Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji 2 (Kembalinya Sang Sultan)
KSS. 21. Keributan di Rumah Paklek


__ADS_3

Al masih berhenti dan memperhatikan gadis lugu itu berjalan sedikit menjauh dari mobilnya, tapi masih dalam jangkauan matanya.


Kring ...


Terlihat nama Reza pada layar handphone Al yang berdering.


"Ya Za."


"Maaf Pak, kenapa berhenti ? Apa ada masalah ?"


"Tidak ada, belum. Kita lihat dulu saja sebentar."


Al menutup sambungan selulernya, usai memberi informasi yang kurang jelas kepada Reza.


Disaat itulah insting seorang detektif muncul dari diri seorang Reza. Dia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di tempat lain dan ikut berjalan kaki mengikuti gadis pujaan hati Bos mudanya.


Al yang melihat hanya membiarkan saja, dia tahu betul Reza pasti akan lebih berhati-hati dalam bertindak.


"Assalamu'alaikum Bulek." Sapa Anita sesampainya di depan rumahnya yang lama dia tinggalkan.


"Eh, ada tamu rupanya." Celetuk Bulek Rukmini tanpa menjawab salam dari tamunya.


"Perasaan dari dulu sampai sekarang sama saja ya Buk." Ejek Astrid tak kalah pedasnya.


"Kondisi Paklek bagaimana Bulek ?"


"Kondisi Paklekmu sedang kurang baik. Sana lihat, Bulek pengen tahu, apa yang akan dibicarakan Paklekmu sehingga ngotot pengen ketemu sama kamu." Kata Bulek melotot.


'Ya Allah, perasaan dari dulu sampai sekarang sama saja. Masih sama judesnya. Uppsss... hehehe' Komentarnya di dalam hati, menirukan ejekan sepupunya.


"Eits ... Tapi ingat, jangan sampai Paklekmu tahu, kalau kamu keluar dari rumah ini karena kami usir !" Kata Bulek sembari menarik kerah leher Anita dari belakang seperti anak kucing.


"Lalu, apa yang harus Tata katakan ?" Tanyanya ingin tahu.


"Dasar bocah gemblong ! Memangnya kamu mau jawab apa ! Kamu mau ngomong yang sebenarnya sama Paklekmu ! Biar dia shock, kejet-kejet terus mati gitu !" Ucapan sadis Bulek Rukmini.


"Ibuk, jangan keras-keras. Nanti kalau Bapak dengar bisa tambah runyam kita." Bisik Astrid yang punya rasa takut juga ternyata.


"Astagfirullah, bukan begitu Bulek. Takutnya Tata salah ngomong dan tidak sesuai dengan apa yang pernah Bulek sampaikan."


"Ya sudah, ngomong saja kalau Mbak Tata kecantol cowok dan ikut pergi bersamanya. Gitu saja kok repot." Sambung Astrid tidak kalah judesnya.


Reza yang melihat kejadian itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Begitu halnya dengan Al yang juga melihat langsung melalui video yang Reza kirimkan.


"Menarik sekali, aku jadi ingin tahu bagaimana sebenarnya keluargamu. Sehingga kau terbuang sampai ke rumah singgah." Komentar Al sendiri.

__ADS_1


Reza menunggu instruksi dari Al. Mereka pergi bersama ke rumah Pak Arman. Namun sebelum permisi minta izin untuk masuk, Al mengintai situasi yang ada di dalam rumah.


"Assalamu'alaikum Paklek." Sapanya halus kepada orang yang dia anggap sebagai pengganti kedua orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam, Masya Allah cah ayu. Apa kabarmu Nduk ?"


Paklek segera memutar kursi rodanya dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk keponakan tersayangnya.


"Alhamdulillah, Tata baik-baik saja Paklek."


Air matanya tak mampu dia tahan lagi.


"Paklek bagaimana kondisinya ?" Tanyanya mengabarkan.


"Alhamdulillah, Paklek masih diberikan umur panjang Nduk. Ini sudah agak mendingan."


"Kalau diberi umur panjang, ya cepat sembuh, bekerja lagi cari duit bukan menghabiskan duit." Komentar Bulek.


'Ya Allah, Bulek. Paklek masih sehat saja berani. Apalagi Paklek dalan kondisi seperti ini.' Keluh Anita dalam hati.


"Syukurlah kalau begitu. Tata khawatir sama Paklek, Tata kangen Paklek. Tata pernah mampir tapi rumah kosong, kebetulan Tata bertemu dengan Bude Atun, dan Tata berikan nomor handphone Tata, jika sewaktu-waktu Paklek pulang." Kata Anita di sela-sela isak tangisnya.


