindang dan taman bunga yang tertata sangat indah dan rapi.
Rasa kagum membuat Tata lupa akan tujuan awal kedatangannya di rumah ini yaitu mengantarkan Nindya.
"Masih mau bengong di situ ?" Tanya Al mengagetkan.
"Iya Pak, maaf." Ucapnya, segera mengambil barang-barang bawaan keperluan Nindya selama di rumah sakit.
Al menggendong Nindya yang masih terlelap.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Nak." Jawab Bunda yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
"Dya tidur Al ?"
"Iya Bunda, biar Al bawa dulu ke kamarnya." Jawabnya sembari berlalu.
Bunda beralih kepada Tata yang masih sibuk dengan barang bawaannya.
"Biar Watik bantu Mbak." Kata Mbak Watik menawarkan bantuan.
"Oh, terimakasih Mbak."
Satu tas pakaian kotor dibawa mbak Watik masuk ke dalam rumah.
"Masuk Nak, akhirnya kamu main juga ke rumah Bunda." Sapa Bunda kepada Tata.
"Alhamdulillah, iya Bunda. Senang sekali bisa berkunjung ke rumah Bunda."
Bunda Arum, meskipun Beliau seorang konglomerat berdarah biru, tapi Beliau tidak pernah menganggap rendah orang-orang di sekitarnya.
Bahkan Beliau senang merangkul dan membantu sesama. Layaknya seorang tamu yang sebentar lagi akan ikut bekerja di rumah mewah ini, Tata mengikuti ke mana Mbak Watik berjalan membawa barang bawaannya.
"Tata, biarkan itu di situ. Nanti Mbak Watik yang bereskan." Kata Bunda.
"Gakpapa Bunda, biar Tata bantu Mbak Watik sebentar." Jawabnya.
"Kalau sudah, Bunda tunggu di taman tengah ya. Ada yang mau Bunda sampaikan."
"Inggih Bunda."
'Ada apa dengan Bunda ? Kenapa tiba-tiba Beliau memanggil ku ?' Ada perasaan cemas yang Tata rasakan.
"Mbak Watik."
"Iya Mbak."
__ADS_1
"Maaf, taman tengah itu sebelah mana ya ?" Tanya Tata usai menyelesaikan membantu Mbak Watik membereskan barang bawaan Nindya.
"Oh, taman tengah ? Kalau dari sini Mbak Ata lurus, terus belok kiri, lalu belok kanan, terus maju sedikit, di sebelah kanan jalan itu taman tengah." Penjelasan Mbak Watik panjang kali lebar tambah tinggi.
Tata tidak bisa membayangkan, betapa lebar dan luasnya rumah ini, sampai Mbak Watik harus memberikan keterangan seperti menjelaskan sebuah denah.
"Eehhhmmmm ..." Gumamnya sembari berfikir.
"Bingung ya Mbak, atau_"
"Kenapa ? mau saya antar ?" Kata Al menyambar kalimat Mbak Watik.
"Nah, itu dia Mas Al yang antar." Celoteh Mbak Watik merasa terbebas dari tugas.
Entah sejak kapan Al berada di situ. Yang pasti dia sudah mendengar semua perbincangan Tata dengan asisten rumah tangganya.
"Mau saya gandeng ? Entar takutnya nyasar." Canda Al mengulurkan tangan.
Demi menjaga tata krama dan sopan santunnya, Tata hanya tersenyum menjawab candaan Al.
Dia harus mulai berfikir logis, bahwa diantara keduanya tidak mungkin bisa saling mengisi satu sama lain.
Ibarat bumi dan langit, jauh dan tidak mungkin bisa saling menyatu.
"Kamu berani menghadap Bunda sendirian ?" Bisik Al menakut-nakuti.
"Memangnya kenapa Pak ?" Tany Anita penasaran.
Tapi tidak mungkin Bunda Arum seperti itu. Meskipun belum lama Tata mengenal Beliau, Tata paham betul bagaimana karakteristik Beliau.
"Tau ach." Jawab Tata acuh.
"Hhhhmmmm ... lihat saja nanti. Awas, jangan minta tolong, kalau kepepet lari saja." Canda Al semakin menjadi-jadi.
