Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 43. Kecewa


__ADS_3

Tata berlari ingin cepat-cepat menuju lantai dasar, untuk segera pulang ke rumah. Dia tekan tombol open pada life dengan sedikit kasar. Berharap pintunya segera terbuka dan membawanya menjauh dari tempat ini.


Entah apa yang saat ini dia rasakan. Perasaan yang tak lazim, bahkan belum pernah dia rasakan sebelumnya.


'Andai saja, aku tidak menerima permintaan Mbak Watik untuk mengantarkan makanan.' Sesalnya di dalam hati.


'Siapa perempuan itu ? Kenapa dia sangat akrab dengan Pak Al. Apa mungkin itu perempuan yang Pak Al suka ?' Berbagai pertanyaan berkeliling di dalam pikirannya.


"Mbak Ata, cepat sekali ? Sudah bertemu dengan Pak Al ?" Tanya Pak satpam yang kebetulan berpapasan dengan nya.


"Sudah Pak. Maaf, saya buru-buru." Jawabnya dan segera berlalu. Bahkan dia sampai lupa, ada janji bertemu dengan Nia di ruang kerjanya.


Perasaan tak nyaman membuat dia ingin segera pulang.


'Apa yang terjadi denganku ?


Kenapa hatiku begitu sakit, saat melihat Pak Al dengan perempuan lain ?


Padahal, belum tentu Pak Al juga merasakan hal yang sama.' Keluhnya sendiri.


"Terimakasih Mas." Ucapnya setelah seorang abang ojek online mengantarkan sampai depan rumah dengan selamat.


"Sama-sama Mbak, jangan lupa kasih bintang ya Mbak." Jawabnya meminta imbal balik atas pelayanan yang dia berikan.


Tata mengangguk sembari tersenyum manis. Dia masih bisa tersenyum, meskipun ada sedikit lubang di dalam hatinya.


"Kok cepat sekali Mbak Ata ?" Sapa Pak Slamet yang membukakan pintu pagar untuknya.


"Iya Pak, saya cuma antar saja." Hanya itu yang dia sampaikan.


"Lah itu Pak Al." Kata Pak Slamet mengarah pada sebuah mobil Honda CR-V warna silver yang biasa dia kendarai.


Tata menoleh ke belakang, dan memang benar itu mobil Al.


'Tapi, bagaimana bisa dia sudah ada di sini ?' Komentar Tata dalam hati.


Mungkin, disaat Tata sedang menunggu abang ojol, Al juga bergegas menyusulnya. Jadi waktu mereka tidak terpaut terlalu lama.


'Tapi, dimana perempuan itu ? Kenapa dia meninggalkan nya ?' Lagi-lagi hal yang bukan menjadi urusannya berkoar-koar ingin tahu di sekeliling pikirannya.


'Ah, sudahlah, toh itu juga bukan urusan saya.' Ucapnya dalam hati memupuk rasa.


Tata segera berlari masuk ke dalam rumah, saat Al masih sibuk memarkirkan kendaraannya di halaman depan.


"Mbak Ata, sudah pulang ? Cepat sekali ?" Tanya Mbak Watik heran.


"Iya Mbak, kan saya cuma mengantarkan saja." Jawab Tata apa adanya.


"Dya mana Mbak ?"


"Dya sedang mainan di kamarnya."


"Ya sudah, saya ke dalam duli ya Mbak." Pamitnya.


"Iya Mbak, saya sekalian mau minta izin. Baru saja dapat telepon dari keponakan, katanya ibunya atau kakak saya masuk rumah sakit." Kata Mbak Watik.


"Oh, iya Mbak. Tidak apa-apa, nanti saya sampaikan kepada Bunda, kalau Beliau tanya."


"Terimakasih Mbak Ata."


"Hati-hati di jalan ya Mbak, semoga Bude lekas sembuh."


"Amien, terimakasih Mbak."

__ADS_1


Mbak Watik segera berkemas, saat Tata sudah menghilang di balik pintu kamar Nindya.


"Lo ... Mas Al, bukannya tadi sudah di antar makan siang sama Mbak Ata ya ?" Sapa Mbak Watik saat mereka bertemu di depan pintu.


Di tangan Al ada rantang susun yang tadi Tata bawa ke kantor.


"Mbak Watik mau kemana ?"


Bukannya menjawab, malah Al ganti bertanya.


"Saya mau minta izin Mas, kakak saya masuk rumah sakit, barusan keponakan saya telepon." Jawabnya.


"Lalu, Tata dimana ?" Itu dia pertanyaan pokok yang akan dia sampaikan.


"Ada di kamar Dedek Dya Mas." Jawabnya, masih berharap diberi izin atas kalimat yang tadi dia sampaikan.


"Lalu, Mbak Watik mau naik apa ke rumah sakit ?"


"Ini, saya mau minta tolong Pak Slamet buat carikan tukang ojek."


