Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 48. Saran Bunda


__ADS_3

"Al, Bunda mau bicara sebentar" Panggil Bunda sebelum Al berangkat ke kantor.


Al menurut dan mengikuti Bunda menuju ruang keluarga.


"Ada apa Bunda ?" Tanya Al penasaran, nasehat apa yang akan Bunda sampaikan kali ini.


"Jujur, Bunda tidak suka kamu terlalu dekat dengan gadis itu." Kata Bunda tanpa menyebutkan siapa gadis yang Beliau maksud.


"Maksud Bunda, Bella ?" Tanya Al menegaskan.


"Ya."


Al menghela nafas panjang. Sudah dia duga, pasti ke sana arah pembicaraan Bunda. Sejak kejadian semalam, Bunda kelihatan berbeda.


Apalagi melihat sikap Bella yang tidak menunjukkan adat ketimuran. Mulai dari cara dia berpakaian sampai bertutur kata, tidak sesuai dengan kriteria yang Bunda inginkan.


"Al tahu Bunda, itulah kenapa Al tidak pernah menanggapi kehadirannya." Jawab Al.


"Lalu, bagaimana bisa dia datang ke kantormu dan hadir ke rumah kita, merusak makan malam yang sudah Bunda siapkan." Gerutu Bunda menyesali kejadian semalam.


"Al juga tidak tahu Bunda, dia tiba-tiba datang sendiri dan Al juga tidak tahu kapan dia tiba di kota ini." Kata Al memberikan pembelaan.


"Kamu harus bersikap tegas Al, kalau kamu memang tidak suka, bilang tidak suka. Jangan memberikan harapan." Kata Bunda mulai terdengar kemarahan Beliau.


"Iya Bunda, nanti Al coba bicara lagi dengan Bella." Jawab Al ingin menyudahi pembicaraan rumit pagi ini.


"Bunda hanya tidak mau, putra Bunda salah dalam mengambil keputusan. Bunda ingin kamu mendapatkan pendamping yang lebih baik Nak."


"Iya Bunda, Al mengerti."


"Sebenarnya, ada hal penting yang ingin Bunda sampaikan."


Ternyata, apa yang Al pikir sudah berakhir, semua salah. Masih ada hal yang akan Bunda sampaikan lagi. Dan kali ini, tidak bisa dia tebak, mengenai hal apa.


"Ini soal, Tata." Kata Bunda mengawali pembicaraan lagi.


"Tata ?"


"Iya Nak."


"Ada apa dengan dia Bunda ?"


"Bunda sangat menyukai gadis itu Al, dia sangat menyayangi Nindya."


"Iya Bunda." Komentar Al membenarkan apa yang Bunda sampaikan.


"Terus terang, Bunda hanya ingin tanyakan satu hal."


Al masih mendengarkan apa yang akan Bunda sampaikan.


"Mungkin ini terdengar tidak menarik untukmu, tapi Bunda hanya ingin mengetahui pendapatmu saja. Bunda yakin, di hati kecil kamu tersimpan rasa simpati kepadanya. Apa pendapatmu tentang dia Nak ?"pancing Bunda lagi.


Al menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang dia duduki saat ini. Kedua telapak tangannya bersatu, dia mainkan ibu jari yang sejak tadi menyatu pankuannya.


"Entahlah Bun, Al masih ragu. Tata orangnya tertutup, hatinya susah ditebak." Jawabnya lirih.

__ADS_1


"Bunda ingin, kamu jujur dengan hatimu. Karena Bunda mendengar kamu sudah banyak membantu dia. Bunda tahu bagaimana sifat putra Bunda."


Entah darimana Bunda bisa banyak tahu kiprahnya di luar sana. Memang, Al seorang yang dermawan dan punya jiwa sosial yang tinggi.


Namun untuk yang satu ini ada hal yang berbeda yang Al lakukan untuk Tata. Bunda sudah banyak mendengar cerita tentang Al dan Tata di luar sana.


Dan untuk wanita yang satu ini, dia rela berkorban demi kebahagiaan Tata. Hal itu juga sudah sampai di telinga Bunda.


"Kalau boleh Bunda sarankan, ajak dia keluar. Kalian bisa bicara lebih dekat dari hati ke hati." Kata Bunda menyarankan.


"Iya, nanti Al fikirkan lagi Bunda."


'Bunda sudah mendukung ku, lalu... apalagi yang aku tunggu. Tapi, apa Tata mempunyai perasaan yang sama dengan ku.' Pikirnya dalam hati.


Seharian, selama di kantor, Al memikirkan apa yang Bunda sampaikan.