"Ya itu, setelah Atun ke sini dan memberikan nomormu. Gak sabar suruh menghubungi. Tuh dah ada orangnya, mau ngomong apa !" Lagi-lagi Bulek tidak memberikan ruang untuk kami bicara.


"Kamu itu, kebiasaan. Kalau ngomong dijaga. Sama-sama mengeluarkan tenaga, mbok ya ngomongnya yang baik." Maki Paklek kepada Bulek.


"Halah, sudah merepotkan, masih saja ceramah. Tu urus itu Paklekmu, apa lagi yang bisa dia andalkan dengan kondisi seperti itu !"


"Paklek yang sabar ya."


"Iya Nduk, suamimu mana Ta ? Kenapa tidak kamu kenalkan kepada Paklek ?"


Serasa mendapatkan sebuah tamparan, Anita mendengar pertanyaan Paklek.


"Su, suami. Saya_"


"Itulah kalau anak gak nurut sama orang tua. Dibela-belain ngejar laki-laki, eh ... Ujung-ujungnya ditinggal juga." Untuk kesekian kalinya Bulek mendominasi pembicaraan kami.


Anita hanya diam tanpa bisa menjawab apa-apa lagi. Bahkan matanya tidak sanggup melihat wajah Paklek yang terang-terangan ditipu oleh istrinya sendiri.


Ingin rasanya berkata jujur, tapi dengan kondisi Paklek yang sekarang, Dia tidak mau melihat Beliau bersedih mendengar perlakuan istri dan anaknya dulu.


"Benar itu Nduk ? Siapa laki-laki yang sudah berani menelantarkanmu Nduk ? Katakan kepada Paklek ?" Pertanyaan Paklek bertubi-tubi.


Air mata Anita semakin deras mengucur.

__ADS_1


"Sudahlah Paklek, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Paklek." Ucapnya menata hati dan pernapasan.


Tersungging senyum kemenangan di bibir Astrid yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dengan tangan berkacak pinggang sebelah.


"Ya Allah Nduk, betapa Paklek sangat berdosa, telah membiarkanmu hidup sengsara. Pulanglah Nduk, ini rumahmu. Jangan buat Paklek semakin merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah dari kedua orang tuamu." Ratapnya sembari tak henti-hentinya menitikkan air mata.


"Ampun ngendikan ngaten Paklek, ini bukan kesalahan Paklek. Semua takdir yang harus Tata jalani." Ucapnya pasrah dengan keadaan.


"Halah, lebay." Komentar nyinyir Astrid.


"Wes, ora usah kakean tangisan. Itu sudah tak turuti, kamu mau bilang apa sama keponakanmu tersayang." Sela Bulek lagi.


"Pulang ya Nduk, kembali ke sini. Kita hidup bersama-sama seperti dulu lagi." Permintaan Paklek yang belum bisa dituruti olehnya.


"Halah, dibela - belain juga gak ngerti. Mana pernah dia bantu-bantu perekonomian kita. Jadi benalu saja." Omel Bulek lagi dan lagi.


"Hahh ... namanya juga perempuan liar ya Buk, kenal cowok bening dikit saja langsung khilaf." Celoteh Astrid bersahutan dengan ibunya.


'Ya Allah, kalau bukan karena Paklek, ingin rasanya aku robek mulut bocah tengil itu.' Geramnya hati Tata.


"Gak usah didengarkan apa kata Bulekmu, ini rumahmu Nduk, peninggalan kedua orang tuamu."


"Iya Paklek, iya. Nanti Tata pamit dulu sama ibu yang rumahnya Tata tumpangi." Jawabnya sekedar membuat Paklek lebih tenang.


Kalau tidak segera dihentikan, Paklek akan terus memohon seperti itu.


"Buk, jangan diam saja. Mana boleh dia kembali lagi ke sini." Bisik Astrid kepada ibunya.


"Ssatttt...sudah kamu diam, itu urusan ibu."


Gertaknya.


Bukan hanya Tata, tapi dua pria di luar sana ikut terbakar emosi mendengar percakapan yang belum bisa dipastikan kebenarannya itu.


"Za, cari tahu siapa laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan mereka ?" Pinta Al kepada asisten pribadinya.


"Baik Pak."


'Apa benar yang mereka katakan itu. Kenapa tidak terdengar sedikitpun pembelaan dari Tata.' Kegundahan hati Al.


_________________


_________________


_________________

__ADS_1


__ADS_2