"Jeeee ... "
Sesampainya di taman tengah, Tata melihat Bunda Arum sedang bercengkrama dengan bunga-bunga nya.
Beliau tetap kelihatan cantik dan anggun, meskipun usia Beliau sudah tidak muda lagi.
"Duduk Nduk."
Bunda Arum yang dulu tidak begitu peduli dengan adat istiadat dan bahasa jawa, sekarang semakin mengagumi keistimewaan budayanya sendiri. Bahkan dia ajarkan semua itu kepada cucunya, Nindya.
"Kemaren Al sempat cerita kepada Bunda, tentang niatnya memintamu untuk tinggal di bersama Bunda." Kata Beliau mengawali pembicaraan.
"Al juga cerita mengenai huru-hara yang terjadi pagi itu." Lanjutnya.
"Jadi, Bunda ingin mendengar langsung, apa benar kamu mau menerima tawaran Al untuk tinggal bersama kami di sini ?" Inti dari pertanyaan Bunda Arum.
Tata masih bimbang, bagaimana harus menjawabnya. Di satu sisi, dia ingin menghindari kejaran Andri, tapi di sisi lain, dia ingin hidup bebas tanpa tekanan.
__ADS_1
Tapi, lagi-lagi dia ingat akan permintaan Nindya. Gadis kecil itu, memintanya untuk tinggal bersama, meskipun sebagai seorang pengasuh.
'Ya, aku hanyalah seorang pengasuh, tidak lebih. Lebih baik aku terima tawaran Pak Al, apalagi aku sedang membutuhkan tempat tinggal yang aman dari kejaran Mas Andri. Jika semua sudah mereda, dan Nindya sudah bisa aku tinggal, aku akan pergi dari sini.' Pikirnya di dalam hati.
"Bagaimana Nduk ?" Sekali lagi Bunda bertanya, setelah terlihat ada keraguan di wajah Tata.
"Inggih Bunda, saya menerima tawaran Pak Al, sebagai pengasuh Nindya di rumah ini." Jawabnya mantap.
"Saya tidak bilang untuk jadi pengasuh Bunda. Saya hanya_"
Al ..." Sela Bunda memberi kode untuk diam.
Al protes, merasa kalimat yang Tata ucapkan tidak sesuai dengan kalimat yang Al sampaikan, meskipun pada intinya sama.
"Sudah kamu pikirkan masak-masak ?"
"Bismillah, sudah Bunda." Ucapnya memantapkan keputusan nya.
Bukan hanya tempat yang aman dan nyaman untuk Tata tinggal, tapi juga beberapa fasilitas dan gaji juga dia dapatkan.
Tidak banyak yang mereka perbincangkan saat ini. PR Tata yang paling utama adalah kembali ke rumah kontrakan dan mengemas barang-barangnya.
"Tata pamit dulu Bunda."
"Jangan lama-lama ya, biar Al yang antarkan." Kata Bunda.
"Ti, tidak perlu Bunda. Lebih baik saya naik taxi online saja." Jawabnya menolak.
"Mulai sekarang, kamu salah satu dari tanggungjawab ku. Jadi kemanapun kamu akan pergi, harus dengan saya atau sopir di rumah ini." Kata Al menyela.
'Huuffff ... Ternyata jadi bagian dari orang kaya itu merepotkan. Tidak bisa bebas kemana-mana.' Gumam Tata dalam hati.
Begitu ultimatum yang Al berikan, membuat dia harus mengikuti bagian dari peraturan di rumah ini.
"Nanti saya ditinggal saja Pak. Kalau sudah selesai beres-beres, saya langsung ke rumah Bapak." Kata anita.
"Tidak, aku akan membantumu beres-beres sampai selesai." Jawab Al datar.
"Yassalammmm ..." Komentar Tata lirih.
"Ngomong apa kamu berusan ?"
"Tidak apa-apa Pak."
Tata kembali membuang mukanya ke luar jendela. Berharap mendapatkan suasana yang menyejukkan hati di luar sana. Bukan suasana yang dingin dan hambar seperti yang dia alami di dalam mobil yang mereka tumpangi saat ini.
______________________
______________________
______________________
__ADS_1