"Za, tolong ke ruangan saya sebentar."


Tok ... tok ... tok ...


"Masuk."


"Siang Pak Al. Ada yang bisa saya bantu ?" Sapa Reza yang dipanggil atasannya.


"Za, ini semua jadwal saya minggu depan." Dia letakkan map warna jingga di atas meja.


"Tolong kamu handle semuanya, saya akan pergi ke luar kota untuk dua hari kedepan."


"Baik Pak, coba nanti saya cek ulang. Apa kira-kira Bapak perlu sesuatu yang bisa saya bantu ?"


Siang itu juga Al pergi meninggalkan kantor. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang pasti ada semangat di hatinya untuk berbuat sesuatu, usai diberi nasehat Bunda tadi pagi.


"Mas Al, tumben pulang lebih cepat." Sapa Pak Slamet yanb membukakan pintu gerbang.


"Dya, Papa pulang." Ucapnya ceria.


"Papa." Nindya berlari ke pelukan Papa angkatnya.


"Dya mau Papa ajak jalan-jalan ?"


"Mau !"


Jalan-jalan memang identik dengan anak kecil, dan sama seperti Almarhumah Kinanti yang hoby traveling, Nindya juga suka traveling.


"Tata, siapkan beberapa pakaian dan keperluan Nindya untuk beberapa hari. Kita akan pergi berlibur." Kata Al minta tolong


Sejak kejadian di rumah Paklek Arman, baru kali ini mereka bicara kembali.


"Berlibur Pak ?"


"Iya berlibur, Nindya dan kamu juga." Jawabnya mempertegas.


"Tapi Pak, saya _"


"Sudah, jangan terlalu banyak bertanya. Cepat berkemas."

__ADS_1


'Apalagi yang dia rencanakan kali ini ? Dasar labil.' Gerutu Tata dalam hati.


Al mengajak Tata dan Nindya untuk liburan, setelah meminta izin kepada Bunda.


Tentu saja Bunda mengizinkan, karena itu salah satu yang Bunda mau, kedekatan mereka berdua. Bukan hanya dekat, tapi juga lebih mengenal satu sama lain.


"Kita mau kemana Pa ?" Tanya Nindya setelah mereka berada di dalam mobil.


"Kita jalan-jalan, mencari udara segar yang jauh dari kebisingan." Jawab Al.


"Sudah, Dya bobok dulu ya. Nanti kalau sudah sampai, Mama bangunkan."


Nindya menurut saja, apa yang Tata Ucapkan.


Sebenarnya kepergian mereka bukan tanpa maksud. Al sengaja mengajak mereka pergi, selain atas saran Bunda, Al juga ingin menghindar dari kedatangan Bella.


Semakin lama, Al merasa terganggu dengan kehadiran dia. Memang, semua ini salah dia juga.


Dulu, waktu dia patah hati saat Kinanti menikah dengan pilihan hatinya, Al mencoba mencari ketenangan hati dengan dekat dengan Bella.


Dinginnya AC dan lembutnya tepukan hangat di pangkuan Tata, membuat Nindya terlelap dalam tidurnya.


"Dya sudah tidur ?" Tanya Al memecah kesunyian.


"Sudah Pak."


"Apa kamu tidak ada rencana untuk tidak memanggilku dengan sebutan Pak ?" Tanya Al yang membuat hati Tata mulai deg-degan.


"Maksud Bapak ?"


"Apa kira-kira saya sudah terlalu tua, hingga harus dipanggil Pak ?"


"Oh tidak Pak, eh ... maaf."


Sangat terlihat wajah Tata yang memerah karena malu. Bibirnya sudah terbiasa memanggil Al dengan sebutan Pak. Dan kali ini, dia diminta untuk tidak menggunakan sebutan itu untuknya.


Al terlalu kaku untuk merayu seorang wanita. Sedangkan Tata, masih terlihat tertutup untuk seorang pria.


"Lalu, saya harus memanggil dengan sebutan apa Pak ?" Tata memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak lagi." Gerutu Al lirih.


"Entahlah, sesuka kamu saja." Nada bicara Al terdengar sedang ngambeg.


"Emmm ... Mas Al, seperti Mbak Watik dan Pak Slamet saat memanggil mungkin ?"


"Terserah kamu saja." Jawab Al masih ngambeg.


'Uuuuufffhhh ... ternyata orang kaya suka ngambek juga.' Gerutu Tata dalam hati.


Melihat Al sedang badmood, Tata hanya diam dan membuang muka. Lebih memilih melihat pemandangan sekitar yang mereka lalui.


__________________


__________________

__ADS_1


__________________


__ADS_2