Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 61. Bulan Madu Part 1


__ADS_3

Dingin, saat Tata mencoba menginjakkan kakinya di antara butiran-butiran pasir pantai. Semilirnya angin malam membuat bulu kuduknya bergidik, memaksanya untuk mengusap kedua lengan agar sedikit terasa kehangatannya.


Dia lepas alas kaki yang memberatkan langkahnya dan mencoba berjalan menyisir tepi pantai.


"Mau kemana ?" Tanya Al yang tadi sempat pamit keluar sebentar membeli cemilan.


"Cari angin malam Mas." Jawab Tata asal.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatan."


"Sebentar saja."


Mau tidak mau Al harus mengikuti kemauan istrinya.


"Mas sendiri mau kemana ?" Tanya Tata menoleh saat dia lihat suaminya mengikuti dari belakang.


"Cari angin malam." Jawab Al menirukan.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatan." Jawab Tata mengembalikan jawaban Al.


"Terpaksa, takut ada yang nyasar." Kata Al tanpa ekspresi.


"Takut ada yang nyasar apa Mas takut kehilangan ?" Canda Anita menggoda.


"Takut kena omel kalau ada yang hilang." Kata Al sembari berlalu, berjalan mendahului.


"Hhhhmmmm."


Tata berlari kecil, meraih lengan kekar suaminya. Perjalanan kali ini memang bukan kemauan Al. Bunda yang mengatur untuk dia dan Tata berbulan madu.


Suara riak air laut terhempas ke tepi pantai, memberikan irama khas. Gelombang laut pasir putih malam ini lebih tenang. Angin lautpun ikut membelai lembut seluruh tubuh mereka.


Bulan sabit bersinar terang membias malam. Bintangpun ikut tersenyum melihat kedua insan ciptaan Tuhan yang sedang dimabuk asmara.


"Indah ya Mas." Gumam Tata memuji ciptaan-Nya.


"Apanya yang indah ?" Tanya Al memperjelas.


"Ya, semuanya." Jawab Tata enggan.


"Tidak ada yang indah disini." Kata Al cuek.


"Mas selalu melihat semua hal ini biasa. Kalau aku tidak, aku selalu mengagumi setiap detail ciptaan-Nya." Jawab Tata berargumen.


"Hhhhmmmm ... tidak ada yang indah di sini, kecuali kamu." Ucap Al masih dengan wajah datarnya.


Meskipun begitu, Tata sudah dibuat lemas layu dengan pujian yang sepele tapi mengena.


Senyumnya malu-malu tertahan, dia beranikan diri untuk menatap lekat laki-laki yang berhasil melelahkan hatinya.


"Mas yakin hanya aku yang paling indah ?" Tanya Tata.


Al belum sekaligus menjawab pertanyaan istrinya. Dia pandangi lebih lekat wajah cantik di depan matanya.


Dia tangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi istrinya.


"Apa aku pernah bercanda dengan ucapanku ?" Kata Al balik bertanya.


Tata hanya menggelengkan kepala, menyetujui pernyataan suaminya. Pantulan sinar rembulan membuat wajahnya cantik bersinar.


Pandangan mata Al begitu tajam, bagai singa yang siap menerkap mangsanya. Tanpa mereka sadari, rasa saling mengagumi membuat keduanya terlena di dalam gelapnya malam.


Dalam diam, Tata merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Andai saja tidak terdengar kepak sayap seekor burung merpati yang terbang bebas, mungkin adegan itu masih berlanjut ke dalam episode berikutnya.


"Kita kembali saja ya ?" Ajak Al yang belum sempat diiyakan Tata, tapi Al sudah menarik jemarinya yang masih erat melekat.


"Mas, kok buru-buru kembali ? Ini kan masih sore." Rengeknya meminta untuk tetap ditempat.

__ADS_1


"Ada PR yang harus kamu kerjakan." Jawab Al tetap berjalan.


Itulah Alfatih, semakin hari, Tata semakin mengenal suaminya. Bukan hanya masalah pribadi, tapi disetiap keinginannya, harus selalu terlaksana.


Namun kali ini beda, keinginan suaminya merupakan kewajiban baginya. Siap tidak siap, dia harus selalu ada setiap saat.


"Mas mau saya ambilkan sesuatu ? Teh hangat atau kopi mungkin ?" Tanya Tata basa-basi.


"Eehhhmmmm ... Aku hanya ingin menyelesaikan PR ku tadi di jalan."


Direngkuhnya tubuh mungil Tata ke dalam pelukan tangan kekarnya.


"Tunggu Mas." Cegahnya saat Al mulai melancarkan aksinya.


"Apa lagi ?"


"Mas mau piring terbang apa prasmanan ?" Canda Tata asal.


"Ah ... kelamaan." Kata Al sembari melucuti pembungkus yang membuat tubuh molek Tata penuh warna.


Selanjutnya, hanya mereka yang tahu.


***


"Aduh si embak cantik, pagi-pagi sudah mandi basah saja." Canda seorang ibu pemilik kios di sebelah bungalow yang Tata tempati.


"Iya Bu, gerah sekali." Jawabnya malu.