"Mbak Watik bisa bawa motor kan ? Pakai saja motor yang biasa Tata pakai. Kuncinya ada di post depan."


"Beneran Mas ?" Tanya Mbak Watik memastikan.


"Iya, pasti nanti Mbak Watik perlu kendaraan buat kemana-mana."


"Iya Mas, terimakasih banyak."


"Oh ya, ini buat beli bensin." Al berikan tiga lembar ratusan ribu kepada asisten rumah tangganya.


"Alhamdulillah, terimakasih Mas."


"Hhhmmm." Jawabnya diiringi anggukan dan kedipan mata.


Ceklekk ...


Dia buka pintu kamar Nindya. Tata menoleh kaget dengan kedatangan Al.


'Kenapa Pak Al sudah ada di rumah ?' Pikirnya.


"Ikut saya." Bisiknya, takut kalau Nindya akan terbangun.


Al menarik pergelangan tangan Tata.


"Pak Al, sakit Pak. Saya mau dibawa kemana ini." Ucapnya setengah berbisik.


Al membawa Tata menuju ruang kerjanya.


"Lepaskan Pak, nanti Dya bangun." Ucapnya lagi.


"Dya tidak akan bangun, kalau kamu tidak berisik." Jawab Al.


'Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati. Apa yang akan terjadi selanjutnya ? Ada apa dengan Pak Al ? Sebentar-sebentar dia baik, sebentar-sebentar membuat sakit hati ini.' Keluh Tata dalam hati.


'Sakit hati ?


Kenapa saya harus sakit hati ?


Toh dia bukan siapa-siapa saya.'


Ungkapan hatinya merenda rasa.


"Duduk dan temani saya makan." Kata Al sesampainya mereka di dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


"Apa maksud Pak Al ? Buat apa saya tadi jauh-jauh ke kantor Pak Al, kalau hanya dibawa pulang lagi." Kata Tata, saat Al tunjukkan bekal makan siang yang tadi dia antarkan.


"Suruh siapa kamu kabur dan tidak mau menungguku makan siang ?" Kata Al mau menang sendiri.


"Saya tidak kabur Pak, tugas saya mengantar bekal makan siang Pak Al, dan itu sudah saya laksanakan. Apa lagi ?" Protesnya kesal.


"Jangan terlalu banyak protes. Sekarang duduk dan temani saya makan." Dia tarik pelan pergelangan tangan Anita agar bisa menempatkan tubuhnya di samping Al duduk.


"Iya-iya, sudah, saya tungguin." Jawabnya seolah tidak ikhlas.


"Suapin saya." Kata Al sembari menyodorkan bekalnya sendiri.


"Jangan bercanda ya Pak !" Sungut Tata mulai geram.


"Saya tidak bercanda, makan siang saya akan lebih nikmat kalau kamu suapin dengan ikhlas." Kata Al terlihat cuek, sembari menggulung lengan kemejanya sampai batas siku.


"Pak Al apa-apain sih, gak lucu tau."


"Ayo lekas."


"Iihhhh..." Gerutu Tata, tapi tetap saja dia lakukan.


Seperti seorang anak yang haus akan perhatian, Al dengan lahap menerima suapan dari tangan Tata.


"Kamu tadi kenapa langsung pergi ?" Tanya Al membuka suara.


"Gakpapa Pak, saya cuma tidak mau saja mengganggu aktivitas Pak Al." Jawab Tata tanpa memandang lawan bicaranya.


Al meraih sendok dan rantang makanan dari tangan anita untuk dia letakkan di atas meja.


Dia raih kedua tangan anita yang masih diam mematung.


"Lihat aku Ta. Jujur, apa kamu cemburu melihat ku tadi ?" Tanya Al.


Mata Tata nanar melihat wajah Al.


'Apa ada yang salah dengan pendengaranku ?


Apa maksud Pak Al bertanya seperti itu ? Apa dia hanya mempermainkanku ?'


'Tidak mungkin Pak Al menyukaiku, aku hanyalah gadis kampung yang tidak layak mendapatkan perhatian seorang sultan.' Kata hati Tata yang menyadari siapa dirinya.


Dia tarik kedua tangannya dari genggaman Alfatih.


"Tidak Pak, saya cuma merasa risih melihatnya."


Begitu mendengar jawaban darinya, Al langsung terdiam tanpa banyak tanya lagi.


"Apa mau dilanjutkan makannya ?" Tanya Tata.


"Tidak, terimakasih. Kamu boleh pergi."


Anita meninggalkan ruang kerja Al dengan perasaan hampa.


'Bodoh kamu Ta, kenapa tidak kamu jawab iya tadi.' Ejek sisi hatinya.


'Sesal itu pasti di belakang. Lagipula kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.' Sambung sisi hatinya yang lain.


____________________


____________________


____________________

__ADS_1


__ADS_2