"Iya Mbak, gerah apa enggak ya harus basah lah Mbak, Ibu dulu juga pernah muda." Kata si ibu tersenyum menggoda.


"Ibu bisa aja." Komentar Tata sembari membenahi handuk di kepalanya.


'Kemana Mas Al, pagi-pagi kok sudah ngilang.' Pikirnya dalam hati.


"Mbak cari suaminya ya ?" Tanya si ibu lagi, saat Tata terlihat mengamati sesuatu.


"Iya, tadi ibu ketemu di ujung jalan sana." Tunjuknya ke suatu arah.


"Oh, iya. Terimakasih ibu."


"Sama-sama, Mbak mau ibu buatkan yang hangat-hangat ?" Kata ibu menawarkan.


"Boleh Bu, saya mau wedang uwuh saja." Jawabnya memilih.


"Siap, mau ditambahkan susu ?"


"Susu ? Memang enak ya Bu ?"


"Belum pernah mencoba ?


"Belum."


"Kesukaan Mbak, kalau Mbak nya suka susu ya rasanya segar, seperti susu jahe." Ucapnya menerangkan.


"Eehhmmm .. boleh juga, saya coba Bu."


Pagi ini, cuaca memang sangat mendukung untuk menikmati deburan ombak di pantai. Tapi entah kemana Al pergi, sejak Tata keluar dari kamar mandi, dia tidak mendapati suaminya di kamar.


"Ini Mbak, special saya buatkan untuk Mbak cantik." Kata si ibu sembari memberikan segelas besar wedang uwuh.


"Terimakasih Bu, berapa ini Bu ?"


"Sudah dinikmati dulu saja, khusus untuk Mbak cantik ibu berikan cuma-cuma." Jawabnya riang gembira.


"Aduh, jangan begitu ibu. Masak pagi-pagi saya sudah dapat jatah."


"Tidak apa-apa, itu juga tanda terimakasih saya. Karena kemaren Masnya sudah bagi-bagi rezeki untuk kami." Jawabnya tulus.

__ADS_1


Memang sebelum kami putuskan untuk menginap di bungalow ini, Mas Al sempat memberikan uang lebih kepada setiap penjual yang dia beli dagangannya.


"Terimakasih banyak Ibu, saya jadi gak enak kalau begini."


"Tidak apa-apa Mbak, kalau ada yang diinginkan. Bilang saja sama ibu ya, ibu ada terus di sini."


"Iya ibu, saya Anita Bu. Panggil saja Tata."


"Oh, iya Mbak Tata. Saya Bu Piyah." Jawabnya lagi.


"Iya Bu Piyah, sekali lagi terimakasih. Boleh saya bawa ke dalam ?"


"Boleh-boleh, silahkan." Jawab Bu Piyah.


"Saya tinggal dulu ya Bu."


"Silahkan Mbak Tata. Kalau perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan bilang sama ibu."


Tata tersenyum sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Apa itu ?" Tanya Al saat melihat istrinya membawa sesuatu.


Tata kembali berbalik arah, sebelum sempat membuka pintu kamarnya.


"Mas Al, Mas dari mana ? Ini wedang uwuh, Mas mau ?"


"Tidak, aku minta air putih hangat saja." Jawabnya sembari meletakkan pantatnya di tepian anak tangga menuju bungalow yang kami tempati.


"Ini Mas." Dia berikan segelas air hangat yang langsung diteguk habis olehnya.


Melihat dari peluh yang mengalir di sekujur tubuhnya, sudah bisa dipastikan, kalau suaminya baru pulang joging pagi ini.


"Mas lari pagi ?"


"Hehem."


"Sendirian ?" Tanya Tata penuh selidik.


"Memangnya, kamu lihat, aku sama siapa ?"


"Enggak."


"Ya sudah." Ucap Al sembari membasuh keringat yang mengalir di tubuhnya.


"Kenapa gak ajak aku tadi." Protesnya lagi.


Al kembali memutar tubuhnya menghadap seorang wanita yang baru saja melayangkan sikap protesnya.


"Sayang, tadi Mas lihat tidu kamu pulas sekali. Mas tidak mau mengganggu istirahatmu. Lagipula kalau kamu ikut, pasti semakin banyak protes di jalan." Jawab Al sembari memandang lekat wajah Tata yang sudah nampak segar kembali.


"Satu lagi, aku tidak mau kamu terlalu capek. Apalagi hanya karena hal sepele seperti ini."


"Eeehhhmmm ... Jadi terharu." Komentar Tata manja.


Spontan dia lingkarkan kedua tangannya kepada laki-laki yang sangat dia cintai ini.


"Eits ... kotor sayang, Mas mau mandi dulu. Masih bau." Elaknya.


"Tapi aku suka aroma khas Mas Al habis olahraga begini." Rengeknya semakin manja.


"Jorok." Gertak Al melepaskan kedua tangan Tata yang melingkar di perutnya.


Dia tinggalkan istrinya yang masih terlena, dengan senyum manis di bibirnya.


_________________


_________________

__ADS_1


_________________


__ADS_2